Lompat ke isi

Gatot Wilotikto

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Gatot Wilotikto
Lahir18 November 1936 (umur 89)
Hindia Belanda
KebangsaanIndonesia
AlmamaterInstitut Teknologi Kim Chaek [en]
PekerjaanPeneliti
Penerjemah
Dikenal atasEksil di Korea Utara
Suami/istriO Kwang Mi
Anak3

Gatot Wilotikto (lahir 18 November 1936) adalah seorang peneliti, penerjemah, dan eksil yang tinggal di Korea Utara selama 51 tahun.

Kehidupan dan pendidikan awal

[sunting | sunting sumber]

Gatot lahir pada tanggal 18 November 1936. Sebelum ke Korea Utara, ia berkuliah di Universitas Pajajaran mengambil jurusan biologi.[1]

Kehidupan di Korea Utara

[sunting | sunting sumber]

Perjalanan ke Korea Utara

[sunting | sunting sumber]

Bersama Waloejo Sedjati, Gatot menerima tawaran beasiswa kuliah di Korea Utara dari pemerintah Korea Utara. Mereka menerima tawaran tersebut dan berangkat dari Jakarta ke Pyongyang pada 11 November 1960. Perjalanan menuju Pyongyang memakan waktu tujuh hari dan mereka harus transit di Singapura, Yangon, Kunming, dan Beijing.[2]

Sesampainya di Beijing, Gatot dan Waloejo berangkat ke Pyongyang dengan kereta api. Ketika kereta sampai di Korea Utara, mereka mendapatkan sambutan. Gatot dan Waloejo ditemani oleh para pemandu dan penerjemah dari Liga Pemuda Korea menuju ke Pyongyang. Mereka tiba di Pyongyang pada 18 November 1960 dan disambut dengan musik militer yang dimanikan oleh kirab irama. Delegasi Liga Pemuda Korea memberikan mereka bunga kertas merah dan pakaian hangat yang bertuliskan dari marsekal Kim Il Sung. Selain itu juga, ini adalah pertama kalinya bagi Gatot dan Waloejo untuk melihat salju.[3]

Masa kuliah di Korea Utara

[sunting | sunting sumber]

Setibanya di Pyongyang, Gatot mengambil jurusan tenaga listrik di Institut Teknologi Kim Chaek [en]. Pada masa awal kuliah, ia sering pergi ke Beijing untuk memperpanjang passpornya.[1]

Pada bulan Oktober 1961, ia menjadi perwakilan Indonesia ketika Delegasi Kebudayaan Indonesia mengunjungi Pyongyang. Di bulan yang sama, ia meminta kepada Liga Pemuda Demokrasi Korea untuk menyelenggarakan perayaan Hari Sumpah Pemuda. Permintaan tersebut diterima dan Hari Sumpah Pemuda dirayakan di Pyongyang oleh Liga Pemuda Demokrasi. Acara tersebut juga dihadiri oleh delegasi mahasiswa asing.[1]

Ketika Duta Besar Keliling Indonesia, Supeni Pudjobuntoro, berkunjung ke Pyongyang untuk mempromosikan GANEFO, Gatot menjadi penerjemahnya.[1] Ia juga menyambut dan bersalaman dengan Soekarno ketika berkunjung ke Pyongyang pada bulan November 1964.[4]

Seusai peristiwa G30S, Gatot mengikuti perkembangan Indonesia melalui siaran Radio ABC. Ia bersama Waloejo berkunjung ke Beijing pada bulan Juli atau Agustus 1966 untuk bertemu dengan Komite Pusat PKI demi mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai kondisi di Indonesia dan memberikan saran kepada mereka. Namun, mereka mendapatkan kabar buruk dari PKI.[5]

Pada tahun 1966, tim penelitian khusus berkunjung ke Pyongyang dan meminta kepada mahasiswa Indonesia untuk datang ke KBRI Pyongyang untuk mengikuti proses screening dengan tujuan mengetahui haluan politik mereka. Gatot menolak panggilan tim penelitian khusus karena khawatir ia akan ditangkap ketika menjalani proses screening atau setibanya di Indonesia.[5] Akibatnya, passpornya dan kewarganegaraan Gatot dicabut sehingga membuat ia memilki status Tak bernegara dan putus kontak dengan keluarganya.[6]

Meskipun kewarganegaraan dan paspornya dicabut, pemerintah Korea Utara memberikan Gatot Kartu Identitas Lokal dan memperpanjang visanya. Ia juga tetap mendapatkan uang saku. Ia berhasil lulus dari bangku kuliah pada bulan April 1967. Dia juga menyelesaikan pendidikan pasca sarjana dan doktoral di Korea Utara.[6]

Karier dan kehidupan pasca kuliah di Korea Utara

[sunting | sunting sumber]

Seusai lulus kuliah, Gatot bekerja sebagai peneliti di universitas alma maternya.[1][7] Sebagai orang asing, ia mendapatkan perlakuan lebih baik dibandingkan rekan kerja orang Koreanya. Pemerintah Korea Utara memberikan dia apartemen, fasilitas yang bagus, dan gaji yang lebih tinggi dibandingkan gaji menteri.[6][4] Di samping itu juga, ia mendapatkan buletin khusus untuknya dari Kedubes Tiongkok. Namun, ia diberi peringatan agar jangan sampai buletinnya dibaca oleh mahasiswa, sehingga ia segera menyimpannya setelah membacanya.[4] Ia pensiun bekerja sebagai peneliti pada tahun 2000.[6]

Gatot juga mendapat perhatian dari Kim Jong Il. Pada tanggal 25 Desember 1996, Kim Jong Il membuat acara ulang tahun Gatot yang ke-60 tahun dan memastikan bahwa ia akan mendapatkan gelar doktor insinyur. Acara ulang tahun Gatot diliput di koran Rodong Sinmun dan KCTV. Ia juga mendapatkan hadiah dari pemerintah Korea Utara. Selain itu juga, ia meminta agar Gatot diperlakukan seperti orang Korea dia tinggal bersama dengan mereka.[8]

Di tengah-tengah statusnya yang tidak memiliki kewarganegaraan, ia tetap menjaga hubungan informal dengan staf KBRI Pyongyang. Pada tahun 1988, Gatot kembali diundang ke KBRI Pyongyang untuk memberikan masukan mengenai hubungan bilateral Indonesia Korea Utara. Semenjak itu, Gatot mulai bekerja dengan KBRI Pyongyang pada tahun 1989. Ia juga terlibat untuk turut membantu KBRI Pyongyang ketika Ali Alatas dan Hassan Wirajuda berkunjung ke Pyongyang.[9][6]

Seusai pensiun bekerja di Universitas Kim Chaek, Gatot mengabdi kepada KBRI Pyongyang dan pada tahun 2004-2005, ia secara resmi menjadi staf lokal.[6] Sebagai staf lokal, ia mendampingi Megaawati dan menjadi penerjemahnya ketika bertemu dengan Kim Jong Il pada tahun 2002.[10] Ia juga menjadi penerjemah ketika politisi Indonesia berkunjung ke Korea Utara. Karena sudah lama tinggal di Korea Utara, rekan kerjanya di KBRI Pyongyang menjuluki dia sebagai "Ensiklopedia berjalan pada bidang hubungan Indonesia-Korea".[11]

Gatot bersama dengan keluarganya ingin mencoba keluar dari Korea Utara. Ia juga ingin ke Berlin untuk bertemu dengan ibunya di Berlin. Namun upaya tersebut selalu digagalakan oleh pemerintah. Barulah pada masa Gus Dur, kewarganegaraanya diakui dan ia dapat kembali ke Indonesia pada tahun 2000.[6] Dia bersama keluarga meninggalkan Korea Utara dan pindah ke Indonesia pada tahun 2011 dengan alasan masa depan yang tidak menentu, khususnya bagi anaknya Gatot.[11][4]

Meskipun ia kembali ke Indonesia, ia tetap melanjutkan pekerjaanya sebagai penerjemah. Pada tahun 2012, ia menjadi penerjemah Susilo Bambang Yudhoyono ketika berjumpa dengan Kim Yong Nam.[11]

Kehidupan Pribadi

[sunting | sunting sumber]

Gatot menikah dengan seorang wanita Korea Utara bernama O Kwang Mi pada bulan November 1967. Gatot pertama kali bertemu dengannya di jalan. Untuk menikahi wanita Korea Utara, Gatot harus mendapatkan persetujuan dari parlemen Korea Utara.[6]

Pasangan Gatot dan O Kwang Mi memiliki tiga orang anak.[6] Pada tahun 2015, istrinya terancam untuk dideportasi.[11]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 5 Mukhti, M.F. "Kisah Gatot, Orang Indonesia yang Terpaksa Hidup 50 Tahun di Korea Utara". historia.id. Historia. Diakses tanggal 2 Agustus 2025.
  2. Hill 2022, hlm. 142.
  3. Hill 2022, hlm. 143.
  4. 1 2 3 4 Franciska, Christine; Lestari, Sri. "Kisah WNI pertama ke Korea Utara dan 'terjebak' 51 tahun". bbc.com. BBC.
  5. 1 2 Hill 2022, hlm. 149.
  6. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Hill 2022, hlm. 150.
  7. KCNA, KCNA (11 July 1997). "Eternal memory". kcna.co.jp. KCNA. Diarsipkan dari asli tanggal 13 March 2003. Diakses tanggal 3 August 2025.
  8. Partai Buruh Korea, Partai Buruh Korea (2008). Kim Jong Il Biography 3. Pyongyang: Foreign Languages Publishing House. hlm. 165.
  9. Handayani, Maulida Sri. "Rekonsiliasi: Pemulihan di Atas Penghukuman". tirto.id. Tirto. Diakses tanggal 2 Agustus 2025.
  10. Hill 2022, hlm. 148.
  11. 1 2 3 4 Hill 2022, hlm. 151.

Bibliografi

[sunting | sunting sumber]
  • Hill, David.T (2022). "The Fragile Bloom of the Kimilsungia: Indonesian political exiles in North Korea". Indonesia and the Malay World. 50 (147). doi:10.1080/13639811.2022.2026620.