Hussein Jayadiningrat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Hoesein Djajadiningrat)
Infobox orangHussein Jayadiningrat
Husein Djajadiningrat P.A.jpg
Biografi
Kelahiran8 Desember 1886 Edit the value on Wikidata
Kramatwatu Edit the value on Wikidata
Kematian12 November 1960 Edit the value on Wikidata (73 tahun)
Jakarta Edit the value on Wikidata
Kegiatan
PekerjaanIlmuwan dan sejarawan Edit the value on Wikidata
Keluarga
KeluargaKeluarga Djajadiningrat Edit the value on Wikidata
SaudaraAchmad Djajadiningrat dan Hilman Djajadiningrat Edit the value on Wikidata
KerabatErna Djajadiningrat (keponakan perempuan)
Idrus Nasir Djajadiningrat (Keponakan)
Maria Ulfah Santoso (maternal cousin (en) Terjemahkan) Edit the value on Wikidata
Husein Jayadiningrat beserta istrinya, B.R.Ay. Partini puteri tertua Mangkunagara VII

Prof. Dr. Husein Jayadiningrat (ejaan lama: Hoessein Djajadiningrat) atau yang bernama asli Pangeran Ario Hussein Jayadiningrat, (8 Desember 1886 – 12 November 1960). Lahir dari pasangan R. Bagus Jayawinata (R. Bagoes Djajawinata), wedana yang kemudian menjadi bupati Serang yang berpikiran maju, dan Ratu Salehah yang berasal Cipete Serang. Husein merupakan penanggungjawab surat kabar bulanan berbahasa Sunda Sekar Roekoen yang diterbitkan oleh Perkoempoelan Sekar Roekoen.[1]

Kakak Husein, Pangeran Ahmad Djajadiningrat, yang meneruskan jejak ayahnya menjadi bupati di Serang dan Hasan yang menjadi tokoh Sarekat Islam yang cukup berpengaruh di Jawa Barat pada masa awal pergerakan nasional.[2]

Husein merupakan salah satu pelopor tradisi keilmuan di Indonesia. Ketika masih remaja, ia dikenal sebagai pemuda yang pintar dan berbakat, baik dalam ilmu agama, maupun ilmu barat. Melihat bakat dan potensi yang dimiliki Husein, Snouck Hurgronje menyekolahkan Husein ke Universitas Kerajaan Leiden hingga meraih gelar doktor dengan disertasinya yang berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten dan mendapat predikat cumlaude dari promotornya Snouck Hurgronje.[3]

Disertasi Husein telah membuka jalan bagi penelitian tentang historiografi Indonesia sehingga ia pun dikenal pula sebagai “bapak metodologi penelitian sejarah Indonesia”. Dialah pribumi Indonesia pertama yang menjadi guru besar.

Ia juga dikenal sebagai ahli keislaman yang terkenal pada masanya.

Husein Jayadiningrat (duduk paling kiri) bersama-sama dengan para profesor di Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta)

Riwayat Hidup[sunting | sunting sumber]

Disertasi Jayadiningrat (1913)
Patung Jayadiningrat (Leiden)

Husein lulus tahun 1899 dari HBS, kemudian meneruskan studinya di Universitas Kerajaan di Leiden selama lima tahun (1905-1910). Selama satu tahun(sejak Mei 1914 sampai April 1915) ia tinggal di Aceh untuk belajar bahasa Aceh dalam rangka mempersiapkan kamus bahasa Aceh. Pada akhirnya kamus tersebut selesai digarap dengan bantuan Teuku Mohammad Nurdin, Abu Bakar Aceh, dan Hazeu dengan judul Atjeh-Nederlandsch Woordenboek (1934). Pada tahun 1919 Husein menjadi pembina surat kabar bulanan Sekar Roekoen yang berbahasa Sunda yang diterbitkan oleh Perkoempoelan Sekar Roekoen. Selain itu ia pun menerbitkan Pusaka Sunda, majalah berbahasa Sunda yang membahas tentang kebudayaan Sunda. Pada tahun yang sama ia juga mendirikan Java Instituut dan sejak tahun 1921 menjadi redaktur majalah Djawa yang diterbitkan oleh lembaga tersebut bersama sama dengan Raden Ngabehi Purbacaraka (Poerbatjaraka).

Tahun 1924 ia diangkat diangkat menjadi guru besar di Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta) dan memberikan kuliah tentang Hukum Islam, bahasa Sunda, Melayu, dan Jawa. Tahun 1935 dan 1941 diangkat menjadi anggota Dewan Hindia. Bertahun-tahun pernah menjadi konservator naskah (manuskrip) di Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Perkumpulan Masyarakat Pencinta Seni dan Ilmu Pengetahuan). Pada mulanya sebagai anggota diréksi, kemuadian dari tahun 1936 menjadi ketuanya.

Tahun 1940 ia menjabat sebagai Direktur Pengajaran Agama. Pada zaman Jepang menjadi Kepala Departemen Urusan Agama. Tahun 1948 diangkat menjadi Mentri Pengajaran, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan pada masa pemerintahan presiden Sukarno. Tahun 1952 menjadi gurubesar Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Tahun 1957 menjadi pemimpin umum Lembaga Bahasa dan Budaya (LBB), merangkap sebagai anggota Komisi Istilah di lembaga tersebut.

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

  • Presiden Joko Widodo atas nama negara memberikan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma kepada dedikasi Hoesein Djajadiningrat. Acara penyematan berlangsung di Istana Negara. Jakarta, 13 Agustus 2015.[4]

Daftar karya[sunting | sunting sumber]

  1. (Belanda) De Mohammedaansche wet en het geestesleven der Indonesische Mohammedanen (pidato ilmiah di Sekolah Tinggi Hukum, 1925);
  2. (Belanda) De Magische achtergrond van de Maleische pantoen (pidato ilmiah dalam rangka ulang tahun STH ke-9, 1933);
  3. (Belanda) De naam van den eerste Mohammedaanschen vorst in West Java (1933);
  4. (Belanda) Apa Artinya Islam (pidato ilmiah ulang tahun UI ke-4)
  5. (Indonesia) Hari Lahirnya Djajakarta (1956);
  6. (Belanda) Kanttekeningen bij “Het Javaanse Rijk Tjerbon in de eerste eeuwen van zijn bestaan" (1957);
  7. (Inggris) Islam in Indonesia (dalam Kenneth D. Morgan, Islam the Straight Path, 1956);
  8. (Indonesia) Pengaruh Islam di Iran dalam Islam di Indonesia (dalam Ivan Noris, 1959);
  9. (Inggris) Local Traditions and the Study of Indonesian History (dalam Soedjatmoko, dkk., An Introduction to Indonesian Historiography, 1965).

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Ekadjati, Edi S. (2005). Nu Maranggung Dina Sajarah Sunda. PT Kiblat Buku Utama. 
  2. ^ (Indonesia) Korver, A.P.E. (1985 (hlm.251)). Sarekat Islam: Gerakan Ratu Adil?. Jakarta, Pustaka Utama Grafiti. 
  3. ^ (Indonesia) Apa dan Siapa Prof.Dr.Husein Djajadiningrat? Diarsipkan 2016-03-05 di Wayback Machine., dikysumakarya.blogspot.com. Diakses tanggal 23 Juli 2011.
  4. ^ Hutasoit, Moksa (Kamis 13 Aug 2015, 11:18 WIB). "Jokowi Beri Tanda Kehormatan ke 46 Orang, dari Paloh Sampai Goenawan Mohamad". Jakarta: News.detik.com. Diakses tanggal 13 Agustus 2015.  Keputusan Presiden nomor 86/TK/tahun 2015 tanggal 7 Agustus 2015 tentang Penganugerahan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Paramadharma kepada 8 orang. Terdiri atas: 1. KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin Lteteh, Rembang. 2. Goenawan Soesatyo Mohamad, sastrawan budayawan. 3. Alm. Petrus Josephus Zoetmulder, ahli sastra Jawa Kuno dan Penyusun Kamus Jawa Kuno Inggris. 4. Alm. Wasi Jolodoro (Ki Tjokrowasito]]), komposer musik karawitan Jawa dan pendukung utama Sedra Tari Ramayana. 5. Alm. Hoesein Djajadiningrat, pelopor tradisi keilmuan. 6. Alm. Nursjiwan Tirtaamidjaja, perancang busana dan batik. 7. Alm. Hendra Gunawan, pelukis dan pematung. 8. Alm. Soejoedi Wiroatmojo, arsitek.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]