Lompat ke isi

Ijang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Ijang merupakan benteng bukit berpundak yang didirikan sebagai tempat tinggal oleh Suku Ivatan. Struktur ini didirikan di pucuk bukit serta tepiannya dan banyak tersebar di Kepulauan Batanes, Filipina.[1] Formasi batuan yang menjulang tinggi tersebut digunakan sebagai benteng atau tempat perlindungan masyarakat di sekitarnya terhadap musuh mereka.[2]

Latar belakang

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1994, Eusebio Dizon, wakil direktur Museum Nasional Filipina melakukan perjalanan ke Batanes dengan timnya untuk melakukan proyek arkeologis. Pada waktu proyek dijalankan, mereka menemukan bukit berbentuk segitiga di Savidung, sebuah kota di Munisipalitas Sabtang. Strkture tersebut dikenal sebagai Ijang.[3][2] Ijang dideskripsikan sebagai struktur mirip dengan kastel gusuku di Kepulauan Okinawa, Jepang. Keduanya dibangun di tempat yang agak tinggi serta memiliki artefak seperti keramik dari dinasti Song dan manik-manik Tiongkok yang berasal dari abad ke-11.[4] Diketahui bahwa Orang Ivatan awalnya tinggal di dalam ijang, yang dibangun seperti bukit berbenteng. Mereka juga diketahui meminum anggur tebu, yang dikenal sebagai palek. Di sekitar ijang, mereka umumnya melakukan transaksi dengan menggunakan emas dan melakukan pertanian sekaligus pembangunan perahu untuk pelayaran.

Berdasarkan sejarah dan tradisi lisan, Suku Ivatan pada awalnya terbagi menjadi klan-klan kecil yang tinggal tak jauh dari laut. Selama konflik antarklan, klan yang diserang akan menaiki puncak ijang untuk menyelamatkan diri. Dari atasnya, mereka dapat mempertahankan diri dengan melemparkan batu ke arah musuh. Puncak ijang saat ini masih dipenuhi batu, yang digunakan sebagai amunisi primitif masyarakat. Membangun tempat berlindung di atas ijang menjadi penting ketika pertempuran berlangsung lama. Ijang pertama kali dideskripsikan oleh Kapten William Dampier, seorang bajak laut Inggris, ketika ia mengunjungi Pulau Ivuhos pada tahun 1687. Saat ini, masih terdapat jejak-jejak tempat tinggal kuno tersebut, termasuk tiang-tiang batu yang berdiri atau tergeletak di tempat orang Ivatan meninggalkannya ketika mereka meninggalkan cara hidup pagan mereka dan beralih ke agama Kristen pada akhir abad ke-18.[2]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Bellwood, Peter; Dizon, Eusebio (2013), Bellwood, Peter; Dizon, Eusebio (ed.), "The Batanes Islands, Their First Observers, and Previous Archaeology", 4000 Years of Migration and Cultural Exchange, The Archaeology of the Batanes Islands, Northern Philippines, vol. 40, ANU Press, hlm. 1–8, ISBN 978-1-925021-27-1, JSTOR j.ctt5hgz91.6, diakses tanggal 2021-01-25
  2. 1 2 3 Dizon, Eusebio Z.; Santiago, Rey A. (1996). "Archaeological Explorations in Batanes Province". Philippine Studies. 44 (4): 479–499. ISSN 0031-7837. JSTOR 42634196.
  3. "15 Most Intense Archaeological Discoveries in Philippine History". FilipiKnow. Diakses tanggal 17 March 2015.
  4. Dizon, Eusebio (1997). "Archaeology of Batanes Province, Northern Philippines: The 1996-1997 Status Report".