Abu Abdullah Muhammad asy-Syafi'i

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Imam Asy-Syafi'i)
Abū ʿAbdullāh Muhammad bin Idrīs al-Syafiʿī al-Muththalibi al-Qurasyi
Al-Shafie Name.png
NamaAbū ʿAbdullāh Muhammad bin Idrīs al-Syafiʿī al-Muththalibi al-Qurasyi
Lahir767 M/150 H
Gaza, Palestina
Meninggal820 M/205 H
Fustat, Mesir
Nama lainImam-Asy Syafi'i
KebangsaanBani Hasyim
EtnisBani Muththalib
ZamanZaman keemasan Islam
Wilayah aktifTimur tengah
FirkahAhlus Sunnah
Mazhab FikihSyafi'i
Mazhab AkidahAhlul Hadits
Minat utamaFiqh · Ushul Fiqh · Hadits
Gagasan yang terkenalFiqh
Dipengaruhi  oleh

Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi"i al-Muththalibi al-Qurasyi (bahasa Arab: أبو عبد الله محمد بن إدريس الشافعيّ المطَّلِبيّ القرشيّ) atau singkatnya Imam Asy-Syafi"i (Ashkelon, Gaza, Palestina, 150 H/767 M - Fusthat, Mesir, 204 H/820 M) adalah seorang mufti besar Sunni Islam dan juga pendiri mazhab Syafi"i. Imam Syafi"i juga tergolong kerabat dari Rasulullah, ia termasuk dalam Bani Muththalib, yaitu keturunan dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Muhammad.

Saat usia 13 tahun, Imam Syafi"i dikirim ibunya pergi ke Madinah untuk berguru kepada ulama besar saat itu, Imam Malik. Dua tahun kemudian, ia juga pergi ke Irak, untuk berguru pada murid-murid Imam Hanafi di sana.

Imam Syafi`i mempunyai dua dasar berbeda untuk Mazhab Syafi"i. Yang pertama namanya Qaulun Qadim (ketetapan lama) dan Qaulun Jadid (ketetapan baru). Hal ini sering di kaitkan dengan aqidah atsariyah.

Kelahiran dan kehidupan keluarga Imam Syafi"i[sunting | sunting sumber]

Kelahiran[sunting | sunting sumber]

Idris bin Abbas menyertai istrinya dalam sebuah perjalanan yang cukup jauh, yaitu menuju kampung Gaza, Palestina, di mana saat itu umat Islam sedang berperang membela negeri Islam di kota Asqalan.

Pada saat itu Fatimah al-Azdiyyah sedang mengandung, Idris bin Abbas gembira dengan hal ini, lalu ia berkata, "Jika engkau melahirkan seorang putra, maka akan kunamakan Muhammad, dan akan aku panggil dengan nama salah seorang kakeknya yaitu Syafi"i bin Asy-Syaib."

Akhirnya Fatimah melahirkan di Gaza, dan terbuktilah apa yang dicita-citakan ayahnya. Anak itu dinamakan Muhammad, dan dipanggil dengan nama "Asy-Syafi"i".

Kebanyakan ahli sejarah berpendapat bahwa Imam Syafi"i lahir di Gaza, Palestina, namun di antara pendapat ini terdapat pula yang menyatakan bahwa dia lahir di Asqalan; sebuah kota yang berjarak sekitar tiga farsakh dari Gaza. Menurut para ahli sejarah pula, Imam Syafi"i lahir pada tahun 150 H, yang mana pada tahun ini wafat pula seorang ulama besar Sunni yang bernama Imam Abu Hanifah.

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah menakdirkan Imam Asy-Syafi`i."

Nasab[sunting | sunting sumber]

Idris, ayah Imam Syafi"i tinggal di tanah Hijaz, ia merupakan keturunan dari al-Muththalib, jadi dia termasuk ke dalam Bani Muththalib. Nasab Dia adalah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Sa’ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al-Mutthalib bin Abdulmanaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah di Abdul-Manaf.

Dari nasab tersebut, Al-Mutthalib bin Abdi Manaf, kakek Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie, adalah saudara kandung Hasyim bin Abdi Manaf kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam.

Kemudian juga saudara kandung Abdul Mutthalib bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam, bernama Syifa’, dinikahi oleh Ubaid bin Abdi Yazid, sehingga melahirkan anak bernama As-Sa’ib, ayahnya Syafi’. Kepada Syafi’ bin As-Sa’ib radliyallahu `anhuma inilah bayi yatim tersebut dinisbahkan nasabnya sehingga terkenal dengan nama Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie Al-Mutthalibi. Dengan demikian, nasab yatim ini sangat dekat dengan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam.

Bahkan karena Hasyim bin Abdi Manaf, yang kemudian melahirkan Bani Hasyim, adalah saudara kandung dengan Mutthalib bin Abdi Manaf, yang melahirkan Bani Mutthalib, maka Rasulullah bersabda:

Masa belajar[sunting | sunting sumber]

Setelah ayah Imam Syafi’i meninggal dan dua tahun kelahirannya, sang ibu membawanya ke Mekah, tanah air nenek moyang. Ia tumbuh besar di sana dalam keadaan yatim. Sejak kecil Syafi’i cepat menghafal syair, pandai bahasa Arab dan sastra sampai-sampai Al Ashma’i berkata,”Saya mentashih syair-syair bani Hudzail dari seorang pemuda dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris,” Imam Syafi’i adalah imam bahasa Arab.

Belajar di Makkah[sunting | sunting sumber]

Di Makkah, Imam Syafi’i berguru fiqh kepada mufti di sana, Muslim bin Khalid Az Zanji sehingga ia mengizinkannya memberi fatwah ketika masih berusia 15 tahun. Demi ia merasakan manisnya ilmu, maka dengan taufiq Allah dan hidayah-Nya, dia mulai senang mempelajari fiqih setelah menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya. Remaja yatim ini belajar fiqih dari para Ulama’ fiqih yang ada di Makkah, seperti Muslim bin khalid Az-Zanji yang waktu itu berkedudukan sebagai mufti Makkah.

Kemudian dia juga belajar dari Dawud bin Abdurrahman Al-Atthar, juga belajar dari pamannya yang bernama Muhammad bin Ali bin Syafi’, dan juga menimba ilmu dari Sufyan bin Uyainah.

Guru yang lainnya dalam fiqih ialah Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin Al-Ayyadl dan masih banyak lagi yang lainnya. Dia pun semakin menonjol dalam bidang fiqih hanya dalam beberapa tahun saja duduk di berbagai halaqah ilmu para Ulama’ fiqih sebagaimana tersebut di atas.

Belajar di Madinah[sunting | sunting sumber]

Kemudian ia pergi ke Madinah dan berguru fiqh kepada Imam Malik bin Anas. Ia mengaji kitab Muwattha’ kepada Imam Malik dan menghafalnya dalam 9 malam. Imam Syafi’i meriwayatkan hadis dari Sufyan bin Uyainah, Fudlail bin Iyadl dan pamannya, Muhamad bin Syafi’ dan lain-lain.

Di majelisnya ini, Imam Syafi’i menghapal dan memahami dengan cemerlang kitab karya Imam Malik, yaitu Al-Muwattha’. Kecerdasannya membuat Imam Malik amat mengaguminya. Sementara itu As-Syafi`ie sendiri sangat terkesan dan sangat mengagumi Imam Malik di Al-Madinah dan Imam Sufyan bin Uyainah di Makkah.

Imam Syafi’i menyatakan kekagumannya setelah menjadi Imam dengan pernyataannya yang terkenal berbunyi: “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Juga ia menyatakan lebih lanjut kekagumannya kepada Imam Malik: “Bila datang Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis itu.” Ia juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha’ Imam Malik sehingga ia menyatakan: “Tidak ada kitab yang lebih bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari kitab Al-Muwattha’.” Ia juga menyatakan: “Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik, kecuali mesti bertambah pemahamanku.”

Dari berbagai pernyataannya di atas dapatlah diketahui bahwa guru yang paling ia kagumi adalah Imam Malik bin Anas, kemudian Imam Sufyan bin Uyainah. Di samping itu, Imam Syafi’i juga duduk menghafal dan memahami ilmu dari para Ulama’ yang ada di Al-Madinah, seperti Ibrahim bin Sa’ad, Isma’il bin Ja’far, Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi. Ia banyak pula menghafal ilmu di majelisnya Ibrahim bin Abi Yahya. Akan tetapi, gurunya yang disebutkan terakhir ini adalah pendusta dalam meriwayatkan hadits, memiliki pandangan yang sama dengan madzhab Qadariyah yang menolak untuk beriman kepada taqdir dan berbagai kelemahan fatal lainnya. Sehingga ketika pemuda Quraisy ini telah terkenal dengan gelar sebagai Imam Syafi`ie, khususnya di akhir hayatnya, ia tidak mau lagi menyebut nama Ibrahim bin Abi Yahya ini dalam berbagai periwayatan ilmu.

Pengembaraan ke Madinah dan Pertemuannya dengan Imam Malik bin AnasSebelum pergi ke Madinah untuk menemui Imam Malik, Imam asy-Syafi"i terlebih dahulu mempersiapkan diri dengan menghafal kitab al-Muwaththa". Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ia hafal kitab tersebut dalam usia sepuluh tahun. Riwayat lain menyebutkan ia hafal pada usia tiga belas tahun.                                                                                                                 Tentang perjalanannya untuk bertemu dengan Imam Malik, Imam asy-Syafi"i bercerita sebagai berikut: "Aku keluar dari Makkah untuk hidup dan bergaul dengan suku Hudzail di pedusunan. Aku mengambil bahasa mereka dan mempelajari ucapannya. Mereka adalah suku Arab yang paling fasih. Setelah beberapa tahun tinggal bersama mereka, aku pun kembali ke Makkah. Kemudian, aku membaca sya"ir-sya"ir mereka, menyebut peristiwa, dan peperangan bangsa Arab. Ketika itu, lewatlah seorang dari suku az-Zuhri, ia berkata kepadaku: "Hai, Abu "Abdillah, sayang sekali jika keindahan bahasa yang engkau kuasai tidak diimbangi dengan ilmu dan fiqih." "Siapakah orang yang patut aku temui?" tanyaku. Ia menjawab: "Malik bin Anas, pemimpin ummat Islam." Imam asy-Syafi"i berkata: "Maka timbullah minatku untuk mempelajari kitab al-Muwaththa". Untuk itu, aku meminjam kitab tersebut pada seorang laki-laki di Makkah. Setelah menghafalnya, aku pergi menjumpai Gubernur Makkah dan mengambil surat untuk aku berikan kepada Gubernur Madinah dan Imam Malik bin Anas. Sesampainya aku di Madinah, aku memberikan surat tersebut kepada Gubernur.

Setelah membaca surat itu, Gubernur Madinah berkata: "Wahai, pemuda, aku lebih suka jalan kaki dari pedalamanMadinah ke pedalaman Makkah daripada harus menghadap Imam Malik. Aku tidak pernah melihat kehinaan itu hingga aku berdiri di depan pintunya." Aku berkata kepadanya: "Jika ia melihat gubenur yang menuju kepadanya, tentu dia akan siap hadir." Gubernur Madinah menjawab: "Tidak mungkin. Andaikan aku datang berkendaraan bersama pengawalku dalam keadaan berlumuran debu lembah, barulah ia mau melayani hajat kita." Sesudah itu, aku pun membuat janji dengan Imam Malik pada waktu "Ashar lalu berangkatlah kami kepadanya. Setelah sampai di rumah Imam Malik, pria yang mendampingi kami mengetuk pintu. Keluarlah seorang budak wanita hitam. "Beritahukanlah kepada tuanmu, bahwa kami datang dan berada di depan pintu," tutur Gubernur Madinah. Budak wanita itu pun masuk. Setelah lama menunggu, budak itu keluar dan mengatakan kepada kami: "Kalau punya masalah, harap ditulis, dan akan diberikan jawabannya secara tertulis pula. Bila ingin belajar hadits, diharap datang pada jadwal yang telah ditentukan. Karena itu, kembalilah!" Mendengar keterangan budak wanita itu, Gubernur Madinah berkata: "Katakan kepada tuanmu, saya membawa surat dari Gubernur Makkah.

Ada yang ingin dibicarakan berkaitan dengannya."Budak wanita itu masuk kembali lalu keluar lagi dengan membawa kursi. Tidak lama kemudian keluarlah Imam Malik seorang syaikh berbadan tinggi dan penuh wibawa mengenakan baju gamis (hijau). Gubernur Madinah lantas menyerahkan surat itu. Kemudian, gubernur itu berkata: "Pemuda ini seorang yang terhormat, baik akhlak dan kepandaiannya. Maka sampaikanlah hadits kepadanya." Mendengar ucapan itu, Imam Malik mencampakkan surat tersebut lalu berkata: "Subhanallah, ilmu Rasulullah diambil dengan cara-cara ini." Aku melihat sang Gubernur pun takut untuk bicara dengan beliau. Kemudian, aku maju dan memberanikan diri, aku berkata: "Semoga Allah memperbaikimu. Aku adalah keturunan Muththalib, semoga Allah tetap menjadikan tuan sebagai orang yang shalih." Imam Malik bin Anas memandangku sesaat, seakan-akan ia mempunyai firasat, kemudian ia bertanya: "Siapa namamu?" Aku menjawab: "Muhammad." Ia berkata: "Hai, Muhammad, bertakwalah kepada Allah. Tinggalkanlah maksiat, maka engkau akan menjadi orang besar." Aku menjawab: "Ya, juga seorang yang diberi kemuliaan." Imam Malik berkata: "Datanglah besok, dan akan ada orang yang akan membacakan kitab itu (al-Muwaththa") untukmu." Aku berkata: "Sesungguhnya saya dapat menghafalnya." Imam asy-Syafi"i melanjutkan: "Besoknya aku datang pagi-pagi dan mulailah aku membaca kitab itu.

Namun, acapkali saya ingin menghentikan bacaan karena segan kepadanya. Imam Malik tertarik kepada bacaan dan i"rab saya yang bagus." Imam Malik berkata: "Hai, anak muda, bacalah lagi." Akhirnya, aku membaca kitab karangannya itu di hadapannya dalam beberapa hari saja. Setelah itu, aku tinggal di Madinah hingga Imam Malik bin Anas wafat." Tinggalnya Imam asy-Syafi’i di Madinah tidak terus-menerus, melainkan diselingi oleh kepulangannya ke Makkah untuk menengok ibunya. Dalam kepulangannya itu, ia menyempatkan diri mendengarkan sya’ir-sya’ir suku Hudznail dan belajar kepada ulama Makkah. Sejumlah Riwayat dan keterangan menyebutkan bahwa Imam asy-Syafi’i pergi ke Madinah dalam usia tiga belas tahun, yakni sekitar tahun 163 H. Kemudian, ia pulang pergi antara Madinah, Makkah, dan perkampungan Hudznail meskipun kebanyakan ia menetap di Madinah mendampingi Imam Malik bin Anas hingga beliau wafat pada 179 H. Setelah memperoleh banyak ilmu barulah Imam asy-Syafi’i pulang ke Makkah, maka mulailah nama dan keilmuanya terkenal yang mana pada saat itu umurnya baru 29 tahun. Pada fase ini Imam asy-Syafi’i juga telah berguru kepada guru dan ulama lainnya. Sebagaimana dituturkan oleh Mush’ab az-Zubairi: “Imam asy-Syafi’i telah mengambil hamper semua ilmu yang dimiliki oleh Imam Mali bin Anas dan menghimpun ilmu para syaikh yang ada di Madinah.”

Di Yaman[sunting | sunting sumber]

Imam Syafi’i kemudian pergi ke Yaman dan bekerja sebentar di sana. Disebutkanlah sederet Ulama’ Yaman yang didatangi oleh dia ini seperti: Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya. Dari Yaman, dia melanjutkan tour ilmiahnya ke kota Baghdad di Iraq dan di kota ini dia banyak mengambil ilmu dari Muhammad bin Al-Hasan, seorang ahli fiqih di negeri Iraq. Juga dia mengambil ilmu dari Isma’il bin Ulaiyyah dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi yang lainnya.

Sekembalinya dari Madinah ke Makkah Imam asy-Syafi’i sibuk dengan ilmunya, jiwa Imam asy-Syafi’i sangat haus akan ilmu ulama Yaman. Namun, karena tidak memiliki biaya cukup, Imam asy-Syafi’i tidak dapat pergi ke Yaman.

Oleh karena itu, Ketika ada seorang Thalibi menjadi pejabat di Yaman, ibunya mendatangi saudara-saudara Imam asy-Syafi’i, meminta agar memohon kepada pria itu untuk bersedia pergi bersama Imam asy-Syafi’i ke Yaman. Kemudian, ia pun menyetujuinya, tetapi karena ibu Imam asy-Syafi’i tidak memiliki bekal yang dapat diberikan kepada Imam asy-Syafi’i, maka ibunya menggadaikan rumah seharga 16 dinar kemudian uang itu diberikan kepadanya. Imam asy-Syafi'i menceritakan kepergiannya ke negeri Yaman: "Aku berangkat dengan pria itu dengan biaya tersebut. Sesampainya di Yaman, aku diberi suatu pekerjaan. Karena kerjaku bagus, pekerjaanku ditambah. Ketika para pekerja Makkah pulang pada bulan Rajab, mereka pun memuji-mujiku hingga aku menjadi buah bibir di sana. Setelah itu, aku pulang dari Yaman. Ketika aku menghadap Ibnu Abi Yahya, yang aku pernah belajar kepadanya, aku pun mengucapkan salam. Dia mencelaku: 'Engkau belajar kepadaku, tetapi kemudian engkau bekerja? Ingat! Apabila sesuatu telah memasuki dunia seseorang, dia akan betah tinggal di sana. ' Mendengar ucapannya itu, aku pamit. Kemudian, aku menemui Sufyan bin 'Uyainah. Setelah aku mengucap salam, ia menyambutku lalu berkata: 'Informasi tentang-mu telah kudengar. Engkau dikenal orang banyak, apa yang engkau perbuat karena Allah Ta’ala akan kembali kepadamu. Sebaiknya engkau jangan berlebihan.' Imam asy-Syafi'i berkata: 'Nasihat Sufyan bin 'Uyainah ini lebih menggugah hatiku daripada nasihat Ibnu Abi Yahya.'"

Selanjutnya, Imam asy-Syafi'i menceritakan kepulangannya dari Yaman, sebagian kegiatannya di negeri itu, kegigihannya menegakkan keadilan, dan kesungguhannya dalam mencari ilmu sehingga namanya dikenal oleh banyak orang. Barangkali ia dibenci atas prestasinya itu oleh pecinta dunia karena mereka takut ia mendapat simpati dari orang-orang sehingga terjadi pertentangan di tubuh pemerintahan. Oleh karena itu, seorang panglima Khalifah Harun ar-Rasyid mengirim surat kepada Khalifah Harun ar-Rasyid yang isinya: "Orang-orang khawatir terhadap bahaya kaum 'Alawiyyin karena di kalangan mereka ada seorang pemuda yang bernama Muhammad bin Idris yang dengan lisannya dapat berbuat lebih berbahaya ketimbang pembunuh dengan pedangnya. Oleh karena itu, jika tuan memiliki kepentingan terhadap negeri Hijaz, asingkanlah mereka darinya."

Ada yang berpendapat bahwa kepergiannya ke Yaman dilakukan berkali-kali, hal ini bisa dibenarkan jika dilihat dari seringnya Imam asy-Syafi’i pulang ke Makkah, tetapi jika ditilik dari asal kepergiannya pertama kali, maka itu hanya satu kali.

Di Baghdad, Irak[sunting | sunting sumber]

Kemudian pergi ke Baghdad (183 dan tahun 195), di sana ia menimba ilmu dari Muhammad bin Hasan. Ia memiliki tukar pikiran yang menjadikan Khalifah Ar Rasyid.

Di Mesir[sunting | sunting sumber]

Di Mesir Imam Syafi"i bertemu dengan murid Imam Malik yakni Muhammad bin Abdillah bin Abdil Hakim. Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis madzhab lamanya (qaul qadim). Kemudian dia pindah ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru (qaul jadid). Di sana dia wafat sebagai syuhadaul ilm di akhir bulan Rajab 204 H.

Karya tulis[sunting | sunting sumber]

Ar-Risalah[sunting | sunting sumber]

Salah satu karangannya adalah “Ar-risalah” buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Ia mampu memadukan fiqh ahli Irak dan fiqh ahli Hijaz. Imam Ahmad berkata tentang Imam Syafi’i,”Dia adalah orang yang paling faqih dalam Al Quran dan As Sunnah,” “Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di ‘leher’ Syafi’i,”. Thasy Kubri mengatakan di Miftahus sa’adah,”Ulama ahli fiqh, ushul, hadits, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Syafi’i memiliki sifat amanah (dipercaya), adalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi. Orang yang banyak menyebutkan perjalanan hidupnya saja masih kurang lengkap,”

Mazhab Syafi"i[sunting | sunting sumber]

Dasar madzhabnya: Al Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Dia juga tidak mengambil Istihsan (menganggap baik suatu masalah) sebagai dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah, perbuatan penduduk Madinah. Imam Syafi’i mengatakan,”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat,”. Penduduk Baghdad mengatakan,”Imam Syafi’i adalah nashirussunnah (pembela sunnah),”

Muhammad bin Daud berkata, “Pada masa Imam Asy-Syafi`i, tidak pernah terdengar sedikitpun dia bicara tentang hawa, tidak juga dinisbatkan kepadanya dan tidakdikenal darinya, bahkan dia benci kepada Ahlil Kalam (maksudnya adalah golongan Ahwiyyah atau pengikut hawa nafsu yang juga digelari sebagai Ahlul-Ahwa’ seperti al-Mujassimah, al-Mu"tazilah, Jabbariyyah dan yang sebagainya) dan Ahlil Bid’ah.” Dia bicara tentang Ahlil Bid’ah, seorang tokoh Jahmiyah, Ibrahim bin ‘Ulayyah, “Sesungguhnya Ibrahim bin ‘Ulayyah sesat.” Imam Asy-Syafi`i juga mengatakan, “Menurutku, hukuman ahlil kalam dipukul dengan pelepah pohon kurma dan ditarik dengan unta lalu diarak keliling kampung seraya diteriaki, “Ini balasan orang yang meninggalkan kitab dan sunnah, dan beralih kepada ilmu kalam (ilmu falsafah dan logika yang digunakan oleh golongan Ahwiyyah)”

Dia mewariskan kepada generasi berikutnya sebagaimana yang diwariskan oleh para nabi, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu dia banyak diriwayatkan oleh para murid- muridnya dan tersimpan rapi dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan dia pelopor dalam menulis di bidang ilmu Ushul Fiqih, dengan karyanya yang monumental Risalah. Dan dalam bidang fiqih, dia menulis kitab Al-Umm yang dikenal oleh semua orang, awamnya dan alimnya. Juga dia menulis kitab Jima’ul Ilmi.

Dia mempunyai banyak murid, yang umumnya menjadi tokoh dan pembesar ulama dan Imam umat islam, yang paling menonjol adalah:

  1. Ahmad bin Hanbal, Ahli Hadits dan sekaligus juga Ahli Fiqih dan Imam Ahlus Sunnah dengan kesepakatan kaum muslimin.
  2. Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani
  3. Ishaq bin Rahawaih,
  4. Harmalah bin Yahya
  5. Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi
  6. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi dan lain-lainnya banyak sekali.

Al-Hujjah[sunting | sunting sumber]

Kitab “Al Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al Karabisyi dari Imam Syafi’i.

Dalam masalah Al-Qur’an, dia Imam Asy-Syafi`i mengatakan, “Al-Qur’an adalah Kalamullah, barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah kafir.”

Al-Umm[sunting | sunting sumber]

Sementara kitab “Al Umm” sebagai madzhab yang baru Imam Syafi’i diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al Muzani, Al Buwaithi, Ar Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya,”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka buanglah perkataanku di belakang tembok,”

“Kebaikan ada pada lima hal: kekayaan jiwa, menahan dari menyakiti orang lain, mencari rizki halal, taqwa dan tsiqqah kepada Allah. Ridha manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai, tidak ada jalan untuk selamat dari (ucapan) manusia, wajib bagimu untuk konsisten dengan hal-hal yang bermanfaat bagimu”.

"Ikutilah Ahli Hadits oleh kalian, karena mereka orang yang paling banyak benarnya.”

Dia berkata, “Semua perkataanku yang menyelisihi hadits yang shahih maka ambillah hadits yang shahih dan janganlah taqlid kepadaku.”

Dia berkata, “Semua hadits yang shahih dari Nabi Shalallahu "alaihi wassalam maka itu adalah pendapatku meski kalian tidak mendengarnya dariku.”

Dia mengatakan, “Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam maka ucapkanlah sunnah Rasulullah dan tinggalkan ucapanku.”

Akhir Hayat[sunting | sunting sumber]

Imam Syafi"i wafat pada bulan Rajab tahun 204 Hijriah akibat terkena penyakit bawasir. Penyakit ini dideritanya karena kesibukannya dalam mengadakan dakwah, pengajaran dan penulisan kitab di Mesir.[2] Ia tetap begitu hingga terkadang jika ia naik kendaraan darahnya mengalir mengenai celananya bahkan mengenai pelana dan kaus kakinya. Wasir ini benar-benar menyiksanya selama hampir empat tahun, ia menanggung sakit demi ijtihadnya yang baru di Mesir, menghasilkan empat ribu lembar. Selain itu ia terus mengajar, meneliti dialog serta mengkaji baik siang maupun malam.

Pada suatu hari muridnya Al-Muzani masuk menghadap dan berkata, "Bagamana kondisi Anda wahai guru?" Imam Syafi"i menjawab, "Aku telah siap meninggalkan dunia, meninggalkan para saudara dan teman, mulai meneguk minuman kematian, kepada Allah dzikir terus terucap. Sungguh, Demi Allah, aku tak tahu apakah jiwaku akan berjalan menuju surga sehingga perlu aku ucapkan selamat, atau sedang menuju neraka sehingga aku harus berkabung?".

Setelah itu, dia melihat di sekelilingnya seraya berkata kepada mereka, "Jika aku meninggal, pergilah kalian kepada wali (penguasa), dan mintalah kepadanya agar mau memandikanku," lalu sepupunya berkata, "Kami akan turun sebentar untuk salat." Imam menjawab, "Pergilah dan setelah itu duduklah disini menunggu keluarnya ruhku." Setelah sepupu dan murid-muridnya salat, sang Imam bertanya, "Apakah engkau sudah salat?" lalu mereka menjawab, "Sudah", lalu ia minta segelas air, pada saat itu sedang musim dingin, mereka berkata, "Biar kami campur dengan air hangat," ia berkata, "Jangan, sebaiknya dengan air safarjal". Setelah itu ia wafat. Imam Syafi"i wafat pada malam Jum"at menjelang subuh pada hari terakhir bulan Rajab tahun 204 Hijriyyah atau tahun 809 Miladiyyah pada usia 52 tahun.

Tidak lama setelah kabar kematiannya tersebar di Mesir hingga kesedihan dan duka melanda seluruh warga, mereka semua keluar dari rumah ingin membawa jenazah di atas pundak, karena dahsyatnya kesedihan yang menempa mereka. Tidak ada perkataan yang terucap saat itu selain permohonan rahmat dan ridha untuk yang telah pergi.

Sejumlah ulama pergi menemui wali Mesir yaitu Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam, memintanya datang ke rumah duka untuk memandikan Imam sesuai dengan wasiatnya. Ia berkata kepada mereka, "Apakah Imam meninggalkan hutang?", "Benar!" jawab mereka serempak. Lalu wali Mesir memerintahkan untuk melunasi hutang-hutang Imam seluruhnya. Setelah itu wali Mesir memandikan jasad sang Imam.

Jenazah Imam Syafi"i diangkat dari rumahnya, melewati jalan al-Fusthath dan pasarnya hingga sampai ke daerah Darbi as-Siba, sekarang jalan Sayyidah an-Nafisah. Dan, Sayyidah Nafisah meminta untuk memasukkan jenazah Imam ke rumahnya, setelah jenazah dimasukkan, dia turun ke halaman rumah kemudian salat jenazah, dan berkata, "Semoga Allah merahmati asy-Syafi"i, sungguh ia benar-benar berwudhu dengan baik."

Jenazah kemudian dibawa, sampai ke tanah anak-anak Ibnu Abdi al-Hakam, disanalah ia dikuburkan, yang kemudian terkenal dengan Turbah asy-Syafi"i sampai hari ini, dan disana pula dibangun sebuan masjid yang diberi nama Masjid asy-Syafi"i. Penduduk Mesir terus menerus menziarahi makam sang Imam sampai 40 hari 40 malam, setiap penziarah tak mudah dapat sampai ke makamnya karena banyaknya peziarah.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ The Origins of Islamic Law: The Qurʼan, the Muwaṭṭaʼ and Madinan ʻAmal, by Yasin Dutton, pg. 16
  2. ^ Al-'Aqil, Muhammad bin A. W. (2018). Manhaj 'Aqidah Imam Asy-Syafi'i. Jakarta: Pustaka Imam Syafi'i. hlm. 41. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]