Gunung Bongao
| Gunung Bongao | |
|---|---|
| Bud Bongao | |
| Titik tertinggi | |
| Ketinggian | 342 m (1.122 ft)[1] |
| Puncak | 342 m (1.122 ft) |
| Koordinat | 5°01′07″N 119°44′52″E / 5.01861°N 119.74778°E[1] |
| Penamaan | |
| Nama lokal | Bud Bongao (Sama) |
| Geografi | |
![]() | |
| Negara | Filipina |
| Region | Daerah Otonom Bangsamoro di Muslim Mindanao |
| Provinsi | Tawi-Tawi |
| Kota/munisipalitas | Bongao |
| Pendakian | |
| Rute termudah | Barangay Pasiagan [1] |
Gunung Bongao (juga dikenal luas dengan sebutan Bud Bongao) adalah sebuah gunung yang berlokasi di Pulau Bongao di provinsi Tawi-Tawi, Filipina. Gunung ini mempunyai bentuk enam pilar batu gamping yang berfungsi sebagai enam puncaknya. Gunung ini merupakan puncak paling selatan di Filipina.[2]
Bud Bongao berada di dalam Taman Ekowisata Puncak Bongao yang diresmikan pada tanggal 3 Juli 2017.[3] Area ini merupakan hutan seluas 250 hektar yang merupakan salah satu hutan lembap terakhir yang tersisa di Kepulauan Sulu.[4]
Gunung ini dianggap penting secara spiritual dan tradisional bagi masyarakat adat Suku Sama Dilaut.[5] Gunung ini juga dianggap keramat karena diyakini bahwa dua pendakwah Islam,[6] yang merupakan pengikut langsung dari Karim ul-Makhdum, dimakamkan di suatu tempat yang disebut Batu Tampat,[4] meskipun situs tersebut diduga telah dianggap keramat bahkan sebelum Islam tiba. Karim ul-Makhdum membawa agama Islam ke Filipina pada sekitar tahun 1380.[7]
Karakteristik fisik
[sunting | sunting sumber]Bud Bongao tersusun atas enam pilar batu gamping yang membentuk enam puncaknya, yang berfungsi sebagai titik pandang untuk pulau dan lokasi yang menjadi asal nama puncak-puncak tersebut.[6] Puncak-puncak ini adalah Bongao, Pajar, Sibutu (puncak tertinggi), Simunul, Tambisan, dan Tinondakan.[1]
Keanekaragaman hayati
[sunting | sunting sumber]Gunung Bongao menjadi tuan rumah bagi salah satu hutan lembap terakhir yang tersisa di Kepulauan Sulu.[4]
Monyet yang endemik di Bud Bongao meliputi monyet kra (Macaca fascicularis).[6] Capung merah (Neurothemis terminata), kupu-kupu sayap oranye (Appias nero), sikatan bakau (Cyornis rufigastra), dan pitta filipina (Pitta erythrogaster) juga dapat ditemukan di gunung ini.[8] Bongao dan pulau-pulau di sekitarnya—Sanga-Sanga, Simunul, Tawi-Tawi—juga merupakan habitat bagi tikus hutan tawi-tawi (Rattus tawitawiensis) yang rentan dan kukang filipina (Nycticebus menagensis).[9] Sikatan hutan (Cyornis brunneatus) pernah diamati keberadaannya pada tahun 1973.[9]
Aktivitas pendakian
[sunting | sunting sumber]Selain sebagai gunung keramat, Bud Bongao juga terkenal di kalangan pendaki. 3.608 anak tangga jalur setapak berbatu kerikil[6] telah dibangun dari titik awal pendakian di Barangay Pasiagan yang akan berakhir di dek observasi yang dibangun di Puncak Tambisan. Dek observasi ini menawarkan titik pandang strategis yang menghadap ke arah Laut Sulawesi dan Pulau Tambisan di Sabah pada ketinggian 317 meter (1.040 kaki) di atas permukaan laut (dpl).[1]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 5 Malicdem, Ervin (7 June 2017). "Bud Bongao: Trail Data, Peaks and Elevation". 2017 Tawi-Tawi Mapping Expedition: 2–3. doi:10.13140/RG.2.2.10845.92647. Diakses tanggal 16 October 2017.
- ↑ Lasco, Gideon. "Beyond Apo: Seven great hiking destinations in Mindanao". ABS-CBN News. Diakses tanggal 2020-08-08.
- ↑ "ARMM spent P56 million to boost Bongao Peak tourism". Bureau of Public Information, ARMM Government. 5 July 2017. Diarsipkan dari asli tanggal 17 October 2017. Diakses tanggal 16 October 2017.
- 1 2 3 Yan, Gregg (28 April 2014). "Bud Bongao: The sacred mountain of Tawi-Tawi". Rappler. Diakses tanggal 16 October 2017.
- ↑ WWF-Philippines 2012-2013 Annual Report (PDF).
- 1 2 3 4 Malicdem, Ervin (7 June 2017). "Bud Bongao, Tawi-Tawi's Overwatch and Sacred Peak". Schadow1 Expeditions. Diakses tanggal 16 October 2017.
- ↑ Jannaral, Julmunir (8 November 2016). "ARMM commemorates 636th Sheikh Karimul Makhdum Day". Manila Times. Diakses tanggal 16 October 2017.
- ↑ Salvador, Jinggoy I. (2018-05-02). "Salvador: Breathtaking Bud Bongao". Sunstar (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-08-08.
- 1 2 "Sulu Archipelago rain forests". World Wildlife Fund (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-08-08.
