Fiksi Gotik

Fiksi Gotik, sering disebut sebagai Horor Gotik (terutama pada abad ke-20), adalah estetika sastra yang bertema ketakutan dan hantu. Nama genre ini berasal dari penggunaan kata "gotik" pada era Renaisans sebagai istilah peyoratif yang berarti abad pertengahan dan barbar, yang sendiri berasal dari arsitektur Gotik dan pada gilirannya bangsa Gotik.[1]
Karya pertama yang diberi label Gotik adalah novel karya Horace Walpole tahun 1764 The Castle of Otranto, kemudian diberi subjudul A Gothic Story. Kontributor selanjutnya pada abad ke-18 termasuk Clara Reeve, Ann Radcliffe, William Thomas Beckford, dan Matthew Lewis. Pengaruh Gotik berlanjut hingga awal abad ke-19, dengan karya-karya Romantis oleh para penyair seperti Samuel Taylor Coleridge dan Lord Byron. Novelis seperti Mary Shelley, Charles Maturin, Walter Scott, dan E. T. A. Hoffmann juga sering menggunakan motif Gotik dalam karya-karyanya.
Estetika Gotik terus digunakan dalam sastra Victoria dalam novel-novel karya Charles Dickens dan Brontë bersaudari, serta dalam karya-karya penulis Amerika Edgar Allan Poe dan Nathaniel Hawthorne. Kemudian, fiksi Gotik berkembang melalui karya-karya terkenal seperti Dracula karya Bram Stoker, The Beetle karya Richard Marsh, Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde karya Robert Louis Stevenson, dan The Picture of Dorian Gray karya Oscar Wilde. Pada abad ke-20, fiksi Gotik tetap berpengaruh dengan kontributor-kontributor termasuk Daphne du Maurier, Stephen King, V. C. Andrews, Shirley Jackson, Anne Rice, dan Toni Morrison.
Karakteristik
[sunting | sunting sumber]
Fiksi gotik dikenali dengan temanya mengenai kengerian, kejadian supranatural, dan intrusi masa lalu pada masa kini.[2][3] Latarnya umumnya mencakup pengingat-pengingat nyata akan masa lalu, khususnya melalui reruntuhan bangunan yang menjadi bukti akan kehidupan sebelumnya yang hancur di masa kini.[4] Karakteristik latar pada abad ke-18 dan abad ke-19 termasuk kastil, bangunan religi seperti biara, dan rubanah. Suasana yang diterapkan biasanya mengesankan situasi klaustrofobia, dan alur cerita yang umum biasa meliputi elemen penganiayaan penuh dendam, pemenjaraan, dan pembunuhan.[5] Penggambaran dari rangkaian kejadian mengerikan dalam fiksi gotik berperan sebagai ekspresi metafora dari masalah psikologi atau sosial.[6] Bentuk cerita Gotik biasanya tidak berkesinambungan dan rumit, sering kali menggabungkan cerita di dalam cerita, berganti narator, dan perangkat bingkai seperti manuskrip yang ditemukan atau sejarah yang disisipkan.[7] Karakteristik lainnya, terlepas dari relevansi alur cerita, dapat mencakup keadaan seperti tidur atau kematian, penguburan hidup-hidup, doppelgänger (kembaran), gema atau keheningan yang tidak wajar, penemuan hubungan keluarga yang tersembunyi, tulisan yang tidak dapat dipahami, lanskap malam, lokasi terpencil,[8] dan mimpi.[9] Khususnya pada akhir abad ke-19, fiksi Gotik cenderung mengaitkan unsur iblis dan peristiwa kerasukan, hantu, dan berbagai macam jenis roh jahat.[10]
Fiksi Gotik sering kali berpindah-pindah dari “budaya tinggi” dan “rendah” atau “budaya popular”[11]
Peran Arsitektur
[sunting | sunting sumber]Literatur Gotik memiliki keterikatan yang kuat dengan Arsitektur Kebangkitan Gotik di masa yang sama. Penulis Gotik Inggris sering kali mengaitkan bangunan-bangunan abad pertengahan dengan apa yang mereka anggap sebagai periode yang kelam dan mengerikan, ditandai dengan peraturan yang didukung penyiksaan dan ritual berbau misterius, fantastik, dan takhayul.
Gotik Wanita
[sunting | sunting sumber]Sejarah
[sunting | sunting sumber]Prekursor
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Carlick, Stephen (22 October 2024). "A guide to Gothic literature". Penguin Books. Diakses tanggal 13 May 2025.
- ↑ Birch, Dinah, ed. (2009). The Oxford companion to English literature. Oxford reference online premium (Edisi 7. ed). Oxford: Oxford Univ. Press. ISBN 978-0-19-173506-6.
- ↑ Hogle, Jerrold E., ed. (2002-08-29). The Cambridge Companion to Gothic Fiction: (Edisi 1). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-79124-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ De Vore, David. "The Gothic Novel". Diarsipkan dari aslinya pada 13 Maret 2011. "Latar sangat berpengaruh dalam novel-novel Gotik. Latar tidak hanya membangkitkan suasana horor dan kengerian, tetapi juga menggambarkan kemerosotan dunianya. Pemandangan kehancuran menyiratkan bahwa pada suatu waktu ada dunia yang berkembang pesat. Pada suatu waktu biara, kastil, atau lanskap merupakan sesuatu yang berharga dan dihargai. Sekarang, yang bertahan hanyalah cangkang yang membusuk dari tempat tinggal yang pernah ada."
- ↑ Birch, Dinah, ed. (2009). The Oxford companion to English literature. Oxford reference online premium (Edisi 7. ed). Oxford: Oxford Univ. Press. ISBN 978-0-19-173506-6.
- ↑ Hogle, Jerrold E., ed. (2002-08-29). The Cambridge Companion to Gothic Fiction: (Edisi 1). Cambridge University Press. doi:10.1017/ccol0521791243. isbn 978-0-521-79124-3.. ISBN 978-0-521-79124-3.
- ↑ Kosofsky Sedgwick, Eve (2023-02-14). The Coherence of Gothic Conventions. London: Routledge. ISBN 978-1-003-34612-8.
- ↑ Klinger, Leslie S.; Davies, David Stuart; Forshaw, Barry, ed. (2015). The Sherlock Holmes book. Big ideas simply explained (Edisi First American edition). New York: DK Penguin Random House. ISBN 978-1-4654-3849-2. OCLC 904082077.
- ↑ Kosofsky Sedgwick, Eve (2023-02-14). The Coherence of Gothic Conventions. London: Routledge. ISBN 978-1-003-34612-8.
- ↑ Davies, David Stuart (2015). The Sherlock Holmes Book (First American ed.). New York: DK.: Forshaw, Barry, eds. hlm. pp. 99–100. ISBN 978-1-4654-3849-2.. ; Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Hogle, Jerrold E., ed. (2002-08-29). The Cambridge Companion to Gothic Fiction: (Edisi 1). Cambridge University Press. doi:10.1017/ccol0521791243. isbn 978-0-521-79124-3.. ISBN 978-0-521-79124-3.