Hubungan Nigeria dengan Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Hubungan Indonesia–Nigeria
Peta memperlihatkan lokasiIndonesia and Nigeria

Indonesia

Nigeria

Hubungan Nigeria dengan Indonesia adalah hubungan bilateral luar negeri antara Republik Indonesia dan Nigeria. Hubungan Nigeria dengan Indonesia diresmikan dengan pendirian hubungan diplomatik pada tahun 1965.[1] Kedua negara tersebut adalah anggota dari Gerakan Non-Blok, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Organisasi Kerjasama Islam (OIC) dan Kelompok D-8 Negara Berkembang.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Hubungan diplomatik antara Republik Federasi Nigeria dengan Republik Indonesia dimulai sejak tahun 1965, ketika Indonesia membuka kedutaannya di Lagos. Pada 1976 Nigeria mengikuti langkah ini dengan membuka kedutaan di Jakarta. Nigeria adalah negara Afrika Sub-Sahara pertama yang menetapkan hubungan diplomatik dengan Indonesia. Indonesia pentingnya peran Nigeria di wilayah Sub-Sahara dan menjadikan Nigeria sebagai gerbang diplomatik dengan Afrika Barat dan Tengah.

Kunjungan dan pertemuan kenegaraan[sunting | sunting sumber]

Telah ada pertukaran kunjungan pada tingkat tertinggi, oleh mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang mengunjungi Nigeria pada 2001 dan mantan Presiden Olusegun Obasanjo yang mengunjungi Indonesia tiga kali pada 2001, 2005 dan 2006.[2]

Presiden Umaru Musa Yar'Adua dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertemu di New York pada 2007 dan sepakat untuk menguatkan hubungan ekonomi kedua negara dengan meningkatkan perdagangan dan memudahkan investasi. Pada Februari 2013, Yudhoyono mengunjungi Abuja ditemani oleh 99 pebisnis untuk menguatkan hubungan dagang,[3] dan bertemu Presiden Nigeria Goodluck Jonathan.[4]

Kerjasama[sunting | sunting sumber]

Pada 2001, Indonesia dan Nigeria menandatangani Perjanjian Kerjasama Teknik dan Ekonomi, dan mendirikan Komisi Gabungan. Pada Februari 2013 kedua negara menyepakati perjanjian untuk pemeliharaan pesawat dan maskapai penerbangan senilai milyaran dollar. Perjanjian ini adalah perjanjiandan kontrak antara Garuda Maintenance Facility Aeroasia, Indonesia, dengan mitra Nigeria nya, termasuk Kabo Air, Silverback Africa, Hak Air, Max Air dan Service Air Ltd.[5] Pada Maret 2007, sebuah MOU disepakati antara Economic and Financial Crimes Commission (EFCC) dengan Komisi Pemberantasan Korupsi Indonesia (KPK).

Hubungan ekonomi[sunting | sunting sumber]

Nigeria adalah mitra dagang Indonesia yang terbesar kedua di Afrika setelah Afrika Selatan, di 2011 nilai dagang mencapai US$2.09 milyar, berkontribusi untuk 21.66 persen dari total perdagangan Indonesia dengan Africa.[6] di 2013, volume perdagangan bilateral mencapai $2.2 milyar. Ada lebih dari 15 perusahaan Indonesia yang saat ini beroperasi di Nigeria seperti Indorama, Indofood, Kalbe Farma and Sayap Mas Utama. Indofood telah mendirikan pabrik mi instan di Nigeria sejak 1995, hingga Indomie menjadi merek terkenal dan memiliki pabrik pembuatan mi instan terbesar di Afrika. Kedua negara juga merencanakan sebuah pabrik gas metana dan pabrik pupuk senilai US$2.5 billion di Nigeria melalui Pertamina Indonesia dan NNPC Nigeria berkolaborasi dengan Eurochem Indonesia dan Viva Methanol Nigeria.[butuh rujukan]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Country Profile: 'Nigeria National Day' Nigeria-Indonesia Relations". The Jakarta Post. September 29, 2008. Diakses tanggal 8 June 2013. 
  2. ^ Sudirman Haseng (17 August 2012). "Nigeria-Indonesia, people to people". Nigerian Guardian News. Diakses tanggal 8 August 2013. 
  3. ^ Yang Lina (3 February 2013). "Indonesian president arrives Nigeria with trade delegation". Xinhua. Diakses tanggal 8 August 2013. 
  4. ^ "Visit of President Yudhoyono of Indonesia". News Agency of Nigeria. 2 February 2013. Diakses tanggal 8 August 2013. 
  5. ^ Daniel Anozie (February 6, 2013). "Feeling fly: Nigeria, Indonesia sign MoU on aircraft maintenance". YNaija.com. Diakses tanggal 8 June 2013. 
  6. ^ "Exploring Africa, Mainstreaming Indonesia's Economic Diplomacy in Non-traditional Market". Ministry of Foreign Affair of the Republic of Indonesia. 2012: 80. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]