Lompat ke isi

Ikan pemangsa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Barakuda memangsa ikan yang lebih kecil

Ikan pemangsa atau ikan predator adalah ikan hiperkarnivora yang secara aktif memangsa ikan lain atau hewan air. Contohnya termasuk hiu, Xiphioidea, barakuda, aligator gar, tuna, Coryphaena, perch, dan salmon. Beberapa ikan omnivora seperti piranha perut merah terkadang juga bisa menjadi predator, meskipun mereka tidak secara ketat dianggap sebagai ikan predator utama.

Populasi ikan predator besar seluruh samudra diperkirakan sekitar 10% dari tingkat pra-industri mereka pada tahun 2003,[1] dan mereka paling berisiko punah; terdapat tingkat kepunahan ikan predator besar yang tidak proporsional selama peristiwa kepunahan Kapur–Paleogen 66 juta tahun yang lalu.[2] Penciptaan reservat perikanan telah ditemukan dapat memulihkan populasi ikan predator besar seperti kerapu, gulamah, latidae, dan lainnya.[3]

Ikan predator beralih di antara jenis mangsa sebagai respons terhadap variasi kelimpahannya. Perubahan preferensi tersebut tidak proporsional dan diseleksi karena dianggap efisien secara evolusioner.[4] Ikan predator dapat menjadi hama jika mereka diperkenalkan ke dalam ekosistem di mana mereka menjadi predator puncak baru. Sebuah contoh, yang telah menyebabkan banyak masalah di Maryland dan Florida, dimana ikan gabus menjadi hama disana.[5]

Ikan predator seperti hiu, Xiphioidea, alligator gar, dan tuna merupakan bagian dari makanan manusia dan menjadi target perikanan, tetapi mereka cenderung mengkonsentrasikan raksa dalam jumlah yang signifikan di dalam tubuh mereka karena mereka berada di posisi tinggi dalam rantai makanan, terutama sebagai predator puncak, karena biomagnifikasi.[6]

Predator merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam mengelola perikanan, dan metode untuk melakukannya tersedia dan digunakan di beberapa tempat.[7]

Selain itu, keberadaan predator ini juga memungkinkan mangsanya untuk mengembangkan tindakan balasan melalui seleksi alam. Akibatnya, predator dan mangsa akan terkunci dalam perlombaan senjata evolusioner, masing-masing berusaha untuk mengungguli yang lain. Kehadiran predator ikan memainkan peran besar dalam ukuran, bentuk, dan kinerja renang kecebong katak hijau. Kehadiran predator-predator ini di habitatnya menyebabkan kecebong mengembangkan tubuh kecil dan otot ekor besar agar dapat melarikan diri dari predatornya dengan lebih cepat dan efisien.

Beberapa ikan predator seperti hiu lamnidae, ikan marlin, tuna, ikan opah, dan ikan tenggiri kupu-kupu memiliki kemampuan endotermi kranial, yaitu kemampuan untuk meningkatkan suhu mata dan otak, yang membantu penglihatan dan fungsi saraf selama perubahan suhu lingkungan.[8]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Myers, Ransom A.; Worm, Boris (15 May 2003), "Rapid worldwide depletion of predatory fish communities", Nature, 423 (6937), Macmillan: 280–283, Bibcode:2003Natur.423..280M, doi:10.1038/nature01610, PMID 12748640, S2CID 2392394.
  2. "Study unravels why certain fishes became extinct 65 million years ago". eScienceNews. 26 March 2009. Diakses tanggal 2009-09-30.
  3. Garry R. Russ; Angel C. Alcala (2003), "Marine Reserves: rates and patterns of recovery and decline of predatory fish, 1983–2000" (PDF), Ecological Applications, 13 (6): 1553–1565, doi:10.1890/01-5341
  4. WW Murdoch; S Avery; MEB Smyth (1975), "Switching in predatory fish", Ecology, 56 (5), Ecological Society of America: 1094–1105, doi:10.2307/1936149, JSTOR 1936149
  5. US acts over predatory fish, BBC, 23 July 2002
  6. Definition of predatory species of fish to which the higher level of methyl mercury applies, Food and Agriculture Organization of the United Nations, 6 May 1994, diarsipkan dari asli tanggal 4 March 2016, diakses tanggal 10 May 2020
  7. Methods to consider predators in fishery management, The Pew Charitable Trusts, 7 May 2013
  8. Runcie, Rosa; et al. (2009). "Evidence for cranial endothermy in the opah (Lampris guttatus)". J Exp Biol. 212 (4): 461–470.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]