Genetika perilaku

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Genetika perilaku merupakan bidang studi ilmiah yang secara khusus menyelidiki pengaruh genetika terhadap karakter individu khususnya perilaku dalam suatu lingkungan. Korelasi genetika perilaku telah dipelajari sejak tahun 1920-an oleh seorang ilmuwan Inggris bernama Francis Galton. Melalui sebuah studi awal dengan model penelitian kepada sepasang anak kembar, ilmuwan tersebut kemudian menciptakan sebuah ungkapan baru yaitu nature and nurture. Studi tersebut kemudian menjadi pionir pertama dari sebuah kemajuan besar penelitian genetika molekuler yang membukakan penemuan ilmiah baru pada tahun-tahun berikutnya. Penemuan ini pun menjadi dasar dari studi pemodelan perilaku yang memakai penyilangan tertentu pada manusia dan makhluk hidup lain.[1]

Hingga tahun 1980-an, genetika perilaku menjadi salah satu penemuan terpenting yang mempengaruhi pemahaman modern tentang peran pengaruh genetik dan lingkungan terhadap perilaku individu. Dari penelitian lain yang mempelajari anak kembar dengan anggota keluarga lainnya, studi perilaku menunjukkan bahwa genetika memegang peranan yang signifikan dalam pembentukan karakter individu. Bukti ilmiah tersebut dihitung dari hasil penelitian yang setengahnya menunjukan terjadi perbedaan pada perilaku saat dilakukan tes kepribadian. Bahkan yang lebih menarik lagi, adalah dari hasil penelitian tes IQ menunjukan lebih banyak perubahan yang terjadi akibat genetika.[2] Sementara itu, studi anggota keluarga memperlihatkan bahwa pengaruh lingkungan yang besar justru akan membentuk karakter setiap individu menjadi semakin berbeda-beda. Penelitian tersebut pada akhirnya telah berhasil memaparkan sebuah bukti ilmiah bahwa lingkungan dan genetika memberikan pengaruh signifikan pada karakter kepribadian, psikopatologi maupun kemampuan kognitif seseorang secara signifikan.[3]

Penelitian-penelitian lanjutan kemudian memberikan pemahaman bahwa selain faktor lingkungan, genetika juga memiliki relasi dengan pembentukan sikap hidup seseorang. Korelasi genetik dan pengalaman hidup tersebut lalu membentuk identitas diri dan mempengaruhi perangai seseorang dalam suatu lingkungan. Kedua hal ini dicerminkan melalui perilaku individu spesifik seperti cara bicara, respon terhadap kegagalan serta cara menjalin sebuah hubungan interpersonal.[4] Korelasi kemudian semakin dikembangkan seiring dengan perkembangan zaman. Salah satu pengembangan lain tersebut adalah memfokuskan penelitian genetika perilaku pada identifikasi gen spesifik yang dinilai dapat mempengaruhi dimensi perilaku individu.  Beberapa contoh dimensi perilaku individu yaitu kepribadian dan kecerdasan individu yang disertai beberapa jenis disorder lain seperti autisme, hiperaktif, depresi dan skizofrenia.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Francis Galton, tahun 1912

Penggunaan metode selective breeding dan domestikasi pada hewan dan tumbuhan merupakan bukti paling awal bahwa manusia menganggap gagasan bahwa perbedaan individu dalam perilaku dapat disebabkan oleh sebab alami. Perihal ini menjadi semakin nyata untuk dibuktikan selama abad ke-19, baik secara fisik maupun karakteristik perilaku dapat diubahkan dari generasi ke generasi melalui seleksi sehingga terpisahkan karakteristik yang relevan, atau setidaknya hingga taraf tertentu, yaitu dapat diwariskan. Tidak mengherankan bahwa faktor iklim di mana pembiakan hewan yang telah tampak dibahas efektif pun kemudian menjadi diperdebatkan ulang. Materi bahasan sudah termasuk kemungkinan perlakuan selective breeding terhadap manusia, yang kemudian menjadi tertuju pada perbaikan kumpulan gen tertentu.[5]

Pada mulanya Francis Galton sebagai seorang polymath telah mempelajari banyak mata pelajaran termasuk heritabilitas kemampuan manusia dan karakteristik mental. Salah satu penyelidikan awal melibatkan studi silsilah besar tentang pencapaian sosial dan intelektual di kelas atas Inggris. Pada tahun 1869, 10 tahun setelah Darwin On the Origin of Species dipublikasikan, Galton menuliskan Hereditary Genius.[6] Dalam karya ini, Galton menemukan bahwa tingkat "keunggulan" mencapai yang tertinggi di antara kerabat dekat individu-individu terkemuka, dan menjadi menurun ketika tingkat hubungan dengan individu-individu terkemuka juga turun. Ketika Galton tidak bisa mengesampingkan peran pengaruh lingkungan pada hasil keunggulan individu, terdapat sebuah fakta sejarah yang diakui dimana studi ini menjadi awal permulaan dari perdebatan penting terkait peran relatif gen dan lingkungan pada karakteristik perilaku manusia. Melalui karya awal itulah Galton memperkenalkan analisis statistika multivariat yang membuka jalan ke pengembangan modern statistika Bayesian. Perihal ini kemudian digunakan di seluruh ilmu pengetahuan dan telah dijuluki “pencerahan statistika”.[7]

Selama tahun 1920 hingga 1960-an, pertanyaan dan pemikiran mengenai nature and nurture telah sangat mendominasi perkembangan penerapan teori yang ada di masa ini. Setelah dipionirkan oleh Francis Galton, perkembangan dari studi ini kemudian berkembang menjadi gerakan eugenic sebagai bagian dari pandangan politik di masa itu. Dari sudut pandang positive, penerapan teori eugenic telah dipakai untuk meningkatkan tingkat kesuburan populasi untuk kalangan masyarakat yang lahir dengan kondisi baik, atau yang lebih kentara disebut sebagai well born. Oleh karena itu, tingkat kecerdasan genetis masyarakat secara umum telah dapat ditingkatkan melalui seleksi eugenic. Pengembangan diawali dari studi sejarah keluarga menggunakan pedigree chart dimana observasi menekankan pada faktor keturunan dan pengembangan IQ yang kemudian diadaptasi dan dikembangkan untuk melacak mutasi gen tunggal pada keturunan keluarga, atau lebih sering disebut penyakit Mendelian. Selain metode tersebut, teknik seperti metode kuantitatif tetap dianggap perlu untuk kepentingan observasi sifat polygenic individu, yaitu karakter perilaku.[5]

Namun jika dilihat dari sudut pandang negative, penerapan eugenic tersebut dipakai untuk mengurangi dan mencegah kelahiran generasi yang dinilai tidak fit sehingga terjadi pembatasan untuk mengontrol tingkat kesuburan pada angka kelahiran di kategori tertentu. Hal ini diikuti dengan dilakukannya pemisahan dan pengurangan hak untuk berkeluarga. Perkembangan yang telah terjadi melalui metode ini kemudian telah menyebabkan penderitaan yang hebat dan rasa frustasi atas nilai kemanusiaan yang semakin berkembang pesat. Hal ini terjadi setelah adanya berbagai pelajaran kemanusiaan yang diikuti pemahaman dari berbagai pihak. Adapun penerapan eugenic tersebut dinilai tidak meningkatkan kehidupan generasi yang sudah ada, tidak menerima pluralisme dan pemahaman idealisme kesempurnaan manusia. Rangkaian kejadian ini disertai peraturan terburuk yang muncul pada masa itu akibat usaha untuk meningkatkan kualitas populasi manusia melalui ideologi rasial Nazi ataupun rekayasa sosial Stalinist. Sepanjang tahun bergulir, pandangan dan pemikiran eugenic di dunia kemudian berakhir setelah masa perang dunia I dan II karena adanya dorongan yang kuat akan keadilan atas kekejaman dan keyakinan yang bermasalah atas dasar kemanusiaan itu sendiri. Setelah masa perang berakhir, pandangan ini pun kemudian hanya didukung oleh kaum politik minoritas yang masih didukung oleh kalangan ilmuwan tertentu.[5]

Dari apa yang telah terjadi selama setengah abad sebelumnya, pemikiran eugenic telah secara mendalam mempengaruhi perkembangan psikologi untuk menjadi pengembangan studi genetika perilaku selama beberapa dekade selanjutnya. Adapun tradisi awal dalam pemahaman psikologi individu yang didasarkan pada teknik kuantitatif genetik, dikembangkan ulang di Amerika Serikat pada tahun 1960-an. Studi spesifik pertama dipublikasikan oleh Arthur Jensen dalam penulisan studi, terutama dalam hal seberapa jauh manusia dapat meningkatkan potensi IQ terkait prestasi pendidikan. Dari perkembangan ini kemudian tidak ada hasil studi yang dapat diterima secara menyeluruh dan diikuti munculnya berbagai pendekatan lain ke perkembangan psikologi individu.[5]

Sebagai bagian dari reaksi keras di era 1950 hingga 1960-an, pendekatan selanjutnya lebih dikembangkan dari sisi biologi secara signifikan. Dimana salah satu yang terpopuler adalah psikologi evolusioner. Studi diinspirasikan dari teori seleksi alam Darwinisme dan bertujuan umum untuk melihat bagaimana pola perilaku saat ini dapat dipahami masa perkembangannya. Studi menunjukkan bahwa pola perilaku tertentu telah tersebar luas dan terlihat di berbagai tempat budaya yang berbeda, dimana sering kali diasumsikan bahwa selalu ada tekanan seleksi yang kuat untuk mendukung pembangunan perilaku dan pemilihan varian genetik tertentu ('genes') selalu bertanggung jawab atas perkembangan ini.[5]

Oleh karena itu studi telah menyimpulkan secara umum tentang proses perkembangan individu (ontogeni) dari proses evolusi yang dianggap (filogeni) telah menyebabkan penyebaran pola perilaku secara luas. Selama dua dekade hingga tahun 1980-an, prinsip-prinsip psikologi evolusioner ini telah diterapkan secara luas dalam studi tentang perilaku manusia terlepas dari berbagai kritik yang ada. Secara garis besar, studi genetika perilaku telah dikukuhkan semenjak era kebijakan dan praktik eugenic terjadi. Ketetapan tersebut telah membentuk fondasi utama dari dasar ilmiah dan diklaim sebagai dasar pengembangan dari ilmu psikologi perilaku yang telah dipicu dari keprihatinan terhadap praktek eugenic di masa lampau. Namun, fakta perkembangan ini tidak serta-merta menyiratkan penelitian kontemporer lainnya untuk dapat langsung dikaitkan sebagai pertimbangan pandangan eugenic.[5]

Pada akhirnya, yang menjadi dasar penolakan utama terhadap peraturan eugenic adalah riset sains yang telah menunjukkan bahwa peraturan pemisahan dan sterilisasi pada kategori tertentu adalah sangat tidak layak, dan dianggap tidak akan pernah mencapai tujuan yang dinyatakan sebagai misi di awal era tersebut. Oleh karena itu, pertentangan dari banyak negara telah terjadi semenjak tahun 1930-an dan resmi berakhir pada tahun 1960-an. Namun dari banyak riset dan publikasi yang ada setelah pandangan eugenic berakhir, hasil karya tulis paling signifikan dalam studi genetika perilaku ditandai sejak publikasi buku Behavior Genetics, yang ditulis oleh John. L Fuller dan William Robert Thompson pada tahun 1960. Genetika perilaku mulai diakui sebagai bidang yang teridentifikasi dengan baik setelah buku ini resmi dipublikasikan dan kemudian memicu pertumbuhan besar yang diikuti kemajuan pesat dalam penelitian yang menggunakan DNA selama dekade selanjutnya.[8] Seiring perkembangan hingga tahun 1980-an, penelitian modern saat ini menjadi lebih berfokus terhadap pemahaman tingkat heritabilitas pada IQ dan karakteristik perilaku lainnya untuk meningkatkan pengetahuan proses pewarisan sifat-sifat lain dengan menyentuh banyak disiplin ilmu.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "behavior genetics | Definition, History, & Methods". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-11-09. 
  2. ^ "What Behaviors Do We Inherit Via Genes?". Psychology Today (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-11-09. 
  3. ^ Plomin, Robert; Daniels, Denise (2011-6). "Why are children in the same family so different from one another?". International Journal of Epidemiology. 40 (3): 563–582. doi:10.1093/ije/dyq148. ISSN 0300-5771. PMC 3147063alt=Dapat diakses gratis. PMID 21807642. 
  4. ^ "Genes, environment, and behavior". Khan Academy (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-11-09. 
  5. ^ a b c d e f g "Nuffield Council on Bioethics" (PDF). 2002. 
  6. ^ Galton, Francis (1869). "Hereditary Genius". 
  7. ^ Stigler, Stephen M. (17/06/2010). "Darwin, Galton and the Statistical Enlightenment". 
  8. ^ "Publication Trends Over 55 Years of Behavioral Genetic Research". 4/5/2017.