Fungsionalisme
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. (Januari 2023) |
Fungsionalisme adalah teori filsafat yang menganggap fenomena mental dalam kesatuan dinamis sebagai suatu sistem dari fungsi untuk pemuasan kebutuhan yang sifatnya biologis.[1] Fungsionalisme adalah teori yang menekankan bahwa unsur-unsur di dalam suatu masyarakat atau kebudayaan itu saling bergantung dan menjadi kesatuan yang berfungsi, dimulai dari doktrin atau ajaran yang menekankan manfaat kepraktisan atau hubungan fungsional. Fungsionalisme berasal dari gerakan linguistik yang beranggapan bahwa struktur fonologis, gramatikal, dan semantis ditentukan oleh fungsi yang dijalankan dalam masyarakat, dan bahwa bahasa mempunyai fungsi yang beraneka ragam.[2]
Menurut para Ahli
[sunting | sunting sumber]Menurut John J. Macionis pada tahun 1997, teori fungsionalisme adalah teori dominan dalam antropologi yang memandang budaya sebagai satu kesatuan dan memiliki konsekuensi yang menguntungkan pada individu dan masyarakat. Teori ini memandang masyarakat sebagai sistem yang kompleks yang mana bagian tersebut bekerja bersama untuk mempromosikan solidaritas dan stabilitas.
Menurut Radcliffe Brown dan Bronislaw Malinowski
[sunting | sunting sumber]Struktural fungsionalisme yang menekankan pada keunggulan dari masyarakat dan menyusun para individu, dan bagaimana berbagai macam elemen fungsi struktur sosial untuk memelihara permintaan sosial dan keseimbangan.
Kelemahan Teori Struktur Fungsional
[sunting | sunting sumber]Menurut Robert King Merton
[sunting | sunting sumber]Teori fungsional memiliki beberapa kekurangan, yaitu :
- Pada teori fungsional ini, potensi terjadinya suatu konflik sosial tidak dipersiapkan.
- Terlalu memfokuskan pada keseimbangan sosial dalam masyarakat.
Menurut Talcott Parsons
[sunting | sunting sumber]Adapun beberapa kelemahan yang ada pada teori struktur fungsional, di antaranya :
- Terlalu memfokuskan pada suatu mekanisme yang dapat meningkatkan stabilitas dan keteraturan dalam sistem sosial.
- Teori ini terlalu kaku terutama ketika melihat suatu perubahan yang terjadi di luar sistem sosial.
- Teori ini terlalu memandang segala hal dari sudut pandang yang baik, sehingga konflik sosial dianggap sebagai hal yang remeh.
Menurut Emile Durkheim
[sunting | sunting sumber]Teori struktural fungsionalis memiliki empat kelemahan, yaitu :
- Adanya kecenderungan inheren bahwa fungsionalisme melakukan "replikasi" masyarakat.
- Penjelasan tentang adanya perubahan sosial secara cepat kurang begitu jelas.
- Terlalu melebih-lebihkan aspek sosial dari manusia.
Menurut Michael C. Howard dan Janet Dunaif-Hattis (1992)
[sunting | sunting sumber]Teori fungsional adalah gagalnya menjelaskan kenapa masyarakat itu berbeda atau justru memiliki kesamaan. Antropolog fungsionalisme menganggap dunia tertib memberi sedikit perhatian atau bahkan tidak memberi perhatian pada kompetisi dan konflik.
Menurut Scupin dan DeCorse (1995)
[sunting | sunting sumber]Teori fungsional tidak dapat menjelaskan perubahan sosial dan budaya, sebagaimana dahulu memandang masyarakat sebagai sesuatu yang stabil dan tetap. Meskipun memiliki kelemahan, teori fungsionalisme mempengaruhi perjanjian besar penelitian empiris dalam antropologi.
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ (Indonesia)Shaadily, Hasan. Ensiklopedia Indonesia Jilid 3. Jakarta: Ikhtiar Baru dan Van Hoeve.
- ↑ "Arti kata fungsionalisme - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online". kbbi.web.id. Diakses tanggal 2026-02-11.
- ↑ Kompasiana.com (2014-04-20). "Teori Fungsionalisme". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2026-02-13.
- ↑ Aris. "Pengertian Teori Struktural Fungsional Menurut Beberapa Ahli". Diakses tanggal 2026-02-13.