Giri, Banyuwangi
Giri | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Banyuwangi | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Joko Kuncoro, S.Sos. | ||||
| Populasi (2024) | |||||
| • Total | 32.892 jiwa | ||||
| Kode pos | 68422 – 68425 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.10.17 | ||||
| Kode BPS | 3510190 | ||||
| Luas | 21,31 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 4 kelurahan 2 desa | ||||
| |||||
Giri adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Banyuwangi yang terletak tepat di barat pusat kota Banyuwangi. Pada tahun 1995, Giri bagian utara dimekarkan menjadi kecamatan baru bernama Kalipuro.[1] Akibat pemekaran tersebut, Giri menjadi kecamatan dengan luas wilayah tersempit di Banyuwangi (sekitar 21 km²), sekaligus penduduk paling sedikit kedua setelah Licin (sekitar 32 ribu jiwa). Jalan utama yang melewati kecamatan ini adalah Jalur Lingkar Barat Kota yang mencakup ruas Jl. Brawijaya - Gajah Mada - Raden Wijaya. Beberapa ikon dari Kecamatan Giri diantaranya GOR Tawang Alun, Lapangan kecamatan, dan Wisata Goa Sodong.[2] Selain itu, juga terdapat perguruan tinggi unggulan di kecamatan ini seperti FIKKIA Universitas Airlangga dan Universitas Dr. Soekardjo (STIKES Banyuwangi).[3][4]
Geografi
[sunting | sunting sumber]
Giri adalah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi yang berbatasan langsung dengan ibu kota Banyuwangi. Bagian timur Giri seperti Kelurahan Mojopanggung dan Penataban merupakan kawasan urban padat penduduk yang menjadi penyangga dari Kota Banyuwangi. Berbeda dengan bagian baratnya (seperti Desa Grogol dan Jambesari) yang masih berupa pedesaan dan dikelilingi persawahan serta perkebunan yang ditanami komoditas seperti kelapa dan kopi.
Batas wilayah Kecamatan Giri adalah sebagai berikut:[2]
| Utara | Kecamatan Kalipuro |
| Timur | Kecamatan Banyuwangi |
| Selatan | Kecamatan Glagah |
| Barat | Kecamatan Glagah dan Kecamatan Kalipuro |
Daftar desa dan dusun
[sunting | sunting sumber]Kecamatan Giri terdiri dari 4 kelurahan dan 2 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut:
Daftar kelurahan
[sunting | sunting sumber]| No. | Nama Kelurahan | Nama Lingkungan | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Boyolangu | Krajan I, Krajan II, Krajan III, Concrong, Porong, Watubuncul | [2] |
| 2 | Giri | Krajan, Karangente, Kluncing, Kopenbayah, Payaman, Permata Giri, Wiyu | [2][5] |
| 3 | Mojopanggung | Cungking, Mojoroto | [2] |
| 4 | Penataban | Krajan I, Krajan II | [2] |
Daftar desa
[sunting | sunting sumber]| No. | Nama Desa | Nama Dusun atau Dukuh | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Grogol | Krajan, Guwo, Kedawung, Kopendukuh, Laos, Lebak, Pelinggihan, Rupi | [2][6] |
| 2 | Jambesari | Delik I, Delik II, Jambean, Langring, Mangli | [2] |
Tempat terkenal
[sunting | sunting sumber]
- Pasar Cungking
- GOR Tawang Alun - gelanggang olahraga utama di Banyuwangi
- Lapangan Kecamatan Giri
- Pusat Informasi Geologi Geopark Ijen (PIGGI)
- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyuwangi
- PLN Gardu Induk Banyuwangi
- Stasiun Meteorologi BMKG Banyuwangi
- FIKKIA Universitas Airlangga Banyuwangi Kampus Giri dan Mojo[3]
- Universitas Dr. Soekardjo (UNIDSOE) - sebelum tahun 2025 dikenal sebagai STIKES Banyuwangi.[4]
Kebudayaan
[sunting | sunting sumber]
Puter kayun
[sunting | sunting sumber]Puter kayun adalah acara tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Boyolangu tiap tanggal 10 Syawal. Acara ini adalah ritual napak tilas untuk mengenang tokoh bernama Ki Buyut Jakso atas jasanya dalam membuka jalan di kawasan Banyuwangi utara. Napak tilas tersebut berupa pawai menggunakan andong atau dokar yang dihias. Andong kemudian berjalan dan menempuh perjalanan dari Boyolangu ke Pantai Watu Dodol. Warga yang menaiki dokar juga mengenakan pakaian khas Suku Osing. Dokar dipakai sebagai simbol masyarakat Boyolangu yang banyak bekerja sebagai kusir dokar. Namun setiap tahunnya, jumlah dokar yang dipakai dalam pawai makin menyusut karena berkurangnya profesi kusir dokar di Boyolangu. Akan tetapi, hal ini tidak mengganggu kekhidmatan masyarakat dalam menjalankan ritual. Bahkan masyarakat juga berbondong-bondong mengiringi pawai sehingga menambah keramaian.[7][8]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 37 TAHUN 1995 tentang PEMBENTUKAN 6 (ENAM) KECAMATAN DI WILAYAH KEBUPATEN DAERAH TINGKAT II PONOROGO, BANYUWANGI DAN JEMBER DALAM WILAYAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR" (PDF).
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Kabupaten Banyuwangi Dalam Angka 2025. BPS Kabupaten Jember. 2025-02-28.
- 1 2 Azhar Burhanuddin (2024-01-08). "Menengok Fasilitas Baru Kampus Mojo FIKKIA UNAIR". FIKKIA UNIVERSITAS AIRLANGGA.
- 1 2 "STIKES Banyuwangi Resmi Menjadi Universitas Doktor Soekardjo". banyuwangikab.go.id. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. 2025-12-03.
- ↑ Ahmad Fauzi (2018). "Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Ider Bumi di Lingkungan Giri Krajan Kecamatan Giri Kabupaten Banyuwangi" (PDF). Digital Library UINKHAS Jember. Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
- ↑ "Tentang Desa Grogol : Profil Umum Desa Grogol". grogol.profil.jmdn.co.id/. Pemerintah Desa Grogol. Diakses tanggal 2026-01-07.
- ↑ Eka Rimawati (2025-04-09). "Puter Kayun, Ritual Kuno Banyuwangi Menolak Punah". DETIK JATIM.
- ↑ Mohamad Ichsanudin Adnan (2022-12-15). "Sejarah Singkat Tradisi Puter Kayun yang Berasal Dari Banyuwangi". TIRTO.
