Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Logo UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.png
Logo Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Nama lain
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Nama sebelumnya
IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Moto"Knowledge, Piety, Integrity"
JenisUniversitas Negeri
Didirikan1 Juni 1957
RektorProf. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, Lc., M.A.
Staf akademik
± 1.435
Jumlah mahasiswa± 34.182
Alamat
Jl. Ir. H. Djuanda No. 95, Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangerang Selatan 15412
, ,
6°18′24″S 106°45′22″E / 6.3066928°S 106.756146°E / -6.3066928; 106.756146Koordinat: 6°18′24″S 106°45′22″E / 6.3066928°S 106.756146°E / -6.3066928; 106.756146
KampusUrban
BahasaBahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab
WarnaBiru     
Nama julukanUIN Syahid/UIN Jakarta
Situs webwww.uinjkt.ac.id

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta atau UIN Jakarta (sebelumnya bernama IAIN Syarif Hidayatullah atau IAIN Jakarta) (Bahasa Inggris: Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, Bahasa Arab: جامعة شريف هداية الله الإسلامية الحكومية جاكرتا) adalah sebuah universitas Islam negeri yang terletak di Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangerang Selatan.

Sejarah

Sejarah pembentukan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berawal dari didirikannya Sekolah Tinggi Islam (STI) pada tahun 1940, yang kemudian berubah menjadi Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) tahun 1957-1960, kemudian menjadi bagian dari fakultas IAIN al-Jami’ah al-Islamiyah al-Hukumiyah tahun 1960-1963, hingga memperoleh kewenangan yang lebih luas sebagai IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1963-2002, dan mengalami perubahan nama menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2002-sekarang. Dibentuknya ADIA (1 Juni 1957), diperingati sebagai hari jadi universitas ini.[1]

Periode perintisan

Kampus UIN Syarif Hidayatullah.

Pendirian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ditetapkan melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2002. Lembaga pendidikan ini hadir seiring dengan meningkatnya kebutuhan pendidikan tinggi Islam modern. Hal ini telah mulai berkembang, termasuk pada masa-masa sebelum kemerdekaan Indonesia. Dr. Satiman Wirjosandjojo yang merupakan seorang Muslim terpelajar, sempat melakukan sejumlah usaha terkait pembentukan Pesantren Luhur sebagai lembaga pendidikan tinggi berasaskan Islam. Hal ini kemudian tidak terlaksana karena berbagai hambatan yang dilakukan oleh Belanda saat masa penjajahan.[2]

Pada tahun 1940 di Padang, Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI). Namun demikian, STI kemudian berhenti beroperasi pada tahun 1942, seiring pendudukan oleh Jepang. Jepang kemudian menjanjikan agar suatu lembaga pendidikan tinggi agama dapat dibentuk di Jakarta. Hal ini menjadi landasan pendirian yayasan, dimana Mohammad Hatta bertindak sebagai ketua yayasan, dengan didampingi oleh Mohammad Natsir yang menjadi sekretaris.

Yayasan tersebut lalu mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta pada tanggal 8 Juli 1945. Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir menjadi pemimpin STI. Pendirian STI juga didukung oleh beberapa tokoh, termasuk Mohammad Hatta, Abdul Wahid Hasjim, Mas Mansur, Fathurrahman Kafrawi, dan Farid Ma'ruf. Setahun berselang, STI dipindahkan ke Yogyakarta, pada saat ibu kota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. STI kemudian mengalami perkembangan positif, yang diikuti dengan perubahan nama STI menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) pada 22 Maret 1948. Hingga tahun 1948, UII memiliki empat buah fakultas, yakni Fakultas Agama, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Pendidikan.

Fakultas Agama UII kemudian dipisahkan dari UII, dan dibentuk Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN). Pada saat itu, Departemen Agama memerlukan sejumlah tenaga fungsional sehingga perguruan tinggi agama Islam dipandang perlu untuk dibentuk. Pendirian PTAIN merujuk kepada Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1950. PTAIN dimaksudkan sebagai lembaga pengajaran Islam tingkat tinggi, sekaligus menjadi pusat ilmu agama Islam. Peraturan Pemerintah tersebut juga menetapkan 26 September 1950 sebagai hari jadi PTAIN. Pada 1951, terdapat 67 orang mahasiswa dalam tiga jurusan, yakni Jurusan Tarbiyah, Jurusan Qadla (Syariah), dan Jurusan Dakwah. PTAIN dipimpin oleh K.H.R. Muhammad Adnan.

Beberapa mata kuliah yang diajarkan pada periode tersebut meliputi beberapa hal, termasuk Bahasa Arab, Pengantar Ilmu Agama, Fiqih, Ushul Fiqih, Tafsir, Hadits, Ilmu Kalam, Filsafat, Mantiq, Akhlaq, Tasawuf, Perbandingan Agama, Dakwah, Tarikh Islam, Sejarah Kebudayaan Islam, Ilmu Pendidikan dan Kebudayaan, Ilmu Jiwa, Pengantar Hukum, Asas-asas Hukum Publik dan Privat, Etnologi, Sosiologi, dan Ekonomi. Setelah kelulusan, mahasiswa mendapatkan gelar Bachelor of Art (B.A.) bagi mereka yang lulus Bakaloreat dan Doktorandus (Drs.) untuk mahasiswa yang lulus tingkat Doktoral. Komposisi tersebut menjadi kajian utama perguruan tinggi Islam yang terus berlanjut sampai masa-masa berikutnya. Gelar akademik yang ditawarkan juga tetap digunakan sampai periode 1980-an.[3]

Periode ADIA (1957–1960)

Rektorat UIN Syarif Hidayatullah.

Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) didirikan di Jakarta pada tanggal 1 Juni 1957 oleh Departemen Agama Republik Indonesia. Hal ini seiring dengan kebutuhan akan tenaga fungsional yang menajar ilmu agama Islam. Dengan dibentuknya ADIA, para pegawai negeri dapat memperoleh pendidikan akademi dan semi-akademi yang mampu mengajarkan ilmu agama Islam di berbagai tingkat dan lembaga pendidikan. Pendidikan berlangsung dalam dua tingkat, yakni semi-akademi selama tiga tahun, yang diikuti dengan tingkat akademi selama dua tahun, sehingga total masa studi berlangsung untuk lima tahun.

Terdapat tiga buah jurusan dalam ADIA, yakni Pendidikan Agama, Bahasa Arab, dan Da'wah wal Irsyad yang dikenal sebagai jurusan khusus Imam Tentara. Kurikulum yang dipergunakan tidak memiliki perbedaan signifikan bila dibandingkan dengan kurikulum yang digunakan pada PTAIN lainnya, dengan penambahan materi terkait para tenaga fungsional. ADIA dipimpin oleh Prof. Dr. H. Mahmoed Joenoes yang menjabat sebagai dekan, dengan didampingi oleh Wakil Dekan Prof. Dr. H. Bustami Abdul Gani.

Mahasiswa yang dapat masuk dan berkuliah di ADIA hanyalah mereka yang sedang ditugaskan untuk belajar. Para calon mahasiswa merupakan pegawai atau guru agama yang berada dalam lingkungan Departemen Agama. Beberapa mahasiswa lain merupakan perwakilan berbagai daerah di Indonesia. Pada saat itu, ADIA ditunjang pengelolaan dan penyediaan anggarannya oleh Jawatan Pendidikan Agama (Japenda) sebagai bagian dari Departemen Agama Republik Indonesia. Japenda bertugas dalam hal pengelolaan madrasah dan persiapan para tenaga pendidik Islam untuk sekolah umum.

Periode fakultas IAIN al-Jami’ah Yogyakarta (1960–1963)

Dalam tempo sepuluh tahun, beberapa perkembangan ditunjukkan oleh PTAIN, antara lain dengan peningkatan jumlah mahasiswa dan perluasan materi pembelajaran. Beberapa mahasiswa juga berasal dari sejumlah negara di Asia Tenggara, antara lain Malaysia, Singapura, dan Brunei. Dengan berkembangnya lembaga pendidikan ini, ADIA dan PTAIN dilebur menjadi suatu lembaga pendidikan tinggi agama Islam negeri, yang dikuatkan dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1960, yang ditandatangani pada 24 Agustus 1960. Pada saat yang sama, lembaga ini mengalami perubahan nama menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) al-Jami'ah al-Islamiyah al-Hukumiyah. Peresmian IAIN dilakukan di Gedung Kepatihan Yogyakarta oleh K.H. M. Wahib Wahab selaku Menteri Agama. Prof. Mr. Sunario Sastrowardoyo menjadi rektor pertama IAIN.

Kedua lembaga tersebut kembali dipisahkan setelah Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1963 ditetapkan. Hal ini disusul dengan penetapan dua IAIN di Indonesia, yakni IAIN Sunan Kalijaga di Yogyakarta dan IAIN Syarif Hidayatulah di Jakarta, berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 49 Tahun 1963, tertanggal 25 Februari 1963.

Asal mula nama "Syarif Hidayatullah"

Nama Syarif Hidayatullah diambil dari nama asli Sunan Gunung Jati, salah satu Walisongo, sembilan penyiar Islam di Pulau Jawa. Syarif Hidayatullah (1448–1568) merupakan putra Nyai Rara Santang, putri Prabu Siliwangi dari Pajajaran, yang menikah dengan Syarif Abdullah, penguasa di salah satu wilayah Mesir. Syarif Hidayatullah memiliki banyak gelar, termasuk gelar Sunan Gunung Jati setelah ia meninggal dunia dan dimakamkan di Cirebon. Syarif Hidayatullah dikenal sebagai salah satu Walisongo yang memiliki peran ganda, yakni sebagai penguasa, setelah berhasil menguasai Sunda Kelapa atas pasukan Portugis, sekaligus sebagai seorang ulama yang menyiarkan ajaran agama.

Dalam melakukan dakwah, ia menggunakan pendekatan tukar pikiran secara personal dengan toleransi, ataupun juga dengan cara debat apabila orang tersebut cenderung secara jelas-jelasan menentang konsep Islam. Pendekatan ini diklaim efektif dalam menarik simpati masyarakat, di samping juga dengan sikap sosialnya yang tinggi dengan banyak memberikan bantuan kepada masyarakat miskin.[4]

Syarif Hidayatullah tidak bersikap frontal terhadap agama, kepercayaan, dan adat istiadat penduduk setempat. Sebaliknya, ia memperlihatkan keindahan dan kesederhanaan Islam. Yang dilakukannya adalah menunjukkan kelebihan Islam dan persamaan derajat di antara sesama manusia. Dalam rangka membina keberagaman masyarakat dari berbagai etnis, ia menjalin ikatan perkawinan dengan adik Bupati Banten, putri Kaunganten (1475), Ibu Maulana Hasanuddin; seorang putri Cina, Ong Tien, pada tahun 1481 (tidak memperoleh keturunan); putri Arab bernama Syarifah Bagdad, ibu dari Pangeran Jaya Kelana dan Pengeran Brata Kelana, dan Nyi Tepasari dari Majapahit, ibu dari Ratu Winahon dan Pangeran Pasarean. Syarif Hidayatullah memiliki peranan yang besar dalam pengukuhan Islam di Sunda Kelapa, yang di kemudian hari ia memberikan nama Jayakarta dan diubah nama kota tersebut menjadi Batavia oleh Kompeni Belanda. Penamaan IAIN Jakarta dengan Syarif Hidayatullah antara lain bertujuan menghargai jasa sekaligus menjadikannya sebagai sumber inspirasi bagi pengembangannya di masa yang akan datang.[5]

Perubahan IAIN

Kampus IAIN Syarif Hidayatullah (1970)

Sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi Islam tertua di Indonesia, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dipandang sebagai "Jendela Islam di Indonesia", sekaligus sebagai simbol kemajuan dalam pembangunan sosial, secara khusus dalam hal sosial-keagamaan.[6] Hal tersebut mendorong IAIN untuk kemudian berkembang dan berubah menjadi UIN Syarif Hidayatullah. Pada saat Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, menjabat sebagai pimpinan lembaga, IAIN mengalami penambahan program studi, dengan penambahan jurusan Psikologi dan Pendidikan Matematika pada Fakultas Tarbiyah. Fakultas Syariah juga mengalami penambahan jurusan dengan dimulainya Jurusan Ekonomi dan Perbankan Islam sejak tahun akademik 1998–1999. IAIN juga membuka program studi Agrobisnis dan Teknik Informatika, sebagai hasil kerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Program studi Manajemen dan Akutansi kemudian juga mulai dibuka pada tahun 2002. Pada tahun 2001, IAIN mengalami penambahan fakultas, yakni Fakultas Psikologi dan Dirasat Islamiyah yang memiliki kerja sama dengan Universitas Al-Azhar, Mesir.

Pada tanggal 21 November 2001, Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Agama mengeluarkan rekomendasi pemerintah dalam bentuk Surat Keputusan Bersama (SKB) agar IAIN dapat berubah menjadi UIN. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas kemudian merekomendasikan pembukaan 12 program studi, baik eksakta maupun sosial, yakni (secara alfabetis):

  • Akuntansi
  • Bahasa dan Sastra Inggris
  • Biologi
  • Fisika
  • Ilmu Perpustakaan
  • Kimia
  • Manajemen
  • Matematika
  • Psikologi
  • Sistem Informasi
  • Sosial Ekonomi Pertanian/Agrobisnis
  • Teknik Informatika

Rancangan Keputusan Presiden terkait perubahan bentuk dari IAIN menjadi UIN juga mendapatkan rekomendasi dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Dirjen Anggaran pada Departemen Keuangan, masing-masing pada Januari dan Februari 2002. Pada tanggal 20 Mei 2002, Presiden menandatangani Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 2002, tentang Perubahan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Periode UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Landmark UIN Syarif Hidayatullah

Peresmian terkait perubahan bentuk dari IAIN menjadi UIN berlangsung pada 8 Juni 2002, bersamaan dengan pelaksanaan Dies Natalis ke-45 dan Lustrum ke-9, serta pemancangan tiang pertama untuk Kampus UIN Jakarta yang didukung dalam hal pendanaan oleh Islamic Development Bank (IDB). UIN Jakarta juga membuka satu fakultas baru, yakni Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan dengan program studi Kesehatan Masyarakat. Hal ini disetujui oleh Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Agama, masing-masing pada April dan Mei 2004. UIN Jakarta merayakan Golden Anniversary pada 1 Juni 2007, seiring 50 tahun pendirian lembaga pendidikan ini.

Logo UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.jpg

Logo baru UIN Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan amanat Rapat Senat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2008. Logo baru itu mengandung 4 (empat) karakter utama, yaitu Keislaman, Keilmuan, Keindonesiaan, dan Globalisme. Ciri atau karakter tersebut tercermin dalam logo baru dengan penjelasan sebagai berikut:

Bayang-bayang bola dunia

  • Menggambarkan wawasan global UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
  • Menggambarkan misi Islam sebagai rahmat bagi semesta (Rahmatan Li al-Alamin) yang juga diemban oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
  • Menggambarkan Kubah masjid.

Garis edar elektron

  • Menggambarkan ilmu pengetahuan yang secara terus menerus harus digali, diriset, dan dikembangkan.
  • Menggambarkan perubahan dan dinamika kehidupan yang harus senantiasa ditanggapi atau direspon oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
  • Menggambarkan keajegan hukum alam (sunnatullah) yang diperintahkan Allah SWT untuk selalu dibaca dan diteliti untuk kesejahteraan umat manusia.

Bunga lotus atau sidrah

  • Diambil dari al-Qur'an: Sidrah al-Muntaha. Sebuah lambang dan cita-cita setiap mukmin untuk menggapai pengetahuan kebenaran tertinggi (Ma'rifah al-Haq) demi kemaslahatan bersama.

Kitab

  • Menggambarkan himpunan petunjuk kehidupan dan moral serta sumber inspirasi dan kaidah hukum yang tertulis di dalam Kitab Suci al-Qur'an dan al-Hadits yang harus ditaati bagi pengembangan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
  • Menggambarkan himpunan ilmu pengetahuan yang tertulis di dalam berbagai literatur yang harus terus digali dan dikembangkan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Garis putih pada kata-kata UIN

  • Menggambarkan sebuah tali pengikat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai universitas yang kuat, yang istiqamah, yang teguh berpendirian dan senantiasa mengedepankan kejernihan intelektual dan moral.
  • Menggambarkan Sirat al Mustaqim.

Warna biru

  • Melambangkan kedalaman ilmu, kedamaian dan kepulauan Nusantara yang berada di antara dua lautan besar, sebuah wilayah yang mempertemukan berbagai peradaban dunia.

Warna kuning

  • Melambangkan cita-cita UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menuju tahun-tahun keemasan, kecemerlangan, Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Motto dan arah pengembangan

Motto

Syahida Inn UIN Syarif Hidayatullah

Sejak 2007 UIN Syarif Hidayatullah menetapkan motto "Knowledge, Piety, Integrity". Motto ini pertama kali disampaikan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, dalam pidato Wisuda Sarjana ke-67 tahun akademik 2006-2007.[4]

Knowledge mengandung arti bahwa UIN Syarif Hidayatullah memiliki komitmen menciptakan sumber daya insani yang cerdas, kreatif, dan inovatif. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berkeinginan memainkan peranan optimal dalam kegiatan learning, discoveries, and engagement hasil-hasil riset kepada masyarakat. Komitmen tersebut merupakan bentuk tanggung jawab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam membangun sumber insani bangsa yang mayoritas adalah Muslim. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ingin menjadi sumber perumusan nilai keislaman yang sejalan dengan kemodernan dan keindonesiaan. Oleh karena itu, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menawarkan studi-studi keislaman, studi-studi sosial, politik, ekonomi, sains dan teknologi modern dalam perspektif integrasi ilmu.

Piety mangandung pengertian bahwa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki komitmen mengembangkan inner quality dalam bentuk kesalehan di kalangan sivitas akademika. Kesalehan yang bersifat individual (yang tercermin dalam terma habl min Allah) dan kesalehan sosial (yang tercermin dalam terma habl min al-nas) merupakan basis bagi sivitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam membangun relasi sosial yang lebih luas.

Integrity mengandung pengertian bahwa sivitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan pribadi yang menjadikan nilai-nilai etis sebagai basis dalam pengambilan keputusan dan perilaku sehari-hari. Integrity juga mengandung pengertian bahwa sivitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki kepercayaan diri sekaligus menghargai kelompok-kelompok lain.

Dalam moto "Knowledge, Piety, Integrity" terkandung sebuah spirit untuk mewujudkan kampus madani, sebuah kampus yang berkeadaban, dan menghasilan alumni yang memiliki kedalaman dan keluasaan ilmu, ketulusan hati, dan kepribadian kukuh.

Arah pengembangan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah menjadi jendela keunggulan akademis Islam Indonesia (window of academic exellence of Islam in Indonesia) dan barometer perkembangan pembelajaran, penelitian, dan kerja-kerja sosial yang diselenggarakan kaum Muslim Indonesia dalam berbagai bidang ilmu. Dalam kerangka memperkuat peranannya tersebut UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berkomitmen untuk mengembangkan diri sebagai universitas riset (research university) dan universitas kelas dunia (world class university).

Universitas riset dapat diartikan sebagai universitas yang menjadikan tradisi riset sebagai basis normatif aktivitas universitas. Secara operasional, universitas riset adalah universitas yang mengimplementasikan sistem pendidikan berbasis riset dengan menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Satuan Kredit Semester (SKS) secara utuh; keseluruhan aktivitas penelitian menerapkan standar ilmiah; penyelenggaraan manajemen universitas mengacu pada penerapan Total Quality Management (TQM); dan mengupayakan produk-produk unggulan perguruan tinggi yang diapresiasi publik.

Sedangkan universitas kelas dunia, dapat diartikan bahwa pengembangan UIN Syarif Hidayatullah diarahkan untuk membangun jaringan kerja sama dengan universitas-universitas terkemuka di dunia. Jaringan kerja sama itu dirancang dalam berbagai tingkatan, baik pembelajaran dalam bentuk pertukaran mahasiswa (exchange students), penelitian, dan program-program pengabdian masyarakat (social services). Pada saat bersamaan pembangunan jaringan itu diharapkan dapat memberikan manfaat berupa pengakuan dunia internasional terhadap UIN syarif Hidayatullah Jakarta sebagai salah satu universitas berkualitas dunia.

Penghargaan

  • UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mendapatkan penghargaan "Pendaftar Tertinggi SPAN-PTKIN 2020 dan UM-PTKIN 2020" oleh Kementerian Agama RI pada 21 Agustus 2020.[7]
  • Jurnal Ilmiah "Studia Islamika" PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memperoleh predikat terbaik (Q1) se-Asia di bidang Arts and Humanities oleh Scimago Journal Rank (SJR) pada 11 Juni 2020.[8]
  • UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mendapatkan 3 bintang dari QS Stars Rated for Excellence pada 26 Juli 2018.[9]
  • UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menempati peringkat 13 universitas di Indonesia versi 4icu.org Juli 2017, dan berada di ranking pertama perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia.
  • UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menempati peringkat 20 universitas di Indonesia versi Webometrics Juli 2017, dan berada di ranking pertama perguruan tinggi Islam di Indonesia.
  • UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menempati peringkat 3 universitas di Indonesia versi Google Scholar Citations Januari 2017, dan berada di ranking pertama perguruan tinggi Islam di Indonesia.[10]
  • UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi perguruan tinggi Islam pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikasi ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN-QA) pada 26 April 2016.[11]
  • UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memperoleh akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang diputuskan pada 24 Mei 2013.

Rektorat dan fakultas

Rektorat

  • Rektor: Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, Lc., M.A.
  • Wakil Rektor Bidang Akademik: Prof. Dr. Zulkifli, MA.
  • Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum: Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM.
  • Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan: Prof. Dr. Masri Mansoer, MA.
  • Wakil Rektor Bidang Kerja Sama: Prof. Dr. Andi M. Faisal Bakti, MA.

Fakultas dan jurusan/program studi

Sebagai bentuk reintegrasi ilmu, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sejak tahun akademik 2002/2003 menetapkan nama-nama fakultas dan program studi sebagai berikut: [12]

No. Fakultas Dekan/Direktur Program Studi Gelar Akademik
I. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Dr. Sururin M.Ag. Pendidikan Agama Islam (S1) S.Pd.
Pendidikan Bahasa Arab (S1) S.Pd.
Pendidikan Bahasa Inggris (S1) S.Pd.
Pendidikan Bahasa Indonesia (S1) S.Pd.
Pendidikan Biologi (S1) S.Pd.
Pendidikan Kimia (S1) S.Pd.
Pendidikan Fisika (S1) S.Pd.
Pendidikan Matematika (S1) S.Pd.
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (S1) S.Pd.
Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah/SD (S1) S.Pd.
Pendidikan Guru Raudhatul Athfal (S1) S.Pd.
Manajemen Pendidikan (S1) S.Pd.
Pendidikan Agama Islam (S2) M.Pd.
Pendidikan Bahasa Arab (S2) M.Pd.
Pendidikan Bahasa Inggris (S2) M.Pd.
Manajemen Pendidikan Islam (S2) M.Pd.
II. Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) Saiful Umam, M.A., Ph.D. Bahasa dan Sastra Arab (S1) S.Hum.
Bahasa dan Sastra Inggris (S1) S.S.
Sejarah dan Peradaban Islam (S1) S.Hum.
Tarjamah (S1) S.Hum.
Ilmu Perpustakaan (S1) S.I.P.
Bahasa dan Sastra Arab (S2) M.Hum.
Sejarah dan Peradaban Islam (S2) M.Hum.
III. Fakultas Ushuluddin (FU) Dr. Yusuf Rahman, M.A. Perbandingan Agama (S1) S.Ag.
Akidah Filsafat (S1) S.Ag.
Tafsir Al-Qur'an (S1) S.Ag.
Tafsir Hadits (S1) S.Ag.
Ilmu Tasawuf (S1) S.Ag.
Perbandingan Agama (S2) M.Ag.
Akidah Filsafat (S2) M.Ag.
Tafsir Hadits (S2) M.Ag.
IV. Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Dr. Ahmad Tholabi, M.A. Perbandingan Madzhab (S1) S.H.
Hukum Tata Negara (Siyasah) (S1) S.H.
Hukum Pidana Islam (Jinayah) (S1) S.H.
Hukum Keluarga (Ahwal Syakhsyiyah) (S1) S.H.
Hukum Ekonomi Syariah (Mu'amalat) (S1) S.H.
Ilmu Hukum (S1) S.H.
Hukum Ekonomi Syariah (Mu'amalat) (S2) M.H.
Hukum Keluarga Islam (S2) M.H.
V. Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDKOM) Dr. Suparto, M.Ed. Komunikasi dan Penyiaran Islam (S1) S.Sos.
Bimbingan dan Penyuluhan Islam (S1) S.Sos.
Pengembangan Masyarakat Islam (S1) S.Sos.
Kesejahteraan Sosial (S1) S.Sos.
Manajemen Dakwah (S1) S.Sos.
Jurnalistik (S1) S.Sos.
Komunikasi dan Penyiaran Islam (S2) M.Sos.
VI. Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) Dr. Mohammad Syairozi Dimyathi Ilyas, M.A. Dirasat Islamiyah (S1) S.S.I.
Dirasat Islamiyah (S2) M.S.I.
VII. Fakultas Psikologi (FPSI) Dr. Zahrotun Nihayah, M.Si. Psikologi (S1) S.Psi.
Psikologi (S2) M.Psi.
VIII. Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Prof. Dr. Amilin, S.E.Ak., M.Si., CA., QIA., BKP., CRMP. Manajemen (S1) S.E.
Akuntansi (S1) S.E.
Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (S1) S.E.
Perbankan Syariah (S1) S.E.
Ekonomi Syariah (S1) S.E.
Perbankan Syariah (S2) M.E.
Perbankan Syariah (S3) Dr.
IX. Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Prof. Dr. Lily Surraya Eka Putri, M.Env.Stud. Teknik Informatika (S1) S.Kom.
Sistem Informasi (S1) S.Kom.
Sosial Ekonomi Pertanian/Agrobisnis (S1) S.P.
Biologi (S1) S.Si.
Kimia (S1) S.Si.
Fisika (S1) S.Si.
Matematika (S1) S.Si.
Teknik Pertambangan (S1) S.T.[13]
Sosial Ekonomi Pertanian/Agrobisnis (S2) M.P.
X. Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Dr. Zilhadia, M.Si., Apt. Ilmu Keperawatan (S1) S.Kep.
Farmasi (S1) S.Farm.
Kesehatan Masyarakat (S1) S.K.M.
Ners (Profesi) Ners.
Apoteker (Profesi) Apt.
XI. Fakultas Kedokteran (FK) dr. Hari Hendarto, Ph.D., Sp.PD-KEMD., FINASIM. Kedokteran (S1) S.Ked.
Pendidikan Dokter (Profesi) dr.
XII. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Ali Munhanif, M.A., Ph.D. Hubungan Internasional (S1) S.Sos.
Ilmu Politik (S1) S.Sos.
Sosiologi (S1) S.Sos.
XIII. Sekolah Pascasarjana (SPS) Prof. Dr. Jamhari Makruf, M.A. Magister Studi Islam (S2) M.A.
Doktor Studi Islam (S3) Dr.

Lembaga kemahasiswaan

Tingkat universitas

  • SEMA-U: Senat Mahasiswa Universitas
  • DEMA-U: Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas
  • UKM: Unit Kegiatan Mahasiswa:
    • LDK (Lembaga Dakwah Kampus)
    • HIQMA (Himpunan Qari-qari'ah Mahasiswa)
    • LPM INSTITUT (Lembaga Pers Mahasiswa Institut)
    • TEATER SYAHID
    • PSM (Paduan Suara Mahasiswa)
    • FORSA (Federasi Olahraga Mahasiswa)
    • KPA-ARKADIA (Kelompok Pencinta Alam - Arti Keagungan dan Keindahan Alam)
    • PRAMUKA
    • MENWA (Resimen Mahasiswa)
    • KMM-RIAK (Komunitas Musik Mahasiswa - Ruang Inspirasi Atas Kegelisahan)
    • KSR-PMI (Korps Suka Rela - Palang Merah Indonesia)
    • KOPMA (Koperasi Mahasiswa)
    • KMPLHK RANITA (Kelompok Mahasiswa Lingkungan Hidup Kemahasiswaan Kembara Insani Ibnu Batuttah)
    • FLAT (Foreign Languages Association)
    • KMF KALACITRA (Komunitas Mahasiswa Fotografi)
    • MARCHING BAND

Tingkat fakultas

  • SEMA-F: Senat Mahasiswa Fakultas
  • DEMA-F: Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas
  • LSO: Lembaga Semi Otonom Fakultas

Tingkat jurusan/program studi

  • DPMJ: Dewan Perwakilan Mahasiswa Jurusan/Program Studi
  • HMJ/HMPS: Himpunan Mahasiswa Jurusan/Program Studi

Fasilitas pendidikan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki empat lokasi kampus. Pertama, Kampus I yang terletak di Jl. Ir. H. Djuanda Ciputat. Kedua, Kampus II yang terletak di Jl. Kertamukti Ciputat. Ketiga, Kampus III yang terletak di Jl. Tarumanegara Ciputat. Keempat, Kampus IV yang terletak di Jl. Raya Parung Ciputat. Fasilitas pendidikan yang terdapat di Kampus I, II, III, dan IV antara lain:

Kampus I

  • Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
  • Fakultas Ushuluddin (FU)
  • Fakultas Syariah dan Hukum (FSH)
  • Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDKOM)
  • Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI)
  • Fakultas Sains dan Teknologi (FST)
  • Gedung Serba Guna
  • Gedung Kemahasiswaan
  • Kantor Rektorat
  • Kantor Administrasi
  • Kantor Akademik
  • Auditorium Utama
  • Aula Madya
  • Perpustakaan Utama
  • Book Store
  • Pusat Laboratorium Terpadu
  • Student Center
  • SMA/SMK Triguna Utama
  • Lapangan Olahraga
  • Cafe Cangkir
  • Gedung Parkir
  • Wisma Usaha
  • Bank Mandiri
  • Bank BNI
  • Bank BRI
  • Pemakaman
  • Masjid al-Jami'ah

Kampus II

  • Fakultas Psikologi (FPSI)
  • Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK)
  • Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
  • Sekolah Pascasarjana (SPS)
  • Perpustakaan Riset Pascasarjana
  • Pusat Layanan Psikologi
  • Pusat Bahasa dan Budaya
  • Pusat TIK Nasional
  • Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM)
  • Center for the Study of Religion and Culture (CSRC)
  • Kantor Kopertais dan Pusat Pelatihan PTAIS
  • Syahida Inn
  • Ma'had Aly
  • Asrama Putra
  • Asrama Putri
  • Asrama Putra FKIK
  • Asrama Putri FKIK
  • Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa)
  • Ikatan Alumni UIN (Ikaluin)
  • Lapangan Tenis
  • Kebun Percobaan
  • Lahan Parkir
  • Pesantren Mahasiswa
  • Madrasah Pembangunan
  • TK Ketilang
  • Komplek Perumahan Dosen
  • Rumah Sakit Syarif Hidayatullah
  • Masjid Fathullah

Kampus III

  • Fakultas Adab dan Humniora (FAH)
  • Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB)

Kampus IV

  • Pendidikan Profesi Guru (PPG)

Rumah Sakit Pendidikan

Rumah Sakit Haji Jakarta merupakan rumah sakit pendidikan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.[14]

Kurikulum, Alumni, dan pendaftaran

Kurikulum

Pantauan Udara UIN Syarif Hidayatullah

Sejak tahun akademik 2014/2015, seluruh program studi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menerapkan kurikulum berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Penerapan KKNI ini merupakan amanah Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Peraturan Pemerintah RI Nomor 14 Tahun 2014 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012, Permenristekdikti RI Nomor 44 Tahun 2015 tentang Standar Pendidikan Tinggi, dan SK Rektor Nomor 10 Tahun 2015, serta Perubahan SK Rektor Nomor 215 Tahun 2016 tentang Perubahan SK Rektor Nomor 10 Tahun 2015 tentang Pedoman Kurikulum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dengan mengacu pada KKNI, pengelompokan mata kuliah berdasarkan outcome yang jelas, sehingga diharapkan dapat membentuk sikap (attitude), pengetahuan (knowledge), keterampilan khusus (practical skills), keterampilan yang dapat dialihkan (transferable skills), dan pembelajaran seumur hidup. Universitas mendorong seluruh program studi agar berpartisipasi dalam asosiasi program studi dan asosiasi bidang keilmuan untuk membahas lebih tajam substansi ilmu untuk dimasukkan ke dalam mata kuliah.[15]

Alumni

Alumni dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah berjasa bagi dunia pendidikan, politik, agama, dan hiburan di Indonesia antara lain:

Pendaftaran

Setiap tahun akademik baru, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta membuka pendaftaran calon mahasiswa baru untuk Program Sarjana (S1), Program Magister (S2), dan Program Doktor (S3). Waktu pendaftaran program S1 biasanya dilakukan dari awal Februari sampai awal Juli. Beberapa jalur masuk UIN Syarif Hidayatullah Jakarta antara lain:

  • Jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN)
  • Jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN)
  • Jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Mandiri (SPMB Mandiri)
  • Jalur Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN)
  • Jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN)

Galeri

Pranala luar

Referensi