IX Koto Sungai Lasi, Solok

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
IX Koto Sungai Lasi
Kecamatan
Negara Indonesia
ProvinsiSumatra Barat
KabupatenSolok
Pemerintahan
 • CamatAditiawarman, S.Sos.
Luas...... km²
Kepadatan...... jiwa/km²
Nagari/kelurahan9 Nagari
Jembatan beratap di IX Koto Sungai Lasi di sekitar tahun 1900

IX Koto Sungai Lasi adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Solok, Sumatra Barat, Indonesia. Kecamatan ini dilwati jalan Lintas Sumatra ruas Sijunjung-kota Solok. Ibu kotanya berada di jorong (Sungai Lasi) yang merupakan bagian dari Nagari Pianggu.

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

Utara Kecamatan X Koto Diateh, Kabupaten Sijunjung dan Kota Sawahlunto
Timur Kecamatan Payung Sekaki
Selatan Kecamatan Payung Sekaki
Barat Kecamatan Kubung, Kecamatan Bukik Sundi dan Kota Solok

Nagari/ kelurahan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan ini terdiri dari 9 nagari, yaitu:

  1. Bukik Baih
  2. Guguak Sarai
  3. Indudua
  4. Koto Laweh
  5. Pianggu
  6. Siaro-Aro
  7. Sungai Durian
  8. Sungai Jambua
  9. Taruang-taruang

Potensi[sunting | sunting sumber]

Daerah ini merupakan daerah yang terkenal dengan produksi buah-buahan. Seperti Buah durian, manggis, rambutan, duku dan rambai di Pianggu, taruang-taruang dan bukit bais. Di Kecamatan ini terdapat sebuah pasar mingguan yaitu Pasar Sungai Lasi yang ramainya pada setiap hari rabu. Secara umum kehidupan mereka adalah pertanian (sawah dan ladang). Daerah ini juga menyimpan cukup besar deposit bahan tambang seperti biji besi. Dialiri oleh sungai seperi Sungai Lasi dan Batang Pamo.

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Sebagai ibukecamatan nagari pianggu dihuni oleh 5 suku yaitu, Supanjang, Caniago, Panai, Malayu dan Dalimo. Daerah ini sering diterjang banjir bandang. Di sepanjang aliran Sungai, karena hampir semua lereng bukit gundul dan dengan kemiringan yang tajam. Banjir bandang sering merusak lahan perasawahan. Disamping itu juga disebabkan banyaknya tambang pasir dan cadas ikut memperburuk situasi