Lompat ke isi

Fosforesensi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Fosforesensi merupakan salah satu bentuk fotoluminesensi yang berkaitan dengan fluoresensi. Ketika terpapar cahaya (radiasi) dengan panjang gelombang yang lebih pendek, suatu zat fosforesen akan memancarkan cahaya, yaitu dengan menyerap cahaya tersebut dan memancarkannya kembali pada panjang gelombang yang lebih panjang. Berbeda dengan fluoresensi, zat fosforesen tidak secara langsung memancarkan kembali radiasi yang diserap. Sebagian energi radiasi disimpan dan kemudian dipancarkan dalam jangka waktu yang jauh lebih lama setelah sumber radiasi dihilangkan.[1][2]

Dalam penggunaan umum, batas antara fluoresensi dan fosforesensi tidak selalu dapat dipisahkan. Material yang memancarkan cahaya ketika terkena cahaya ultraviolet biasanya diklasifikasikan sebagai fluoresen, sedangkan material yang memancarkan cahaya dalam kegelapan setelah eksitasi dihilangkan umumnya disebut fosforesen.[3] Dalam konteks ilmiah modern, fenomena ini diklasifikasikan menurut mekanisme elektronik yang menghasilkan pendar cahaya (Luminesensi) yaitu fluoresensi, fosforesensi triplet, dan fosforesensi persisten. Fluoresensi menghentikan emisi dalam skala waktu nanodetik setelah eksitasi berhenti, sementara fosforesensi dapat berlangsung dari mikrodetik hingga beberapa jam, bergantung pada sifat material dan struktur energinya.[4][5]

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Istilah fosforesensi berasal dari bahasa Yunani Kuno phōs (φῶς), yang berarti “cahaya”, dan sufiks Yunani -phoros (-φόρος), yang berarti “pembawa”. Kedua unsur tersebut digabungkan dengan sufiks Latin -escentem, yang bermakna “dalam proses menjadi” atau “memiliki kecenderungan”.[6] Secara etimologis, istilah ini mengandung arti “membawa cahaya” atau “cenderung memancarkan cahaya”. Penggunaan pertama istilah ini tercatat pada tahun 1766.[7]

Kata fosfor telah digunakan sejak Abad Pertengahan untuk menyebut mineral yang dapat bercahaya dalam kegelapan. Salah satu yang paling dikenal adalah fosfor Bologna, ditemukan sekitar tahun 1604 oleh Vincenzo Casciarolo di dekat Bologna, Italia. Batu tersebut, setelah dipanaskan dalam tungku kaya oksigen, mampu menyerap cahaya matahari dan memancarkannya kembali dalam kegelapan. Pada tahun 1677, Hennig Brand mengisolasi unsur kimia baru yang memancarkan cahaya melalui reaksi kemiluminesensi ketika bersentuhan dengan udara, kemudian dinamai fosfor. Istilah luminesensi diperkenalkan oleh Eilhardt Wiedemann pada tahun 1888 sebagai istilah umum untuk emisi cahaya tanpa panas. Istilah fluoresensi diperkenalkan sebelumnya oleh Sir George Stokes pada tahun 1852, berdasarkan pengamatannya terhadap cahaya tampak yang dipancarkan larutan sulfat kina ketika terkena radiasi ultraviolet. Sepanjang akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, penggunaan istilah fosforesensi dan fluoresensi sering tumpang tindih. Pemisahan definisi yang lebih konsisten baru terjadi setelah perkembangan spektroskopi, elektronika kuantum, dan teknologi laser pada 1950 sampai dengan 1960-an, meskipun dalam penggunaan sehari-hari batasannya masih tidak pasti.[8]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "What is the Difference between Luminescence, Photoluminescence, Fluorescence, and Phosphorescence? - Edinburgh Instruments" (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2021-07-13. Diakses tanggal 2025-11-21.
  2. Starkey, Samantha Woods; Olsen, Leslie Brandt (2025-08-06). Growing Under a Poisoned Sky (dalam bahasa Inggris). Christian Faith Publishing, Inc. ISBN 979-8-89526-784-4.
  3. Illuminating Engineering Society; Illuminating Engineering Society. Transactions (1908). Illuminating engineering. Knox - University of Toronto. Baltimore [etc.] Illuminating Engineering Society.
  4. "Persistent Phosphors". ScienceDirect (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-21.
  5. Qiu, Jianrong; Li, Yang; Jia, Yongchao (2020-11-26). Persistent Phosphors: From Fundamentals to Applications (dalam bahasa Inggris). Elsevier Science. ISBN 978-0-12-818637-4.
  6. "-escent - Etymology & Meaning of the Suffix". etymonline (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-21.
  7. "Phosphorescent - Etymology, Origin & Meaning". etymonline (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-21.
  8. Valeur, B (2001). Introduction: On the Origin of the Terms Fluorescence, Phosphorescence, and Luminescence. Berlin, Heidelberg: Springer Berlin Heidelberg. hlm. 3–6. ISBN 978-3-642-63214-3.