Indonesia Back to Nature

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari


Indonesia Back to Nature

Indonesia Back to Nature adalah sebuah gagasan tentang pelestarian hutan di Indonesia tanpa membebani pemerintah dalam hal pendaan maupun pelaksanaanya. Gagasan ini adalah merupakan bagian dari revolusi sosial anak pedalaman Indonesia untuk ikut berpatisipasi dalam mengatasi masalah lingkungan khususnya kerusakan hutan di Indonesia. [1]. [2]

Dasar pemikiran[sunting | sunting sumber]

Hutan Indonesia yang merupakan paru - paru dunia adalah suatu hal yang sangat berharga dan merupakan aset Indonesia untuk dunia internasional, namun seiring berjalannya waktu hutan Indonesia justru menjadi suatu hal yang memprihatinkan kita semua, dan ini merpuakan akibat dari ulah kita sendiri yang tidak menyadri pentingnya fungsi hutan buat kehidupan. [1]

Persoalan kerusakan hutan ini merupakan bagian dari sejumlah masalah serius yang melanda bangsa ini karena dampaknya bukan hanya untuk kita sekarang ini tetapi juga untuk generasi yang akan datang. [3]

Hutan diharapkan mampu menyangga kehidupan manusia dan seisi bumi ini . Pada sisi lain hutan membutuhkan perlindungan dalam mengatasi perkembangan lingkungannya. Guna mengatasi perkembangan yang ada, maka Hutan harus diperhatikan agar menjadi pusat pernapasan bumi, sebagai penyedia air dan mencegah longsor serta lebih memberi rasa nyaman keindahan segar sebagai tempat wisata.

Kawasan Hutan merupakan kesatuan / populasi tanaman yang memiliki batas wilayah agar kepentingan masyarakat berdasarkan keinginannya, dalam sistem perlindungan kawasan hutan di Negara Kesatuan Republik Indonesia. [1]

Kawasan Hutan adalah struktur penyangga kehidupan bumi. Dalam struktur kawasan hutan terdapat berbagai kehidupan baik tanaman maupun kehidupan fauna yang ada di dalam sistem kehidupan hutan. Hutan yang sedang dibangun pada hakikatnya merupakan upaya peningkatan kualitas hidup maupun kehidupan guna sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat. Pada sisi lain juga harus diminimalkan potensi merusak kawasan hutan ini menjadi pintu gerbang bisnis perdagangan komoditi hutan yaitu kayu. Karena bagaimanapun potensi-potensi kawasan hutan menjadi sangat besar manfaatnya dalam kehidupan tata lingkungan hidup masyarakat itu sendiri.

Hutan merupakan penghasil oksigen sebagai ganti karbondioksida yang diserap dari udara. Fungsi inilah yang membuat hutan disebut juga sebagai paru-paru dunia. Sebagaimana paru-paru manusia yang dapat rusak, hutan sebagai paru-paru dunia juga dapat mengalami kerusakan. Kebakaran (secara alami maupun disengaja untuk membuka lahan), penebangan pohon secara liar merupakan ancaman serius bagi kelestarian hutan.

Kerusakan hutan membawa petaka bagi kehidupan manusia. Indonesia, sebagai negara yang dijuluki untaian zamrud khatulistiwa memiliki kawasan hutan yang sangat luas. Nyatanya, praktik illegal logging yang kerap terjadi di negeri pertiwi ini sangat sukar diberantas. Kemilau keuntungan yang dihasilkan dari penjualan kayu hutan secara ilegal lebih menggiurkan bagi para pembalak hutan liar dibanding kelestarian alam dan keselamatan anak cucu mereka kelak karena bencana-bencana yang terjadi akibat kerusakan hutan. Pemikiran demi pemikiran disampaikan. Upaya demi upaya pelestarian hutan pun terus diusahakan.[3]

Perhatian dunia terhadap masalah pelestarian fungsi hutan dan lingkungan hidup ini dimulai di kalangan Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB) pada waktu diadakan peninjauan terhadap hasil-hasil gerakan “Dasawarsa Pembangunan Dunia I (1960-1970)” guna merumuskan strategi terhadap gerakan “Dasawarsa Pembangunan Dunia II (1970-1980)”. Sekretaris Jenderal PBB membuat laporan yang diajukan kepada Sidang Umum PBB pada tahun 1969 dengan Nomor laporan 2581 (27) pada tanggal 15 Desember 1969. Dalam laporannya menyatakan betapa mutlak perlunya dikembangkan “sikap dan tanggapan baru” terhadap lingkungan hidup untuk menangani masalah-masalah lingkungan hidup itu adalah demi pertumbuhan ekonomi dan sosial khususnya mengenai perencanaan, pengelolaan dan pengawasan terhadap lingkungan hidup (Koesnadi Hardjasoemantri, 2005 : 6-7).[3]

Dampak positip dan output pada Sidang Umum PBB tersebut, PBB menerima tawaran dari pemerintah Swedia untuk menyelengarakan Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia (United Nations Conference On The Human Environment) di Stockholm-Swedia pada tanggal 5-16 Juni 1972 yang diikuti 113 negara dan beberapa puluhan peninjau serta output hasil dari Konferensi tersebut melahirkan suatu resolusi khusus menetapkan secara resmi setiap tgl 5 Juli adalah sebagai Hari Jadi Lingkungan Hidup Sedunia” berdasarkan dengan Resolusi Sidang Umum PBB No.2997 (27) pada tanggal 15 Desember 1972 (Danusaputro, 1980 : 210-216).[4] [5]

Gagasan[sunting | sunting sumber]

Tahun 2005, A. Riehard Belougi, seorang pekerja sosial di pedalaman Indonesia mencetuskan gagasan "Indonesia Back to Nature", sebuah uaya pelestarian lingkungan (hutan) bertajuk "Dari Alam, Oleh Alam dan Untuk Alam", yang pelaksanaanya tidak membebani pemerintah dalam hal pendanaan akan tetapi didukung oleh perusahaan swasta, lembaga serta organisasi nirlaba, baik di dalam maupun di luar negeri, dengan pola pelaksanaan dilakukan secara bertahap.[1]

Belougi sosialisasikan konsep tersebut dengan melibatkan anak pedalaman di bawah bendera Solidaritas Anak Pedalaman Untuk lingkungan dan Pendidikan bersama Aliansi Masyarakat Pedalaman Nusantara. Dan upaya yang dilakukan selama 10 tahun terakhir telah mendapat dukungan sejumlah lembaga dan organisasi nirlaba, dan saat ini sudah berjalan.[2]

Gagasan ini bukan lahir dari sebuah riset atau pendekatan secara ilmiah tetapi lebih mengarah kepada faktor kemauan untuk melakukan hal - hal yang bermanfaat. buat kehidupan dari generasi ke generasi. Untuk tim pengelola Indonesia back to Nature mengharapkan dukungan semua pihak untuk dapat bersama - mengawal dan melaksanakan kegiatan ini.[1]

Pilot Project[sunting | sunting sumber]

Awal tahun 2015, Riu Mamba Group, Jakarta,  salah satu kelompok usaha yang dari awal bergabung telah meluncurkan Pilot Project Indonesia Back to Nature dengan budidaya tanaman Super Paulownia, sebuah jenis tanaman yang banyak menyerap karbon dioksida (CO2). Areal operasi Riu mamba tersebut terletak di Poso, bagian timur Sulawesi Tengah, dan dilaksanakan diatas areal seluas 10.000 hektar dari total 34.000 hektar yang sudah mendapat izin dari pemerintah. [1] [6]

Langkah Riu Mamba Group diikuti oleh Yayasan Bil Ma'ruf An Nur Ali Ba, sebuah yayasan peduli lingkungan dan pendidikan yang beroperasi di atas areal seluas 80.000 hektar di Sulawesi Tenggara, NPG International untuk di wilayah Papua, serta lembaga lain yang mendukung yaitu Rantemario Rice Resources - RRR dan IGA Intenational, Inc, sebuah lembaga donor internasional yang berpusat di Florida. [1][2]

Realisasi dan manfaat[sunting | sunting sumber]

Realisasi Indonesia Back to Nature adalah bagian dari revolusi sosial anak pedalaman untuk ikut berpartisipasi membantu pemerintah mengatasi maslah kerusakan hutan, dan kegiatan ini  memiliki multi manfaat, disamping menyerap banyak tenaga kerja juga dapat menjaga keseimbangan ekosistem untuk terus bersinergi dengan alam, dan manfaat paling utama adalah membantu mengembalikan fungsi hutan Indonesia sebagai paru - paru dunia.[2]

Pelaksanannya bukan berdasar dari suatu hasil riset atau pendekatan secara ilmiah tetapi merupakan bagian dari revolusi sosial anak pedalaman untuk ikut berpartisipasi membantu pemerintah mengatasi masalah kerusakan hutan di Indonesia. Saat ini Arie Belougi menekuni aktivitasnya sebagai Executive Leaders Program Indonesia Back to Narure yang dikelola bersama Solidaritas Anak Pedalaman Untuk Lingkungan Pendidikan, Riu Mamba Group, Yayasan Bil Ma'ruf An Nur Ali Ba, Aliansi Masyarakat Pedalaman Nusantara dan Rantemario International Group. [2]

Orang penting[sunting | sunting sumber]

  • Ir. Andi Syamsul Bachrie (Senior Advisor)
  • A. Riehard Belougi (Executive Leaders)
  • Elizabeth W. Lumowa (Dep. Hubungan kelembagaan)

Lihat pula[sunting | sunting sumber]


Referensi[sunting | sunting sumber]