Universitas Brawijaya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Universitas Brawijaya
Brawijaya University
Lambang Resmi Universitas Brawijaya
Lambang UB
Moto Building Up Noble Future
Didirikan 5 Januari 1963
Jenis Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum
Dana abadi Rp. 5,12 Triliyun (US$ 768,1 Million)
Rektor Prof. Dr. Nuhfil Hanani
Jumlah mahasiswa 55.469 (2018)
Lokasi Malang, Koordinat: 7°57′20.00″S 112°36′45.88″E / 7.9555556°S 112.6127444°E / -7.9555556; 112.6127444Jawa Timur, Indonesia
7°57′20.00″S 112°36′45.88″E / 7.9555556°S 112.6127444°E / -7.9555556; 112.6127444
Kampus Urban; Kota Malang
(I Ketawanggede,
II Dieng,
III Kediri
IV Jakarta)
Nama sebelumnya Gemeentelijke Universiteit
Warna Biru dongker     
Afiliasi ASAIHL[1], AUAP[2], APAIE, AUN, APRU, FUIW, ASEA-UNINET
Situs web www.ub.ac.id
LOGO UB

Universitas Brawijaya (UB) adalah perguruan tinggi di Indonesia yang berdiri pada tahun 1963 di Kota Malang, Jawa Timur melalui Ketetapan Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan no.1 tanggal 5 Januari 1963. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Dies Natalis UB. Nama Brawijaya diberikan khusus oleh Presiden Soekarno dengan harapan mampu gemilang seperti Raden Wijaya (Brawijaya I) selaku pendiri Kerajaan Majapahit sekaligus menjadi kampus kebanggan bangsa Indonesia.[3]

Universitas Brawijaya merupakan kampus elit di Indonesia dan secara konsisten menduduki peringkat 5 terbaik bersama dengan Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Teknologi Bandung berdasarkan penilaian resmi Kemenristekdikti.[4] Sedangkan di tingkat Internasional, UB menduduki peringkat 51 di Asia dan 400 dunia. UB adalah salah satu dari sebagian kecil kampus Indonesia yang terindeks secara Internasional oleh QS.[5]

UB memiliki empat kampus. Kampus utama terletak di sebelah barat Kota Malang (Ketawanggede), dan kampus kedua berada di Puncak Dieng atau dikenal sebagai UB Dieng yang digunakan untuk fasilitas olahraga outdoor, dan beberapa fasilitas riset maupun perkuliahan.[6] Sedangkan kampus ketiga dan keempat berada di Kediri dan Jakarta. Secara keseluruhan, UB memiliki aset seluas 981 hektar dan dana abadi yang mencapai 5,12 Triliun Rupiah atau setara dengan US$ 768,1 Juta. Hal tersebut menjadikan Universitas Brawijaya sebagai kampus terbesar dan terkaya kedua di tanah air setelah Universitas Indonesia.[7]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

1957-1960: Gemeentelijke Universiteit[sunting | sunting sumber]

Gedung Balaikota Malang dilihat dari Alun-alun Bundar.

Berawal dari Balaikota Malang, gagasan untuk pembentukan perguruan tinggi itu digulirkan. Atas prakarsa Ketua DPRD, 10 Mei 1957, diadakan pertemuan tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintahan kota Malang, membahas rencana pembentukan sebuah Universitas milik Kotapraja (Gemeentelijke Universiteit).[8]

Universitas ini semula berstatus swasta, dengan embrio sejak tahun 1957, yaitu berupa Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi yang merupakan cabang Universitas Swasta Sawerigading, Makasar. Sebagai langkah awal, didirikan sebuah yayasan bernama Yayasan Perguruan Tinggi Malang (YPTM) dengan akta notaris nomor 48 tahun tertanggal 28 Mei 1957. Yayasan ini kemudian membuka Perguruan Tinggi Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (PTHPM), pada 1 Juli 1957. Tercatat sebanyak 104 mahasiswa perguruan tinggi ini, dan menggunakan ruang sidang Balaikota Malang sebagai tempat perkuliahannya.[8][8] Sementara itu, atas inisiatif beberapa tokoh masyarakat yang lain dibentuk pula Yayasan Perguruan Tinggi Ekonomi Malang (YPTEM) dengan akta notaris nomor 26 tertanggal 15 Agustus 1957 yang kemudian mendirikan Perguruan Tinggi Ekonomi Malang (PTEM). Tak jauh berbeda dengan pendahulunya, aktivitas perkuliahan PTEM juga menumpan di Balaikota Malang.[8] Secara resmi PTHPM diakui sebagai milik Kotaparaja Malang dengan keputusan DPRD,19 Juni 1958. Pada dies natalis ketiga PTHPM, 1 Juli 1960, diumumkan penggunaan nama Universitas Kotapraja Malang bagi perguruan tinggi itu. Selain itu diumumkan pula rencana membuka dua fakultas baru. Rencana itu menjadi kenyataan, 15 September 1960, berdiri Fakultas Administrasi Niaga (FAN). Disusul kemudian oleh Fakultas Pertanian (FP) pada 10 November 1960.[8][9]

1961-1964: Upaya Penegerian[sunting | sunting sumber]

"Brawijaya" merupakan nama gelar raja Majapahit, yang diberikan oleh Presiden Soekarno.

Pembiayaan menjadi kendala utama penyelenggaraan Universitas Kotapraja Malang. Meskipun diakui sebagai milik Kotapraja Malang, pembiayaan universitas ini sepenuhnya tetap menjadi beban yayasan. Oleh karena itu ditempuh usaha untuk memperoleh status universitas negeri. Sesuai UU nomor 22 tahun 1961 tentang perguruan tinggi, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, baik mengenai jumlah maupun jenis fakultas yang dimiliki. Untuk itu, diupayakan penggabungan dengan perguruan tinggi yang sudah ada di Malang, yakni PTEM dan STKM (Sekolah Tinggi Kedokteran Malang). PTEM sepakat dengan gagasan ini, sementara STKM masih belum dapat menerimanya.[8][9]

Sebagai langkah menuju penggabungan, Universitas Kotapraja Malang berganti nama menjadi Universitas Brawijaya. Nama ini berasal dari gelar raja-raja Majapahit yang merupakan kerajaan besar di Indonesia pada abad 12 sampai 15.[9] Nama ini diberikan oleh Presiden Republik Indonesia melalui kawat nomor 258/K/61 tanggal 11 Juli 1961, dipilih dari 3 alternatif yang diajukan, yakni Tumapel, Kertanegara, dan Brawijaya. Nama itu secara resmi baru dipakai 3 Oktober 1961, setelah penggabungan Yayasan Perguruan Tinggi Malang (Universitas Kotapraja Malang) dengan Yayasan Perguruan Tinggi Ekonomi Malang (PTEM) menjadi Yayasan Universitas Malang, yang disahkan akta notaris nomor 11 tanggal 12 Oktober 1961.[8]

Presiden (saat ini disebut rektor) Universitas Brawijaya, Dr. Doel Arnowo bersama para perintis universitas lainnya akhirnya mendapatkan kepastian terkait status universitas negeri dalam sebuah pertemuan 7 Juli 1962 yang dicapai melalui kesepakatan antara Menteri PTIP, Pangdam V Brawijaya, Presiden Universitas Airlangga, dan Presiden Universitas Jember.[8][9]

Gedung Fakultas Pertanian di Jl. MT. Haryono (dulu Jl. Raya Dinoyo).

Dengan keputusan itu, ditetapkan Universitas Brawijaya di Malang terdiri dari Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan, Fakultas Pertanian, serta Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan. Keputusan itu pula memisahkan Fakultas Pertanian, dan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan dari Universitas Airlangga dan memasukkannya ke dalam lingkungan Universitas Brawijaya.[8][9]

1965-1968: Kampus Bergolak[sunting | sunting sumber]

Situasi negara memburuk dengan meletusnya pemberontakan G30S/PKI pada tahun 1965. Seluruh perguruan tinggi bergolak, tidak terkecuali Universitas Brawijaya. Pergolakan mencapai puncaknya 2 April 1966, seluruh aktivitas universitas ini berhenti. Dengan keputusan nomor 012/IV/66, Pangdam V Brawijaya selaku PU Pepelrada (Penguasa Pelaksana Perang Daerah) menetapkan sebuah presidium untuk memimpin Universitas Brawijaya, dan dekan untuk memimpin fakultas-fakultas. Keputusan itu kemudian disahkan Deputi Menteri PTIP dengan Keputusan nomor 4385 tahun 1966. Tugas utama presidium adalah normalisasi keadaan dan menggalang persatuan dan kesatuan di kalangan sivitas akademika. Presidium mulai bekerja 7 April 1966, dan membuka kembali Universitas Brawijaya 12 April 1966.[8] Bulan Juni 1966, Brigjen dr. Eri Soedewo ditugasi pemerintah untuk stabilisasi beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur. Jabatannya ialah Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Jawa Timur, di samping Pejabat Rektor Universitas Airlangga, Ketua Presidium Universitas Negeri Surabaya, Ketua Presidium Universitas Negeri Malang, sekaligus rektor kedua UB.[8][9]

1969-1997: Pengembangan Kampus[sunting | sunting sumber]

Pimpinan Universitas Brawijaya bekerja tanpa anggaran selama setahun. Baru kemudian secara berangsur-angsur diperoleh kembali anggaran dari pemerintah. Setelah 3 tahun keadaan menjadi normal, Universitas Brawijaya melangkah memasuki masa pembangungan (Pelita I) pada tahun 1969, dipimpin oleh rektor dari kalangan sendiri, yaitu Prof. Dr. Ir. Moeljadi Banoewidjojo (1969-1973) dari Fakultas Pertanian.[8][9] Dalam periode selanjutnya, terjadi perubahan nama beberapa fakultas, peningkatan beberapa jurusan menjadi fakultas, pembukaan fakultas dan program-program baru, serta pemisahan program politeknik yang menjadi cikal bakal Polinema. Selain itu banyak pembangunan fasilitas berbagai macam pembangunan fisik.[8]

Gedung Rektorat UB yang dibangun pada tahun 1987.

1998-2005: Perguruan Tinggi Otonom[sunting | sunting sumber]

Pada masa kepemimpinan Rektor Prof Eka Afnan Troena (1998-2002) mulai menerima mahasiswa asing dan dimulainya era jaringan serat optik untuk pengembangan teknologi informasi (TI) di kampus dan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh bekerja sama dengan Keio University, Jepang, serta memulai program pemberian beasiswa studi lanjut bagi staf administrasi.[8] Pada tahun 2003, berdasarkan SK Rektor nomor 147/SK/2003 dibentuklah dan mulai disosialisasikan pelaksanaan Tim Evaluasi Diri (Persiapan BHMN-UB) untuk Pengembangan Otonomi dan Akuntabilitas Organisasi Universitas Brawijaya. Otonomi adalah salah satu pilar untuk menghasilkan SDM yang berkualitas berdasarkan hasil studi banding ke Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung dan Institut Pertanian Bogor yang telah berstatus perguruan tinggi BHMN (Badan Hukum Milik Negara). Universitas Brawijaya mendapat persetujuan Dirjen Dikti untuk menjadi perguruan tinggi otonom pada tanggal 29 November 2007, walaupun pelaksanaannya harus menunggu pengesahan Undang Undang BHP. Sementara menunggu pengesahan UU-BHPMN (Badan Hukum Pendidikan Milik Negara) oleh DPR, untuk itu telah dibentuk tim penyusun proposal BLU (Badan Layanan Umum) yang diketuai oleh Profesor Sutiman B. Sumitro.[8]

2006-sekarang: Entrepreneurial University[sunting | sunting sumber]

Dalam masa kepemimpinan Rektor Prof. Yogi Sugito, UB diarahkan untuk menjadi entrepreneurial university yang bertaraf internasional, dibuat logo UB, diberlakukan SPP proporsional bagi mahasiswa baru, dibangun gedung pusat bisnis, gedung kuliah yang megah dan modern, monumen tugu UB, serta pembentukan Laboratorium Sentral Ilmu Hayati. Rektor ini sangat memperhatikan keindahan, keamanan, dan kenyamanan kampus.[10]
Bunderan UB
Lampu Taman UB
Monumen Tugu UB (kiri) yang berada di bundaran UB depan gedung rektorat, yang motifnya juga digunakan sebagai lampu tepi jalan dan taman kampus (kanan).

Pencanangan UB menuju Entrepreneurial University (EU) disaksikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia pada tanggal 2 Juni 2007. Bagi UB, EU merupakan perwujudan Visi dan Misi, untuk menghasilkan lulusan yang mandiri dan berjiwa pelopor. Di dalam pelaksanaannya telah ditempuh rintisan-rintisan berbagai kegiatan dengan bantuan dana hasil kerja sama. Sebagai bagian dari langkah nyata UB menuju EU, maka dilakukan pembenahan organisasi, antara lain pembentukan BUA (Badan Usaha Akademik) maupun BUNA (Badan Usaha Non Akademik) yang menghimpun belasan perusahaan milik Brawijaya. Lembaga ini berfungsi sebagai tempat komersialisasi, pengembangan pendidikan dan latihan kewirausahaan bagi mahasiswa, dosen, pegawai, dan masyarakat, fasilitator pengembangan riset di universitas yang relevan dengan kebutuhan Dudi (Dunia Usaha & Dunia Industri) serta sebagai sumber pendapatan universitas untuk menunjang aktivitas tridharma perguruan tinggi. Akhirnya, sejak tahun 2018 secara resmi UB telah menunjuk diri sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum oleh Kemenristekdikti. Hal ini berdampak positif bagi UB karena mampu menghimpun dana abadi dan melakukan komsersialisasi besar-besaran untuk meraih kemajuan kampus yang pesat demi mewujudkan visi UB sebagai World Class Entrepreneurial University.[10][11]

Atribut[sunting | sunting sumber]

Lambang[sunting | sunting sumber]

Gapura UB
Gapura Majapahit
Lambang UB (kiri) yang terinspirasi oleh Arca Harihara, peninggalan Kerajaan Majapahit.
Lambang merupakan penyederhanaan dari kenyataan yang kompleks dan bersifat abstrak. Dengan lambang, sebuah institusi memiliki identitas yang unik agar dikenali orang lain. Lambang Universitas Brawijaya berbentuk segilima dengan warna dasar biru kehitaman. Di dalamnya terdapat gambar arca Raden Wijaya (Brawijaya I) berwarna kuning emas, sebagai penjelmaan Dewa Wisnu yang bertangan empat. Masing-masing tangan memegang lampu, canka atau siput, qada, dan cakra. Selain itu sebagai lambang Ciwa, Raden Wijaya mengenakan mahkota Candra Kapala. Di samping kiri dan kanan Raden Wijaya terdapat sepasang Dewa Perwara sebagai pengikut Sang Raja.[12] Lambang secara keseluruhan menggambarkan corak atau watak dari Universitas Brawijaya. Jiwa kepeloporan, seperti yang dimiliki oleh Raden Wijaya (Brawijaya I), dilukiskan dengan warna kuning emas. Memiliki sifat abadi, dilukiskan dengan warna dasar hitam.[8][12]

Menjunjung tinggi falsafah Pancasila, digambarkan dalam bentuk segilima berwarna kuning emas. Berani membongkar segala sesuatu yang tidak wajar atau tidak benar, digambarkan dalam bentuk mahkota candra kapala. Penegak tertib hukum, digambarkan dalam bentuk gada. Berani meratakan segala sesuatu yang dianggap kurang wajar atau kurang benar, digambarkan dalam bentuk senjata cakra. Segalanya dilakukan dengan kesucian yang disertai pula tugas pemelihara atau pembina sesuai dengan sifat Wisnu, yang dilambangkan dalam bentuk fanka atau siput. Percaya dan meyakini benar-benar bahwa zat hidup itu ada, yang dilukiskan dalam bentuk lampu. Dengan demikian lambang tersebut menggambarkan penjiwaan keseluruhan watak Raden Wijaya (Brawijaya I) yang senantiasa dilandasi moral Pancasila.[8][12]

Logo, Moto, dan Maskot[sunting | sunting sumber]

Logo UB
Maskot UB
Logo UB (kiri) dan Maskot UB (kanan)
Logo Universitas Brawijaya memuat pesan ”Join UB, Be The Best” yang berarti komitmen tinggi untuk memberikan jaminan mutu yang paripurna kepada sivitas akademikanya. Logo UB berbentuk persegi empat dengan warna blue navy dengan tuisan UB berwarna kuning emas.[12][13] Logo UB memiliki pesan ”Join UB, Be The Best” adalah huruf “UB” dalam bulatan mengandung makna bahwa Universitas Brawijaya selalu dinamis keberadaannya dalam masyarakat dunia. Sayap berjumlah tiga buah mengelilingi bulatan dunia menggambarkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang bertaraf internasional. Warna emas pada huruf dan gambar bermakna kebijaksanaan dan kejayaan. Warna biru menggambarkan Universitas Brawijaya bersifat universal. Bingkai bujur sangkar sendiri bermakna keadilan.[12][13][14] Sejak peringatan Dies Natalis UB ke 44, Januari 2007 diperkenalkan pula moto Universitas Brawijaya yaitu "Building up Noble Future" atau membangun kemuliaan masa depan.[15][16] Sedangkan Maskot UB bernama BRONE yang merupakan singkatan dari Brawijaya Number One. BRONE memiliki konsep sebagai robot pendamping yang menjadi pemandu informasi. Dia mampu belajar dan terus berkembang. Makna maskot UB adalah: 1) Bentuk robot, bermakna inovasi, juga mewakili wujud yang kuat dan kokoh, sehingga mampu mewakili konsep kekuatan daya saing, 2) Dominasi warna biru, kuning, silver, dan hitam, masing-masing mewakili makna kepercayaan, kebahagiaan, modernisasi, dan elegan.[16]

Singkatan nama[sunting | sunting sumber]

Nama "Brawijaya" secara khusus diberikan oleh Presiden Soekarno melalui surat kawat Nomor 258/K/61 tertanggal 11 Juli 1961 dari 3 pilihan nama, yakni: Kertanegara, Tumapel, dan Brawijaya. Nama Brawijaya dipilih Bung Karno dengan harapan agar universitas ini mampu gemilang seperti Raden Wijaya (Brawijaya I) selaku pendiri Kerajaan Majapahit sekaligus menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Sejak saat itulah, Universitas Brawijaya dikenal dengan singkatan nama "Unbra". Dalam perkembangannya, sejak 1 Maret 1972 berdasarkan SK Rektor, singkatan "Unbra" sangat tidak diperkenankan dan diganti dengan singkatan baru berupa "Unibraw" karena menimbulkan salah tafsir mitra kerja luar negeri. Hal ini dikarenakan kata "Unbra" jika dilafalkan dalam Bahasa Inggris menjadi kata benda (noun) yang bermakna tidak menggunakan beha (pakaian dalam wanita), sebuah kekeliruan yang sangat memalukan. Selanjutnya, sejak tahun 2008 telah disosialisasikan singkatan "UB" untuk menggantikan singkatan "Unibraw" dan disetujui senat agar lebih mudah, singkat, dan jelas. Singkatan UB resmi mengalami disambiguasi oleh Google, diakui secara luas oleh komunitas Internasional bahwa UB mengacu pada Universitas Brawijaya dan hanya memiliki 2 padanan, yakni University at Bufallo (AS), serta University of Barcelona (Spanyol).[15]

Arsitek bangunan dan ciri khas[sunting | sunting sumber]

Gapura UB
Gapura Majapahit
Gapura gerbang UB (kiri) yang arsiteknya meniru Gapura Wringin Lawang (kanan) peninggalan kerajaan Majapahit.
Nama dari kampus UB sangat kental dengan sejarah Indonesia, terutama kerajaan Hindu-Budha yang ada di Indonesia, oleh karena itu UB ingin hal itu melekat pada kampus sebagai ciri khas yang membedakan dengan kampus lain. Gedung-gedung fakultas dibangun dengan atap berarsitektur rumah adat jawa yaitu joglo. Gedung Fakultas Teknik juga harus mengganti atap gedung fakultasnya pasca penyelesaian pembangunan, karena arsitek yang digunakan tidak sesuai dengan yang umumnya digunakan di kampus tersebut. Gerbang utama kampus juga tidak luput dari konsep kekhasan nama Brawijaya, dibangun dengan gapura yang meniru arsitek dari gapura Wringin Lawang, gerbang peninggalan kerajaan Majapahit yang berada di Trowulan, Mojokerto. Saat ini ada 3 gerbang utama yang dibangun dengan konsep serupa yaitu di Jalan Veteran, dan gerbang persimpangan Jl. Soekarno-Hatta – Jl. Mt. Haryono – Jl. Mayjend Panjaitan. Era kejayaan Majapahit dengan ditemukannya simbol kerajaan Majapahit yaitu Surya Majapahit pada reruntuhan kota-kota yang diduduki Majapahit juga digunakan pada motif dinding pagar Universitas Brawijaya. Ini merepresentasika bahwa UB ingin mencapai kejayaan seperti kerajaan yang pernah berkuasa di Nusantara.[17][18][19]
Lambang Kerajaan Majapahit
Motif Pagar UB
Lambang kerajaan Majapahit, Surya Majapahit (kiri) yang digunakan pada motif pagar UB (kanan).

Pohon buah Maja juga banyak ditanam di kampus, terutama di taman-taman dan gazebo kampus. Buah Maja sendiri berasa pahit, hal inilah yang melatarbelakangi nama kerajaan Majapahit.[17][18] Di sepanjang jalan di dalam kampus ditanam pohon kelapa sawit. Kelapa sawit adalah salah satu contoh pohon tepi jalan yang ditanam untuk menunjukkan identitas pada suatu jalur hijau jalan raya di kampus UB. Ini menyimbolkan bahwa UB berada di wilayah Indonesia yang terkenal dengan penghasilan sawitnya di daerah Sumatera dan Kalimantan. UB tidak ingin hanya membawa unsur budaya Jawa yang kuno, namun juga Indonesia yang kaya dengan hasil buminya. Hal inilah yang menjadi kunikan bagi kampus UB dan membedakan dengan kampus lainnya.[20][21]

Rektor[sunting | sunting sumber]

! Artikel utama untuk kategori ini adalah Rektor Universitas Brawijaya.

Berikut ini adalah daftar nama Rektor Universitas Brawijaya sejak berdirinya UB sampai sekarang:[22]

No. Nama Asal Fakultas Masa jabatan
1. Dr. Doel Arnowo Hukum (FH) 1963-1966
2. Brigjen. dr. Eri Soedewo Militer

(Pejabat Sementara)

1966-1969

(G30S-PKI)

3. Mayjen Moejadhi (Pangdam V Brawijaya)
4. Prof. Dr. Ir. Moeljadi Banoewidjojo Pertanian (FP) 1969-1973
5. Prof. Darji Darmodiharjo, LLM Hukum (FH) 1973-1979
6. Prof. Dr. Harsono, M.Ec Ekonomi & Bisnis (FEB) 1979-1987
7. Prof. Dr. Zainal Arifin Achmady, MPA Ilmu Administrasi (FIA) 1987-1993
8. Prof. Dr. Ir. Hasyim Baisoeni, M.Eng Teknik (FT) 1994-1998
9. Prof. Dr. Eka Afnan Troena, MBA Ilmu Administrasi (FIA) 1998-2002
10. Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno, M.Agr.Sc Pertanian (FP) 2002-2006
11. Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito, MS Pertanian (FP) 2006-2014
12. Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS Teknik (FT) 2014-2018
13. Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR, MS Pertanian (FP) Petahana

Akademik[sunting | sunting sumber]

Seleksi Mahasiswa[sunting | sunting sumber]

Penerimaan mahasiswa baru UB dilakukan melalui mekanisme seleksi yang dilakukan secara nasional bersama perguruan tinggi negeri lain dan seleksi yang dilakukan secara mandiri. Tingkat kesulitan untuk memasuki UB tergolong kompetitif dengan jumlah pendaftar mencapai ratusan ribu dan tingkat penerimaan maksimal sebesar 10% setiap tahunnya.[23] Terdapat beberapa macam seleksi yang dilakukan oleh UB, baik untuk mahasiswa lokal maupun untuk mahasiswa asing dan semuanya dapat diakses melalui tautan SELMA (Seleksi Masuk Univ. Brawijaya).

Fakultas[sunting | sunting sumber]

Hingga 2018, UB telah memiliki 18 fakultas dan 221 program studi (prodi) dengan rumpun keilmuan yang sangat luas mulai dari program Vokasi, Sarjana, Magister, Doktor, Dokter Spesialis, dan Profesi. Berdasarkan data yang berasal dari Kemenristekdikti, UB merupakan perguruan tinggi yang paling multidisipliner bersama Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Indonesia.[24] Dibawah ini merupakan daftar fakultas beserta pembagian keilmuannya:[25]

Agrikompleks[sunting | sunting sumber]

Econit (Economics and Trade)[sunting | sunting sumber]

Saintek (Sains dan Teknologi)[sunting | sunting sumber]

Ilmu Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Soshum (Sosial Humaniora)[sunting | sunting sumber]

Lembaga Pendidikan Setara Fakultas[sunting | sunting sumber]

Akreditasi[sunting | sunting sumber]

Institusi[sunting | sunting sumber]

UB telah memperoleh akreditasi institusi dengan peringkat A (Amat Baik) dari Badan Akreditasi Nasionai Perguruan Tinggi. Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) tersebut diperoleh sejak tahun 2009 hingga kini. Penilaian akreditasi meliputi 15 indikator meliputi kepemimpinan, kemahasiswaan, sumber daya manusia, kurikulum, prasarana dan sarana, pendanaan, tata pamong, sistem pengelolaan, sistem pembelajaran, suasana akademik, sistem informasi, sistem jaminan mutu, lulusan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta program studi.[26] Sedangkan untuk semua fakultas, lembaga, dan unit telah mendapatkan sertifikat manajemen ISO sejak 2011.[27]

Program Studi[sunting | sunting sumber]

Per 2017, semua prodi di 7 fakultas telah terakreditasi Internasional, diantaranya adalah Hukum, Peternakan, Kedokteran, dan Pertanianoleh AUN-QA (ASEAN University Network and Quality Assurance), Ekonomi dan Bisnis oleh ABEST21 (Alliance On Business Education and Scholarship For Tomorrow 21st Century), lalu Ilmu Administrasi oleh AASBI (Asian Association of Schools of Business International), serta Teknologi Pertanian oleh IFT (Institute of Food Technologists). Sejalan dengan visinya sebagai World Class Entrepreneurial University, UB akan terus melakukan perbaikan mutu pendidikan yang berstandar Internasional dan meningkatkan reputasinya.[28] Sementara, program studi lainnya telah terakreditasi A (Amat Baik) oleh BAN-PT dan mencapai persentase 83% dari total (221 prodi) yang ada.[29]

Biaya Pendidikan dan Beasiswa[sunting | sunting sumber]

Sejak tahun 2013, UB menerapkan sistem Uang Kuliah Tunggal atau biasa disebut UKT bagi semua mahasiswanya. Dengan sistem ini, mahasiswa tidak lagi harus membayar uang gedung. Semua biaya, termasuk uang pratikum, dibayarkan bersamaan dengan SPP per semester digabung menjadi satu pembayaran bernama UKT (Uang Kuliah Tunggal). Besaran UKT di UB sangatlah beragam sesuai dengan jurusan dan fakultas dengan dibagi dalam tujuh kategori. Kategori tersebut untuk mengelompokkan orang tua siswa dengan pendapatan yang berbeda, semakin tinggi pendapatannya, maka akan masuk kategori tertinggi. UKT paling rendah di setiap jurusan adalah Rp 500 ribu.[30][31] Sedangkan bagi mahasiswa yang lolos dari seleksi jalur mandiri (SPMK) akan dikenakan biaya UKT yang berbeda dan SPFP (Sumbangan Pengembangan Fasilitas Pendidikan) yang dibayarkan sekali hingga mahasiswa tersebut lulus.[32] SPFP maupun UKT bagi mahasiswa jalur mandiri ditetapkan secara proporsional per jurusan, per mahasiswa, dalam 3 kategori untuk jalur mandiri; hal ini juga sebagai acuan pemilihan kategori pada UKT.[33]

Ada begitu banyak Beasiswa yang diberikan di UB. Pada tahun 2017 terdapat 6.680 orang penerima beasiswa dengan nilai mencapai Rp. 296 Milyar. Beasiswa tersebut berasal dari berbagai instansi pemerintah, LPDP, dan perusahaan mulai dari BUMN, Swasta, dan Multinasional. Untuk program beasiswa Bidikmisi, per tahunnya UB menerima 4.000 mahasiswa dengan mengalokasikan biaya sebesar Rp 1,5 juta perbulan. Tak ketinggalan, juga terdapat beasiswa khusus yang berasal dari IKA UB.[34] Universitas Brawijaya juga menyediakan website khusus yaitu http://beasiswa.ub.ac.id/ yang mengumumkan informasi penawaran beasiswa.

Sivitas Akademika[sunting | sunting sumber]

Mahasiswa Brawijaya[sunting | sunting sumber]

UB memiliki 55.469 orang mahasiswa aktif dari berbagai strata yang tersebar di 221 prodi dalam 18 fakultas. Dengan jumlah tersebut, UB merupakan perguruan tinggi dengan mahasiswa terbanyak di Indonesia.[35] Sistem penerimaan mahasiswa UB dikenal tidak pernah mengistimewakan putera daerah, memberikan privilege bagi asal daerah tertentu, dan selalu melakukan perimbangan. Oleh karenanya, berdasarkan data Kemenristekdikti, mahasiswa Universitas Brawijaya memiliki persebaran asal daerah yang paling merata di Indonesia bersama Universitas Gadjah Mada dengan persentase 30% berasal dari Jawa Timur, 66% non Jatim, dan 4% merupakan mahasiswa asing.[36]

Staff dan Dosen[sunting | sunting sumber]

Adapun jumlah dosen tetap per tahun 2018 berjumlah 2.400 orang dengan kualifikasi 612 berpendidikan Masgister (S2) dan 1.788 Doktor (S3). Lalu untuk jumlah guru besar (Profesor) yang dimiliki oleh UB ialah sebanyak 378 orang dari berbagai disiplin keilmuan yang luas. Jumlah tersebut nantinya pasti terus bertambah sesuai dengan adanya program percepatan profesor bagi para dosen Brawijaya.[37]

Reputasi[sunting | sunting sumber]

PIMNAS[sunting | sunting sumber]

UB, sang juara sejati PIMNAS dengan raihan total 4 kali berturut-turut (Quatrick) dan 7X totoal.
UB, sang juara sejati PIMNAS
PIMNAS merupakan akronim dari Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional. Ialah ajang kompetisi karya kreatif bagi mahasiswa Vokasi dan Sarjana tingkat nasional yang diadakan oleh Kemenristekdikti. Dalam ajang ini, akan bertanding berbagai macam mahasiswa dari berbagai jurusan di seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Dalam PIMNAS yang diperlombakan adalah proposal kegiatan yang dibuat oleh tim mahasiswa sesuai topik yang ada. Proposal yang lolos akan didanai oleh Kemenristekdikti atas program yang sesuai dengan proposal yang diajukan. Terdapat 6 jenis proposal yang selanjutnya disebut sebagai PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) yaitu PKM Pengabdian Masyarakat (PKM-M), PKM Penelitian (PKM-P), PKM Kewirausahaan (PKM-K), PKM Teknologi (PKM-T), PKM Gagasan Tertulis (PKM-GT), dan PKM Artikel Ilmiah (PKM-AI).[38]

Ajang ini merupakan yang paling bergengsi bagi setiap kampus di Indonesia karena merepresentasikan kualitas riset mahasiswa, kualitas kegiatan ilmiah di suatu kampus, dan sebagai ajang penemuan teknologi baru untuk kemaslahatan khalayak umum, baik itu masyarakat maupun kalangan Dudi (Dunia Usaha & Dunia Industri).[39] Secara mengagumkan, sejak ajang PIMNAS dihelat pada tahun 1988 hingga 2018, UB menjadi perguruan tinggi yang paling sering menjadi juara umum PIMNAS, yakni sebanyak 6 kali (2008, 2009, 2012, 2015, 2016, 2017).[40] Dengan pencapaian ini, UB menjadi satu-satunya peguruan tinggi yang berhak mendapatkan piala tetap Adhikarta Kertawidya. Banyak pihak penasaran mengapa UB selalu menjadi kuda hitam dalam ajang PIMNAS. Dalam wawancaranya dengan CNN Indonesia, Prof. Muhammad Bisri selaku rektor UB mengatakan "Semua yang kami raih adalah by design, bukan by feeling. Setiap kemenangan yang diraih adalah hasil manis dari strategi yang telah disusun dengan matang dan rapi. Kita menang karena pakai pendekatan sistem, bukan aji mumpung!".[41]

Budaya Inovasi[sunting | sunting sumber]

Contoh Inovasi UB (Jagung Ungu/Brawijaya Purple Sweet-F1 Hybrid) yang langsung dikontrak Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman
Contoh Inovasi UB (Jagung Ungu/Brawijaya Purple Sweet-F1 Hybrid) yang langsung dikontrak Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman[42]
Berdasarkan data Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, UB merupakan perguruan tinggi yang memiliki hak paten terbanyak di Indonesia dengan jumlah 208 yang semuanya merupakan granted per tahun 2017.[43] Pada kontribusi komerisialisasi riset, Universitas Brawijaya menyumbang angka 15% dari total inovasi nasional dan menjadi yang terbesar keempat di Indonesia. Hal tersebut bisa terwujud karena UB memiliki sistem klinik jurnal yang merata di tingkat jurusan yang berstandar Internasional. Sehingga, kekuatan publikasi UB tergolong sangat baik di jurnal Internasional bereputasi seperti Scopus, Elsiveir, dsb.[44] Adapun bidang penemuan Brawijaya yang paling produktif adalah sektor Agriculture and Biological Sciences (16,32%), Engineering (15,07%), Medicine (9,45%), Biochemistry, Genetics, and Molecular Biology (6,81%), dan Chemsitry (5,62%). UB dengan reputasinya seringkali disebut sebagai Institut Pertanian Bogor kedua karena kluster keilmuan sektor agrikompleks yang sangat menonjol dan paling lengkap dibanding perguruan tinggi sejenis di tanah air maupun di Jawa Timur.[45][46][47]

Pemeringkatan[sunting | sunting sumber]

Tingkat Nasional[sunting | sunting sumber]

Pemeringkatan nasional secara resmi dikeluarkan oleh Kemenristekdikti yang dirilis setiap tahun. Penilaian tersebut didasari oleh 5 indikator yakni kualitas Sumberdaya Manusia, kualitas kelembagaan, kualitas kemahasiswaan, kualitas penelitian dan pengabdian masyarakat, dan banyaknya inovasi maupun komersialisasi riset yang dilakukan. Pemeringkatan ini menghasilkan 4 kluster perguruan tinggi, dan menghimpun seluruh institusi pendidikan tinggi baik swasta maupun PTN yang berjumlah 4.498 lembaga dengan dua kategori, yakni vokasi dan non vokasi. Sejak diperkenalkan pada tahun 2015 oleh Kemenristekdikti melalui Direktorat Jendral Kelembagaan IPTEK dan DIKTI, pemeringkatan pergruan tinggi di tingkat nasional selalu mengalami dinamika yang apik, dan lagi-lagi UB selalu konsisten menduduki peringkat ke-5 sebagaimana terlihat di tabel dibawah ini: [48][49]

Pemeringkatan Resmi Perguruan Tinggi Non Politeknik oleh Kemenristekdikti
Tahun Rangking 1 Rangking 2 Rangking 3 Rangking 4 Rangking 5 Lanjutan
2015 ITB (3,74) UGM (3,69) UI (3,49) IPB (3,42) UB (3,32) ITS (3,28), Unpad (3,07), Unair (3,05)

UNS (3,03), Undip (2,98)

2016 ITB (3,82) UGM (3,80) UI (3,69) IPB (3,50) UB (3,38) ITS (3,23), Unair (3,19), Unpad (3,18)

Undip (3,13), Unhas (2,87)

2017 UGM (3,88) ITB (3,75) IPB (3,70) UI (3,59) UB (3,42) ITS (3,29), Undip (3,028), Unair (3,18)

Unhas (2,89), UNY (2,79)

2018 ITB (3,57) UGM (3,54) IPB (3,41) UI (3,28) UB (3,19) Undip (3,12), ITS (3,10), Unair (3,03)

Unhas (2,99), Unpad (2,95),

Tingkat Internasional[sunting | sunting sumber]

Pada tingkat Internasional, UB mengacu pada 3 lembaga pemeringkat Internasional yakni Webomatrics yang melihat dari kepopuleran tautan yang dimiliki suatu perguruan tinggi, ARWU (Academic Ranking of World Universities) yang mentikberatkan pada riset, serta versi QS (Quacquarelli Symonds) dengan metodologi yang unik dan sesuai. Adapun pemeringkatan versi QS merupakan yang paling sering digunakan sekaligus dijadikan acuan resmi oleh Kemenristekdikti untuk mengukur performa perguruan tinggi dalam rangka menjadi WCU (World Class University).[50] Wilayah jangkauan yang disajikan oleh QS beraneka ragam, namun patokan yang digunakan oleh UB adalah wilayah Asia (QS Asian University Rangking), dunia (QS WUR-World University Rangking), dan QS Starts Rating. Adapun performa UB di level Internasional dari berbagai lembaga pemeringkat Internasional dapat dilihat pada tabel dibawah ini:[51][52][53][54]

Penilaian Profesional Lembaga Internasional untuk UB
Sumber Asal Lembaga Region Nilai
Webometrics Rangking Madrid, Spanyol Indonesia 4
Webometrics Rangking Madrid, Spanyol Dunia 358
ARWU Shanghai, Tiongkok Indonesia 4
ARWU Shanghai, Tiongkok Dunia 435
QS University Rangking London, Inggris Indonesia 5
QS University Rangking London, Inggris Asia 51
QS University Rangking London, Inggris Dunia 400
UI Green Metric Depok, Indonesia Indonesia 7
UI Green Metric Depok, Indonesia Dunia 161

Infrastruktur Kampus[sunting | sunting sumber]

Landmarks Kampus UByang sangat khas
Kampus Brawijaya yang sangat khas dengan latar belakang gedung rektorat dan Tugu UB

Kampus[sunting | sunting sumber]

UB memiliki empat kampus yang secara geografis berada di daerah yang berbeda. Adapun kampus utama Brawijaya berada di Ketawanggede, Kota Malang. Dengan total aset seluas 981 hektar, UB hanya menggunakan lahan dengan persentase 20% untuk kegiatan perkuliahan. Sedangkan sisanya merupakan lahan penelitian Agrikompleks, hutan pendidikan, laboratorium riset, teaching factory, dan fasilitas penunjang lainnya. Berikut adalah empat kampus milik UB:

UB I (Ketawanggede)[sunting | sunting sumber]

Kampus Utama UB saat acara OSPEK
Kampus Utama UB saat acara OSPEK (Raja Brawijaya)

Kampus utama UB terletak di Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Dengan memiliki luas hanya 60 hektar, UB berhasil mengoptimalkan lahan yang ada dengan sangat baik. Kampus ini menjadi lokasi dari semua fasilitas yang dimiliki UB termasuk 16 fakultas dari dari total 18 fakultas yang ada. Seluruh gedung berarsitektur Jawa yang dibangun vertikal dengan minimal memiliki 7 lantai. Kampus utama UB terletak di pusat Kota Malang yang berada diantara pusat bisnis di Jl, Soekarno Hatta sekaligus pusat pendidikan di Jl. Veteran. Kampus ini memiliki lingkungan yang asri dengan banyak pepohonan rindang, udara sejuk Kota Malang, dan infrastruktur yang rapi. Di sebelah barat dari Gerbang Veteran terdapat salah satu mall besar di Jawa Timur yaitu Matos (Malang Town Square).[55]

UB II (Dieng)[sunting | sunting sumber]

UB Dieng yang akan selesai sepenuhnya pada 2020
UB Dieng yang akan selesai sepenuhnya pada 2020
Kampus kedua UB terletak di Puncak Dieng Eksklusif, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Peruntukan bagi UB Dieng adalah fasilitas olahraga outdoor seperti lapangan sepak bola, lapangan basket, lapangan panahan, lapangan menembak, pacuan kuda, jogging track, kolam renang, hingga lintasan Gokar.[56][57] Selain itu terdapat beberapa laboraotirum, gedung kuliah Bersama, RSHP (Rumah Sakit Hewan Pendidikan), Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Kehutanan, dan rusunawa mahasiswa yang merupakan rusunawa terbaik di Indonesia berdasarkan penilaian Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.[58]

UB III (Kediri)[sunting | sunting sumber]

Gedung UB Kediri
Gedung UB Kediri

UB Kediri atau biasa disebut UB Kampus III Kediri didirikan sejak tahun 2011 dan diperuntukan untuk Mahasiswa PSDKU (Program Studi Di luar Kampus Utama). Kampus ini memiliki tiga lokasi terpisah, yakni di Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, SLG (Simpang Lima Gumul), dan Plosokidul yang berada di Kabupaten Kediri. UB Kediri dibangun melalui dana serta aset dari pemerintah setempat.[59] Kampus ketiga UB ini memiliki dinamika yang sangat beragam dan pelik.[60] Dinamikanya seperti peninjauan ulang oleh pihak Pemkot Kediri, ketidakjelasan status yang berujung dinyatakan ilegal oleh Dirjen Iptek Dikti, tergesa-gesa dalam melakukan penerimaan mahasiswa, dan pembangunannya yang belum tertata hingga mengakibatkan mahasiswa UB Kediri harus menumpang fasilitas lain saat perkuliahan maupun bolak-balik UB I untuk menjalani praktikum di laboratorium.[61] Akhirnya, pada tahun 2016, UB Kediri resmi beroperasi dengan baik setelah adanya kesepakatan antara pemerintah setempat, Kemenristekdikti, dan pihak UB. Saat ini UB Kediri mengalami pembangunan pesat dalam rangka implementasi tridharma perguruan tinggi dan menempati area seluas 43 hektar.[59][62]

UB IV (Jakarta)[sunting | sunting sumber]

Gedung UB IV Jakarta
Gedung UB Jakarta
UB Jakarta atau UB IV merupakan kampus terakhir milik UB dan diperuntukan untuk Program Pascasarjana yang berlokasi di Jalan Abdul Muis No.52, Petojo Selatan, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta.[63] Atas desakan banyak pihak yang menginginkan UB agar membuka kampus di wilayah ibukota, akhirnya UB Jakarta didirikan sejak tahun 2010 dan selesai pada 2016. Peresmian UB IV dihadiri oleh Djarot Syaiful Hidayat selaku alumni UB dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. UB Jakarta dibangun sepenuhnya melalui dana IKA UB (Ikatan Alumni Universitas Brawijaya) dengan luas 25 hektar.[64]

Fasilitas Umum[sunting | sunting sumber]

Fasilitas umum adalah fasilitas yang sering digunakan oleh sivitas akademika Brawijaya dan tidak termasuk fasilitas dengan tujuan khusus (sebagai unit usaha) yang tergabung dalam BUA (Badan Usaha Akademik) maupun BUNA (Badan Usaha Non Akademik). Berikut ini adalah fasilitas umum yang ada di UB:[65]

Gedung Sentral[sunting | sunting sumber]

GS FIA UB
GS FIA UB
Setiap fakultas memiliki Gedung Sentral (GS) masing-masing di area kampus UB guna mendukung kegiatan tridharma perguruan tinggi berupa pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Gedung-gedung di kampus UB seluruhnya berarstitektur Jawa dan dibangun secara vertikal guna efisiensi lahan. GS kebanyakan berlantai 7 bahkan di beberapa fakultas gedungnya berlantai 15.

Perpustakaan[sunting | sunting sumber]

Gambar Perpustakaan Pusat UB

Perpustakaan Brawijaya merupakan salah satu program cakupan universitas (Institutional Support System) yang berfungsi mendukung program akademik universitas yang tertuang dalam “Tridarma Perguruan Tinggi” yang mencakup pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Bentuk fisik yang asri dengan memiliki latar serta bangku yang nyaman sekaligus akses internet yang cepat menjadikan perpustakaan tempat favorit bagi mahasiswa UB. Layanan yang disediakan selain peminjaman buku adalah Electronic Books (E-Books), Jurnal Internasional berbagai bidang pengetahuan, manual, dan lain sebagainya. Perpustakaan UB juga menyediakan fasilitas umum seperti toko souvenir, dan kantor pos. Memiliki tautan http://lib.ub.ac.id/ dan satu-satunya perpustakaan di Indonesia yang menjadi anggota The International Association of University Libraries (IATUL) sejak tahun 2016 serta memiliki jam layanan tertinggi di Indonesia.[66]

ATM dan KCP[sunting | sunting sumber]

Terdapat beberapa KCP (Kantor Cabang Pembantu) maupun ATM dari berbagai bank yang ada di dalam kampus UB, diantaranya adalah:

  • Bank BCA
  • Bank Mandiri
  • Bank BNI
  • Bank BRI
  • Bank BTN

Masjid Raden Patah[sunting | sunting sumber]

Masjid Raden Patah merupakan masjid utama di Universitas Brawijaya. Penamaan Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya (MRP UB) didasarkan atas usulan pengurus masjid sebagai bentuk penghormatan kepada Raden Patah. Raden Patah adalah pendiri Kesultanan Demak yang merupakan putra dari Prabu Brawijaya Kertabumi. Bangunan masjid ini dirancang oleh Dr. Ali Sukirno, dosen senior Arsitektur di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya dengan gaya bangunan khas Majapahit.[67] Luas bangunan MRP UB secara keseluruhan mencapai 6.830 m2 dengan kapasitas yang dapat menampung maksimal 4.500 jamaah pada kegiatan sholat dan mencapai lebih dari 7.000 jamaah untuk kegiatan pengajian. MRP UB sangat aktif di dunia maya melalui tautan http://mrp.ub.ac.id//.

Fasilitas Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Fasilitas kesehatan di UB merupakan perwujudan dari rumpun keilmuan kesehatan yang dimiliki oleh Universitas Brawijaya agar keberadaannya dapat dirasakan masyarakat. Rumpun keilmuan kesehatan UB terdiri dari Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, dan Fakultas Kedokteran Hewan. Fasilitas kesehatan yang dimiliki oleh UB antara lain:[68]

Poliklinik UB[sunting | sunting sumber]

Gedung Poliklinik UB tampak depan
Gedung Poliklinik UB tampak depan

Poliklinik UB dibentuk pada tahun 1973 dan secara umum mempunyai tugas memberikan layanan di bidang kesehatan. Poliklinik UB berlokasi di Jl. M.T. Haryono, Ketawanggede, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur dan masih tergabung dengan kompleks kampus utama UB. Poliklinik UB adalah unsur pelaksana non-akademik universitas yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan pada sivitas akademika beserta keluarganya, masyarakat umum yang berada di bawah maupun bertanggungjawab langsung kepada Rektor. Mandat utama Poliklinik UB difokuskan pada: a) Peningkatan pelayanan di bidang kesehatan, b) Peningkatan kerjasama dengan pengguna pelayanan kesehatan dan asuransi kesehatan; c) Peningkatan pengabdian kepada masyarakat.[69]

RS UB[sunting | sunting sumber]

Menristekdikti, Moh. Nasir (paling kanan) saat berkunjung ke RS UB didampingi Dirjen Dikti, Ali Ghufron Mukti (ketiga dari kanan)

Didirikan pada 17 Desember 2008, Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RS UB) terletak di Jl. Soekarno - Hatta, Kec. Lowokwaru, Kota Malang. Pembangunan rumah sakit UB memakan waktu yang cukup lama, yakni 9 tahun dengan dinamika yang beragam. Luas bangunan 46.883,06 m² atau setara dengan 46 hektar dan luas basement 6.904,4 m². Cakupan layanan yang diberikan oleh rumah sakit UB adalah IGD (Instalasi Gawat Darurat), rawat inap, rawat jalan yang terdiri dari 12 poli berbeda, kamar operasi, kamar bersalin, medical checkup, dan fasilitas pendukung lainnya. Pada tanggal 14 Desember 2017, RS UB resmi mendapatkan sertifikat akreditasi paripurna yang diberikan oleh Ketua Eksekutif KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit).[70][71][72]

GPTs[sunting | sunting sumber]

GPTs UB saat diresmikan oleh Rektor UB Prof. Bisri

Gedung Pendidikan Terpadu Dokter Spesials (GPTs) dibangun atas dasar komitmen dari FK UB yang memiliki jumlah program studi terbesar dan terbanyak di Universitas Brawijaya dengan 10 prodi dan 21 program spesialis.[73] FK UB telah menjalin dan meningkatkan kerjasama dengan beberapa sektor, baik itu rumah sakit, dinas kesehatan, kerjasama dengan industri dan juga dengan instansi pemerintah baik dalam maupun luar negeri. GPTs berada di luas lahan 38 meter persegi dengan luas total bangunan 4.486 meter persegi dan menghabiskan dana sebanyak Rp 30,5 Miliar. GPTs terletak di Kampus Utama UB dan lingkungan Rumah Sakit dr. Saiful Anwar (RSAA). Dipilihnya RSAA adalah karena sebagai sebuah Rumah Sakit Pendidikan Utama, telah menjadi rumah sakit tipe “A”, memiliki pelayanan paripurna oleh KARS, dan merupakan rumah sakit yang telah menjadi mitra FK UB selama bertahun-tahun di Jawa Timur.[74][75][76]

RSHP UB[sunting | sunting sumber]

Gedung RSHP UB
Gedung RSHP UB

Sejak pertengahan tahun 2016 lalu, UB memiliki rumah sakit khusus hewan yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur, Soekarwo. Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Brawijaya (RSHP UB) ini merupakan fasilitas pertama di Kota Malang dan yang kedua di Jawa Timur setelah rumah sakit hewan milik Universitas Airlangga di Mulyorejo, Surabaya. RSHP merupakan gedung lima lantai yang terletak di Puncak Dieng Eksklusif, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang dan termasuk bagian dari kompleks UB Dieng. RSHP bersebelahan dengan Fakultas Kedokteran Hewan dan didukung 24 staf Dokter Hewan FKH UB yang memiliki sertifikasi kompetensi dan tanda register veteriner. Memiliki beberapa fasilitas seperti resepsionis, ruang pemeriksaan, ruang depo farmasi, ruang USG, ruang operasi, ruang grooming, laboratorium hermatologi, serta ruang rawat inap. Terdapat ruangan yang khusus menangani bagian anatomi, patologi, embriologi, reproduksi, parasitologi, mikrobiologi hingga laboratorium riset bersama. RSHP adalah untuk rumah sakit hewan umum dan menerima pasien berupa hewan peliharaan maupun binatang ternak.[77][78][79]

Fasilitas Olahraga dan Seni[sunting | sunting sumber]

UB merupakan kampus dengan mahasiswa terbanyak di Indonesia yang juga memiliki persebaran paling merata di Indonesia.[23] Dengan semangat Bhineka Tungga Ika, UB memberikan perhatian khusus terhadap berlangsungnya kegiatan olaharga maupun kebudayaan sivitas akademikanya melalui berbagai fasilitas seperti:[80]

  • Gor Pertamina UB
  • Sport Center
  • Lapangan Rektorat
  • Lapangan Sepak Bola
Lapangan Bola di UB Dieng
Lapangan Bola di UB Dieng

UB memiliki lapangan sepak bola berstandar Internasional yang terletak di UB Dieng. Standar Internasional meliputi kualitas rumput yang digunakan, sistem drainase untuk menyerap air hujan agar rumput lebih cepat kering, luas lapangan, dsb. Lapangan sepak bola ini juga menjadi arena berlatih dari SSB Brawijaya 82 yang legendaris. SSB tersebut juga berhasil menghasilkan berbagai pemain bola nasional seperti Ahmad Bustomi dan Arif Suyono. Kedepannya, UB berkomitmen untuk membentuk akademi sepak bola dan mengintegrasikannya dengan disiplin keilmuan sport science agar dapat memberikan sumbangsih kepada Sepak Bola Nasional dengan bekerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan Universitas Indonesia.[81][82][83][84][85]

Pusat Seni Mahasiswa[sunting | sunting sumber]

Terdapat beberapa fasilitas yang disediakan oleh UB diantaranya Gedung Samantha Krida, Gedung Kebudayaan Mahasiswa, Gazebo Raden Wijaya, dan Gedung Widyaloka yang semuanya terletak di kampus utama. Kegiatan kesenian tingkat universitas terhimpun dalam UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) minat kesenian. UKM ini memiliki 8 ektrakurikuler, dan termasuk didalamnya adalah Brawijaya Orchestra yang dibentuk tahun 2017. Brawijaya Orchestra akan berfungsi untuk menguatkan kegiatan seni yang ada di UB dan sebagai diplomasi akademik maupun budaya.[86][87]

Fasilitas Difabel[sunting | sunting sumber]

UB merupakan perguruan tinggi di Indonesia yang paling ramah bagi kaum difabel.[88] Hal tersebut dibuktikan dengan adanya penerimaan mahasiswa khusus difabel yang bernama SPKPD (Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas), didirikannya Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD UB) serta perhatian yang diberikan berupa anggaran khusus setiap tahunnya guna membangun fasilitas seperti braile di semua fasilitas umum UB, trotoar ramah difabel, maupun fasilitas lainnya.[89][90]

Sivitas akademika Brawijaya juga dikenal sangat menjunjung tinggi sifat inklusif dalam melibatkan kaum difabel di seluruh kegiatan tridharma perguruan tinggi, seperti mulai dari melibatkan kaum difabel dalam grup riset, organisasi mahasiswa, dan mendorong mereka untuk berprestasi di bidang akademik maupun non-akademik.[89][91][92][93][94][95]

Pusat-Pusat[sunting | sunting sumber]

Hingga kini, UB telah memiliki berbagai macam pusat (Center) yang membawahi sektor riset atau pusat studi (Research Center) dan pelayanan yang memiliki wewenang untuk meningkatkan mutu dan reputasi UB beserta layanannya kepada sivitas akademika. Pusat-pusat ini berada dibawah koordinasi dua Lembaga berbeda, yakni LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) dan LP3M (Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu).

Pusat Studi[sunting | sunting sumber]

Saat ini, UB memiliki 26 Pusat Studi yang memiliki tugas utama melakukan kegiatan penelitian untuk meningkatkan reputasi ilmiah, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi agar berdaya guna bagi umat manusia. Pusat-pusat studi tersebut adalah:[96]

  • Pusat Studi Jagung
  • Pusat Studi Kebumian dan Mitigasi Bencana
  • Pusat Kajian Anti Korupsi
  • Pusat Studi Peradaban
  • Pusat Studi Halalan Thoyib (Halal Thoyib Science Center)
  • Pusat Riset dan Enterpreneurial Agroindustri Atsiri (PUREAA)
  • Pusat Studi Tanaman Ubi-ubian
  • Pusat Studi Budaya dan Laman Batas
  • Pusat Studi Gender (PSG)
  • Pusat Studi Biosystem
  • Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH)
  • Sentra Hak Kekayaan Intelektual (Sentra HKI)
  • Pusat Penelitian Teknologi Sistem dan Material Maju
  • Pusat Studi Pesisir dan Kelautan (PSPK)
  • Pusat Penelitian dan Pengembangan Porang Indonesia (P4I)
  • Pusat Studi Pesantren dan Pemberdayaan Masyarakat
  • Pusat Studi Pengembangan Pangan Lokal
  • Pusat Studi Energi dan Sumber Daya Alam
  • Pusat Pengolahan Lahan Terdegradasi dan Bekas Tambang
  • Pusat Studi Penyakit Degeneratif
  • Pusat Kajian Wisata
  • Pusat Studi Perancangan Hukum dan Kebijakan Publik
  • Pusat Pengembangan Riset Sistem Peradilan Pidana (PERSADA)
  • Porsmouth Brawijaya Centre for Global, Health, Population and Policy
  • Pusat Studi Pembangunan Desa (PPs Desa)
  • Pusat Studi Molekul Cerdas Berbasis Sumber Genetik Alami

Pusat Layanan[sunting | sunting sumber]

Pusat layanan dibawah ini merupakan gabungan dari LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) dan LP3M (Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu) yang meliputi:[97][98]

  • Pusat Pelayanan Pengembangan Teknologi Tepat Guna
  • Pusat Pelayanan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (P4M)
  • Pusat Layanan Konsultasi dan Pengolahan Data
  • Pusat Layanan Kuliah Kerja Nyata
  • Pusat Pengembangan Manajemen Penelitian (PHK)
  • Pusat Inkubator Bisnis dan Layanan Masyarakat (PIBLAM)
  • Peningkatan Publikasi Internasional Karya Ilmiah Dosen (PPIKID)
  • Pusat Pembinaan Agama
  • Pusat Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian
  • Pusat Pengembangan Aktivitas Teknologi Pembelajaran
  • Pusat Informasi, Dokumen, dan Keluhan
  • Pusat Pengembangan Relevansi Pendidikan
  • Pusat Pengembangan Pendidikan Akademik dan Profesional
  • Pusat Pengembangan Manajemen Pendidikan
  • Pusat Urusan Internasional
  • Pusat Jaminan Mutu
  • Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD)
  • Pusat Pemeringkatan

LSIH[sunting | sunting sumber]

LSIH atau Laboratorium Sentral Ilmu Hayati merupakan laboratorium pusat yang ada di UB dengan spesialisasi di bidang keilmuan hayati. Bidang ini meliputi ilmu-ilmu dasar Biologi, Agrikompleks, Kedokteran, serta ilmu-ilmu yang terkait lainnya. LSIH diresmikan pada 26 Juli 2007 dan menjadi sentra laboratorium utama di Indonesia yang telah berstandar Internasional ISO 9001. LSIH memiliki kewenangan penuh dalam melakukan pelayanan bagi peneliti, uji bahan, dan pelatihan untuk kepuasan pengguna.[99][100]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ http://www.seameo.org/asaihl/
  2. ^ http://auap.sut.ac.th/index.php?option=com_content&task=view&id=52&Itemid=82
  3. ^ https://ub.ac.id/id/about/
  4. ^ http://kelembagaan.ristekdikti.go.id/
  5. ^ https://www.topuniversities.com/where-to-study/asia/indonesia/guide#tab=0
  6. ^ https://prasetya.ub.ac.id/berita/UB-Akan-Pusatkan-Fasilitas-Keolahragaan-di-Kampus-Dieng-17457-id.html
  7. ^ http://www.radarmalang.id/ub-jadi-kampus-terbaik-se-indonesia/
  8. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q http://oldsite.ub.ac.id/id/9_publication/45tahun/bab6/index.php
  9. ^ a b c d e f g https://ub.ac.id/id/about/history/
  10. ^ a b http://tubepornclassic.com/videos/147124/the-strange-case-of-dr-jeckel-and-ms-hide/
  11. ^ https://nl.spankbang.com/11gjq/video/skd+16
  12. ^ a b c d e https://historia.id/kuno/articles/asal-usul-raden-wijaya-P14Rz
  13. ^ a b https://prasetya.ub.ac.id/berita/Maba-UB-Senang-Menerima-Jas-Almamater-17909-id.html
  14. ^ https://ub.ac.id/id/about/ub-brand/
  15. ^ a b https://prasetya.ub.ac.id/berita/Keputusan-Senat-Singkatan-UB-Gantikan-Unibraw-5023-id.html
  16. ^ a b https://ub.ac.id/id/about/ub-brand/
  17. ^ a b Muljana, S. 2005. Menuju Puncak Kemegahan. Sejarah kerajaan Majapahit. Hal. 187. Yogyakarta: LKiS.
  18. ^ a b Munandar, A.A. 2008. Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian. Hal. 69. Jakarta: Komunitas Bambu.
  19. ^ https://tirto.id/mengapa-negara-majapahit-bubar-cGBs
  20. ^ Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Devie Ayu Paramitha, Titin Sumarni, Suwasono Heddy; (2014). "EVALUASI KELAPA SAWIT (Elaesis guineensis) SEBAGAI POHON TEPI JALAN DI UNIVERSITAS BRAWIJAYA". fp.ub.ac.id. Diakses tanggal 29 April 2015. 
  21. ^ Universitas Brawijaya, Prasetya Online (28 November 2008). "UB Tanam 1600 Pohon dan Lestarikan Burung Lokal". prasetya.ub.ac.id. Diakses tanggal 29 April 2015. 
  22. ^ https://pilrek.ub.ac.id/
  23. ^ a b https://malangtoday.net/malang-raya/kota-malang/masuk-ub-satu-orang-harus-mengalahkan-22-pendaftar-lainnya/
  24. ^ https://ugm.ac.id/id/berita/9723-ugm.peringkat.satu.di.indonesia
  25. ^ https://selma.ub.ac.id/en/daftar-program-studi-universitas-brawijaya-snmptn-2017
  26. ^ https://prasetya.ub.ac.id/berita/BAN-PT-UB-Terakreditasi-A-2995-id.html
  27. ^ http://oldsite.ub.ac.id/id/9_publication/45tahun/bab1/1.php#1_1
  28. ^ https://ub.ac.id/about/accreditation/
  29. ^ http://lp3m.ub.ac.id/terakreditasi-a-program-studi-disiapkan-go-international/
  30. ^ https://edukasi.kompas.com/read/2013/03/23/14153259/ukt.universitas.brawijaya.terendah.rp.2.7.juta
  31. ^ https://selma.ub.ac.id/en/biaya-pendidikan-mahasiswa-baru-jalur-snmptn-dan-sbmptn-tahun-2018/
  32. ^ https://selma.ub.ac.id/en/biaya-pendidikan-s1-jalur-seleksi-mandiri-20182019/
  33. ^ https://www.jpnn.com/news/tak-ada-kenaikan-biaya-perkuliahan-di-universitas-brawijaya
  34. ^ http://ika.ub.ac.id/beasiswa-ika-ub-semester-ganjil-ta-20182019/
  35. ^ https://tirto.id/universitas-brawijaya-banyak-peminat-uang-kuliah-mahal-cpiU
  36. ^ https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3559678/kampus-brawijaya-pilihan-terfavorit-pilihan-mahasiswa-baru
  37. ^ https://ub.ac.id/id/information-for/staff-and-lecture/
  38. ^ http://belmawa.ristekdikti.go.id/2017/08/01/7147/
  39. ^ http://www.kampusundip.com/2016/08/pengertian-pkm-dan-pimnas-yang-wajib.html
  40. ^ http://makassar.tribunnews.com/2017/08/27/daftar-penyelenggara-pimnas-sejak-1988-hingga-2017-dan-juara-umum
  41. ^ https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20170829111215-445-238028/universitas-brawijaya-hattrick-di-pekan-ilmiah-mahasiswa/
  42. ^ https://malangkota.go.id/2018/05/26/mentan-ri-beri-kuliah-tamu-di-universitas-brawijaya/
  43. ^ https://prasetya.ub.ac.id/berita/UB-Raih-Penghargaan-Perguruan-Tinggi-dengan-Komersialisasi-Paten-Terbanyak-16680-id.html
  44. ^ https://ristekdikti.go.id/penghargaan-sinta-awards-tahun-2018/
  45. ^ http://www.netralnews.com/news/pendidikan/read/121173/meski-kantongi-hak-paten-komersialisasi-hasil-riset-tak-mudah
  46. ^ http://risbang.ristekdikti.go.id/wp-content/uploads/2018/01/Kekuatan-50-Institusi-Ilmiah-Indonesia.pdf
  47. ^ http://suryamalang.tribunnews.com/2016/10/13/fakultas-agrokomplek-ub-naik-pangkat-ini-harapan-pak-rektor
  48. ^ "Pemeringkatan Perguruan Tinggi - Ristekdikti". pemeringkatan.ristekdikti.go.id. Diakses tanggal 2018-07-23. 
  49. ^ Sicca, Shintaloka Pradita. "Persoalan di Balik Rendahnya Peringkat Kampus-Kampus Indonesia - Tirto.ID". tirto.id. Diakses tanggal 2018-07-23. 
  50. ^ https://tirto.id/persoalan-di-balik-rendahnya-peringkat-kampus-kampus-indonesia-cMUZ
  51. ^ http://greenmetric.ui.ac.id/overall-ranking-2017/
  52. ^ http://www.webometrics.info/en
  53. ^ https://www.topuniversities.com/qs-stars#sorting=overall+country=+rating=+order=desc+orderby=uni+search=
  54. ^ http://www.shanghairanking.com/
  55. ^ https://news.okezone.com/read/2010/12/09/373/401549/gedung-kampus-ub-dalam-bingkai-foto
  56. ^ http://suryamalang.tribunnews.com/2017/11/03/kurangi-kepadatan-kampus-utama-universitas-brawijaya-kembangkan-fasilitas-kampus-2
  57. ^ https://prasetya.ub.ac.id/berita/Rektor-UB-Resmikan-Lapangan-Sepak-Bola-di-Kampus-Dieng-18805-id.html
  58. ^ https://prasetya.ub.ac.id/berita/Rusunawa-UB-Terbaik-Se-Indonesia-19698-id.html
  59. ^ a b https://prasetya.ub.ac.id/berita/Vakum-Dua-Tahun-UB-Kampus-III-Kediri-Kini-Aktif-Kembali-18881-id.html
  60. ^ https://www.kedirikota.go.id/post/5208/Wali-Kota-Kediri-Persempit-Kampus-Universitas-Brawijaya
  61. ^ http://surabaya.tribunnews.com/2015/02/11/mahasiswa-ub-kediri-kami-capek-kuliah-mondar-mandir
  62. ^ https://duta.co/evaluasi-tim-dikti-kampus-ub-kediri-dipastikan-segera-resmi-dibuka/
  63. ^ https://prasetya.ub.ac.id/berita/Peresmian-UB-Kampus-Jakarta-1162-id.html
  64. ^ https://prasetya.ub.ac.id/berita/Rektor-Resmikan-Penggunaan-Gedung-UB-Pasca-Sarjana-Jakarta-dan-Sekretariat-IKA-UB-18923-id.html
  65. ^ https://ub.ac.id/id/campus-life/general-facilities/
  66. ^ https://prasetya.ub.ac.id/press/Jam-Layanan-Perpustakaan-UB-Tertinggi-di-Indonesia-18975-en.html
  67. ^ https://malangvoice.com/resmikan-masjid-raden-patah-ub-wakapolri-puji-dua-hal-ini/
  68. ^ https://ub.ac.id/id/campus-life/medical-facilities/
  69. ^ http://poliklinik.ub.ac.id/id
  70. ^ http://rumahsakit.ub.ac.id/id/rsub-sah-bergelar-paripurna/
  71. ^ http://akreditasi.kars.or.id/accreditation/report/report_accredited.php
  72. ^ http://rumahsakit.ub.ac.id/id/layanan/
  73. ^ http://www.fk.ub.ac.id/pendidikan/program-pendidikan/
  74. ^ http://www.fk.ub.ac.id/peresmian-gedung-pendidikan-terpadu-ii-fkub-rssa/
  75. ^ http://www.fk.ub.ac.id/peresmian-gedung-pendidikan-terpadu-ii-fkub-rssa/
  76. ^ http://www.timesmalang.com/read/29616/20180606/202025/ub-resmikan-gedung-pendidikan-terpadu-ii-fk-ubrssa/
  77. ^ https://prasetya.ub.ac.id/berita/UB-Resmikan-Rumah-Sakit-Hewan-Pendidikan-FKH-18565-id.html
  78. ^ http://www.trobos.com/detail-berita/2016/06/03/57/7567/universitas-brawijaya-miliki-rs-hewan-5-lantai
  79. ^ https://fkh.ub.ac.id/id/rsh-ub-layani-igd-khusus-hewan/
  80. ^ https://ub.ac.id/id/campus-life/facilities/
  81. ^ https://prasetya.ub.ac.id/berita/Rektor-UB-Resmikan-Lapangan-Sepak-Bola-di-Kampus-Dieng-18805-id.html
  82. ^ https://prasetya.ub.ac.id/berita/SSB-Unibraw-82-Petik-Prestasi-di-Tingkat-Lokal-Hingga-Dunia-14912-id.html
  83. ^ https://bola.kompas.com/read/2018/04/26/19020018/universitas-brawijaya-gagas-pendirian-akademi-sepak-bola
  84. ^ https://www.malangtimes.com/baca/22778/20171126/201431/bustomi-dapat-tawaran-dari-rektor-universitas-brawijaya-apa-itu/
  85. ^ https://ongisnade.wordpress.com/2008/12/09/ssb-unibraw-pengorbit-pesepakbola-andal/
  86. ^ https://ub.ac.id/id/campus-life/student-activity-unit/
  87. ^ https://form.jotform.me/71081636473457
  88. ^ http://psld.ub.ac.id/in/menkeu-sri-mulyani-resmikan-rumah-layanan-disabilitas-psldub/
  89. ^ a b https://www.malangtimes.com/baca/27620/20180516/085545/difabel-berdaya-mahasiswa-ub-gandeng-pemkot-malang-bentuk-metamorphose-home/
  90. ^ http://www.radarmalang.id/ub-dorong-pemerintah-penuhi-fasilitas-untuk-difabel/
  91. ^ http://m.akurat.co/id-245209-read-difodeaf-aplikasi-penerjemah-bahasa-isyarat-karya-mahasiswa-malang
  92. ^ https://www.merdeka.com/peristiwa/kelompok-riset-universitas-brawijaya-ciptakan-kursi-roda-pintar-untuk-difabel.html
  93. ^ https://selma.ub.ac.id/en/seleksi-program-khusus-penyandang-disabilitas/
  94. ^ http://suryamalang.tribunnews.com/2018/06/22/difodeaf-aplikasi-buatan-mahasiswa-universitas-brawijaya-untuk-penyandang-tunarungu
  95. ^ http://www.radarmalang.id/anjas-pramono-mahasiswa-tunadaksa-langganan-go-international/
  96. ^ http://lppm.ub.ac.id/pusat-studi/
  97. ^ http://lppm.ub.ac.id/pusat-pelayanan/
  98. ^ http://lp3m.ub.ac.id/layanan/
  99. ^ http://lsih.ub.ac.id/
  100. ^ https://www.youtube.com/watch?v=5O8oIGK3ZDo