Fenitoin
| Data klinis | |
|---|---|
| Pengucapan | /fəˈnɪtoʊɪn, ˈfɛnɪtɔɪn/ |
| Nama dagang | Ikaphen, Kutoin, Sanbetoin, dll[1] |
| AHFS/Drugs.com | monograph |
| MedlinePlus | a682022 |
| License data | |
| Kategori kehamilan |
|
| Rute pemberian | Oral, intravena |
| Kelas obat | Anticonvulsant |
| Kode ATC | |
| Status hukum | |
| Status hukum | |
| Data farmakokinetika | |
| Bioavailabilitas | 70–100% (oral); 24,4% (rektal) |
| Pengikatan protein | 95%[2] |
| Metabolisme | Hati |
| Onset aksi | 10–30 min (intravenous)[3] |
| Waktu paruh eliminasi | 10–22 jam[2] |
| Durasi aksi | 24 hours[3] |
| Ekskresi | Urin (23–70%), empedu[4] |
| Pengenal | |
| |
| Nomor CAS | |
| PubChem CID | |
| IUPHAR/BPS | |
| DrugBank | |
| ChemSpider | |
| UNII | |
| KEGG | |
| ChEBI | |
| ChEMBL | |
| CompTox Dashboard (EPA) | |
| ECHA InfoCard | 100.000.298 |
| Data sifat kimia dan fisik | |
| Rumus | C15H12N2O2 |
| Massa molar | 252,27 g·mol−1 |
| Model 3D (JSmol) | |
| |
| |
| | |
Fenitoin atau adalah obat untuk mengatasi kejang (antikonvulsan) yang umumnya terjadi pada penderita epilepsi.[5] Nama kimia dari obat ini adalah 5,5-diphenyl-2,4-imidazolidinedione.[6] Obat ini dapat juga digunakan untuk mengobati neuralgia trigeminal, sejenis nyeri saraf yang berpengaruh pada wajah.[7] Fenitoin termasuk dalam kategori obat resep, jadi tidak dijual bebas. Bentuk obat ini berupa kapsul dan suntik. Obat ini dapat digunakan pada orang dewasa maupun anak-anak. Penggunaan pada ibu hamil dan menyusui harus berkonsultasi pada dokter terlebih dahulu.[5]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Fenitoin pertama kali disintesis pada tahun 1908 oleh Heinrich Biltz—seorang ahli kimia berkebangsaan Jerman.[8] Fenitoin dikenal sebagai antikonvulsan setelah Merritt & Putnam menerbitkan data penting mereka—mengenai penggunaan obat tersebut—pada tahun 1938. Sejak saat itu, fenitoin telah terbukti sebagai antikonvulsan yang sangat efektif. Beberapa dekade kemudian, obat ini terus menjadi obat antikonvulsan dan antiaritmia yang banyak diresepkan dalam pengobatan epilepsi (grand mal) dan psikomotor.[9]
Merek dagang
[sunting | sunting sumber]Beberapa merek dagang fenitoin antara lain: Kutoin, Phenytoin Sodium, Decatona, Dilantin, Curelepz, Phenitin, Ikaphen, Zentropil.[5]
Cara kerja obat
[sunting | sunting sumber]Epilepsi
[sunting | sunting sumber]Di dalam otak, terdapat sel-sel yang "berbicara" satu sama lain dengan menggunakan sinyal listrik dan bahan kimia. Kejang-kejang dapat terjadi ketika sel-sel otak tidak bekerja dengan benar atau bekerja lebih cepat dari biasanya. Di sini, fenitoin berfungsi untuk memperlambat sinyal listrik dalam otak sehingga kejang-kejang dapat berhenti.[7]
Sakit saraf
[sunting | sunting sumber]Pada awalnya, fenitoin tidak dirancang untuk mengobati rasa sakit. Namun, ia dapat meringankan rasa sakit saraf, seperti neuralgia trigeminal. Fenitoin memperlambat impuls-impuls listrik di saraf dan mengurangi kemampuan mereka untuk mengirimkan rasa sakit.[7]
Cara penggunaan
[sunting | sunting sumber]Fenitoin injeksi
[sunting | sunting sumber]Pemberian fenitoin injeksi harus dilakukan oleh petugas medis. Petugas akan menyuntikkan cairan fenitoin ke dalam pembuluh darah pasien.[5]
Fenitoin kapsul
[sunting | sunting sumber]Fenitoin kapsul lebih baik dikonsumsi setelah makan. Namun, bisa juga dikonsumsi dalam keadaan perut masih kosong. Jika mengalami nyeri lambung, konsumsilah fenitoin kapsul bersama dengan makanan.[5]
Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, obat harus dikonsumsi pada waktu yang sama setiap hari. Jika lupa mengonsumsi fenitoin, disarankan untuk segera melakukannya setelah ingat, tetapi dalam kondisi jarak jadwal konsumsi berikutnya tidak terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.[5]
Efek samping
[sunting | sunting sumber]Seperti obat-obatan yang lain, fenitoin juga memiliki efek samping, walaupun tidak semua orang mengalaminya. Efek samping umum yang dapat terjadi adalah sebagai berikut:
Peringatan
[sunting | sunting sumber]Tidak semua orang bisa menggunakan fenitoin. Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum menggunakannya, seperti: alergi (termasuk pada obat-obatan sejenisnya), gangguan liver (akibat fenitoin), dan yang sedang mengonsumsi delavirdine.
Selain itu, konsultasikan pada dokter jika memiliki hal-hal berikut ini:
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "International trade names for phenytoin". Drugs.com. Diarsipkan dari asli tanggal 23 February 2016. Diakses tanggal 27 February 2016.
- 1 2 "Phenytoin". The American Society of Health-System Pharmacists. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 September 2015. Diakses tanggal 22 August 2015.
- 1 2 Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamaRos2010 - ↑ Parker KD, Elliott HW, Wright JA, Nomof N, Hine CH (March 1970). "Blood and urine concentrations of subjects receiving barbiturates, meprobamate, glutethimide, or diphenylhydantoin". Clinical Toxicology. 3 (1). Informa UK Limited: 131–145. doi:10.3109/15563657008990108. PMID 5520387.
- 1 2 3 4 5 6 "Phenytoin". Alodokter. 2015-02-06. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-11-30. Diakses tanggal 2019-12-13.
- ↑ general_alomedika (2017-11-08). "Phenytoin - indikasi, dosis, interaksi dan efek samping". Alomedika. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-06-05. Diakses tanggal 2019-12-16.
- 1 2 3 4 "Phenytoin: medicine to treat epilepsy and trigeminal neuralgia". nhs.uk (dalam bahasa Inggris). 2019-03-15. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-05-10. Diakses tanggal 2019-12-13.
- ↑ Wolfson, Allan B. (2010). Harwood-Nuss' clinical practice of emergency medicine (Edisi 5th). Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 1415. ISBN 9780781789431. Diakses tanggal 16 Desember 2019.
- ↑ Scheinfeld, Noah (2003). "Phenytoin in cutaneous medicine: Its uses and side effects". Dermatology Online Journal. 9 (3). Diarsipkan dari asli tanggal 2023-04-01. Diakses tanggal 2019-12-16.
- ↑ "Phenytoin (Dilantin) Uses, Dosage, Side Effects". Drugs.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2023-06-05. Diakses tanggal 2019-12-18.
- ECHA InfoCard ID dari Wikidata
- Drugboxes which contain changes to verified fields
- Drugboxes which contain changes to watched fields
- Antiaritmia
- Obat Esensial Nasional Indonesia
- Antikejang
- Pengimbas CYP1A2
- Pengimbas CYP3A4
- Penghambat aromatase
- Dermatoksin
- Hepatotoksin
- Hidantoin
- Karsinogen IARC Golongan 2B
- Nefrotoksin
- Senyawa fenil
- Ligan reseptor sigma
- Modulator reseptor estrogen selektif
- Penghalang saluran natrium
- Teratogen
- Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia