Hendrik Kraemer

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Hendrik Kraemer

Dr. Hendrik Kraemer (lahir 17 Mei 1888 di Amsterdam, meninggal 11 November 1965 di Driebergen) adalah seorang misiolog, ahli bahasa teolog awam, dan tokoh ekumenis Hervormd Belanda.[1] Kraemer menikah pada tahun 1919.[2] Kraemer terkenal karena ia mencetuskan ide tentang cara pendekatan pekabaran Injil bagi agama lain.[2] Dalam dunia teologi, Kraemer termasuk kaum awam, karena ia tidak pernah belajar teologi secara formal sampai akhir hidupnya. [2] Sebagai seorang pekabar Injil, Kraemer pernah melayani di Indonesia dari tahun (1922-1937).[1]

Riwayat hidup[sunting | sunting sumber]

Kraemer kehilangan orang tuanya pada usia 12 tahun sehingga ia tinggal di panti asuhan.[3] Ia mempelajari Alkitab secara otodidak.[3] Selama proses mempelajari Alkitab secara pribadi itu, Kraemer mengalami pertobatan.[3] Pada usia 16 tahun, Kraemer mengambil keputusan untuk menjadi seorang pekabar Injil.[4]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Setelah memutuskan untuk menjadi pekabar Injil, Kraemer masuk ke dalam sekolah pelatihan bagi para pekabar Injil di Rotterdam.[4] Setelah itu, Kraemer belajar tentang agama Islam di Kairo dari tahun 19211922.[4] Kemudian ia masuk ke dalam sekolah pelatihan bagi para pekabar Injil di Rotterdam.[4] Selama masa-masa belajarnya, Kraemer aktif di dalam Perhimpunan Mahasiswa Kristen Belanda hingga ia mengenal John R. Mott.[4] Kraemer juga belajar bahasa Jawa di Universitas Leiden.[2][4] Pada tahun 1921, Kraemer mendapatkan gelar doktoralnya di Universitas Leiden di bawah bimbingan Snouck Hurgronje.[1][2][4] Sampai akhir hidupnya, Kraemer tidak pernah mengikuti pendidikan teologi formal.[2]

Karier[sunting | sunting sumber]

Kraemer kemudian diutus untuk melayani sebagai pekabar Injil di Indonesia (1922-1937).[1][4] Selain itu, Kraemer juga bekerja bagi Lembaga Alkitab Belanda di Indonesia.[1][3] Sekembalinya ke Belanda, Kraemer menjabat sebagai profesor sejarah dan fenomenologi agama di Leiden (1937-1947).[1][3] Selama masa ini, Kraemer sangat aktif dalam kehidupan gereja di Belanda.[3][1] Kraemer melakukan revitalisasi terhadap kehidupan gereja Hervormd di Belanda (Gereja Reformasi Belanda) khususnya pada masa sesudah perang.[1] Sejak tahun (1948-1955), Kraemer menjadi direktur pertama dari Institut Ekumenis (Ecumenical Institute) di Bossey, Swiss untuk mendidik pemimpin-pemimpin gerakan ekumenis serta mendidik kaum awam yang ingin terlibat dalam pembangunan gereja dan negara.[5][6][1] Setelah pensiun, Kraemer menjadi dosen tamu di Seminari Teologi Union di New York selama satu tahun (1956-1957).[3] Kraemer juga tetap aktif menulis pada masa pensiunnya.[2]

Kontribusinya di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Kraemer tiba di Indonesia pada tahun 1922.[4] Selama di Indonesia, Kraemer pertama-tama tinggal di Yogyakarta, lalu kemudian ia pindah ke Malang.[2] Di Malang, Kraemer dan B.M. Schuurman mendirikan sekolah teologi, Bale Wiyata, sebuah sekolah yang sangat memberikan perhatian pada kebudayaan Jawa.[2] Kraemer juga mempelajari perubahan-perubahan di dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa.[2]

Kraemer membangun relasi dengan organisasi Muslim dan organisasi nasional di Jawa.[4] Kraemer bergabung dengan Jong Java, organisasi pelajar Jawa.[4] Kraemer juga menjalin relasi dengan Ahmad Dahlan, pemimpin organisasi Muhammadiyah.[4] Menurut Kraemer, kebangkitan Islam di Jawa berhubungan dengan kebangkitan dunia Islam di dunia.[4] Kraemer juga mendorong para misionaris untuk memberikan perhatian kepada umat Muslim di Indonesia dan hal-hal apa saja yang terjadi pada mereka.[4] Ia juga menulis banyak buku tentang Islam.[2] Buku-buku yang ditulis Kraemer ini dianggap membahayakan pemerintah kolonial yang berkuasa pada saat itu.[2]

Kraemer terlibat dalam perjuangan mendirikan gereja di Bali pada tahun 1932.[2][4] Perlakuan penjajah yang buruk terhadap orang-orang pribumi di Bali membuat orang Bali memberikan cap negatif terhadap semua orang asing.[4] Oleh karena itu, pemerintah Bali melarang pekabaran Injil di Bali, karena mereka ingin memelihara tradisi agama Hindu di Bali.[2] Kraemer menyuarakan hak gereja untuk melakukan pekabaran Injil di Bali dengan mengatakan bahwa segala usaha untuk melindungi orang Bali dari pengaruh asing adalah hal yang sia-sia.[2] Menurut Kraemer, gereja harus membantu orang-orang Bali untuk menghadapi zaman modern. Pulau Bali kemudian menjadi tempat pelayanan misi bagi Gereja Kristen Jawa Timur.[2]

Dalam laporannya yang berjudul Dari Ladang Misi Menuju Gereja Mandiri (From Mission Field to Independent Church), Kraemer mendorong Gereja Protestan kolonial untuk melakukan reorganisasi gereja-gereja lokal di Indonesia yang mulai mandiri, seperti gereja-gereja yang terdapat di Minahasa, Maluku dan Timor.[2] Setelah menghadiri konferensi misi di Yerusalem pada tahun 1928, Kraemer menjadi semakin menyadari kebutuhan untuk mendirikan gereja lokal yang independen di ladang misi.[2] Menurut Kraemer, orang Indonesia harus membentuk gerejanya sendiri dan para pekabar Injil hanya menjadi pemberi saran.[2]

Kraemer juga menyadari perlunya pengembangan kepemimpinan gereja-gereja di Indonesia oleh orang-orang Indonesia sendiri.[3] Oleh karena itulah Kraemer bersama dengan beberapa rekannya yang lain, berinsiatif untuk mencetuskan didirikannya sekolah teologi.[3] Tujuan Kraemer mendirikan sekolah ini adalah untuk memberikan pendidikan dan pelatihan teologi yang ekumenis dan kontekstual bagi para pemimpin gereja Protestan pribumi.[3] Akhirnya pada tahun 1934 didirikanlah "Sekolah Theologia Tinggi" di Bogor.[3] Sekolah ini kemudian berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, setelah sekolah itu dipindahkan ke Jakarta.[1][3]

Kraemer memprotes tindakan pemerintah Belanda yang melakukan agresi militer ke Indonesia pada tahun 1947-1948.[4] Agresi ini telah menewaskan lebih dari 100.000 orang Indonesia.[4] Menurut Kraemer, agresi ini adalah tindakan tidak bermoral dan tidak sesuai dengan nilai-nilai Kristiani.[4] Kraemer berpendapat bahwa daripada menaklukan Indonesia, pemerintah kolonial seharusnya menaklukkan kesombongannya sendiri dan hasrat untuk menguasai yang ada dalam diri mereka.[4]

Kontribusinya di Tambaram[sunting | sunting sumber]

Kraemer menjadi figur penting di dalam dunia misi dan dunia ekumenis.[1] Ia menjadi terkenal karena sumbangan pemikirannya dalam hal pendekatan misi Kristen terhadap agama-agama lain.[1] Menjelang konferensi International Missionary Council di Tambaram, India, Kraemer diminta mempersiapkan sebuah makalah, yang kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul "Christian Message in a Non-Christian World" (1938).[4][1] Buku "Christian Message in a Non-Christian World" ini sebenarnya ditujukan untuk melawan buku yang berjudul "Rethinking Mission" (1932) yang ditullis oleh suatu panitia orang-orang awam dari Amerika di bawah pimpinan W. E. Hocking.[5] Dalam Memikirkan Ulang Misi (Rethinking Mission) dicetuskan ide untuk meleburkan semua agama dalam sebuah persaudaraan yang mencakup seluruh dunia.[5]

Dalam buku "Christian Message in a Non-Christian World", Kraemer menguraikan dengan jelas dan mendalam tentang agama-agama yang terdapat di dunia serta perkembangannya.[7] Kraemer juga mengkonfrontasikan agama-agama lain dengan Injil Yesus Kristus, yang pemberitaannya menjadi tugas gereja-gereja.[7] Dasar teologis yang digunakan oleh Kraemer adalah bahwa tugas zending satu-satunya adalah memberitakan Injil Kristus kepada dunia yang sedang dilanda krisis karena pengaruh sekularisasi dan relativisme.[7] Kraemer menerjemahkan sudut pandang teologi neo-ortodoksi ke dalam formulasi misiologis tentang relasi agama Kristen dengan agama lain.[8]

Pemikiran Kraemer yang disampaikan dalam buku "Pesan Kekristenan dalam Dunia Non-Kristen" (Christian Message in a Non-Christian World) ini, memengaruhi diskusi para delegasi IMC di Tambaram dan memengaruhi pemikiran tentang misiologi pada dekade-dekade berikutnya.[8] Ia menegaskan pandangannya tentang realisme Alkitabiah maksudnya di mana-mana Allah ditempatkan oleh Alkitab sebagai titik pijak dari segala sesuatu.[8] Menurutnya, dalam realisme Alkitabiah, Allah yang kudus dan penuh kasih itu menjadi dasar dari asal segala sesuatu, sejarah, manusia dan dunia.[8] Allah harus menjadi standar acuan.[8] Pemahaman ini memberikan sebuah visi bagi gerakan ekumenis saat itu.[8] Adapun visinya adalah keutuhan gereja dengan Injil yang utuh untuk seluruh dunia.[8] Pandangan Kraemer ini menunjukkan penekanan pada eksklusivisme dalam berita Injil dan diskontinuitas Injil dengan agama-agama lain.[8] Sebagai seorang awam, Kraemer juga sangat menekankan peranan awam dalam pelayanan gereja.[8]

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

Sebagian dari karya tulis Hendrik Kraemer:[1]

  • Islam di India Saat Ini (Islam In India Today) (1931)[1]
  • Pertempuran di Bali dan Misi Kristen: Sebuah Studi dan Perbandingan (De Strijd over Bali en de Zending: een studie en een appèl) (1933)[1]
  • Keadaan Kekristenan di Hindia Belanda Saat Ini(De Huidige Stand van het Christendom in Nederlandsch-Indië) (1937)[1]
  • Pesan Kekristenan di dalam Dunia Non-Kristen (The Christian Message in a Non-Christian World) (1938)[1]
  • Komunikasi Iman Kristen (The Communication of the Christian Faith) (1956)[1]
  • Agama dan Iman Kristen (Religion and the Christian Faith) (1956)[1]
  • Teologi Kaum Awam (A Theology of the Laity) (1958)[1]
  • Dari Ladang Misi ke Gereja yang Independen: Laporan dalam Dekade Awal Pertumbuhan Gereja Pribumi (From Missionfield to Independent Church: Report on a Decisive Decade in the Growth of Indigenous Churces) (1958)
  • Dunia Budaya dan Dunia Agama (World Cultures and World Religions: The Coming Dialogue) (1960)[1]
  • Alkitab dan Etika Sosial (The Bible and Social Ethics) (1965)[1]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w (Inggris) Gerald H. Anderson, Biographical Dictionary of Christian Missions, Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1998. Hal. 375-376. ISBN 0-8028-4680-7
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s (Inggris) Scot W. Sunquist (ed.). A Dictionary of Asian Christianity. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Co. 2001. Hal 231.
  3. ^ a b c d e f g h i j k l (Inggris) A. Scott Moreau (ed.) Evangelical Dictionary of World Mission, Michigan: Baker Books, 2000. Hal 547. ISBN 0-8010-2074-3
  4. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u (Inggris) Jan H. Pranger, "Hendrik Kraemer" dalam Empire The Christian Tradition: New Reading of Classical Theologians, Kwok Pui-Lan, Don H. Compier, Jorg Rieger(ed.), Minneapolis: Fortress Press. 2007. Hal 422-438.ISBN 978-0-9006-6215-8.
  5. ^ a b c Christian De Jonge, Menuju Keesaan Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006. Hal 15-22. ISBN 979-415-506-3
  6. ^ (Inggris) Nicholas Lossky, et.all (ed.), Dictionary of The Ecumenical Movement. Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Co. 1991. Hal 575. ISBN 0-8028-2428-5
  7. ^ a b c Abineno, J. L. Ch. Kraemer di Tambaram. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1988. Hal 4-10.
  8. ^ a b c d e f g h i (Inggris) Rouse, Ruth dan Neill, Stephen (ed.). A History of Ecumenical Movement 1517-1968. London, Philadelphia: SPCK, and The Westminster Press. 1993. Hal 327.