Fruitarianisme

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Natural foodstuff 004.JPG

Fruitarianisme merupakan bagian dari praktik pola makan vegan dimana praktik ini mengganti pola makan dengan hanya mengonsumsi buah-buahan, biji-bijian, kacang-kacangan, bahkan ada yang hanya memakan buah dari tanaman yang hanya jatuh dari pohon secara alami atau yang dipanen tanpa merusak pohon buah tersebut.[1]

Gaya hidup para fruitarian biasanya hanya mengonsumsi 50% atau lebih buah-buahan setiap hari, sisanya tetap memakan makanan lain yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Mereka lebih suka makan buah-buahan dibandingkan mengonsumsi sayuran. Hal ini karena para pelaku menganggap buah adalah makanan yang berkualitas tinggi dan dengan cara alami bisa berpartisipasi dalam menyebar benih buah tersebut.

Seseorang terbiasa dengan pola makan berbasis buah-buahan dilatarbelakangi oleh alasan yang berbeda-beda, tetapi dorongan utama melakukan praktik ini karena adanya alasan kuat yang menyangkut soal kesehatan, agama, moral dan etika. Namun hingga kini belum terlalu banyak publikasi riset tentang diet buah-buahan yang akuntabel dan tepercaya. Sebagian besar studi mengenai buah hanya fokus pada sifat antioksidan atau manfaat lainnya yang menyehatkan, alih-alih efek jangka panjang dari pola makan berbasis buah.[1]

Sumber nutrisi[sunting | sunting sumber]

Sumber pemenuhan kalori yang diperlukan untuk pola makan berbasis buah berasal dari 50% buah mentah seperti pisang, pepaya, anggur, apel, dan beri, dan 50% lagi dari kacang pohon, biji-bijian, sayur, serta biji padi-padian. Untuk beberapa kasus, seorang fruitarian yang ketat mampu mengonsumsi 90% buah mentah dan 10% sisanya berasal dari kacang pohon dan biji-bijian. Pola makan berbasis buah biasanya mengonsumsi tujuh kelompok buah yaitu, buah asam (jeruk, kranberi/ cranberry, nanas), buah subasam (tin, rasberi, dan ceri manis), buah manis (pisang, anggur, melon), buah berminyak (alpukat, kelapa, zaitun), sayur (paprika, tomat, timun, labu siam), kacang (kacang hazel, kacang mete, almon, pistacio, kenari), dan biji-bijian seperti biji dari bunga matahari, buah waluh (pumpkin), dan cucurbita atau squash).[1]

Manfaat buah[sunting | sunting sumber]

Buah-buahan terkenal akan khasiatnya yang menyehatkan karena mengandung antioksidan yang tinggi serta konsentrasi tinggi berupa vitamin, mineral, elektrolit, fitonutrien dan serat. Kandungan serat yang tinggi dalam buah dapat meningkatkan rasa kenyang sehingga menyebabkan penurunan berat badan. Terlepas dari kandungan nutrisi dalam buah tersebut, mengonsumsinya tanpa diimbangi dengan kelompok makanan lainnya dapat menyebabkan gangguan kesehatan bagi tubuh.[1] Pola makan berbasis buah-buahan dapat disiasati dengan menambahkan asupan yang seimbang dari kelompok makanan lainnya, seperti 50% buah-buahan, 20% Protein nabati (tempe, kedelai, gluten gandum), 20% sayuran, dan 10% biji-bijian (biji oat, gandum, bulgur, dan kinoa).[1] Rekomendasi umum asupan buah dan sayur minimal untuk satu orang setiap harinya adalah 400 gram per hari (lima porsi per 80 gram) atau sekitar 146 kg per tahun.[2] Anjuran membagi porsi makan berdasarkan rekomendasi tersebut, menurut penelitian dari Tiongkok dapat menurunkan 26% risiko penyakit strok menjadi lebih rendah.[3] Serat dalam buah juga dapat mengurangi resistensi insulin dan dapat membantu melindungi seseorang dari penyakit diabetes tipe 2.[4] Bahkan, mengonsumsi sedikit lebih banyak buah dan sayuran mampu menurunkan tingkat stres oksidatif dan peradangan pada penderita diabetes tipe-2.[5]

Dampak[sunting | sunting sumber]

Alih-alih menyehatkan, disisi lain diet buah memungkinkan seseorang mengalami kekurangan nutrisi karena pola makan ini membatasi beberapa kelompok makanan sehat lainnya yang diperlukan oleh tubuh. Pola makan berbasis buah-buahan dapat menyebabkan kekurangan energi protein, anemia, dan rendahnya kadar zat besi, kalsium, asam lemak esensial, vitamin, dan mineral.[6] Beberapa ahli nutrisi berpendapat pola makan ini tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan.[7] .

Buah tidak mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan untuk diet yang sehat dan seimbang, juga dapat meningkatkan asupan gula pada tubuh. Tingginya kandungan gula pada buah dapat meningkatkan kadar gula darah. Beberapa buah asam seperti jeruk dan nanas dapat menyebabkan kerusakan gigi dan mengikis email gigi apabila mengonsumsinya terlalu banyak.[7] Kekhawatiran lain yang cenderung dialami fruitarian adalah karena buah mudah dicerna, tubuh akan membakar makanan dengan cepat. Efek samping dari daya cerna adalah tubuh akan lebih sering buang air besar.[8] Di dalam sumber menjelaskan secara langsung bahwa pola makan seperti itu dapat menyebabkan malnutrisi.[8]

Penganut fruitarianisme[sunting | sunting sumber]

Beberapa tokoh publik yang mengikuti pola makan fruitarianisme di antaranya adalah Steve Jobs (memiliki kecenderungan memakan satu atau dua jenis makanan saja seperti apel dan wortel selama berminggu-minggu),[9] Mahatma Gandhi (menjadi seorang fruitarian selama beberapa tahun),[10] Idi Amin, Ben Klassen (politisi Amerika),[11] Gustav Schlickeysen,[12], Arnold Ehret (ahli naturopati),[13] Asthon Kutcher (aktor Amerika),[14] dan Hereward Carrington (penulis).[15]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e Capritto, Amanda (11 November 2021). "Can You Really Have a Healthy Diet Eating Only Fruit?". Verywell Fit (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-01-20. 
  2. ^ Sachdeva, Sandeep; Sachdev, Tilak R; Sachdeva, Ruchi (2013). "Increasing Fruit and Vegetable Consumption: Challenges and Opportunities" (PDF). Indian Journal of Community Medicine. 38 (4): 193. 
  3. ^ Wang, Xia; Ouyang, Yingying; Liu, Jun (2014). "Fruit and vegetable consumption and mortality from all causes, cardiovascular disease, and cancer: systematic review and dose-response meta-analysis of prospective cohort studies" (PDF). BMJ Journals. 349: 4. doi:10.1136/bmj.g5472. 
  4. ^ Weickert, Martin O.; Pfeiffer, Andreas F. H. (2008). "Metabolic Effects of Dietary Fiber Consumption and Prevention of Diabetes" (PDF). The Journal of Nutrition. 138 (3): 441–442. doi:10.1093/jn/138.3.439. 
  5. ^ Åsgård, Rikard; Elisabet, Rytter; Basu, Samar (2007). "High intake of fruit and vegetables is related to low oxidative stress and inflammation in a group of patients with type 2 diabetes" (PDF). Scandinavian Journal of Food & Nutrition. 51 (4): 156. doi:10.1080/17482970701737285. 
  6. ^ Hall, Harriet A. (1 januari 2014). "Food Myths: What Science Knows (and Does Not Know) About Diet and Nutrition". SkepDoc (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-01-20. 
  7. ^ a b "The Fruitarian Diet: Is It Good or Bad For You?". Cleveland Clinic (dalam bahasa Inggris). 12 Maret 2021. Diakses tanggal 2022-01-20. 
  8. ^ a b Kleeman, Alexandra (3 Desember 2014). "This means raw: extreme dieting and the battle among fruitarians". the Guardian (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-01-20. 
  9. ^ Dahl, Melissa (3 November 2011). "The strange eating habits of Steve Jobs". NBC News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-01-21. 
  10. ^ Saxena, Poonam (1 Oktober 2020). "What the Mahatma ate and why". Hindustan Times (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-01-21. 
  11. ^ "Eating their words". The Sydney Morning Herald (dalam bahasa Inggris). 17 Desember 2011. Diakses tanggal 2022-01-21. 
  12. ^ Mehdipour, Parvin, ed. (2017). Cancer Genetics and Psychotherapy. Springer International Publishing. hlm. 942. ISBN 9783319645506. 
  13. ^ Feldman, Elaine B. (2013). Nutrition in the Middle and Later Years. Elsevier Science. hlm. 294. ISBN 9781483281025. 
  14. ^ Haupt, Angela (7 Februari 2013). "Ashton Kutcher's Fruitarian Diet: What Went Wrong?". health.usnews.com. Diakses tanggal 21 Januari 2022. 
  15. ^ Albala, Ken, ed. (2015). The SAGE Encyclopedia of Food Issues. SAGE Publications. hlm. 694. ISBN 9781506300733. 

Pranala[sunting | sunting sumber]