Gereja Bunda Maria, Garut
| Gereja Bunda Maria | |
|---|---|
| Gereja Bunda Maria, Paroki Garut | |
Tampak luar Gereja Bunda Maria | |
| Informasi umum | |
| Lokasi | Jalan Bank Nomor 50, Pakuwon, Garut Kota, Garut 44117 |
| Negara | Indonesia |
| Denominasi | Gereja Katolik Roma |
| Sejarah | |
| Dedikasi | Bunda Maria |
| Arsitektur | |
| Status | Paroki |
| Status fungsional | Aktif |
| Administrasi | |
| Paroki | Garut |
| Dekenat | Priangan |
| Keuskupan | Bandung |
| Klerus | |
| Uskup | Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C. |
Gereja Bunda Maria atau Gereja Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tak Bernoda adalah sebuah gereja paroki Katolik yang berlokasi di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia. Gereja ini merupakan pusat dari Paroki Garut yang menjadi bagian dalam Dekanat Priangan pada Keuskupan Bandung. Gereja ini dinamai menurut Maria, ibu dari Yesus Kristus. Reksa pastoral di gereja ini dilaksanakan oleh para imam diosesan Keuskupan Bandung.
Gereja Bunda Maria Garut terletak berseberangan dengan Stasiun Garut.
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Paroki Santa Maria Garut merupakan salah satu paroki tertua dalam wilayah Keuskupan Bandung, dengan sejarah pelayanan umat Katolik yang dimulai sejak tahun 1914. Pada awalnya, karya pastoral di Garut dilayani oleh para imam Serikat Yesus dan para imam diosesan. Garut, yang pada masa kolonial Belanda dikenal sebagai kota peristirahatan karena iklimnya yang sejuk dan sumber air panasnya, menjadi tempat tinggal sejumlah orang Belanda, termasuk umat Katolik yang bekerja di perkebunan teh di sekitarnya.[1]
Untuk memenuhi kebutuhan ibadah umat Katolik, sebuah gereja kecil dibangun dengan kapasitas 200 orang. Gereja tersebut diberkati pada tanggal 22 Juni 1917. Sejak tanggal 9 Februari 1927, pelayanan pastoral di Garut diserahkan kepada Ordo Salib Suci (OSC), yang mulai berkarya di wilayah Parahyangan. Buku baptis mulai dicatat sejak 22 Juni 1934, yang menandai pembentukan paroki.[2] Selain itu, Kongregasi Suster Carolus Borromeus (CB) juga sempat berkarya di Garut dengan mengelola Taman Kanak-Kanak HIS. Namun, ketika pendudukan Jepang dimulai pada tahun 1942, para suster meninggalkan wilayah ini.[3]
Masa sulit terjadi pada periode 1943–1949. Tidak ada imam yang menetap di Garut dan pelayanan sakramen sangat terbatas. Pastor H. Riechert, OSC, yang tidak diinternir oleh Jepang, sesekali mengunjungi Garut. Jumlah umat yang hadir dalam misa pada masa itu hanya sekitar 18 orang. Pada tahun 1947, pelayanan kembali dilaksanakan secara lebih teratur ketika Pastor L.K. Soemadiwirjo, OSC menetap di Garut. Kegiatan pelajaran agama, sakramen permandian, dan Misa Kudus mulai dilaksanakan kembali, meskipun belum secara rutin.
Periode 1950–1964 menunjukkan suatu perkembangan dalam kehidupan Gereja. Umat lokal semakin bertambah dan pendidikan menjadi salah satu fokus pelayanan. SMA Katolik Santa Maria didirikan pada tahun 1953, diikuti dengan peresmian SMP Katolik pada 1955. TK dan SD Katolik mulai beroperasi pada tahun 1962 dengan memanfaatkan ruang di pastoran. Pastor H. Van Iperen, OSC kemudian membangun gedung sekolah TK–SD di Jalan Telaga Bodas (kini Jalan Jenderal Ahmad Yani Nomor 17).
Pada tahun 1965, tercatat sebanyak 382 orang menerima sakramen permandian, sebagian besar berasal dari komunitas Tatar Sunda Asli yang merupakan bagian dari Agama Djawa Sunda (ADS), khususnya dari Kampung Pasir yang menjadi stasi dari Paroki Garut. Pastor A. Gani, Pr. melayani umat dalam jumlah besar dan secara rutin mengunjungi Stasi Kampung Pasir untuk Misa Minggu sore.
Tahun 1974 menandai awal masa kekosongan imam tetap di Paroki Garut. Selama beberapa tahun, paroki dilayani oleh para imam dari Bandung dan Tasikmalaya. Pada September 1981, terjadi peristiwa besar ketika sebagian besar umat Katolik di Stasi KampungPasir menyatakan keluar dari Gereja Katolik dan menyerahkan kembali surat permandian mereka. Hal ini diduga disebabkan oleh tekanan sosial dan politik serta perobohan tempat ibadah mereka. Pastor C. Kluskens, OSC yang bertugas saat itu, tetap berusaha memberikan pelayanan pastoral.
Sejak pertengahan tahun 1982, Paroki Santa Maria Garut kembali memiliki imam yang menetap. Kehidupan paroki ditata ulang, dan struktur organisasi gerejani mulai dihidupkan. Pada tahun yang sama, tanggung jawab pelayanan diserahkan dari Ordo Salib Suci kepada imam-imam diosesan.[4][5] Pada tahun 1990 berlangsung renovasi kecil pada gedung gereja selaras dengan pertambahan jumlah umat. Ruang sakristi dan ruang pertemuan diubah menjadi ruang ibadah, dan aula gereja dibangun di bagian belakang.
Memasuki tahun 2005, gedung gereja telah berusia 88 tahun dan belum pernah mengalami renovasi besar. Struktur bangunan mulai menunjukkan kerusakan, dengan tembok yang miring ke luar. Sejak 2 Mei 2005 dilaksanakan renovasi besar yang mencakup penggantian struktur menggunakan baja, pelebaran ke sayap kanan dan kiri, serta penambahan balkon.
Dalam rangka Yubileum 2025, Gereja Bunda Maria Garut ditetapkan sebagai satu dari sembilan gereja dengan Porta Sancta (Pintu Suci) dalam wilayah Keuskupan Bandung.[6] Uskup Bandung Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C. membuka Porta Sancta Garut pada 5 Januari 2025.
Peribadatan
[sunting | sunting sumber]Gereja Bunda Maria menyelenggarakan misa harian dan misa mingguan. Misa mingguan dilaksanakan dua kali, yakni masing-masing satu kali pada Sabtu sore dan Minggu pagi. Liturgi umumnya diselenggarakan dalam Bahasa Indonesia.
- Tampak dalam dari lantai dasar
- Panti imam
- Altar
Fasilitas
[sunting | sunting sumber]Gereja Bunda Maria Garut memiliki Taman Doa Hati Maria yang Tak Bernoda. Taman doa ini diberkati pada tanggal 16 Juli 2017 oleh Uskup Bandung Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C.
- Taman Doa Hati Maria yang Tak Bernoda
- Taman Doa Hati Maria yang Tak Bernoda
- Patung Perawan Maria yang Tersenyum dengan tulisan Vierge curaeuleuse du Sourire
Di dalam gedung utama gereja, terdapat patung Hati Kudus Yesus dan Bunda Maria di sekitar panti imam. Selain itu, terdapat juga patung Pieta dan patung Santo Antonius dari Padua.
- Patung Bunda Maria di sekitar panti imam
- Patung Hati Kudus Yesus di sekitar panti imam
- Patung Santo Antonius Padua
- Pieta
Gereja Bunda Maria Garut juga terletak dalam kompleks yang sama dengan SMP Katolik Yos Sudarso.
Galeri
[sunting | sunting sumber]- Eksterior
- Tampak luar (2025)
- Tampak luar (2025)
- Interior
- Tampak dalam gereja dari balkon
- Balkon kanan gereja
- Balkon kiri gereja
- Balkon tengah gereja
- Fasilitas lainnya
- Porta Sancta (Pintu Suci) dalam rangka Yubileum 2025
- Porta Sancta (Pintu Suci) dalam rangka Yubileum 2025
- SMP Yos Sudarso yang terletak satu kompleks dengan Gereja Bunda Maria
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Sejarah". Gereja Katolik Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tak Bernoda – Garut. Diakses tanggal 26 Mei 2025.[butuh sumber yang lebih baik]
- ↑ "About". Gereja Katolik Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tak Bernoda – Garut. Diakses tanggal 26 Mei 2025.[butuh sumber yang lebih baik]
- ↑ "Gereja Katolik Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tak Bernoda". Gema Eklesia. 16 Juli 2012. Diakses tanggal 26 Mei 2025.
- ↑ Surwandono (2010). "Aplikasi Pengolahan Arsip pada Gereja Katolik Santa Perawan Maria yang terkandung Tak Bernoda Garut". Diploma thesis. Universitas Komputer Indonesia. – Bab II
- ↑ Surwandono (2010). "Aplikasi Pengolahan Arsip pada Gereja Katolik Santa Perawan Maria yang terkandung Tak Bernoda Garut". Diploma thesis. Universitas Komputer Indonesia.
- ↑ "Ini 9 Gereja Tempat Uskup Bandung Awali Yubileum 2025". Katolikpedia.id. 9 Januari 2025. Diakses tanggal 12 Januari 2025.

