Hariadi Paminto Soepangkat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Hariadi Paminto Soepangkat
Hariadi Soepangkat.jpg
Rektor ITB 1980-1988
Rektor Institut Teknologi Bandung ke-8
Masa jabatan
22 November 1980 – 12 Desember 1988
PendahuluProf. Dr. Doddy A. Tisna Amidjaja
PenggantiProf. Ir. Wiranto Arismunandar, MSME
Informasi pribadi
LahirHariadi Paminto Soepangkat
Bendera Indonesia Indonesia
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia
Alma materDrs. - ITB

Dr./Ph.D. - Universitas Purdue,

Indiana, USA[1]

Prof. Hariadi Paminto Soepangkat, Ph.D. adalah seorang guru besar fisika Institut Teknologi Bandung dan rektor kesembilan ITB yang menjabat pada periode 22 November 1980 - 12 Desember 1988[2]; atau rektor ke dua puluh lima Kampus Ganesha sejak TH Bandung didirikan.

Riwayat hidup[sunting | sunting sumber]

Hariadi Paminto Soepangkat lulus Sarjana Fisika Institut Teknologi Bandung pada tahun 1959.[3] Selanjutnya dia mendapatkan gelar Doktor dalam bidang fisika zat padat dari Universitas Purdue, Indiana, Amerika Serikat.[1]

Banyak kesan baik yang diberikan Hariadi Soepangkat sebagai seorang dosen ITB di mata mahasiswanya. Dia selalu hadir di kelas sepuluh menit sebelum jam kuliah dimulai. Pak Hariadi selalu tampil necis: busananya, kebersihannya, dan istimewa tulisannya.[1] Pak Hariadi juga pekerja cepat. Hari ini ujian, besoknya jawaban soal-soalnya sudah tertempel di papan pengumuman. Dia pun hafal nama semua mahasiswa yang diajarnya. Pada setiap kuliah ia mampu memanggil nama mahasiswa secara acak, dan setiap mahasiswa yang terpilih namanya disebut diajaknya berinteraksi. Dan dari interaksi pendek itu, tiba-tiba bisa keluar ilustrasi untuk menjelaskan konsep fisika kuantum. Bukan saja ilustrasi itu sangat menolong, karena membumi bahkan personal, tetapi di tingkat psikologis sang mahasiswa merasa dilibatkan, bahkan dijadikan bintang pada momen pendek itu. Tak pelak kuliah Pak Hariadi selalu digandrungi. Fisika kuantum jadi mudah dimengerti, gampang diikuti, dan menarik ditelusuri. Pak Hariadi sangat jauh dari jenis dosen yang memetik rasa puas karena pelajarannya sukar diikuti. Ia bukan tipe dosen yang berbahagia melihat mahasiswa pusing tujuh keliling, lalu takut pada dosennya, dan jeri pada pelajarannya. Sedikit pun tak ada perangai galak padanya apalagi killer. Fokus kedosenan Pak Hariadi ialah bagaimana agar mahasiswanya bisa mudah memahami pelajarannya supaya dengan begitu tumbuh gairah, minat, dan kecintaan pada pelajaran itu sendiri.[1]

Selain sebagai dosen ITB, Hariadi juga pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB dan Sekretaris ITB bidang Administrasi dan Keuangan.[4]

Pada tahun 1980, setelah hampir 3 tahun tanpa rektor definitif, akhirnya ITB mendapat orang yang cocok, salah seorang anggota Senat Guru Besarnya sanggup dan disetujui pemerintah, dialah Prof. Dr. Hariadi Paminto Soepangkat. Pelantikannya dilaksanakan tanggal 22 November 1980, yang disambut sekitar 500 mahasiswa. Meski Balai Pertemuan llmiah ITB, tempat pelantikan, dijaga ketat polisi dan pasukan anti huru-hara, mereka tiba-tiba muncul di halaman gedung membawa dua spanduk. Satu bertuliskan: "Selamat Datang Rektorku, Bapakku dan Sahabatku." Satunya: "Turut Berdukacita atas Runtuhnya Pilar Pendidikan di Kampus." Ditambah sejumlah poster dan karangan bunga.[4]

Rupanya pemerintah agak sulit juga menentukan rektor ITB. Sejak Prof. Dr. Ing. Iskandar Alisjahbana dibebastugaskan, 14 Februari 1978, ITB dipimpin Rektorium yang diketuai Dr. Soedjana Sapi'ie sejak 16 Februari 1978. Kemudian tanggal 30 Mei 1979, ITB dipimpin oleh Dirjen Pendidikan Tinggi Prof. Dr. Doddy A. Tisna Amidjaja sendiri - sebagai rektor sementara. Munculnya seorang rektor definitif mungkin didesak oleh PP 5/1980 yang menentukan: selambat-lambatnya setahun sesudah PP dikeluarkan, Maret 1981 nanti, PP tersebut sudah harus dilaksanakan. Berarti jabatan penting dalam PT, rektor, harus ada orangnya. Diserahi memimpin institut yang dikenal "hangat", Prof. Hariadi (47 tahun), tampaknya siap mental. "Setiap dosen senior selalu dihadapkan kepada pertanyaan apakah mau menjadi pengelola utama," tuturnya kepada TEMPO. "Seumpama tak ada yang mau, bagaimana nanti pandangar masyarakat atau mahasiswa sendiri? Itu sama saja seperti tak punya harga diri." "Pak Hariadi menonjol dalam segi ketertiban dan seorang akademikus yang baik," puji Prof. Dr. Doddy A. Tisna Amidjaja - Dirjen Pendidikan Tinggi yang bekas Rektor ITB (1969-1976) itu.[4]

Pada masa kerektorannyalah Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (FSRD-ITB) diresmikan pada tahun 1984, yang merupakan FSRD pertama di Indonesia, setelah sebelumnya berdiri dalam bentuk jurusan dalam lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Dengan demikian, lengkaplah implementasi sains, teknologi dan seni di kampus ITB.

Beberapa peristiwa yang menonjol pada periode kerektorannya adalah:

  • Permasalahan masa studi mahasiswa yang melebihi batas waktu, di mana hanya berkisar 13% mahasiswa ITB yang dapat menyelesaikan kuliah tepat pada waktunya, sementara yang menyelesaikan kuliah di atas 7 tahun sekitar 80% (dari 4,5 tahun rencana studi). Pada tahun 1982 yang sudah dikeluarkan karena melampaui batas waktu kuliah sekitar 800.[5]
  • Penyelenggaraan acara penerimaan mahasiswa baru atau Orientasi Studi (OS). Acara semacam ini sudah dilarang sejak 1978, ketika konsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) diterapkan. Namun beberapa Himpunan Mahasiswa tetap menyelenggarakan Orientasi Studi di luar kampus, misalnya di Taman Ganeca, persis di depan kampus. Kadang kala ia turun tangan membubarkan sendiri acara Orientasi Studi yang sedang berlangsung, hingga penjatuhan sanksi akademis berupa penundaan pengambilan dan pengisian formulir rencana studi (FRS).[6] Namun hingga tahun 1990-an kegiatan Orientasi Studi bagi mahasiswa baru ITB tersebut masih tetap berlanjut.
  • Pada bulan April 1985 PM Inggris Margareth Thatcher berkunjung ke ITB yang disambut demonstrasi mahasiswa.[7]
  • Pada tanggal 17 September 1986, Presiden Prancis Francois Mitterrand berkunjung ke ITB yang disambut demonstrasi sekitar 2.000 mahasiswa dengan sejumlah poster dan pemotongan seekor itik. Mitterrand datang ke ITB dalam rangka hubungan kerja sama ITB dengan 11 universitas di Prancis, di mana sejak tahun 1975 ITB memiliki 114 staf pengajar yang berpendidikan pascasarjana dari Prancis - 99 di antaranya bergelar doktor di bidang sains dan teknologi, ditambah 30 dosen ITB yang masih belajar di Prancis. Dua ribu mahasiswa ITB - sebagian mahasiswa baru dengan rambut yang masih plontos - memadati pintu gerbang, lorong, serta halaman Aula Barat. Sementara itu, Mitterrand, yang siang itu baru saja meninjau IPTN, beramah tamah dengan para alumni Prancis. Poster-poster bermunculan, umumnya berisi keluhan tentang kehidupan kampus, terutama menyangkut ketidakbebasan kegiatan mahasiswa.[8]

Pada tanggal 10 Oktober 2006, Prof. Hariadi Soepangkat bersama 13 guru besar ITB lainnya (bersamaan dengan 269 guru besar perguruan tinggi lainnya) menerima penganugerahan Anugeraha Sewaka Winayaroha. Selain memperoleh medali, seluruh penerima penghargaan memperoleh piagam dan insentif masing-masing sebesar Rp 50 juta.[9][10]

Pada tanggal 2 Maret 2009 dalam acara Dies Emas ITB (50 tahun) Prof. Hariadi Soepangkat mendapatkan gelar "Rektor Emeritus" bersama Prof. Wiranto Arismunandar.[11]

Catatan[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  • Sakri, A. (1979a). Dari TH ke ITB: Kenang-kenangan lustrum keempat 2 Maret 1979, Jilid 1: Selintas perkembangan ITB. Bandung: Penerbit ITB.
  • Sakri, A. (1979b). Dari TH ke ITB: Kenang-kenangan lustrum keempat 2 Maret 1979, Jilid 2: Daftar lulusan ITB. Bandung: Penerbit ITB.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Jabatan akademik
Didahului oleh:
Prof. Dr. Doddy Achdiat Tisna Amidjaja
Rektor Institut Teknologi Bandung
1980–1988
Diteruskan oleh:
Prof. Ir. Wiranto Arismunandar, MSME