Food combining

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Food combining (FC) adalah istilah untuk pendekatan gizi yang menganjurkan kombinasi spesifik makanan sebagai pusat kesehatan yang baik (seperti tidak mencampur makanan kaya karbohidrat dan makanan kaya protein dalam makanan yang sama).

Pola makan yang berasal dari bangsa Esseni (di palestina 2000 tahun silam) ini sering dipandang sekadar untuk keperluan menurunkan berat badan. Sebenarnya urusan berat badan cuma satu turunan sja dari food combining yang sejatinya adalah untuk mencapai tubuh yang sehat. Begitu tubuh sehat, maka tubuh akan mencari berat badannya yang ideal.[1]

Food combining mengupayakan homeostatis, kondisi ideal tubuh di mana seluruh fungsi berjalan sempurna. Salah satu indikatornya adalah tercapainya keseimbangan antara nilai asam dan basa tubuh atau kondisi pH netral (7,35-7,45). Keseimbangan ini penting sebab kondisi tubuh yang cenderung asam merupakan awal rusaknya orang tubuh dan datangnya berbagai penyakit.[1]

Asal usul[sunting | sunting sumber]

Food Combining merupakan pola makan sehat tertua di dunia, dipraktikkan oleh Bangsa Esseni di Palestina yang mengikuti ajaran Taurat yang masih murni. Mereka tidak menggabungkan roti dan daging pada waktu yang bersamaan, juga susu dan daging; tidak makan darah, bangkai, daging babi, ikan tanpa sirip atau insang dan binatang melata, serta tidak makan berlebihan. Dewasa ini pola makan dengan metode food combining kembali dipopulerkan di Jerman sekitar tahun 1800-an, dan sejak itu menyusul di Eropa, Amerika dan Australia.[2]

Metode[sunting | sunting sumber]

Konsep food combining mengacu pada fakta bahwa setiap kelompok makanan memiliki waktu cerna dan serap yang berbeda-beda. Jus dicerna selama 15-20 menit, buah segar dicerna selama 30-40 menit, sayuran selama 30-40 menit, karbohidrat 90 menit, kacang-kacangan 2,5 hingga 3 jam, sedangkan protein hewani dicerna dari 30 menit (telur) hingga 3-4 jam (sapi).[3]

Setiap kelompok makanan yang akan dicerna memerlukan enzim cerna yang berbeda-beda. Beberapa kelompok makanan memerlukan zat asam sedangkan lainnya membutuhkan zat alkali. Jika mengonsumsi makanan dalam satu kelompok, penyerapan nutrisi akan jauh lebih efektif dan tidak akan menimbulkan masalah pencernaan. Sebaliknya, ketika makanan yang tidak satu kelompok dikonsumsi bersamaan, alkali dan asam bertemu sehingga menetralisir satu sama lain dan akhirnya menghambat pencernaan. Oleh karenanya, diet food combining tidak menyarankan orang-orang untuk menyantap nasi, lauk pauk, sayuran, dan buah sekaligus dalam 1 jam makan.[3]

FC sebagai terapi kanker[sunting | sunting sumber]

Berangkat dari penelitian dr. Otto Heinrich Warburg yang dihadiahi nobel tahun 1931. Ia menemukan bahwa sel kanker memiliki vitalitas pemanfaatan oksigen yang tidak sebaik sel sehat, terkait dengan kerja enzim pernafasan. Dari temuan itu ia menarik kesimpulan “Sel kanker bersifat asam; ia tidak mampu hidup dalam PH darah bersifat basa.”[4]

Dalam FC, buah-sayuran segar yang menjadi tulang punggung materi pola makan itu bersifat pembentuk basa. Mengkonsumsi makanan pembentuk basa akan menjadikan PH darah-tubuh cenderung basa, sehingga sel kanker tidak memiliki kesempatan untuk hidup.[4]

Temuan Hiromi Shinya terhadap karakter sistem cerna 370.000 pasiennya menunjukkan hal yang sama. Makanan prosesan identik dengan usus buruk. Usus buruk menurut beliau identik dengan tersebarnya beragam penyakit di seluruh penjuru tubuh. Pasien kanker beliau, pasca mengubah pola makannya dengan menjadi lebih berat ke materi buah-sayur segar, menunjukkan tingkat kesembuhan yang mengagumkan. Nyaris nisbi tindakan kuratif. Lebih mengagumkan lagi, pasien yang telah sembuh dari kanker, tingkat kambuhnya 0%.[4]

Diet food combining[sunting | sunting sumber]


Diet food combining diperkenalkan oleh Herbert M. Shelton di tahun 1951 melalui bukunya yag berjudul Food Combining Made Easy meski metode ini sebelumnya telah dibahas oleh Edgar Cayce. Meski demikian, diet food combining paling dikenal setelah dipopulerkan oleh William Howard Hay. Pada dasarnya, metode diet yang satu ini mengaplikasikan pendekatan yang mudah berdasarkan bagaimana cara tubuh mencerna makanan tertentu. Akhirnya, tidak hanya akan mendapatkan penurunan berat badan tapi juga kesehatan yang prima.

Pengkombinasian makanan yang tepat akan sangat membantu memperbaiki sistem pencernaan dan asimiliasi nutrisi. Dengan sendirinya, metode diet dengan food combining akan sangat sesuai untuk penderita masalah pencernaan atau sulit buang air besar. Tidak hanya itu, banyak yang sudah menjalani diet ini bahkan memiliki kondisi kulit yang lebih bersih dan bercahaya selain penurunan berat badan yang diinginkan. Setiap aturan pengkombinasian makanan bisa membuat perbedaan karena faktor masing-masing enzim yang terkandung di dalamnya.

Enzim protein, lemak dan karbohidrat misalnya akan dicerna dalam tingkat kecepatan yang berbeda. Selain itu, setiap jenis makanan akan membutuhkan solusi pencernaan yang berbeda-beda dan pemecahan enzim yang berbeda pula. Jika kita memakan makanan yang sama dan memiliki proses pencernaan yang berlawanan maka bisa dikategorikan sebagai kombinasi yang buruk. Jika memilih kombinasi makanan yang buruk maka kita akan mengalami perut penuh dengan gas, merasa kembung dan terus bersendawa.

Penggabungan Enzim Asam dan Alkaline[sunting | sunting sumber]

Contoh dari penggabungan ini adalah burger daging sapi dengan roti. Protein akan membutuhkan kondisi asam dan enzim pepsin untuk mencerna sementara karbohidrat membutuhkan alkalin untuk mencerna. Daging sapi dan roti memiliki kebutuhan yang berbeda dalam proses pencernaan sehingga memakan keduanya secara bersamaan membuat tubuh melepaskan asam dan alkaline secara bersamaan. Faktanya, asam dan alkalin akan menetralkan satu sama lain sehingga akan memperlambat pencernaan dan menyebabkan sakit kepala dan perut kembung.

Memahami aturan dalam pengkombinasian makanan sangatlah penting untuk menjaga kesehatan. Jika fungsi pencernaan kita lambat maka makanan mungkin bisa difermentasikan atau dibusukkan dalam jalur pencernaan sehingga akan mengeluarkan racun. Saat makanan tidak bisa dicerna dengan baik maka partikel makanan yang tidak tercerna ini akan berakhir dalam aliran darah dan menyebabkan sensitivitas terhadap makanan.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Majalah Intisari. September 2015. Sembuh Berkat Mengatur Pola Makan. Halaman 23-24.
  2. ^ Cara Makan Food Combining Serta Khasiat Manfaatnya caramakan.com
  3. ^ a b Food Combining: Makanan Sehat untuk Hidup Sehat deherba.com
  4. ^ a b c RawFood Versus Kanker erykar.com

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]