Gundala (pahlawan super)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Gundala

[1]

Penerbit Bumilangit Komik
Muncul
perdana
1969
Pencipta Harya Suraminata
Karakteristik
Nama KarakterSancaka
SpesiesManusia
Afiliasi
kelompok
Patriot
Rekan perjuanganGodam
Aquanus
Maza
Tira
Merpati
Boga
Kalong
Jin Kartubi
Sembrani
Pangeran Mlaar
Kemampuan
  • Sambaran petir dengan berbagai tingkatan kekuatan
  • Lari secepat angin
  • Pukulan petir
  • Hand-to-hand combatant (khusunya silat)
  • Jenius
  • Mahir dalam memecahkan kasus layaknya seorang agen mata mata

Gundala adalah tokoh komik ciptaan Hasmi yang muncul pertama kali dalam komik Gundala Putra Petir pada tahun 1969. Lokasi cerita sering digambarkan di kota Yogyakarta meskipun dalam filmnya pada tahun 1981 diceritakan berada di Jakarta. Gundala adalah karakter komik yang sangat populer di Indonesia selain Si Buta dari Gua Hantu, Godam, Aquanus, Mandala, Sri Asih, dan Maza[1].

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

'Gundala Putra Petir' dirilis perdana di tahun 1969. Karakter Gundala diciptakan oleh Harya Suraminata (Hasmi). Mengadaptasi perkembangan komik asing, Hasmi membuat 'Gundala' dengan kearifan lokal. Kisah Gundala tak melulu terpengaruh komik luar. Hasmi terinspirasi dari tokoh legenda Jawa, Ki Ageng Selo. Ki Ageng Selo merupakan sosok sakti yang mampu menangkap petir dengan tangannya. Nama 'Gundala' sendiri diambil dari bahasa Jawa 'Gundolo' yang artinya petir.[2]

Asal-usul[sunting | sunting sumber]

Sancaka adalah seorang ilmuwan yang sedang melakukan penelitian untuk menciptakan serum anti petir. Tenggelam dalam ambisinya sebagai seorang ilmuwan, dia melupakan hari ulang tahun Minarti, kekasihnya, yang berakibat putusnya hubungan mereka. Sancaka yang patah hati berlari dengan hati galau di tengah hujan deras. Tiba-tiba sebuah petir menyambarnya. Dalam keadaan koma ia ditarik oleh suatu kekuatan dari planet lain dan diangkat anak oleh raja Kerajaan Petir yang bergelar Kaisar Kronz, sekaligus diberkati kemampuan super yaitu bisa memancarkan geledek dari telapak tangannya.[3] Raja Taifun dari kerajaan Bayu memberinya kekuatan lari secepat angin.[4]

Sejak itulah, pada waktu-waktu tertentu, ia tampil sebagai jagoan penumpas kejahatan berpakaian hitam ketat dengan sepatu dan cawat berwarna merah. Wajahnya tertutup topeng, hanya tampak mata dan mulutnya, di sisi topengnya terdapat hiasan seperti sayap burung. Ia adalah kawan mereka yang lemah dan musuh bagi para pencoleng.

Riwayat[sunting | sunting sumber]

Pemfitnahan[sunting | sunting sumber]

Dalam "Gundala Cuci Nama" (1974), Pengkor menciptakan Gundala palsu yang mencemarkan nama baik Gundala. Rekan-rekan sesama jagoan pembasmi kejahatan berbalik memburunya.[5] Gundala akhirnya mampu membuktikan kejahatan Pengkor dan menghajar balik si Gundala palsu.[6]

Pengantin Buat Gundala[sunting | sunting sumber]

Dalam petualangannya bersama Kalong di "Pangkalan Pemusnah Bumi" (1977), Gundala Bertemu dengan seorang wartawati cantik yang ternyata tangguh ilmu bela dirinya, yaitu Sedhah Esti Wulan yang nanti akan menjadi istrinya. Ia nantinya menjadi seorang jagoan wanita yang dikenal dengan sebutan Merpati.

Kedengkian Seorang Saudara[sunting | sunting sumber]

Dalam "Sang Senapati" (1979), Horyona, ayah mertua Kaisar Kronz menaruh dendam kepada menantunya disebabkan hukuman dijatuhkan kepada putrinya yang jahat. Cucu Horyona dari Kronz menuntut tahta Kerajaan Petir. Kaisar Kronz mengutus Thirhapy menjemput Gundala di bumi. Sang Putra Petir mendapat tugas menghadapi Athon, raksasa bersenjatakan kapak petir.[7]

Daftar judul serial Gundala Putera Petir[sunting | sunting sumber]

  1. Gundala Putera Petir (Kentjana Agung, 1969),
  2. Perhitungan di Planet Covox (Kentjana Agung, 1969) - Gundala bertemu dengan Pangeran Mlaar, putra mahkota yang terkudeta. Gundala membantu mengembalikan tahtanya. Persahabatan itu membuat Mlaar sering berkunjung ke Yogyakarta.
  3. Dokumen Candi Hantu (Kentjana Agung, 1969) - Merupakan pemunculan pertama musuh bebuyutan Gundala, yakni Ghazul.
  4. Operasi Goa Siluman (Kentjana Agung, 1969)
  5. The Trouble! (Kerusuhan) (Kentjana Agung, 1969) - tidak dicetak ulang karena masalah hak cipta.[8]
  6. Tantangan Bagi Gundala (Kentjana Agung, 1969)
  7. Panik (Kentjana Agung, 1970)
  8. Kunci Petaka (Prashida, 1970).
  9. Godam vs. Gundala (Prashida, 1971) - Gundala dan Godam tanpa sengaja tertukar kostum dan kekuatan super. Masing-masing saling menuduh mereka palsu dan terjadilah perkelahian luar biasa.
  10. Bentrok Jago-jago Dunia (Prashida, 1971) - tidak dicetak ulang karena masalah hak cipta.[8]
  11. Gundala Jatuh Cinta (Prashida, 1972)
  12. Bernapas Dalam Lumpur (Prashida, 1973)
  13. Gundala Cuci Nama (Prashida, 1974)
  14. 1.000 Pendekar (Prashida, 1974)
  15. Dr. Jaka dan Ki Wilawuk (Prashida, 1975)
  16. Gundala Sampai Ajal (Prashida, 1976).
  17. Pangkalan Pemusnah Bumi (Prashida, 1977) - Gundala bertemu untuk pertama kali dengan Merpati, calon istrinya.
  18. Pengantin Buat Gundala (Prashida, 1977)
  19. Bulan Madu di Planet Kuning (Prashida, 1978)
  20. Lembah Tanah Kudus (Prashida, 1979)
  21. Gundala Sang Senapati (Prashida, 1979)
  22. Istana Pelari (Prashida, 1980)
  23. Surat dari Akherat (Prashida, 1982).

Patriot[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1996 Godam, Gundala, Aquanus dan Maza muncul dalam suatu serial komik Patriot oleh Sraten Komik.

Gundala juga salah satu anggota 'Patriot', kelompok superhero yang dipimpin oleh Sri Asih

Penerbitan kembali[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2005, Penerbit Bumilangit menerbitkan kembali komik pertama Gundala Putra Petir. Buku tentang asal usul Gundala ini disambut antusias oleh penggemarnya. Dengan karya seri Gundala sebanyak 23 judul yang diciptakan antara tahun 1969 hingga 1982, Hasmi telah menorehkan fenomena yang terus diingat penggemarnya.

Pada tahun 1995, hingga akhir 2009 banyak bermunculan pula komik-komik Gundala yang diciptakan oleh para penggemarnya (Fan Made) dengan berbagai judul seperti:

  • Gundala The Reborn, Adurahman Saleh (1999)
  • Putra Petir, Riri Dewi (2001)
  • Sancaka, Ahmad Ilyas (2005)
  • Gundala, Asrulloh (2005)
  • Suatu Ketika Dalam Hidup Gundala, Jink (1995)
  • Gundala Putera Petir Bangkit Dari Kematian, Jink-Arief-Berny (2009)

Di awal tahun 2019, Bumilangit Komik selaku pemilik hak cipta kembali merilis buku komik cetak yang berjudul Patriot: Prahara. Gundala muncul di dalam serial buku Patriot: Prahara. Menyambut penayangan film layar lebar terbaru Gundala, Bumilangit Komik bersama dengan penerbit Koloni merlis komik Gundala Putra Petir versi remastered di bulan Juli 2019.

Film adaptasi[sunting | sunting sumber]

Gundala Putra Petir (1981)[sunting | sunting sumber]

Pembukaan film Gundala Putra Petir (1981).

Pada tahun 1981, popularitas komik Gundala merambah layar perak di Indonesia. Dengan membeli lisensi dari pengarangnya, PT. Cancer Mas Film menvisualisasikan komik tersebut dengan disutradarai oleh Lilik Sudjio. Aktor yang yang ditunjuk sebagai Ir. Sancaka atau Gundala adalah Teddy Purba yang terkenal sebagai salah satu bintang laga Indonesia saat itu. Musuh bebuyutannya, Ghazul, diperankan oleh aktor watak W.D. Mochtar, serta Anna Tairas sebagai kekasih Sancaka, Minarti. Aktor dan aktris lain yang yang terlibat dalam film tersebut antara lain Ami Prijono, August Melasz, Pitrajaya Burnama, H.I.M. Damsyik, Gordon Subandono, A. Hamid Arief, Rini Ratih, Dewanti, dan Ratno Timoer.

Meskipun setting tempatnya diubah dari Yogyakarta menjadi Jakarta, film ini tetap setia pada "pakem" cerita berdasarkan komik yang ditulis oleh Hasmi. Diceritakan seorang insinyur yang bernama Sancaka berhasil menemukan formula anti petir. Malangnya penemuan ini malah mengakibatkan Sancaka harus putus dengan kekasihnya Minarti akibat lupa menghadiri acara ulang tahunnya. Di tengah kesedihan dan derasnya hujan, Sancaka tersambar petir dan terbawa ke dunia kaisar Kronz. Dari situ kemudian ia diberi kekuatan dan kostum yang mengubahnya menjadi Gundala. Sementara itu peredaran narkotika oleh sekelompok organisasi yang dipimpin oleh Ghazul mulai merajalela. Maka dimulailah pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan.

Gundala (2019)[sunting | sunting sumber]

Pada 2017, diumumkan bahwa sutradara Joko Anwar akan menyutradarai film Gundala terbaru dengan pemeran Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Tara Basro, dan Rio Dewanto. Pengambilan gambar untuk keperluan film ini dilakukan mulai September-Oktober 2018 dan akan dirilis pada 29 Agustus 2019 mendatang [9].

Film ini diproduksi oleh Screenplay Films, Legacy Pictures bersama pemilik hak cipta Gundala, Bumilangit Studios.[10] Film tersebut berdasarkan pada cerita karakter pahlawan super Indonesia tahun 1969 Gundala yang dibuat oleh Harya Suraminata. Karakter utamanya sendiri diperankan oleh Abimana Aryasatya.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Sukmaningrat, Irvan (2019-01-23). "Kenali Para Superhero di Bumi Langit Cinematic Universe! | Greenscene". Diakses tanggal 2019-04-12. 
  2. ^ Octafiani, Devy. "Komik 'Gundala' Capai Setengah Abad, Filmnya Siap Hadir Tahun Ini". detikhot. Diakses tanggal 2019-03-18. 
  3. ^ Gundala Putra Petir, 1969
  4. ^ Perhitungan Di Planet Covox, 1969
  5. ^ Bernafas dalam Lumpur, 1973
  6. ^ Gundala Cuci Nama, 1974
  7. ^ Sang Senapati, 1979
  8. ^ a b Hasmi, Nostalgia Kejayaan Gundala di suaramerdeka.com, Kamis 21 Juli 2005. Diakses 18 Maret 2005.
  9. ^ Media, Kompas Cyber. "Ini Dia Aktor yang Akan Terlibat dalam Film Gundala". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-04-12. 
  10. ^ "Gundala (film)". Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. 2019-05-30. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]