Gangguan kepribadian ambang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Gangguan Kepribadian Ambang
Edvard Munch - The Brooch. Eva Mudocci - Google Art Project.jpg
Idealisasi dan devaluasi yang terlihat pada "The Brooch. Eva Mudocci" karya Edvard Munch (1903)
SpesialisasiPsikiatri
Gejalaketidakstabilan hubungan personal, citra diri, dan emosi, impulsivitas, perilaku bunuh diri dan menyakiti diri sendiri, ketakutan untuk ditinggalkan, perasaan hampa yang kronis, emosi yang meletup-letup, disosiasi[1][2]
KomplikasiBunuh diri[1]
Awal munculAwal usia dewasa[2]
DurasiJangka panjang[1]
PenyebabBelum jelas[3]
Faktor risikoSejarah keluarga, trauma psikologis, kekerasan pada masa anak-anak[1]
DiagnosisBerdasarkan gelaja yang ditemukan[1]
PerawatanCognitive behavioral therapy (CBT), dialectical behavioral therapy (DBT)[1]

Gangguan kepribadian ambang (Bahasa Inggris: Borderline Personality Disorder, BPD) yang juga dapat disebut sebagai gangguan emosi yang tidak stabil, merupakan gangguan kepribadian yang umumnya ditandai dengan pola emosi yang tidak stabil, hubungan yang tidak stabil, citra diri yang berubah-ubah, dan reaksi emosi yang intens.[1][2][4] Mereka yang hidup dengan BPD kerap kali turut melakukan tindakan untuk menyakiti dirinya sendiri atau melakukan tindakan berbahaya lainnya yang sering kali bersifat impulsif.[5] Umumnya, mereka juga bergulat dengan perasaan hampa atau kosong, takut ditinggalkan, dan disosiasi.[1] Gejala-gejala dari BPD bisa saja muncul akibat dari peristiwa atau kejadian yang dianggap normal atau biasa saja bagi orang lain.[2] Sekitar 10 persen orang yang hidup dengan BPD meninggal akibat bunuh diri.[1][2] BPD sendiri merupakan gangguan yang banyak mendapatkan stigma, baik di media, maupun di dunia psikiatri.[6]

Penyebab pasti dari BPD masih belum jelas, tetapi diduga berkaitan dengan genetik, neurologis, serta faktor lingkungan dan sosial.[1][3] Namun, sekitar lima kali lebih banyak orang yang hidup dengan BPD juga memiliki kerabat atau keluarga dekat yang hidup dengan BPD.[1]

Biasanya, BPD diterapi dengan pendekatan psikoterapi, seperti cognitive behavioural therapy (CBT) atau dialectical behaviour therapy (DBT).[1] DBT mampu menekan risiko bunuh diri terhadap orang dengan BPD.[1] Namun, BPD tidak mampu disembuhkan dengan obat-obatan, tetapi penggunaan obat mampu membantu untuk menangani beberapa gejala dari BPD. [1]

Gejala[sunting | sunting sumber]

Gangguan kepribadian ambang atau BPD ditandai sejumlah gejala berikut:[7]

  • Upaya yang diambil secara panik atau terburu-buru untuk menghindari pengabaian atau perasaan ditinggalkan, baik yang memang terjadi secara nyata atau bayangan mereka akan pengabaian tersebut
  • Hubungan interpersonal yang tidak stabil atau semrawut, biasanya ditandai dengan perpindahan pandangan secara ekstrim, dari mengidealisasi hingga mendevaluasi seseorang, atau sebaliknya, yang juga dikenal dengan istilah splitting
  • Identitas atau citra diri, bagaimana mereka melihat dirinya sendiri, yang terdistorsi atau berubah-ubah[1]
  • Impulsif atau berperilaku yang bisa membahayakan dirinya (contoh: belanja secara impulsif, mengendarai kendaraan secara ugal-ugalan, melakukan hubungan seksual yang tidak aman, dan sebagainya)[8]
  • Usaha melakukan bunuh diri dan/atau menyakiti diri sendiri secara berulang
  • Reaksi emosi yang intens atau tidak terkendali, serta berubah berubah dengan cepat dari satu emosi ke emosi lainnya
  • Perasaan kosong atau hampa yang kronis
  • Kemarahan yang intens atau kesulitan untuk mengontrol emosi marah
  • Adanya paranoid yang bersifa sementara dan biasanya berhubungan dengan stres, ataupun ada gejala disosiasi

Secara keseluruhan, gejala BPD yang paling menonjol adalah pola ketidakstabilan dalam hubungan interpersonal dan citra diri, suasana hati atau emosi yang berubah-ubah, serta kesulitan untuk mengelola emosi-emosi yang intens. Selain itu, umumnya, terdapat pula perilaku berbahaya dan impulsif.

Gejala lain yang mungkin ada di orang dengan BPD adalah perasaan tidak yakin dengan identitas, moral, dan nilai yang dimilikinya; memiliki pikiran paranoid saat merasa stres; depersonalisasi; dan dalam beberapa kasus tingkat sedang hingga berat, stres dapat terjadi bersamaa dengan perasaan adanya perubahan realitas atau episode psikotik. Individu dengan BPD juga kerap kali memiliki kondisi komorbiditas, seperti gangguan depresi dan bipolar, gangguan penggunaan zat, ganggian makan, gangga stres pasca trauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD), hingga attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD).[7]

Emosi[sunting | sunting sumber]

Orang dengan BPD bisa merasakan emosi dengan pemicu yang jauh lebih mudah, mendalam, dan untuk waktu yang lebih lama daripada orang lain pada umumnya.[9][10] Karakteristik inti dari BPD adalah ketidakstabilan afektif, yang umumnya terlihat dalam bentuk respon emosional yang sangat intens terhadap hal yang menjadi pemicu di sekitarnya, serta membutuhkan proses yang lebih lambat untuk kembali ke keadaan emosi dasar atau stabil.[11][12] Menurut Marsha Linehan, sensitivitas, intensitas, dan durasi emosi yang dirasakan oleh orang dengan BPD memiliki efek yang positif dan negatif.[12] Di satu sisi, orang dengan BPD seringkali sangat antusias, idealis, gembira, dan penuh kasih[13]. Di sisi lain, mereka juga bisa merasakan rasa duka yang mendalam alih-alih sedih, rasa malu dan terhina alih-alih malu yang ringan, murka alih-alih terganggu, dan panik alih-alih gugup[13]. Intensitas emosi yang mereka rasakan sangat mendalam, baik emosi tersebut berada dalam spektrum yang positif, maupun negatif.

BPD diyakini sebagai gangguan kejiwaan yang menyebabkan rasa sakit dan tekanan secara psikologis paling intens pada mereka yang hidup dengan ini. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan BPD mengalami penderitaan emosional dan mental yang kronis dan signifikan.[7][14]

Orang dengan BPD juga sangat sensitif terhadap perasaan penolakan, kritik, isolasi, dan anggapan bahwa ia gagal.[15] Jika belum mempelajari mekanisme koping atau cara mengatasinya, upaya mereka dapat melakukan sejumlah tindakan yang membahayakan dirinya dengan tujuan untuk mengelola atau melepaskan diri dari emosi yang sangat negatif, seperti isolasi secara emosional, melukai diri sendiri, atau perilaku bunuh diri. Mereka sering kali menyadari intensitas reaksi emosi negatif mereka. Namun, karena mereka tidak dapat mengatur emosi negatif tersebut, maka mereka menutup kesadarannya.[12] Pasalnya, kesadaran tersebut hanya akan memberikan tekanan lebih ke mereka.[12] Hal ini bisa berbahaya karena kesadaran akan adanya emosi negatif sebetulnya adalah pengingat bagi seseorang bahwa terdapat situasi yang bermasalah dan perlu untuk diatasi.[12]

Saat orang dengan BPD merasakan euforia (kegembiraan yang intens dan sesaat), mereka sangat rentan terhadap disforia (perasaan tidak nyaman atau ketidakpuasan yang mendalam), depresi, dan/atau perasaan tertekan secara mental dan emosional. Zanarini dkk. menemukan empat kategori disforia yang khas dari kondisi ini: emosi ekstrim, sifat merusak atau menghancurkan diri sendiri, perasaan terfragmentasi atau kurang identitas diri, dan perasaan viktimisasi atau menjadi korban.[16] Dalam kategori ini, diagnosis BPD sangat berkaitan dengan kombinasi tiga keadaan spesifik: merasa dikhianati, merasa tidak terkendali, dan "merasa seperti menyakiti diri sendiri".[16]

Selain emosi yang intens, orang dengan BPD mengalami "labilitas" emosional (kemampuan berubah, atau fluktuasi). Meskipun istilah itu merujuk pada perubahan cepat antara depresi dan kegembiraan, tetapi dalam konteks orang dengan BPD, perubahan suasana hati atau emosi lebih sering melibatkan kecemasan atau anxiety, dengan fluktuasi antara kemarahan dan kecemasan dan antara depresi dan kecemasan.[17]

Relasi Interpersonal[sunting | sunting sumber]

Orang dengan BPD bisa sangat sensitif terhadap cara orang lain memperlakukan mereka. Mereka bisa merasakan kegembiraan dan rasa syukur yang intens saat mendapatkan ekspresi kebaikan dari orang lain, dan kesedihan atau kemarahan yang intens pada kritik atau rasa sakit yang diberikan orang lain.[18] Orang dengan BPD sering terlibat dalam idealisasi atau melihat seseorang dengan cara yang sangat positif dan sebaliknya, yakni devaluasi.[19] Dengan itu, mereka pun melihat atau mempersepsi orang lain secara bergantian, baik dengan memberikan rasa hormat yang tinggi terhadap orang lain dan melihat mereka dengan penuh kekecewaan. Perasaan mereka tentang orang lain sering bergeser dari kekaguman atau cinta menjadi marah atau tidak suka setelah mengalami kekecewaan, ancaman kehilangan seseorang, atau perasaan kehilangan harga diri di mata seseorang yang mereka hargai. Fenomena ini disebut splitting.[20] Dengan posisi BPD yang juga memiliki gangguan mood atau emosi, cara idealisasi dan devaluasi tersebut dapat merusak hubungan dengan keluarga, teman, dan rekan kerja.[21]

Meskipun sangat menginginkan keintiman atau hubungan yang mendalam dengan orang lain, orang-orang dengan BPD justru cenderung memiliki pola ketertarikan pada hubungan yang tidak aman, menghindar (avoidant), atau ambivalen.[22] Kemudian, saat hubungan mereka telah berakhir, orang dengan BPD terkadang menunjukkan apa yang disebut dengan "hoovering", yang mungkin melibatkan kunjungan/melakukan kontak yang tidak diminta, permintaan bantuan untuk keadaan darurat baik yang nyata atau palsu, melakukan kritik yang ekstrim, dan/atau upaya untuk menimbulkan nostalgia atau respon emosional lainnya. Hal ini terkadang menciptakan siklus hubungan "putus-nyambung" selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.[23]

Seperti gangguan kepribadian lainnya, BPD biasanya meningkankan kerentanan untuk mendapatkan stres kronis dan konflik dalam hubungan tomantis, penurunan kepuasan terhadap pasangan, hingga kehamilan yang tidak diinginkan.[24]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o "Borderline Personality Disorder". NIMH. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 March 2016. Diakses tanggal 13 April 2021. 
  2. ^ a b c d e Diagnostic and statistical manual of mental disorders : DSM-5 (edisi ke-5th). Washington, D.C.: American Psychiatric Publishing. 2013. hlm. 645, 663–6. ISBN 978-0-89042-555-8. 
  3. ^ a b Clinical Practice Guideline for the Management of Borderline Personality Disorder. Melbourne: National Health and Medical Research Council. 2013. hlm. 40–41. ISBN 978-1-86496-564-3. 
  4. ^ Chapman AL (August 2019). "Borderline personality disorder and emotion dysregulation". Development and Psychopathology (dalam bahasa Inggris). Cambridge, England: Cambridge University Press. 31 (3): 1143–1156. doi:10.1017/S0954579419000658. ISSN 0954-5794. PMID 31169118. Diarsipkan dari versi asli tanggal 4 December 2020. Diakses tanggal 13 April 2021. 
  5. ^ "Borderline Personality Disorder". The National Institute of Mental Health. December 2017. Diakses tanggal 16 April 2021. Gejala lainnya bisa berupa: [...] Ipulsif dan kadang tindakan yang membahayakan [...] Perilaku menyakiti diri sendiri [...]. Borderline personality disorder juga diasosiasikan memiliki kecenderungan menyakiti diri sendiri dan perilaku bunuh diri yang lebih tinggi dari publik secara umum. 
  6. ^ Aviram RB, Brodsky BS, Stanley B (2006). "Borderline personality disorder, stigma, and treatment implications". Harvard Review of Psychiatry. 14 (5): 249–56. doi:10.1080/10673220600975121. 
  7. ^ a b c American Psychiatric Association (2013-05-22). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (dalam bahasa Inggris). American Psychiatric Association. doi:10.1176/appi.books.9780890425596. hdl:2027.42/138395. ISBN 978-0-89042-555-8. 
  8. ^ "Diagnostic criteria for 301.83 Borderline Personality Disorder – Behavenet". behavenet.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 March 2019. Diakses tanggal 16 April 2021. 
  9. ^ Linehan 1993, hlm. 43
  10. ^ Manning 2011, hlm. 36
  11. ^ Hooley J, Butcher J, Nock M, Mineka S (2017). Abnormal Psychology (edisi ke-17th). Pearson Education, Inc. hlm. 359. ISBN 978-0-13-385205-9. 
  12. ^ a b c d e Linehan 1993, hlm. 45
  13. ^ a b Linehan 1993, hlm. 44
  14. ^ Fertuck EA, Jekal A, Song I, Wyman B, Morris MC, Wilson ST, et al. (December 2009). "Enhanced 'Reading the Mind in the Eyes' in borderline personality disorder compared to healthy controls". Psychological Medicine. 39 (12): 1979–88. doi:10.1017/S003329170900600X. PMC 3427787alt=Dapat diakses gratis. PMID 19460187. 
  15. ^ Stiglmayr CE, Grathwol T, Linehan MM, Ihorst G, Fahrenberg J, Bohus M (May 2005). "Aversive tension in patients with borderline personality disorder: a computer-based controlled field study". Acta Psychiatrica Scandinavica. 111 (5): 372–9. doi:10.1111/j.1600-0447.2004.00466.x. PMID 15819731. 
  16. ^ a b Zanarini MC, Frankenburg FR, DeLuca CJ, Hennen J, Khera GS, Gunderson JG (1998). "The pain of being borderline: dysphoric states specific to borderline personality disorder". Harvard Review of Psychiatry. 6 (4): 201–7. doi:10.3109/10673229809000330. PMID 10370445. 
  17. ^ Koenigsberg HW, Harvey PD, Mitropoulou V, Schmeidler J, New AS, Goodman M, Silverman JM, Serby M, Schopick F, Siever LJ (May 2002). "Characterizing affective instability in borderline personality disorder". The American Journal of Psychiatry. 159 (5): 784–8. doi:10.1176/appi.ajp.159.5.784. PMID 11986132. 
  18. ^ Arntz A (September 2005). "Introduction to special issue: cognition and emotion in borderline personality disorder". Journal of Behavior Therapy and Experimental Psychiatry. 36 (3): 167–72. doi:10.1016/j.jbtep.2005.06.001. PMID 16018875. 
  19. ^ Linehan 1993, hlm. 146
  20. ^ "What Is BPD: Symptoms". Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 February 2013. Diakses tanggal 16 April 2021. 
  21. ^ Robinson DJ (2005). Disordered Personalities. Rapid Psychler Press. hlm. 255–310. ISBN 978-1-894328-09-8. 
  22. ^ Levy KN, Meehan KB, Weber M, Reynoso J, Clarkin JF (2005). "Attachment and borderline personality disorder: implications for psychotherapy". Psychopathology. 38 (2): 64–74. doi:10.1159/000084813. PMID 15802944. 
  23. ^ Kreisman JJ, Straus H (2010-12-07). I Hate You--Don't Leave Me: Understanding the Borderline Personality (dalam bahasa Inggris). Penguin. ISBN 978-1-101-44568-6. 
  24. ^ Daley SE, Burge D, Hammen C (August 2000). "Borderline personality disorder symptoms as predictors of 4-year romantic relationship dysfunction in young women: addressing issues of specificity". Journal of Abnormal Psychology. 109 (3): 451–460. CiteSeerX 10.1.1.588.6902alt=Dapat diakses gratis. doi:10.1037/0021-843X.109.3.451. PMID 11016115.