Lompat ke isi

Kapel Santa Maria dari Betlehem, Lembang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kapel Santa Maria dari Betlehem
Kapel Santa Maria dari Betlehem, Paroki Lembang
Tampak depan Kapel Santa Maria dari Betlehem pada tahun 2025
PetaKoordinat: 6°48′46.11942″S 107°36′52.73388″E / 6.8128109500°S 107.6146483000°E / -6.8128109500; 107.6146483000
Informasi umum
LokasiLembang, Bandung Barat, Jawa Barat
NegaraIndonesia
DenominasiGereja Katolik Roma
Arsitektur
StatusKapel
Status fungsionalAktif
Tipe arsitekturGereja
Administrasi
ParokiLembang
DekenatBandung Barat
KeuskupanBandung
Klerus
UskupAntonius Subianto Bunjamin, O.S.C.
Imam kepalaR.D. Aloysius Wahyu Endro Suseno

Instagram: paroki.lembang Modifica els identificadors a Wikidata

Kapel Santa Maria dari Betlehem adalah sebuah kapel Katolik yang berlokasi di Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat, Indonesia. Gereja ini merupakan bagian dari biara bagi para biarawati Karmelit Tak Berkasut (OCD). Berbeda dari kapel OCD lainnya yang umumnya tidak dibuka untuk masyarakat umum, kapel ini menjadi gereja paroki. Kapel ini menjadi pusat dari Paroki Santa Maria Fatima Lembang, yang masuk dalam Dekanat Bandung Barat pada Keuskupan Bandung. Santa Maria dari Betlehem dikaitkan dengan Bunda Maria dan juga tempat kelahiran Yesus, Bethlehem. Reksa pastoral Paroki Lembang dilaksanakan oleh para imam diosesan Keuskupan Bandung.[1]

Kedatangan biarawati OCD

[sunting | sunting sumber]

Sejarah berdirinya Kapel Santa Maria dari Betlehem berkaitan erat dengan situasi Gereja Katolik universal pada akhir dekade 1930-an.[2] Pada tahun 1939, Paus Pius XII, sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik, menghimbau agar biara-biara kontemplatif turut ambil bagian dalam kerasulan doa di wilayah misi.[3] Menanggapi seruan tersebut, sekelompok Suster Ordinis Carmelitarum Discalceatorum (OCD) yang disebut sebagai biarawati Karmelit Tak Berkasut dari biara induk di Nijmegen, Belanda, merencanakan pendirian sebuah biara di wilayah Prefektur Apostolik Bandung, yang pada masa itu merupakan bagian dari Hindia Belanda.[2] Rencana tersebut memperoleh izin dari pimpinan Ordo Karmel OCD pada bulan Maret 1939.[2]

Dalam menentukan lokasi, para suster mempertimbangkan kebutuhan akan lahan yang luas, tenang, dan mendukung kehidupan kontemplatif yang menekankan keheningan, doa secara terus-menerus, dan perayaan Ekaristi.[2] Pilihan jatuh kepada sebidang tanah seluas sekitar 17.400 meter persegi di Lembang, yang sebelumnya merupakan bekas peternakan sapi di lereng Gunung Tangkuban Parahu.[2] Di lokasi tersebut terdapat tiga bangunan kecil bekas gudang susu yang kemudian menjadi bagian awal dari kompleks biara.[3] Adapun pembelian lahan difasilitasi oleh Pastor Johannes de Rooij, OSC.[4] Pastor Rooij merupakan salah seorang Krosier (anggota Ordo Salib Suci) yang pertama kali tiba di Bandung, bersama Pastor Marinus Nillesen, OSC dan Pastor Jacobus Hubertus Goumans, OSC.[5]

Pada tanggal 1 Juni 1939 didirikan sebuah badan hukum bernama Yayasan Santa Theresia sebagai dasar legal pendirian biara.[2] Melalui yayasan tersebut, pada tanggal 24 Agustus 1939, lahan di Lembang resmi dibeli dan menjadi milik para Suster Karmel OCD.[2] Pada 14 November 1939, lima orang suster dan tiga orang novis berangkat dari Nijmegen menuju Hindia Belanda sebagai kelompok perintis misi.[2] Perjalanan tersebut ditempuh dengan kapal barang bernama Tabian, yang membawa para suster tiba di Batavia pada tanggal 31 Desember 1939 setelah menempuh pelayaran lebih dari satu bulan.[3] Selama proses awal pembangunan, para suster sementara waktu tinggal di Biara Suster Ursulin di Jalan Merdeka, Bandung.[2]

Kompleks biara mulai dibangun dan ditata dengan menggunakan rancangan arsitek Leo Sippel.[2] Pada tanggal 17 Maret 1940, upacara pemberkatan biara berlangsung dan dipimpin oleh Jacobus Hubertus Goumans, O.S.C. selaku Prefek Apostolik Bandung.[2] Peletakan batu pertama pembangunan kompleks biara dan kapel dilakukan pada tanggal 23 April 1941 oleh Mgr. Goumans.[2] Setelah pembangunan selesai, kapel diberkati secara resmi pada tanggal 21 Desember 1941.[2] Kapel tersebut kemudian diberi nama Kapel "Santa Maria dari Betlehem".[2]

Masa sekitar kemerdekaan

[sunting | sunting sumber]

Sejarah Gereja Karmel Lembang juga berkaitan dengan munculnya panggilan religius pribumi pertama, yaitu Jufrouw Lidwine, seorang guru asal Mendut, Jawa Tengah, yang kemudian bergabung sebagai suster Karmel.[4] Situasi damai di lingkungan Gereja Karmel Lembang berubah drastis pada tahun 1942 saat masa pendudukan Jepang. Pada 6 Maret 1942, tentara Jepang menghancurkan kawasan Lembang, termasuk Masjid Agung Lembang.[6] Dalam peristiwa tersebut, kompleks biara mengalami kerusakan sehingga para suster terpaksa meninggalkan tempat itu dan mengungsi ke Biara Suster Ursulin di Bandung. Namun, tempat pengungsian tersebut telah lebih dahulu dikuasai oleh tentara Jepang, sehingga para suster akhirnya ditahan dan diperlakukan sebagai tawanan perang. Selanjutnya, para suster dikirim ke kamp konsentrasi Jepang dan menjalani masa penahanan selama kurang lebih tiga tahun. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, para suster dibebaskan dari penahanan dan dipulangkan ke Belanda untuk menjalani pemulihan kesehatan.[4]

Pada tahun 1953, Vikaris Apostolik Endeh Antonius Hubertus Thijssen, S.V.D. mengundang para biarawati OCD untuk kembali ke Indonesia dan mendirikan biara di kawasan Bajawa di Pulau Flores. Pada tahun 1962, dua orang biarawati OCD ditugaskan ke Indonesia untuk mengurus pengembalian biara Karmel di Lembang. Kompleks biara Karmel di Lembang saat itu dialihfungsikan sebagai kantor Kepolisian Sektor Lembang serta asrama (tangsi) bagi anggota kepolisian. Dalam periode yang sama, bangunan kapel digunakan sebagai gedung olahraga dan tempat pertunjukan.[4]

Pada 21 Februari 1963, kapel tersebut kemudian dikembalikan kepada pihak biara. Karena kondisi bangunan yang tidak terawat dan mengalami kerusakan, dilakukan upaya perbaikan dan pemulihan kapel. Setelah proses tersebut selesai, kapel diberkati kembali pada tanggal 25 Agustus 1963 oleh Pierre Marin Arntz, O.S.C. yang saat itu menjabat sebagai Uskup Bandung.[4]

Kapel masa kini

[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya, kapel ini hanya digunakan untuk keperluan ibadat internal para Suster Karmel OCD.[2] Seiring berjalannya waktu, semakin banyak umat Katolik yang menetap di Lembang dan membutuhkan tempat ibadah.[2] Sebagian besar umat awal kapel ini berasal dari kalangan perwira Pusat Pendidikan Ajudan Jenderal (PUSDIKAJEN) Lembang.[2] Perkembangan jumlah umat yang terus meningkat menjadikan Kapel Santa Maria dari Betlehem semakin aktif dan berfungsi sebagai lokasi peribadatan bagi umat Katolik Lembang.[3]

Pada 27 April 1967, berlangsung upacara pembaptisan pertama di Lembang. Pembaptisan diterimakan oleh Pastor J.A.C. Schellekens, OSC. Adapun tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari lahir Paroki Santa Maria Fatima Lembang. Pastor Schellekens merupakan seorang pengajar bagi seminari di baru dipindahkan ke Lembang, dan juga ditugaskan untuk melayani umat di Lembang.

Renovasi juga sempat kembali berlangsung dan rampung pada 1 Oktober 2004, saat kapel diberkati oleh Uskup Bandung Alexander Djajasiswaja. Hingga tahun 2019, jumlah umat yang beribadah di kapel ini tercatat mencapai sekitar 800–900 orang.[2] Selain pertumbuhan umat, kompleks kapel dan biara juga mengalami beberapa perubahan fisik bangunan seiring perkembangan waktu.[2]

Dalam rangka Yubileum 2025, Paroki Lembang ditetapkan sebagai satu dari sembilan gereja dengan Porta Sancta (Pintu Suci) dalam wilayah Keuskupan Bandung.[7] Uskup Bandung Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C. membuka Porta Sancta Lembang pada 19 Januari 2025.[8]

Di kompleks Biara Pertapaan Karmel Tak Bersepatu (OCD) Lembang ini terdapat sebuah taman doa. Taman doa ini berisi diorama-diorama yang menggambarkan peristiwa dalam Jalan Salib. Fasilitas Jalan Salib Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel diberkati oleh Uskup Bandung Johannes Pujasumarta pada tanggal 17 Desember 2008. Taman doa ini juga memiliki Gua Maria. Namun demikian, sebagai bagian dari Biara OCD, kompleks pertapaan biara ini tidak menerima rombongan dalam jumlah besar, yakni hanya untuk doa pribadi dan hening, serta dalam batas waktu tertentu.

Pada Hari Raya Kabar Sukacita 25 Maret 2020, Bapak Uskup Anton Bunjamin memberkati Patung Santo Yosef Tidur (Sleeping Joseph) yang berada di pelataran kapel.

Peribadatan

[sunting | sunting sumber]

Kapel Santa Maria dari Betlehem digunakan oleh para biarawati OCD untuk melaksanakan Perayaan Ekaristi. Para biarawati mengikuti Perayaan Ekaristi dari tempat tersendiri di sisi kanan altar, sehingga duduk terpisah dari umat. Perayaan Ekaristi diselenggarakan setiap hari (misa harian) juga pada akhir pekan (hari Sabtu sore dan Minggu pagi). Liturgi umumnya diselenggarakan dalam Bahasa Indonesia.

Eksterior

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Paroki di Keuskupan Bandung
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Tonalou, Paskalis Daniel (2021). "Perancangan Informasi Sejarah Kapel St. Maria Dari Betlehem (Gereja Karmel Lembang) Melalui Media Animasi". Univeristas Komputer Indonesia. Diakses tanggal 29 Desember 2025.
  3. 1 2 3 4 Tonalou, Paskalis Daniel; Albar, Deni (April 2022). "Desain Animasi Sejarah Kapel Santa Maria dari Betlehem (Gereja Karmel Lembang)". Divagatra. 02. Universitas Komputer Indonesia.
  4. 1 2 3 4 5 "Sejarah Gereja Karmel Lembang, Jantung Pusat Kegiatan Umat Paroki Lembang". LembangNews.com. 1 Februari 2023. Diakses tanggal 30 Desember 2025.
  5. "Sejarah". Keuskupan Bandung. Diakses tanggal 30 Desember 2025.
  6. Alifa, Malia Nur (24 Agustus 2024). "TELUSUR SEJARAH LEMBANG: Masa Pendudukan Jepang di Lembang". BandungBergerak.id. Diakses tanggal 30 Desember 2025.
  7. "Ini 9 Gereja Tempat Uskup Bandung Awali Yubileum 2025". Katolikpedia.id. 9 Januari 2025. Diakses tanggal 12 Januari 2025.
  8. "Pembukaan Porta Sancta di Paroki Santa Maria Fatima Lembang". Keuskupan Bandung. 22 Januari 2025. Diakses tanggal 30 Desember 2025.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]