Lompat ke isi

Gowok: Kamasutra Jawa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Poster rilis
Namalain
IndonesiaGowok: Kamasutra Jawa
SutradaraHanung Bramantyo
ProduserRaam Punjabi
Ditulis oleh
  • Hanung Bramantyo
  • ZZ Mulja Salih
Pemeran
PenatamusikKrisna Purna
SinematograferSatria Kurnianto
PenyuntingHaris F. Syah
Perusahaan
produksi
  • MVP Pictures
  • Dapur Films
Tanggal rilis
  • 2 Februari 2025 (2025-02-02) (Rotterdam)
  • 5 Juni 2025 (2025-06-05) (Indonesia)
Durasi130 menit
NegaraIndonesia
Bahasa
  • Indonesia
  • Jawa

Gowok: Kamasutra Jawa adalah film drama romansa Indonesia tahun 2025 yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan diproduseri oleh Raam Punjabi dan MVP Pictures. Film ini dibintangi oleh Raihaanun, Reza Rahadian, Lola Amaria, Devano Danendra, Alika Jantinia, Ali Fikry, Nayla D. Purnama, Donny Damara, Djenar Maesa Ayu dan Slamet Rahardjo, dengan cerita mengenai gowok, profesi wanita yang mengajarkan mengenai seksualitas pada laki-laki remaja atau yang akan menikah.

Film ini pertama kali diperkenalkan ke publik pada gelaran Festival Film Internasional Rotterdam (IFFR) pada awal tahun 2025. Film ini kemudian dirilis pada 5 Juni 2025,[1] di mana tersedia dalam dua versi yakni versi 17+ dan versi uncut 21+.[2] Film ini meraih beberapa nominasi penghargaan di Festival Film Indonesia 2025.

Pada tahun 1950, putra dari seorang wedana yang bernama Kamanjaya dikirim oleh orang tuanya ke tempat kediaman gowok bernama Nyai Santi di Bumirejo, Kebumen, Jawa Tengah. Dalam kebudayaan Jawa, Gowok adalah seorang guru perempuan yang memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan seksual dan filosofi tentang cinta, hubungan rumah tangga, serta cara memuaskan istri kepada pemuda yang akan menikah, biasanya dari kalangan bangsawan atau priayi. Santi memiliki putri angkat bernama Ratri yang merupakan anak dari seorang pelacur yang menjalin hubungan dengan seorang bangsawan bernama Lono. Ratri dididik untuk menjadi penerus ilmu gowok dan harus tetap melajang. Kamanjaya yang sudah pernah membaca Centhini, awalnya merasa enggan di tempat tersebut, tetapi memutuskan untuk tetap menjalani gowok sesuai keinginan orang tuanya. Setibanya di kediaman Nyai Santi, Kamanjaya menjadi terpikat dan terpesona dengan kecantikan Ratri. Kamanjaya terus mendekati Ratri sampai suatu hari ia memintanya untuk membawanya ke tempat Santi bertapa sebelum hari pergowokan dilakukan. Di telaga, Ratri dirasuki hawa nafsu akibat pengaruh ritual yang dilakukan Santi sehingga mencumbu Kamanjaya yang juga membalasnya. Mereka pada akhirnya berhubungan seksual saat kembali ke gowokan.

Keesokan harinya, Santi yang mengetahui kelakukan Ratri di telaga, mengizinkan Ratri untuk mulai membaca Atmaprawesa, kitab mengenai mantra pengikat pria dan wanita, agar tidak selalu merasa penasaran. Santi kemudian mulai melakukan prosesi gowok kepada Kamanjaya dengan mengajarkan Asmaragama yang berakhir pada persetubuhan di antara keduanya. Ratri mulai menjauhi Kamanjaya, tetapi rasa suka dan cinta membara yang dirasakan Kamanjaya membuatnya terus mencari Ratri. Kamanjaya bercerita mengenai Ningsih, teman kakaknya yang merupakan anak seorang perampok yang mewujudkan impiannya menjadi wanita mandiri. Kamanjaya juga menyatakan cintanya dan berjanji akan menikahi Ratri.

Ratri menemui Ningsih dan mulai aktif membantu menjadi tenaga pengajar di Roepindo. Ia saling berkirim-kiriman surat dengan Kamanjaya yang menempuh pendidikan di Semarang. Setelah beberapa waktu berlalu, Kamanjaya mulai berhenti mengirimi Ratri surat, sampai suatu hari Ratri membaca sebuah berita di koran yang memberitakan bahwa ayah Kamanjaya yang sekarang telah menjadi bupati Temanggung dan Kamanjaya telah meminang seorang perempuan bernama Raden Adjeng Nilawati. Tidak bisa menerima kenyataan tersebut, hati Ratri hancur berantakan sampai suatu hari ia meminta pada Santi untuk menurunkan semua ilmunya terutama Atmaprawesa dan bertekad untuk menjadi gowok terhormat yang akan menjadikan semua lelaki menjadi Lelananging Jagad di bawah gowokannya.

Lima belas tahun kemudian, Ratri mulai menjadi gowok tersohor di kalangan para bupati. Sementara itu Ningsih menjadi salah satu pemimpin di Gerwani, yang didukung oleh Partai Komunis Indonesia. Suatu hari, keluarga dari kekeratonan Surakarta datang berkunjung ke gowokan Nyai Santi. Pangeran Ario membawa Bagas, yang merupakan anak dari Kamanjaya dan Nilawati. Nilawati merasa bahwa Kamanjaya berhasil menjadi sosok suami yang luar biasa karena hasil gowokan Santi. Ratri kemudian menyanggupi untuk menggowok Bagas dengan syarat menerima pembayaran di muka agar bisa menggunakannya untuk mendirikan sekolah khusus perempuan yang dikelola oleh Ningsih.

Ratri menggowok Bagas dengan mantra Atmaprawesa, Santi pergi ke kota untuk melayani jasa seksual pada Harjolukito, seorang kepala kantor pos. Dalam percakapan di ranjang, Harjolukito mengungkap masa lalu Rahayu yang memiliki hubungan asmara dengan Pangeran Ario. Karena terancam kehilangan statusnya sebagai bangsawan, Ario akhirnya tidak jadi menikahinya, dan Rahayu dijodohkan dengan Wiro yang seorang wedana. Rahayu akhirnya setuju untuk menikah dengan Wiro, dengan syarat Pangeran Ario mau mengangkat Wiro menjadi bupati. Harjolukito juga mengungkap rahasia gelap mengenai Nilawati yang telah mengandung sebelum menikah dengan Kamanjaya, sekaligus mengungkap bahwa Bagas bukanlah anak kandung dari Kamanjaya.

Setelah peristiwa G30S PKI, penggrebekan dan penangkapan masal terjadi di mana-mana kepada segala sesuatu yang berbau komunis, termasuk Gerwani, organisasi yang dikelola Ningsih. Khawatir dengan keselamatan Ratri yang punya hubungan dekat dengan Ningsih, Kamanjaya menemuinya untuk memperingatinya. Pertemuan keduanya menimbulkan keraguan akan penyebab putusnya hubungan mereka pada masa lalu. Ratri yang merasa curiga, dengan dibantu oleh salah satu penghuni gowokan yang sering membersihkan kamar Santi (Sri), secara diam-diam masuk ke kamarnya dan menemukan semua surat yang selama ini dia kirimkan untuk Kamanjaya. Saat Santi pulang, Ratri langsung melabraknya, tetapi Santi kemudian menceritakan penyebab mengapa ia melakukan itu semua, di mana Ningrum (ibu Ratri) ternyata adalah adik dari Rahayu. Rahayu mengancam akan mengungkap semua aib-aib Santi bila dia tidak berhasil memisahkan Ratri dan Kamanjaya. Santi menyuap kepala kantor pos, Harjolukito dengan memberikan jasa seksual padanya agar tidak mengirimkan semua surat yang ditujukan pada Ratri di gowokan. Sementara itu, Santi memalsukan tulisan tangan Ratri untuk membuat surat-surat balasan yang dikirim kepada Kamanjaya, termasuk surat terakhir yang menyatakan bahwa Ratri tidak mau lagi berhubungan lagi dengannya. Ratri kemudian mengaku bahwa ia menggunakan mantra Atmaprawesa kepada Bagas karena rasa dendamnya kepada Kamanjaya. Mengetahui itu, Santi menyuruh Ratri untuk pergi meninggalkan gowokan. Bagas secara diam-diam mengikuti Ratri yang kemudian memaksa Ratri untuk ikut dengannya. Tidak lama kemudian, Kamanjaya tiba, memukul Bagas dan menyuruh supirnya untuk membawanya pulang. Kamanjaya mengungkapkan pada Ratri bahwa ia masih sangat mencintainya, tetapi secara tidak terduga, Bagas menusuknya dari belakang setelah berhasil membunuh supir yang mencoba membawanya pulang. Ratri berusaha melarikan diri namun tertangkap oleh Bagas yang sudah di bawah pengaruh mantra. Saat Bagas berusaha untuk memperkosanya, Sri datang dan membunuh Bagas.

Dua puluh tahun kemudian, Ratri bersama dengan kedua anaknya datang mengunjungi gowokan yang sekarang telah terbengkalai. Tidak lama, kepala desa datang untuk menemui mereka, dan Ratri menyuruh anaknya untuk memproses pembelian rumah kosong tersebut.

Pada Juli 2024, dilaporkan bahwa Hanung Bramantyo akan menyutradarai sebuah film tentang ‘'gowok’' yang berlatar tahun 1960-an, dengan Raihaanun, Lola Amaria, dan Reza Rahadian dijadwalkan untuk berperan.[3] Sumber data film ini diambil dari buku berjudul "Nyai Gowok", sebuah novel kamasutra dari Jawa karya Budi Sardjono. Hanung meramu fakta sejarah mengenai gowok yang merupakan profesi yang berasal dari Laksamana Cheng Ho. Nama gowok sendiri merupakan nama seorang perempuan asal Tiongkok bernama Goo Wook Niang yang mengajarkan ilmu pendidikan seks kepada bangsawan Jawa.[4] Hanung juga menghadirkan kebudayaan lokal seperti makanan khas lokal cenil, lanthing dan wedang jahe, pakaian batik, kebaya, dan blangkon untuk memperkuat nuansa kebudayaan yang ada dalam film.[4] Film ini menandai kembalinya Amaria ke dunia akting setelah 11 tahun tidak lagi membintangi film.[5] Pengambilan gambar utama dilakukan di Kabupaten Sleman, Yogyakarta.[6]

Penayangan

[sunting | sunting sumber]

‘'Gowok: Kamasutra Jawa’' melakukan penayangan perdana dunia di Festival Film Internasional Rotterdam ke-54 pada 2 Februari 2025, bersaing untuk Penghargaan Layar Besar VPRO.[7]

Film ini terpilih di Festival Film Asia New York ke-24 yang diselenggarakan dari 11 hingga 27 Juli 2025 untuk pemutaran perdana di Amerika Utara.[8]

Penghargaan dan nominasi

[sunting | sunting sumber]
Penghargaan Tanggal Kategori Penerima Hasil Ref.
Festival Film Bandung 31 Oktober 2025 Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Film Indonesia Raihaanun Menang
Penata Editing Terpuji Film Indonesia Wawan I. Wibowo (bersama Haris F. Syah) Nominasi
Penata Kamera Terpuji Film Indonesia Barmastya Bhumi Brawijaya (bersama Satria Kurnianto) Nominasi
Festival Film Indonesia 20 November 2025 Aktris Terbaik Lola Amaria Nominasi [9]
Aktor Pendukung Terbaik Reza Rahadian Nominasi
Aktris Pendukung Terbaik Raihaanun Nominasi
Skenario Asli Terbaik Hanung Bramantyo dan Z.Z. Mulja Galih Nominasi
Penyuntingan Terbaik Haris F. Syah dan Wawan I. Wibowo Nominasi
Tata Busana Terbaik Hagai Pakan Nominasi
Tata Rias Terbaik Fardillah Evariani Nominasi
Cinemags Awards 2025 2025 Film Terfavorit MVP Pictures Belum diputuskan
Sutradara Terfavorit Hanung Bramantyo
Pendatang Baru Terfavorit Ali Fikry
Pemeran Pendukung Pria Devano Danendra
Pemeran Utama Wanita Raihaanun

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Film Gowok Kamasutra Jawa Sudah Tayang di Bioskop, Angkat Tradisi Melatih Seksual Sebelum Menikah". TribunPalu.com.
  2. "Film Gowok: Kamasutra Jawa: Hadir dengan Dua Versi, Berani Angkat Tradisi Tergerus Zaman!". Pikiran Rakyat Bengkulu.
  3. Tionardus, Melvina (10 Juli 2024). Maharani, Dian (ed.). "Hanung Bramantyo Garap Film tentang Dukun Seksual, Gowok Kamasutra Jawa". Kompas. Diakses tanggal 21 April 2025.
  4. 1 2 "Review Film Gowok: Nilai Tabu Pendidikan Seks dan Gender dalam Budaya Jawa". Tempo. 5 Juni 2025 | 22.03 WIB. Diakses tanggal 2025-12-08.
  5. Tionardus, Melvina (10 Juli 2024). Setiawan, Tri Susanto (ed.). -jawa "Lola Amaria Kembali Berakting Setelah 11 Tahun Lewat Gowok Kamasutra Jawa". Kompas. Diakses tanggal 14 Januari 2025.
  6. Kintoko, Irwan Wahyu (10 Juli 2024). "Film 'Gowok Kamasutra Jawa' Syuting di Gamplong, Dibintangi Raihaanun, Lola Amaria dan Reza Rahadian". Tribun Network. Diakses tanggal 21 April 2025.
  7. Dams, Tim (17 Desember 2024). "Rotterdam mengumumkan daftar kompetisi Tiger dan Big Screen 2025". Screen International. https://www.screendaily.com/news/rotterdam-unveils-2025-tiger-and-big-screen-competition-line-ups/5200199.article Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Januari 2025. Diakses tanggal 21 April 2025.
  8. https://www.filmlinc.org/daily/nyaff-and-flc-announce-first-highlights-of-the-2025-new-york-asian-film-festival-july-11-27/. ; ; ; ;
  9. "Daftar Lengkap Nominasi Piala Citra FFI 2025". CNN Indonesia. 19 October 2025. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 October 2025. Diakses tanggal 20 October 2025.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]