Honai

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Honai adalah rumah Adat Papua pada khususnya di Bagian Penggunungan. Papua terkenal dengan budayanya yang berakena ragam dan bahkan sebagaian dari masyarakatnya masih memegang kuat kebudayaannya. Ada satu hal yang perlu kita ketahui tentang papua yaitu mengenai rumah adatnya. Dibawah ini penjelasan mengenai rumah adat papuadibagian Pengunungan.

Struktur bangunan Rumah Honai terdiri dari dua lantai dan terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Lantai pertama biasanya terdiri dari kamar-kamar dan digunakan sebagai tempat tidur, dan lantai kedua digunakan sebagai tempat beraktifitas: ruang santai dan lain-lain. Honai sengaja dibangun sempit

atau kecil dan tidak berjendela yang bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua. Selain itu di tengah-tengah rumah Honai ada tempat pembakaran api unggun yang juga berfungsi sebagai penghangat. Tinggi bangunannya sekitar 2,5 meter.

Tipe Rumah Adat Honai, Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu : pertama Untuk kaum laki-laki (Honai Laki-Laki) kedua :  Wanita (disebut Ebei atau Honai Prempuan), ketiga Rumah untuk ternak juga untuk tempat bersante

kaum perempuan juga mempunyai honai hanya saja dalam pengistilahannya berbeda. Untuk kaum wanita, hanoi disebut “Ebeai”. Seperti halnya honai, Ebeai terdiri dari dua kata, yakni “Ebe” atau tubuh dalam pengertian kehadiran tubuh dan “Ai” yang berarti rumah.

Honai dan ebeai juga merupakan tempat sebagai sarana pendidikan , Honai laki-laki dewasa diajarkan mengenai banyak hal untuk mempersiapkan hidupnya ketika menginjak usia dewasa. Honai laki-laki dewasa tidak boleh ditinggali oleh perempuan.

Bagi ebeai rumah adat kaum perempuan, honai berfungsi untuk melakukan proses pendidikan bagi kaum perempuan yang beranjak dewasa. Di sana tinggal anak-anak perempuan dan anak-anak laki-laki, serta para kaum ibu. Di dalam honai atau ebeai, remaja perempuan diajarkan hal-hal yang akan dihadapi saatnya untuk menikah atau kawin. Rumah adat  ini biasa ditinggali oleh 5 hingga 10 orang. Rumah Honai dalam satu bangunan digunakan untuk tempat beristirahat (tidur), bangunan lainnya untuk tempat makan bersama, dan bangunan ketiga untuk kandang ternak.

Rumah Honai dibuat berkelompok, karena kadang satu keluarga membutuhkan lebih dari satu rumah untuk tempat ternak mereka tinggal. Bagi suku papua ternak babi adalah harta yang berharga sehingga mereka harus membuatkan rumah tersendiri. Tidak hanya itu ada beberapa permasalahan juga dapat menyelesaikan dengan pembayaran ternak babi.

Rumah adat Papua Honai merupakan rumah dengan arsitektur yang sederhana, inti dari rumah ini adalah rumah yang melindungi orang-orang yang tinggal di dalamnya dari udara dingin, tanpa fungsi rumit lainnya. Kesederhanaan ini mungkin yang dijadikan patokan utama bagi suku bagian pengunungan Papua untuk membangun rumah Honai mereka, karena mereka termasuk suku yang kerap kali berpindah tempat.[1][2]

Salah satu arsitektur lokal yang masih bertahan hingga kini adalah  Rumah Honai,adat suku Dani yang tinggal di lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Keberadaaan Rumah Honai dapat ditemukan di lembah-lembah dan pegunungan di tengah pulau Papua terutama di ketinggian 1.600 – 1.700 meter di atas permukaan air laut. Selain suku Dani, ada beberapa suku lain yang hidup bertetangga di lembah ini yakni Suku Yali dan suku Lani dengan populasi sekitar 100.000 jiwa.

Honai merupakan rumah mungil yang unik dengan bentuk seperti jamur. Ya, rumah ini memiliki bentuk dasar lingkaran dengan rangka kayu berdinding anyaman dengan atap kerucut yang terbuat dari jerami. Tingginya hanya 2,5 meter yang jika dilihat dari udara terlihat seperti jamur berwarna cokelat kehitaman berjajar di sepanjang lembah. Tak heran jika pertama kali ditemukan  oleh ekspedisi Richard Archbold pada tahun 1938 disebut sebagai Grand Valley.

Kekayaan ilmu arsitektur Honai ini sangatlah unik. Material yang digunakan dalam membuat Honai 100% berasal dari bahan alami yang dapat diperbaharui. Lantai tanah, dinding anyaman dan atap jerami merupakan bahan yang sangat ramah lingkungan. Hal ini menjadi contoh bagi arsitektur generasi sekarang bahwa jauh sebelum dikenalnya ilmu arsitektur hijau, nenek moyang kita di Indonesia sudah menerapkannya.

Bentuk rumah dengan atap menutup hingga ke bawah ini ternyata bertujuan untuk melindungi seluruh permukaan dinding agar tidak terkena air hujan. Sekaligus dapat meredam hawa dingin agar tidak masuk ke dalam rumah. Rumah ini juga tidak memerlukan jendela mengingat suhu di sana bisa mencapai 10-15 derajat celcius pada waktu malam. Hanya ada satu pintu untuk akses keluar-masuk dengan ventilasi kecil yang aman dari masuknya binatang liar.

Menariknya, meskipun mungil di dalam rumah ada dua lantai dengan fungsi yang berbeda. Lantai pertama sebagai tempat tidur dan lantai kedua untuk tempat bersantai, makan, dan aktivitas keluarga lainnya. Bahkan pada malam hari tepat di bagian tengah pada lantai terdapat galian tanah yang berfungsi sebagai tungku selain sebagai penerangan, bara api juga bermanfaat untuk menghangatkan tubuh.

Sesungguhnya rumah Honai hanya boleh dihuni oleh kaum laki-laki saja. Sedangkan rumah untuk kaum perempuan disebut rumah Ebei dan untuk kandang binatang disebut Wamai. Ketiga jenis rumah ini bentuknya terlihat sama persis, hanya saja rumah bagi para pria ukurannya lebih tinggi.

Selain berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah Honai juga berfungsi sebagai tempat menyimpan peralatan perang atau berburu, tempat melatih anak laki-laki agar menjadi orang yang kuat saat dewasa nanti sehingga dapat melindungin sukunya, tempat untuk menyusun strategi perang, juga tempat mnyimpan segala simbol dan peralatan warisan leluhur.

Ditilik dari kegunaan rumah Honai di atas, dapat kita simpulkan bahwa selain memiliki fungsi dalam bentuk fisik, rumah adat ini juga memiliki beberapa filosofi penting yang masih terus dipertahankan oleh masyarakat lembah Baliem. Pertama, Honai memiliki nilai menjaga kesatuan dan persatuan yang paling tinggi sesama suku serta mempertahankan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur untuk selamanya.

Kedua, dengan tinggal dalam satu Honai maka semua orang akan sehati, sepikir dan satu tujuan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Dan terakhir, rumah Honai merupakan simbol dari kepribadian dan merupakan martabat dan harga diri dari orang suku yang harus dijaga oleh keturunan atau anak cucu mereka di kemudian hari.

Waktu yang tepat bagi kita bila ingin melihat dan mengunjungi Honai adalah ketika Festival Lembah Baliem digelar. Ini adalah festival pertunjukan seni budaya dari masyarakat Pegunungan Tengah Papua. Lengkap dengan atraksi perang antar suku. Festival ini mulai digelar sejak tahun 1989 setiap bulan Agustus, bertepatan dengan bulan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia.

Satu hal yang menarik lainnya, selain sebagai tempat tinggal, Honai juga memiliki banyak fungsi lain. Ada Honai khusus untuk menyimpan umbi-umbian dan hasil ladang, ada pula yang khusus untuk pengasapan mumi. Fungsi yang disebut terakhir itu bisa ditemukan di Kampung Desa Kerulu dan Desa Aikima, tempat dua mumi paling terkenal di Lembah Baliem.

Untuk mencapai lokasi ini, kita terlebih dahulu harus menjangkau Bandar Udara Sentani di Jayapura, kemudian melanjutkan penerbangan ke Wamena yang berjarak 27 kilometer dari Lembah Baliem. Beberapa maskapai yang menyediakan penerbangan dari Jayapura ke Wamena di antaranya Trigana Air Service, Express Air, Wings Air, dan penerbangan komersial jenis Cessna superti Susy Air, MAF Aviation, dan AMA Aviation. Jenis maskapai penerbangan itu juga menyediakan rute perjalanan dari Wamena ke Jayapura. (K-HP)[3]

Rumah Adat Honai secara umum memiliki tinggi kurang lebih 2,5 meter.

Bentuk atap Rumah Adat Honai adalah bulat kerucut dan terbuat dari jerami atau ilalang.

Dinding rumah terbuat dari kayu yang di susun berdiri memiliki satu pintu pendek dan tidak berjendela.

Rumah Adat Honai terdiri dari dua lantai, lantai pertama memiliki fungsi sebagai ruang tamu sedangkan lantai kedua berfungsi sebagai kamar tidur.

Selain Berfungsi untuk tempat tinggal, Rumah Adat Honai juga berfungsi sebagai tempat menyimpan peralatan perang atau berburu, Tempat melatih anak laki-laki mereka agar menjadi orang yang kuat, sehingga Saat dewasa nanti dapat melindungi sukunya, Dijadikan sebagai tempat untuk menyusun strategi perang, Dijadikan Tempat menyimpan segala peralatan atau simbol dari adat suku warisan nenek moyang.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Rumah Adat Honai Asal Daerah Papua". Dunia Kesenian. 
  2. ^ "Rumah Adat Honai Asal Daerah Papua Ererere". Dunia Kesenian. Diakses tanggal 2020-02-27. 
  3. ^ Indonesia.go.id, Redaksi. "Rumah Honai, Kekayaan Arsitektur Hijau dari Papua". Indonesia.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-02-27.