Gangguan kepribadian ambang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Gangguan kepribadian ambang
Edvard Munch - The Brooch. Eva Mudocci - Google Art Project.jpg
Idealisasi dan devaluasi yang terlihat pada The Brooch. Eva Mudocci karya Edvard Munch (1903)
SpesialisasiPsikiatri
Gejala dan tandaKetidakstabilan hubungan personal, citra diri dan emosi, impulsivitas, perilaku bunuh diri dan menyakiti diri sendiri, ketakutan untuk ditinggalkan, perasaan hampa yang kronis, emosi yang meletup-letup, disosiasi
KomplikasiBunuh diri
Awal munculAwal usia dewasa
DurasiJangka panjang
PenyebabBelum jelas
Faktor risikoRiwayat keluarga, trauma psikologis, kekerasan pada masa anak-anak
DiagnosisBerdasarkan gejala yang ditemukan
PerawatanTerapi perilaku kognitif, terapi perilaku dialektis

Gangguan kepribadian ambang (bahasa Inggris: borderline personality disorder, disingkat BPD) merupakan gangguan kepribadian yang umumnya ditandai dengan pola emosi yang tidak stabil, hubungan yang tidak stabil, citra diri yang berubah-ubah, dan reaksi emosi yang intens.[1] Mereka yang hidup dengan BPD kerap kali turut melakukan tindakan untuk menyakiti dirinya sendiri atau melakukan tindakan berbahaya lainnya yang sering kali bersifat impulsif. Umumnya, mereka juga bergulat dengan perasaan hampa atau kosong, takut ditinggalkan, dan disosiasi. Gejala-gejala dari BPD bisa saja muncul akibat dari peristiwa atau kejadian yang dianggap normal atau biasa saja bagi orang lain. Sekitar 10% orang yang hidup dengan BPD meninggal akibat bunuh diri. BPD sendiri merupakan gangguan yang banyak mendapatkan stigma sosial, baik di media, maupun di dunia psikiatri.[2]

Penyebab pasti dari BPD masih belum jelas, tetapi diduga berkaitan dengan genetik, neurologis, serta faktor lingkungan dan sosial. Namun, sekitar lima kali lebih banyak orang yang hidup dengan BPD juga memiliki kerabat atau keluarga dekat yang hidup dengan BPD.

Biasanya, BPD diterapi dengan pendekatan psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif atau terapi perilaku dialektis. Namun, BPD tidak mampu disembuhkan dengan obat-obatan, tetapi penggunaan obat mampu membantu untuk menangani beberapa gejala dari BPD.

Gejala[sunting | sunting sumber]

Gangguan kepribadian ambang atau BPD ditandai sejumlah gejala berikut:

  • Upaya yang diambil secara panik atau terburu-buru untuk menghindari pengabaian atau perasaan ditinggalkan, baik yang memang terjadi secara nyata atau bayangan mereka akan pengabaian tersebut
  • Hubungan interpersonal yang tidak stabil atau semrawut, biasanya ditandai dengan perpindahan pandangan secara ekstrim, dari mengidealisasi hingga mendevaluasi seseorang, atau sebaliknya, yang juga dikenal dengan istilah splitting
  • Identitas atau citra diri, bagaimana mereka melihat dirinya sendiri, yang terdistorsi atau berubah-ubah
  • Impulsif atau berperilaku yang bisa membahayakan dirinya (contoh: belanja secara impulsif, mengendarai kendaraan secara ugal-ugalan, melakukan hubungan seksual yang tidak aman, dan sebagainya)[3]
  • Usaha melakukan bunuh diri dan/atau menyakiti diri sendiri secara berulang
  • Reaksi emosi yang intens atau tidak terkendali, serta berubah berubah dengan cepat dari satu emosi ke emosi lainnya
  • Perasaan kosong atau hampa yang kronis
  • Kemarahan yang intens atau kesulitan untuk mengontrol emosi marah
  • Adanya paranoid yang bersifa sementara dan biasanya berhubungan dengan stres, ataupun ada gejala disosiasi

Secara keseluruhan, gejala BPD yang paling menonjol adalah pola ketidakstabilan dalam hubungan interpersonal dan citra diri, suasana hati atau emosi yang berubah-ubah, serta kesulitan untuk mengelola emosi-emosi yang intens. Selain itu, umumnya, terdapat pula perilaku berbahaya dan impulsif.

Gejala lain yang mungkin ada di orang dengan BPD adalah perasaan tidak yakin dengan identitas, moral, dan nilai yang dimilikinya; memiliki pikiran paranoid saat merasa stres; depersonalisasi; dan dalam beberapa kasus tingkat sedang hingga berat, stres dapat terjadi bersamaa dengan perasaan adanya perubahan realitas atau episode psikotik. Individu dengan BPD juga kerap kali memiliki kondisi komorbiditas, seperti gangguan depresi dan bipolar, gangguan penggunaan zat, ganggian makan, gangga stres pasca trauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD), hingga attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD).

Emosi[sunting | sunting sumber]

Orang dengan BPD bisa merasakan emosi dengan pemicu yang jauh lebih mudah, mendalam, dan untuk waktu yang lebih lama daripada orang lain pada umumnya.[4][5] Karakteristik inti dari BPD adalah ketidakstabilan afektif, yang umumnya terlihat dalam bentuk respons emosional yang sangat intens terhadap hal yang menjadi pemicu di sekitarnya, serta membutuhkan proses yang lebih lambat untuk kembali ke keadaan emosi dasar atau stabil.[6][7] Menurut Marsha Linehan, sensitivitas, intensitas, dan durasi emosi yang dirasakan oleh orang dengan BPD memiliki efek yang positif dan negatif.[7] Di satu sisi, orang dengan BPD seringkali sangat antusias, idealis, gembira, dan penuh kasih.[8] Di sisi lain, mereka juga bisa merasakan rasa duka yang mendalam alih-alih sedih, rasa malu dan terhina alih-alih malu yang ringan, murka alih-alih terganggu, dan panik alih-alih gugup.[8] Intensitas emosi yang mereka rasakan sangat mendalam, baik emosi tersebut berada dalam spektrum yang positif maupun negatif.

BPD diyakini sebagai gangguan kejiwaan yang menyebabkan rasa sakit dan tekanan secara psikologis paling intens pada mereka yang hidup dengan ini. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan BPD mengalami penderitaan emosional dan mental yang kronis dan signifikan.[9]

Orang dengan BPD juga sangat sensitif terhadap perasaan penolakan, kritik, isolasi, dan anggapan bahwa ia gagal.[10] Jika belum mempelajari mekanisme koping atau cara mengatasinya, upaya mereka dapat melakukan sejumlah tindakan yang membahayakan dirinya dengan tujuan untuk mengelola atau melepaskan diri dari emosi yang sangat negatif, seperti isolasi secara emosional, melukai diri sendiri, atau perilaku bunuh diri. Mereka sering kali menyadari intensitas reaksi emosi negatif mereka. Namun, karena mereka tidak dapat mengatur emosi negatif tersebut, maka mereka menutup kesadarannya.[7] Pasalnya, kesadaran tersebut hanya akan memberikan tekanan lebih ke mereka.[7] Hal ini bisa berbahaya karena kesadaran akan adanya emosi negatif sebetulnya adalah pengingat bagi seseorang bahwa terdapat situasi yang bermasalah dan perlu untuk diatasi.[7]

Saat orang dengan BPD merasakan euforia (kegembiraan yang intens dan sesaat), mereka sangat rentan terhadap disforia (perasaan tidak nyaman atau ketidakpuasan yang mendalam), depresi, dan/atau perasaan tertekan secara mental dan emosional. Zanarini dkk. menemukan empat kategori disforia yang khas dari kondisi ini: emosi ekstrim, sifat merusak atau menghancurkan diri sendiri, perasaan terfragmentasi atau kurang identitas diri, dan perasaan viktimisasi atau menjadi korban.[11] Dalam kategori ini, diagnosis BPD sangat berkaitan dengan kombinasi tiga keadaan spesifik: merasa dikhianati, merasa tidak terkendali, dan "merasa seperti menyakiti diri sendiri".[11]

Selain emosi yang intens, orang dengan BPD mengalami fluktuasi emosional. Meskipun istilah itu merujuk pada perubahan cepat antara depresi dan kegembiraan, tetapi dalam konteks orang dengan BPD, perubahan suasana hati atau emosi lebih sering melibatkan kecemasan atau anxiety, dengan fluktuasi antara kemarahan dan kecemasan dan antara depresi dan kecemasan.[12]

Hubungan interpersonal[sunting | sunting sumber]

Orang dengan BPD bisa sangat sensitif terhadap cara orang lain memperlakukan mereka. Mereka bisa merasakan kegembiraan dan rasa syukur yang intens saat mendapatkan ekspresi kebaikan dari orang lain, dan kesedihan atau kemarahan yang intens pada kritik atau rasa sakit yang diberikan orang lain.[13] Orang dengan BPD sering terlibat dalam idealisasi atau melihat seseorang dengan cara yang sangat positif dan sebaliknya, yakni devaluasi.[14] Dengan itu, mereka pun melihat atau mempersepsi orang lain secara bergantian, baik dengan memberikan rasa hormat yang tinggi terhadap orang lain dan melihat mereka dengan penuh kekecewaan. Perasaan mereka tentang orang lain sering bergeser dari kekaguman atau cinta menjadi marah atau tidak suka setelah mengalami kekecewaan, ancaman kehilangan seseorang, atau perasaan kehilangan harga diri di mata seseorang yang mereka hargai. Fenomena ini disebut splitting.[15] Dengan posisi BPD yang juga memiliki gangguan mood atau emosi, cara idealisasi dan devaluasi tersebut dapat merusak hubungan dengan keluarga, teman, dan rekan kerja.[16]

Meskipun sangat menginginkan keintiman atau hubungan yang mendalam dengan orang lain, orang-orang dengan BPD justru cenderung memiliki pola ketertarikan pada hubungan yang tidak aman, menghindar (avoidant), atau ambivalen.[17] Kemudian, saat hubungan mereka telah berakhir, orang dengan BPD terkadang menunjukkan apa yang disebut dengan "hoovering", yang mungkin melibatkan kunjungan/melakukan kontak yang tidak diminta, permintaan bantuan untuk keadaan darurat baik yang nyata atau palsu, melakukan kritik yang ekstrim, dan/atau upaya untuk menimbulkan nostalgia atau respon emosional lainnya. Hal ini terkadang menciptakan siklus hubungan "putus-nyambung" selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.[18]

Seperti gangguan kepribadian lainnya, BPD biasanya meningkankan kerentanan untuk mendapatkan stres kronis dan konflik dalam hubungan tomantis, penurunan kepuasan terhadap pasangan, hingga kehamilan yang tidak diinginkan.[19]

Perilaku[sunting | sunting sumber]

Menyakiti diri sendiri dan bunuh diri[sunting | sunting sumber]

Gejala psikotik[sunting | sunting sumber]

Penyebab[sunting | sunting sumber]

Genetik[sunting | sunting sumber]

Heritabilitas (daya waris) BPD diperkirakan antara 37% hingga 69%,[20] artinya, 37% hingga 69% dari variabilitas dalam kecenderungan yang mendasari BPD dalam populasi dapat dijelaskan oleh perbedaan genetik. Studi kembar mungkin menaksir terlalu tinggi efek gen pada variabilitas gangguan kepribadian karena faktor adanya faktor pengganggu dari lingkungan keluarga bersama.[21] Meski begitu, para peneliti dari satu studi menyimpulkan bahwa gangguan kepribadian "tampaknya lebih kuat dipengaruhi oleh efek genetik daripada hampir semua gangguan Axis I (misalnya, depresi, gangguan makan), dan lebih dari dimensi kepribadian yang paling luas".[22] Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa BPD diperkirakan menjadi gangguan kepribadian ketiga yang paling diwariskan dari 10 gangguan kepribadian yang ditinjau.[22] Studi kembar, saudara kandung, dan keluarga lainnya menunjukkan heritabilitas parsial untuk agresi impulsif, tetapi studi tentang gen yang berhubungan dengan serotonin hanya menunjukkan kontribusi kecil terhadap perilaku.[23]

Keluarga dengan anak kembar di Belanda merupakan peserta dari studi yang sedang berlangsung oleh Trull dan rekan, di mana 711 pasang saudara kandung dan 561 orang tua diperiksa untuk mengidentifikasi lokasi sifat genetik yang mempengaruhi perkembangan BPD.[24] Kolaborator penelitian menemukan bahwa materi genetik pada kromosom 9 terkait dengan fitur BPD.[24] Para peneliti menyimpulkan bahwa "faktor genetik memainkan peran utama dalam perbedaan individu dari ciri-ciri gangguan kepribadian ambang". [24] Para peneliti yang sama ini sebelumnya telah menyimpulkan dalam penelitian sebelumnya bahwa 42% variasi dalam fitur BPD disebabkan oleh pengaruh genetik dan 58% disebabkan oleh pengaruh lingkungan.[24] Gen yang sedang diselidiki. Hingga 2012 termasuk polimorfisme 7 pengulangan dari reseptor dopamin D4 (DRD4) pada kromosom 11, yang telah dikaitkan dengan perlekatan yang tidak teratur, sementara efek gabungan dari polimorfisme 7 pengulangan dan genotipe 10/10 transporter dopamin (DAT) telah dikaitkan untuk kelainan dalam kontrol penghambatan, keduanya mencatat fitur BPD.[25] Ada kemungkinan hubungan dengan kromosom 5.[26]

Abnormalitas otak[sunting | sunting sumber]

Perawatan[sunting | sunting sumber]

Obat-obatan[sunting | sunting sumber]

Sebuah tinjauan 2010 oleh kolaborasi Cochrane menemukan bahwa tidak ada obat yang menjanjikan untuk "gejala inti BPD dari perasaan kosong yang kronis, gangguan identitas, dan pengabaian". Namun, para penulis menemukan bahwa beberapa obat dapat mempengaruhi gejala terisolasi yang terkait dengan BPD atau gejala dari penyakit penyerta (komorbiditas).[27] Sebuah tinjauan 2017 memeriksa bukti yang diterbitkan sejak tinjauan Cochrane 2010 dan menemukan bahwa "bukti efektivitas pengobatan untuk BPD tetap sangat beragam dan masih sangat diperdebatkan karena desain studi suboptimal".[28] Sebuah tinjauan 2020 menemukan bahwa penelitian tentang perawatan dengan obat telah menurun, dengan lebih banyak hasil yang menegaskan tidak ada manfaat. Meskipun kurangnya bukti manfaat, quetiapine dan antidepresan SSRI terus diresepkan secara luas untuk penderita BPD.[29]

Di antara antipsikotik tipikal yang diteliti dalam kaitannya dengan BPD, haloperidol dapat mengurangi kemarahan dan flupentiksol dapat mengurangi kemungkinan perilaku bunuh diri. Di antara antipsikotik atipikal, satu percobaan menemukan bahwa aripiprazol dapat mengurangi masalah interpersonal dan impulsif.[30] Olanzapin, serta quetiapin, dapat menurunkan ketidakstabilan afektif, kemarahan, gejala paranoid psikotik, dan kecemasan, tetapi plasebo memiliki manfaat yang lebih besar pada ide bunuh diri daripada olanzapin. Efek ziprasidon tidak signifikan.[30][31]

Di antara penstabil mood yang diteliti, semoisodium valproat dapat memperbaiki depresi, impulsif, masalah interpersonal, dan kemarahan. Topiramat dapat memperbaiki masalah interpersonal, impulsif, kecemasan, kemarahan, dan patologi psikiatri umum. Efek karbamazepin tidak signifikan. Di antara antidepresan, amitriptilin dapat mengurangi depresi, tetapi mianserin, fluoksetin, fluvoksamin, dan fenelzin sulfat tidak menunjukkan efek. Asam lemak omega-3 dapat mengurangi keinginan bunuh diri dan meningkatkan depresi. Hingga 2017, percobaan dengan obat-obatan ini belum diuji ulang dan efek penggunaan jangka panjang belum dievaluasi.[32][33] Lamotrigin tidak menunjukkan manfaat dalam uji klinis acak skala besar.[34]

Karena bukti yang lemah dan potensi efek samping yang serius dari beberapa obat ini, pedoman klinis National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE) 2009 Inggris merekomendasikan untuk pengobatan dan pengelolaan BPD yaitu, "Perawatan menggunakan obat tidak boleh digunakan secara khusus untuk gangguan kepribadian ambang atau untuk gejala atau perilaku individu yang terkait dengan gangguan tersebut." Namun, "pengobatan dapat dipertimbangkan dalam pengobatan keseluruhan kondisi komorbiditas". Mereka menyarankan "meninjau pengobatan individu dengan gangguan kepribadian ambang yang tidak memiliki diagnosis komorbiditas penyakit mental atau fisik dan yang saat ini sedang menggunakan obat resep, dengan tujuan mengurangi dan menghentikan pengobatan yang tidak perlu".[35]

Prognosis[sunting | sunting sumber]

Dengan perawatan, sebagian besar orang dengan BPD dapat menemukan bantuan dari gejala menyedihkan dan mencapai remisi (kesembuhan), didefinisikan sebagai bantuan yang konsisten dari gejala selama setidaknya dua tahun.[36] [37] Sebuah studi longitudinal melacak gejala orang dengan BPD menemukan bahwa 34,5% mencapai remisi dalam waktu dua tahun dari awal penelitian. Dalam empat tahun, 49,4% telah mencapai remisi, dan dalam enam tahun, 68,6% telah mencapai remisi. Pada akhir penelitian, 73,5% peserta mencapai remisi.[36] Selain itu, dari mereka yang sembuh dari gejala, hanya 5,9% yang mengalami kekambuhan. Sebuah studi kemudian menemukan bahwa sepuluh tahun dari titik awal (selama rawat inap), 86% pasien telah mengalami pemulihan yang stabil dari gejala.[38] [39]

Epidemiologi[sunting | sunting sumber]

Prevalensi BPD diperkirakan pada pertengahan 2000-an menjadi 1-2% dari populasi umum[40] dan terjadi tiga kali lebih sering pada wanita daripada pria.[41] [42] Gangguan kepribadian ambang diperkirakan berkontribusi pada 20% rawat inap psikiatri dan terjadi di antara 10% pasien rawat jalan. [43] Pada 2007, sebanyak 29,5% narapidana baru di negara bagian Iowa AS sesuai dengan diagnosis memiliki gangguan kepribadian ambang,[44] dan prevalensi keseluruhan BPD di populasi penjara AS diperkirakan 17%. [45] Angka yang tinggi ini mungkin terkait dengan tingginya frekuensi penggunaan narkoba dan gangguan penggunaan zat di antara orang-orang dengan BPD, yang diperkirakan mencapai 38%.

[45]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Borderline Personality Disorder". National Institute of Mental Health (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 17 Maret 2022. 
  2. ^ Klein, Pauline; Fairweather, Alicia Kate; Lawn, Sharon; Stallman, Helen Margaret; Cammell, Paul (Desember 2021). "Structural stigma and its impact on healthcare for consumers with borderline personality disorder: protocol for a scoping review". Systematic Reviews (dalam bahasa Inggris). 10 (1): 23. doi:10.1186/s13643-021-01580-1. ISSN 2046-4053. PMC 7798332alt=Dapat diakses gratis. 
  3. ^ "Diagnostic criteria for 301.83 Borderline Personality Disorder | Behavenet". www.behavenet.com. Diakses tanggal 2022-03-17. 
  4. ^ Linehan 1993, hlm. 43
  5. ^ Manning 2011, hlm. 36
  6. ^ Hooley J, Butcher J, Nock M, Mineka S (2017). Abnormal Psychology (edisi ke-17th). Pearson Education, Inc. hlm. 359. ISBN 978-0-13-385205-9. 
  7. ^ a b c d e Linehan 1993, hlm. 45
  8. ^ a b Linehan 1993, hlm. 44
  9. ^ Fertuck EA, Jekal A, Song I, Wyman B, Morris MC, Wilson ST, et al. (December 2009). "Enhanced 'Reading the Mind in the Eyes' in borderline personality disorder compared to healthy controls". Psychological Medicine. 39 (12): 1979–88. doi:10.1017/S003329170900600X. PMC 3427787alt=Dapat diakses gratis. PMID 19460187. 
  10. ^ Stiglmayr CE, Grathwol T, Linehan MM, Ihorst G, Fahrenberg J, Bohus M (May 2005). "Aversive tension in patients with borderline personality disorder: a computer-based controlled field study". Acta Psychiatrica Scandinavica. 111 (5): 372–9. doi:10.1111/j.1600-0447.2004.00466.x. PMID 15819731. 
  11. ^ a b Zanarini MC, Frankenburg FR, DeLuca CJ, Hennen J, Khera GS, Gunderson JG (1998). "The pain of being borderline: dysphoric states specific to borderline personality disorder". Harvard Review of Psychiatry. 6 (4): 201–7. doi:10.3109/10673229809000330. PMID 10370445. 
  12. ^ Koenigsberg HW, Harvey PD, Mitropoulou V, Schmeidler J, New AS, Goodman M, Silverman JM, Serby M, Schopick F, Siever LJ (May 2002). "Characterizing affective instability in borderline personality disorder". The American Journal of Psychiatry. 159 (5): 784–8. doi:10.1176/appi.ajp.159.5.784. PMID 11986132. 
  13. ^ Arntz A (September 2005). "Introduction to special issue: cognition and emotion in borderline personality disorder". Journal of Behavior Therapy and Experimental Psychiatry. 36 (3): 167–72. doi:10.1016/j.jbtep.2005.06.001. PMID 16018875. 
  14. ^ Linehan 1993, hlm. 146
  15. ^ "What Is BPD: Symptoms". Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 February 2013. Diakses tanggal 16 April 2021. 
  16. ^ Robinson DJ (2005). Disordered Personalities. Rapid Psychler Press. hlm. 255–310. ISBN 978-1-894328-09-8. 
  17. ^ Levy KN, Meehan KB, Weber M, Reynoso J, Clarkin JF (2005). "Attachment and borderline personality disorder: implications for psychotherapy". Psychopathology. 38 (2): 64–74. doi:10.1159/000084813. PMID 15802944. 
  18. ^ Kreisman JJ, Straus H (2010-12-07). I Hate You--Don't Leave Me: Understanding the Borderline Personality (dalam bahasa Inggris). Penguin. ISBN 978-1-101-44568-6. 
  19. ^ Daley SE, Burge D, Hammen C (August 2000). "Borderline personality disorder symptoms as predictors of 4-year romantic relationship dysfunction in young women: addressing issues of specificity". Journal of Abnormal Psychology. 109 (3): 451–460. CiteSeerX 10.1.1.588.6902alt=Dapat diakses gratis. doi:10.1037/0021-843X.109.3.451. PMID 11016115. 
  20. ^ Gunderson JG, Zanarini MC, Choi-Kain LW, Mitchell KS, Jang KL, Hudson JI (August 2011). "Family Study of Borderline Personality Disorder and Its Sectors of Psychopathology". JAMA: The Journal of the American Medical Association. 68 (7): 753–762. doi:10.1001/archgenpsychiatry.2011.65. PMC 3150490alt=Dapat diakses gratis. PMID 3150490. 
  21. ^ Torgersen S (March 2000). "Genetics of patients with borderline personality disorder". The Psychiatric Clinics of North America. 23 (1): 1–9. doi:10.1016/S0193-953X(05)70139-8. PMID 10729927. 
  22. ^ a b Torgersen S, Lygren S, Oien PA, Skre I, Onstad S, Edvardsen J, Tambs K, Kringlen E (2000). "A twin study of personality disorders". Comprehensive Psychiatry. 41 (6): 416–425. doi:10.1053/comp.2000.16560. PMID 11086146. 
  23. ^ Goodman M, New A, Siever L (December 2004). "Trauma, genes, and the neurobiology of personality disorders". Annals of the New York Academy of Sciences. 1032 (1): 104–116. Bibcode:2004NYASA1032..104G. doi:10.1196/annals.1314.008. PMID 15677398. 
  24. ^ a b c d "Possible Genetic Causes Of Borderline Personality Disorder Identified". sciencedaily.com. 20 December 2008. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 May 2014. 
  25. ^ O'Neill A, Frodl T (October 2012). "Brain structure and function in borderline personality disorder". Brain Structure & Function. 217 (4): 767–782. doi:10.1007/s00429-012-0379-4. PMID 22252376. 
  26. ^ Lubke GH, Laurin C, Amin N, Hottenga JJ, Willemsen G, van Grootheest G, Abdellaoui A, Karssen LC, Oostra BA, van Duijn CM, Penninx BW, Boomsma DI (August 2014). "Genome-wide analyses of borderline personality features". Molecular Psychiatry. 19 (8): 923–929. doi:10.1038/mp.2013.109. PMC 3872258alt=Dapat diakses gratis. PMID 23979607. 
  27. ^ Stoffers J, Völlm BA, Rücker G, Timmer A, Huband N, Lieb K (June 2010). "Pharmacological interventions for borderline personality disorder". The Cochrane Database of Systematic Reviews (6): CD005653. doi:10.1002/14651858.CD005653.pub2. PMC 4169794alt=Dapat diakses gratis. PMID 20556762. 
  28. ^ Hancock-Johnson E, Griffiths C, Picchioni M (May 2017). "A Focused Systematic Review of Pharmacological Treatment for Borderline Personality Disorder". CNS Drugs. 31 (5): 345–356. doi:10.1007/s40263-017-0425-0. PMID 28353141. 
  29. ^ Stoffers-Winterling J, Storebø OJ, Lieb K (2020). "Pharmacotherapy for Borderline Personality Disorder: an Update of Published, Unpublished and Ongoing Studies" (PDF). Current Psychiatry Reports. 22 (37): 37. doi:10.1007/s11920-020-01164-1. PMC 7275094alt=Dapat diakses gratis. PMID 32504127. 
  30. ^ a b Stoffers J, Völlm BA, Rücker G, Timmer A, Huband N, Lieb K (June 2010). "Pharmacological interventions for borderline personality disorder". The Cochrane Database of Systematic Reviews (6): CD005653. doi:10.1002/14651858.CD005653.pub2. PMC 4169794alt=Dapat diakses gratis. PMID 20556762. 
  31. ^ Hancock-Johnson E, Griffiths C, Picchioni M (May 2017). "A Focused Systematic Review of Pharmacological Treatment for Borderline Personality Disorder". CNS Drugs. 31 (5): 345–356. doi:10.1007/s40263-017-0425-0. PMID 28353141. 
  32. ^ Stoffers J, Völlm BA, Rücker G, Timmer A, Huband N, Lieb K (June 2010). "Pharmacological interventions for borderline personality disorder". The Cochrane Database of Systematic Reviews (6): CD005653. doi:10.1002/14651858.CD005653.pub2. PMC 4169794alt=Dapat diakses gratis. PMID 20556762. 
  33. ^ Hancock-Johnson E, Griffiths C, Picchioni M (May 2017). "A Focused Systematic Review of Pharmacological Treatment for Borderline Personality Disorder". CNS Drugs. 31 (5): 345–356. doi:10.1007/s40263-017-0425-0. PMID 28353141. 
  34. ^ Stoffers-Winterling J, Storebø OJ, Lieb K (2020). "Pharmacotherapy for Borderline Personality Disorder: an Update of Published, Unpublished and Ongoing Studies" (PDF). Current Psychiatry Reports. 22 (37): 37. doi:10.1007/s11920-020-01164-1. PMC 7275094alt=Dapat diakses gratis. PMID 32504127. 
  35. ^ "2009 clinical guideline for the treatment and management of BPD" (PDF). UK National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 18 June 2012. Diakses tanggal 6 September 2011. 
  36. ^ a b Zanarini MC, Frankenburg FR, Hennen J, Silk KR (February 2003). "The longitudinal course of borderline psychopathology: 6-year prospective follow-up of the phenomenology of borderline personality disorder". The American Journal of Psychiatry. 160 (2): 274–283. doi:10.1176/appi.ajp.160.2.274. PMID 12562573. 
  37. ^ "Borderline Personality Disorder: An Overview". Psychiatric Times. July 2004. Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 October 2013. 
  38. ^ Zanarini MC, Frankenburg FR, Reich DB, Fitzmaurice G (June 2010). "Time to attainment of recovery from borderline personality disorder and stability of recovery: A 10-year prospective follow-up study". The American Journal of Psychiatry. 167 (6): 663–667. doi:10.1176/appi.ajp.2009.09081130. PMC 3203735alt=Dapat diakses gratis. PMID 20395399. 
  39. ^ Galat untuk menggunakan Templat:cite press release: Parameter title harus jelas
  40. ^ "Borderline Personality Disorder: An Overview". Psychiatric Times. July 2004. Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 October 2013. 
  41. ^ Skodol AE, Bender DS (2003). "Why are women diagnosed borderline more than men?". The Psychiatric Quarterly. 74 (4): 349–360. doi:10.1023/A:1026087410516. PMID 14686459. 
  42. ^ Korzekwa MI, Dell PF, Links PS, Thabane L, Webb SP (2008). "Estimating the prevalence of borderline personality disorder in psychiatric outpatients using a two-phase procedure". Comprehensive Psychiatry. 49 (4): 380–386. doi:10.1016/j.comppsych.2008.01.007. PMID 18555059. 
  43. ^ "BPD Fact Sheet". National Educational Alliance for Borderline Personality Disorder. 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal 4 January 2013. 
  44. ^ Black DW, Gunter T, Allen J, Blum N, Arndt S, Wenman G, Sieleni B (2007). "Borderline personality disorder in male and female offenders newly committed to prison". Comprehensive Psychiatry. 48 (5): 400–405. doi:10.1016/j.comppsych.2007.04.006. PMID 17707246. 
  45. ^ a b "BPD Fact Sheet". National Educational Alliance for Borderline Personality Disorder. 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal 4 January 2013.