Hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Para sejarawan ilmu dan agama, filsuf, teolog, ilmuwan, dan lainnya dari berbagai wilayah geografis dan budaya telah membahas berbagai aspek hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan. Meskipun dunia kuno dan abad pertengahan tidak memiliki konsepsi yang menyerupai pemahaman modern tentang "ilmu pengetahuan" atau "agama",[1] unsur-unsur gagasan modern tertentu tentang persoalan ini berulang sepanjang sejarah. Frasa berpasangan-pasangan "agama dan ilmu pengetahuan" dan "ilmu pengetahuan dan agama" pertama kali muncul dalam literatur pada abad ke-19.[2][3] Ini bersamaan dengan penyempurnaan "ilmu" (dari studi-studi "filsafat alam") dan "agama" sebagai konsep berbeda dalam beberapa abad sebelumnya - sebagian karena profesionalisasi ilmu, Reformasi Protestan, kolonisasi, dan globalisasi.[4][5][6]

Baik ilmu pengetahuan maupun agama merupakan upaya sosial dan budaya yang kompleks yang bervariasi antar budaya dan telah berubah seiring waktu.[7][8][9] Sebagian besar inovasi ilmiah (dan teknis) sebelum revolusi ilmiah dicapai oleh masyarakat yang diorganisasi oleh tradisi-tradisi keagamaan. Para sarjana pagan, Islam, dan Kristen kuno memelopori unsur-unsur individu dari metode ilmiah. Roger Bacon, yang kerap dipuji karena memformalkan metode ilmiah, adalah seorang biarawan Fransiskan.[10] Agama Hindu secara historis menganut nalar dan empirisme, berpendapat bahwa ilmu membawa pengetahuan tentang dunia dan semesta yang sah, tetapi tidak lengkap. Pemikiran Konfusianisme, apakah bersifat religius atau nonreligius, telah memiliki pandangan berbeda tentang ilmu dari waktu ke waktu. Sebagian besar umat Buddha abad ke-21 memandang ilmu sebagai pelengkap keyakinan mereka. Sementara klasifikasi dunia materi oleh bangsa India dan Yunani kuno menjadi udara, bumi, api, dan air yang lebih bersifat filosofis, dan para protoilmuwan seperti Anaxagoras secara tidak sopan mempertanyakan pandangan populer tertentu tentang dewa-dewa Yunani, para sarjana Timur Tengah abad pertengahan menggunakan pengamatan praktis dan eksperimental untuk mengklasifikasikan materi.[11]

Peristiwa-peristiwa di Eropa seperti perkara Galileo awal abad ke-17, yang terkait dengan revolusi ilmiah dan Abad Pencerahan, mengantar para sarjana seperti John William Draper menyusun postulat (sekitar tahun 1874) sebuah tesis konflik, yang menyatakan bahwa agama dan ilmu pengetahuan telah berada dalam konflik secara metodologis, faktual, dan politis sepanjang sejarah. Beberapa ilmuwan kontemporer (seperti Richard Dawkins, Lawrence Krauss, Peter Atkins, dan Donald Prothero) menyetujui tesis ini. Namun, tesis konflik telah kehilangan dukungan di kalangan sebagian besar sejarawan ilmu pengetahuan kontemporer.[12][13][14]

Penerimaan publik atas fakta-fakta ilmiah kadang-kadang dapat dipengaruhi oleh kepercayaan agama seperti di Amerika Serikat, dengan beberapa kalangan menolak konsep evolusi melalui seleksi alam, terutama yang menyangkut manusia. Namun demikian, Akademi Sains Nasional Amerika Serikat telah menulis bahwa "bukti evolusi dapat sepenuhnya sesuai dengan keyakinan agama",[15] suatu pandangan yang didukung oleh banyak denominasi keagamaan.[16]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Harrison, Peter (2015). The Territories of Science and Religion. Chicago: University of Chicago Press. hlm. 3. ISBN 9780226184517. Diakses tanggal 22 May 2019. So familiar are the concepts 'science' and 'religion,' and so central to Western culture have been the activities and achievements that are usually labeled 'religious' and 'scientific,' that it is natural to assume that they have been enduring features of the cultural landscape of the West. But this view is mistaken. [...] 'science' and 'religion' are concepts of relatively recent coinage [...]. 
  2. ^ Roberts, Jon (2011). "10. Science and Religion". Dalam Shank, MIchael; Numbers, Ronald; Harrison, Peter. Wrestling with Nature : From Omens to Science. Chicago: University of Chicago Press. hlm. 254, 258, 259, 260. ISBN 978-0226317830. Indeed, prior to about the middle of the nineteenth century, the trope "science and religion" was virtually nonexistent.".."In fact, the late nineteenth and early twentieth centuries witnessed the creation of what one commentator called "whole libraries" devoted to reconciling religion and science. That estimate is confirmed by the data contained in figures 10.1 and 10.2, which reveal that what started as a trickle of books and articles addressing "science and religion" before 1850 became a torrent in the 1870s." (see Fig. 10.1 and 10.2) 
  3. ^ Harrison, Peter (2015). The Territories of Science and Religion. Chicago: University of Chicago Press. hlm. 171. ISBN 9780226184517. When did people first begin to speak about science and religion, using that precise terminology? As should now be apparent, this could not have been before the nineteenth century. When we consult written works for actual occurrences of the conjunction “science and religion” or “religion and science” in English publications, that is exactly what we discover (see figure 14). 
  4. ^ Harrison, Peter (2015). The Territories of Science and Religion. University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-18448-7. 
  5. ^ Nongbri, Brent (2013). Before Religion: A History of a Modern Concept. Yale University Press. ISBN 978-0-300-15416-0. 
  6. ^ Cahan, David, ed. (2003). From Natural Philosophy to the Sciences: Writing the History of Nineteenth-Century Science. Chicago: University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-08928-7. 
  7. ^ Stenmark, Mikael (2004). How to Relate Science and Religion: A Multidimensional Model. Grand Rapids, Mich.: W.B. Eerdmans Pub. Co. hlm. 45. ISBN 978-0-8028-2823-1. Recognizing that science and religion are essentially social practices always performed by people living in certain cultural and historical situations should alert us to the fact that religion and science change over time. 
  8. ^ Roberts, Jon (2011). "10. Science and Religion". Dalam Shank, Michael; Numbers, Ronald; Harrison, Peter. Wrestling with Nature : From Omens to Science. Chicago: University of Chicago Press. ISBN 978-0226317830. 
  9. ^ Lindberg, David C. (2007). "1. Science Before the Greeks (On changes in science here)". The Beginnings of Western Science: The European Scientific Tradition in Philosophical, Religious, and Institutional Context, Prehistory to A.D. 1450 (edisi ke-2nd). Chicago: University of Chicago Press. hlm. 2–3. ISBN 978-0226482057. 
  10. ^ Clegg, Brian. "The First Scientist: A Life of Roger Bacon". Carroll and Graf Publishers, NY, 2003
  11. ^ Science and Islam, Jim Al-Khalili. BBC, 2009
  12. ^ Russel, C.A. (2002). Ferngren, G.B., ed. Science & Religion: A Historical Introduction. Johns Hopkins University Press. hlm. 7. ISBN 978-0-8018-7038-5. The conflict thesis, at least in its simple form, is now widely perceived as a wholly inadequate intellectual framework within which to construct a sensible and realistic historiography of Western science. 
  13. ^ Shapin, S. (1996). The Scientific Revolution. University of Chicago Press. hlm. 195. In the late Victorian period it was common to write about the 'warfare between science and religion' and to presume that the two bodies of culture must always have been in conflict. However, it is a very long time since these attitudes have been held by historians of science. 
  14. ^ Brooke, J. H. (1991). Science and Religion: Some Historical Perspectives. Cambridge University Press. hlm. 42. In its traditional forms, the conflict thesis has been largely discredited. 
  15. ^ National Academy of Sciences and Institute of Medicine of the National Academies (2008). Science, Evolution and Creationism. National Academy of Sciences. hlm. xiii. 
  16. ^ National Academy of Sciences and Institute of Medicine of the National Academies (2008). Science, Evolution and Creationism. National Academy of Sciences. hlm. 13. Many religious denominations and individual religious leaders have issued statements acknowledging the occurrence of evolution and pointing out that evolution and faith do not conflict. 

Catatan[sunting | sunting sumber]

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]