Grebeg Maulud Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juni 2025) |

Grebeg Maulud Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat merupakan puncak rangkaian tradisi Sekaten, yang diselenggarakan dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini ditandai dengan prosesi arak-arakan gunungan, yaitu persembahan berupa hasil bumi yang dibentuk menyerupai gunung, dari dalam kompleks keraton menuju halaman Masjid Agung Surakarta. Setelah prosesi selesai, gunungan tersebut dibagikan dan diperebutkan oleh masyarakat, sebagai simbol berbagi berkah dan doa kesejahteraan. Perayaan tersebut merupakan manifestasi harmonis antara tradisi budaya, nilai-nilai kepercayaan, serta ekspresi harapan kolektif terhadap masa depan yang lebih baik. Sejak tahun 2021, Pemerintah menetapkan Grebeg Maulud sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Sekaten
[sunting | sunting sumber]Sekaten merupakan salah satu rangkaian utama dalam upacara Grebeg Maulud yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta. Tradisi ini dilaksanakan sebagai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan menjadi media dakwah yang digunakan oleh Raja untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat luas. Upacara sekaten memadukan unsur seni dan keagamaan. Salah satu ciri khasnya adalah lantunan gamelan[1] yang dimainkan secara berkelanjutan selama enam hari di halaman Masjid Agung. Iringan gamelan ini membawakan gendhing-gendhing bertema religius yang sarat dengan nilai-nilai ajaran Islam, menciptakan suasana spiritual yang mendalam bagi para pengunjung dan jamaah.[2]
Menurut catatan dalam Sujarah Sekaten, kata syahadatain mengalami perubahan pelafalan menjadi sahadatin, yang kemudian berkembang menjadi sekaten. Perubahan ini disebabkan oleh penyesuaian lidah masyarakat Jawa pada masa itu terhadap lafal Arab. Seiring waktu, istilah sekaten tidak hanya merujuk pada pengucapan dua kalimat syahadat, tetapi juga berkembang menjadi nama sebuah perayaan budaya dan keagamaan yang diselenggarakan oleh Kesultanan di Jawa, khususnya dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.[2]
Gunungan
[sunting | sunting sumber]
Upacara gunungan dalam Grebeg Maulud memiliki dua periode pelaksanaan yang berbeda berdasarkan konteks historis dan kekuasaan kerajaan.
- Periode Normatif Mutlak (1749–1939)
Periode ini berlangsung sejak masa pemerintahan Sunan Paku Buwana III hingga Sunan Paku Buwana X. Pada masa ini, Keraton Surakarta masih memiliki kekuasaan politik dan kewibawaan yang bersifat mutlak. Pelaksanaan Garebeg Maulud bersifat sangat formal dan agung, dengan jumlah persembahan yang besar, terdiri atas 24 gunungan besar (lanang dan wadon), 24 gunungan anakan (lanang dan wadon), serta 24 ancok cantoko (lanang dan wadon). Upacara diiringi oleh para pengikut dalam format prosesi kebesaran kerajaan. Tradisi ini juga menjadi representasi kekuasaan simbolik raja sebagai pemimpin tertinggi di Keraton. Gunungan yang disediakan dalam jumlah besar tersebut kemudian dibagikan secara merata kepada masyarakat yang hadir sebagai bentuk kemurahan hati dan legitimasi sosial kerajaan.[3]
- Periode Pelestarian Budaya (1939–sekarang)
Periode ini dimulai sejak masa pemerintahan Sunan Paku Buwana XI hingga masa pemerintahan Sunan Paku Buwana XII, yang berlangsung dalam konteks berdirinya Negara Republik Indonesia. Pada masa ini, Keraton tidak lagi memiliki kekuasaan politik yang absolut, seiring dengan terjadinya perang melawan Belanda dan Jepang serta berkurangnya otoritas kerajaan. Kondisi tersebut berdampak pada pelaksanaan Grebeg Maulud, terutama dalam hal pendanaan dan skala upacara. Oleh karena itu, pelaksanaannya mengalami penyesuaian sesuai dengan kemampuan dan kondisi Keraton. Meskipun demikian, upacara ini tetap dijalankan sebagai bentuk pelestarian warisan budaya yang memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat.[3]
Makna
[sunting | sunting sumber]Perayaan Grebeg Maulud tidak hanya dimaksudkan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi sarana dakwah yang mengenang peran Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam di kalangan masyarakat Jawa. Tradisi ini mendapat dukungan dari pemerintah serta berbagai lembaga keagamaan dan budaya. Selama rangkaian perayaan Sekaten, para imam dan khatib menyampaikan renungan keagamaan serta membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an sebagai bentuk doa dan pembinaan spiritual bagi masyarakat yang hadir. Salah satu unsur penting dalam upacara ini adalah gamelan Sekaten, yang dipandang sebagai pusaka keraton sekaligus benda sakral (keramat). Sebelum dimainkan, gamelan ini terlebih dahulu diberi sesaji dan diiringi doa khusus, sebagai wujud penghormatan dan permohonan berkah.[4]
Kepercayaan masyarakat menyebutkan bahwa menyaksikan gamelan Sekaten dapat membawa keberkahan (rohmat) dari Allah SWT. Dalam tradisi lisan, diyakini bahwa orang yang menyaksikan perayaan ini dan mengucapkan dua kalimat syahadat akan memperoleh petunjuk menuju keimanan dan masuk Islam. Oleh karena itu, unsur "petuah dan berkah" dalam konteks Sekaten dipahami sebagai nilai spiritual yang mengarahkan manusia menuju kedekatan dengan Tuhan.[4]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 47
- 1 2 Adib, Ahmad; Saddhono, Kundharu (2018-12-31). "PARADIGMA BUDAYA ISLAM- JAWA DALAM GEREBEG MAULUD KRATON SURAKARTA". ALQALAM (dalam bahasa Inggris). 35 (2): 119. doi:10.32678/alqalam.v35i2.1081. ISSN 2620-598X.
- 1 2 Farida, Ria Nur; Shofi’unnafi, S. (2020-12-26). "MELESTARIKAN SIMBOL INTEGRASI AGAMA DAN BUDAYA DI ERA MODERN: ANALISIS POTENSI WISATA GREBEG MAULUD DI SURAKARTA". JURNAL MANAJEMEN DAKWAH (dalam bahasa Inggris). 6 (2): 275–288. doi:10.14421/jmd.2020.62-07. ISSN 2615-0727.
- 1 2 Pratisara, Devina (2021-03-18). "Grebeg Maulud Yogyakarta Sebagai Simbol Islam Kejawen Yang Masih Dilindungi Oleh Masyarakat Dalam Perspektif Nilai Pancasila". Jurnal Pancasila. 1 (2): 14–24. ISSN 2776-0774.