General Dynamics F-16 Fighting Falcon

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari F-16)
Lompat ke: navigasi, cari
General Dynamics F-16 Fighting Falcon
Lockheed-logo Winnie-Mae.png

F-16 Fighting Falcon.jpg
F-16 pada Perang Irak, Maret 2003.
Tipe Pesawat tempur
Terbang perdana 2 Februari 1974
Diperkenalkan 17 Agustus 1978
Status Aktif
Pengguna utama Indonesia
Pengguna lain 24 negara lainnya
Jumlah produksi Lebih dari 4.000
Harga satuan US$18,8 juta (1998)
Varian General Dynamics F-16XL
Mitsubishi F-2
YF-16 (bawah) dan saingannya, YF-17.
Berkas:F-16 TNI AU.jpg
F-16 TNI AU tiba di lanud Biak dalam rangka latihan Tangkis Sergap 2015
IAF 0170.jpg
Pesawat F-16/Fighting Falcon mengadakan (Escort) pengawalan udara terhadap pesawat kepresidenan saat berkunjung ke Lanud Iswahjudi.

F-16 Fighting Falcon adalah jet tempur multi-peran supersonik yang dikembangkan oleh perusahaan General Dynamics (lalu kemudian di akuisisi oleh Lockheed Martin), untuk Angkatan Udara Amerika Serikat. Pesawat ini awalnya dirancang sebagai pesawat tempur superioritas udara namun akhirnya berevolusi menjadi pesawat tempur multi-peran yang sangat populer. Kemampuan F-16 untuk bisa dipakai untuk segala macam misi inilah yang membuatnya sangat sukses di pasar ekspor, dan dipakai oleh 24 negara selain Amerika Serikat.[1] Pesawat ini sangat popular di mata international dan telah digunakan oleh 25 angkatan udara di seluruh Dunia. F-16 merupakan proyek pesawat tempur blok Barat yang paling besar dan signifikan, dengan jumlah sekitar 4000 unit F-16 sudah diproduksi sejak tahun 1976. Pesawat ini sudah tidak diproduksi untuk Angkatan Udara Amerika Serikat, tetapi masih diproduksi untuk ekspor. Pada tahun 1993 General Dynamics menjual bisnis pembuatan pesawat ini kepada Lockheed Corporation, yang selanjutnya menjadi bagian dari Lockheed Martin setelah melakukan merger dengan Martin Marietta pada tahun 1995.

F-16 sendiri dikenal memiliki kemampuan tempur di udara yang sangat baik, dengan inovasi seperti tutup kokpit tanpa bingkai yang memperjelas penglihatan, gagang pengendali samping untuk memudahkan kontrol pada kecepatan tinggi, dan kursi kokpit yang dirancang untuk mengurangi efek g-force pada pilot. Pesawat ini juga merupakan pesawat tempur pertama yang dibuat untuk menahan daya belokan pada percepatan 9g. F-16 mempunyai senapan M61 Vulcan pada bagian dalam badan pesawat serta 11 lokasi pylon untuk mnggotong senjata dan peralatan misi lainya. Nama resmi dari F-16 sendiri ialah"Fighting Falcon", tetapi "Viper" lebih umum digunakan oleh kru darat dan pilot-pilot pesawat tersebut, karena kemiripan bentuknya dengan ular Viperidae dan Starfighter Colonial Viper dari acara TV Battlestar Galactica.[2][3]

F-16 kini aktif pada Angkatan Udara Amerika Serikat, Komando Cadangan Angkatan Udara, serta unit Garda Nasional Udara. Pesawat ini juga digunakan oleh angkatan udara di 25 Negara lainya.[4] Sampai dengan tahun 2015, pesawat ini merupakan pesawat bersayap kaku dengan jumlah terbanyak yang dipakai oleh kecabangan militer di dunia.[5]


Sejarah Pengembangan[sunting | sunting sumber]

F-16 pada Farnborough Airshow 2008.
F-16 TNI-AU saat sedang latihan
Teknisi Sedang menyiapkan bom mk-82 yang akan di pasang ke F-16
F-16 TNI AU

Pada tahun 1960-an, Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat menyimpulkan bahwa masa depan pertempuran udara akan ditentukan oleh peluru kendali yang semakin modern. Dan bahwa pesawat tempur masa depan akan digunakan untuk mengejaran jarak jauh, berkecepatan tinggi, dan menggunakan sistem radar yang sangat kuat untuk mendeteksi musuh dari kejauhan. Ini membuat desain pesawat tempur masa ini lebih seperti interseptor daripada pesawat tempur klasik. Pada saat itu, Amerika Serikat menganggap pesawat F-111 (yang pada saat itu masih dalam tahap pengembangan) dan F-4 Phantom akan cukup untuk kebutuhan pesawat tempur jarak jauh dan menengah, dan didukung oleh pesawat jarak dekat bermesin tunggal seperti F-100 Super Sabre, F-104 Starfighter, dan F-8 Crusader.

Penempur Ringan[sunting | sunting sumber]

Pada masa Perang Vietnam, Amerika Serikat menyadari bahwa masih banyak kelemahan pada pesawat-pesawat mereka, terutama kebutuhan akan superioritas udara dan pelatihan yang lebih baik untuk pilot-pilot pesawat tempur.[6] Peluru kendali udara ke udara pada masa itu masih memiliki banyak masalah, dan pemakaiannya juga dibatasi oleh aturan-aturan tertentu. Selain itu, pertempuran di udara lebih banyak berbentuk pertempuran jarak dekat dimana kelincahan di udara dan senjata jarak dekat sangat diperlukan.

Kolonel John Boyd mengembangkan teori energi-manuver pada pertempuran pesawat tempur berdasarkan pengalamannya pada saat terjadinya Perang Korea dibantu oleh Matematikawan Thomas P. Christie, yang bergantung pada sayap yang besar untuk bisa melakukan manuver udara yang baik. Teori tersebut mensyaratkan pesawat tempur untuk memiliki beban tubuh yang ringan, sehingga bisa bermanuver tanpa banyak menghasilkan kehilangan energi, dan juga mesin dengan rasio dorong-berat yang tinggi..[7][8] Di akhir tahun 1960-an, Boyd mengumpulkan penemu-penemu yang berpikiran sama dengan dia dan mendirikan organisasi Mafia Pesawat Tempur, dan berhasil mengamankan pendanaan dari Kementrian Pertahanan Amerika Serikat pada tahun 1969, bersama dengan General Dynamics dan Northrop untuk mengadakan penelitian atas teori tersebut.[9][10]

Sayap yang lebih besar akan menghasilkan gesekan yang lebih besar saat terbang, dan biasanya menghasilkan jarak jangkau yang lebih sedikit dan kecepatan maksimum yang lebih kecil. Boyd menganggap pengorbanan jarak dan kecepatan perlu untuk menghasilkan pesawat yang bisa bermanuver dengan baik. Pada saat yang sama, pengembangan F-111 menemui banyak masalah, yang mengakibatkan pembatalannya, dan munculnya desain baru, yaitu F-14 Tomcat. Dorongan Boyd tentang pentingnya pesawat yang lincah, gagalnya program F-111, dan munculnya informasi tentang MiG-25 yang saat itu kemampuan dibesar-besarkan membuat Angkatan Udara Amerika Serikat memulai perancangan pesawat mereka sendiri, yang akhirnya menghasilkan F-15 Eagle.

Pada saat pengembangannya, F-15 berevolusi menjadi besar dan berat seperti F-111. Ini membuat Boyd frustrasi dan ia pun meyakinkan beberapa petinggi Angkatan Udara lain bahwa F-15 membutuhkan dukungan dari pesawat tempur yang lebih ringan. Grup petinggi Angkatan Udara ini menyebut diri mereka "fighter mafia", dan mereka bersikeras akan dibutuhkannya program Pesawat Tempur Ringan (Light Weight Fighter, LWF).

Pada Mei 1971, Kongres Amerika Serikat mengeluarkan laporan yang mengkritik tajam program F-14 dan F-15. Kongres mengiyakan pendanaan untuk program LWF sebesar US$50 juta, dengan tambahan $12 juta pada tahun berikutnya. Beberapa perusahaan memberikan proposal, tetapi hanya General Dynamics dan Northrop yang sebelumnya sudah memulai perancangan dipilih untuk memproduksi prototip. Pesawat mereka mulai diuji pada tahun 1974. Program LWF awalnya merupakan program evaluasi tanpa direncanakan pembelian versi produksinya, tetapi akhirnya program ini diubah namanya menjadi Air Combat Fighter, dan Angkatan Udara AS mengumumkan rencana untuk membeli 650 produk ACF. Pada tanggal 13 Januari 1975 diumumkan bahwa YF-16 General Dynamics mengalahkan saingannya, YF-17.

Varian[sunting | sunting sumber]

Varian F-16 ditandai oleh nomor blok yang menandakan pembaruan yang signifikan. Blok ini mencakup versi kursi tunggal dan kursi ganda.

F-16 A/B[sunting | sunting sumber]

F-16A Norwegia diatas daerah Balkan.
F-16 dan AGM-154
F-16 dan cluster bomb

F-16 A/B awalnya dilengkapi Westinghouse AN/APG-66 Pulse-doppler radar, Pratt & Whitney F100-PW-200 turbofan, dengan 14.670 lbf (64.9 kN), 23.830 lbf (106,0 kN) dengan afterburner. Angkatan Udara AS membeli 674 F-16A dan 121 F-16B, pengiriman selesai pada Maret 1985.

Blok 1
Blok awal (Blok 1/5/10) memiliki relatif sedikit perbedaan. Sebagian besar diperbarui menjadi Blok 10 pada awal 1980-an. Ada 94 Blok 1, 197 Blok 5, dan 312 Blok 10 yang diproduksi. Blok 1 model awal produksi dengan hidung dicat hitam.
Blok 5
Diketahui kemudian bahwa hidung hitam menjadi identifikasi visual jarak jauh untuk pesawat Blok 1, sehingga warnanya diubah menjadi abu-abu untuk Blok 5 ini. Pada F-16 Blok 1, ditemukan bahwa air hujan dapat berkumpul pada beberapa titik di badan pesawat, sehingga untuk Blok 5 dibuat lubang saluran air.
Blok 10
Pada akhir 1970-an, Uni Soviet secara signifikan mengurangi ekspor titanium, sehingga produsen F-16 mulai menggunakan alumunium. Metode baru pun dilakukan: aluminium disekrup ke permukaan pesawat Blok 10, menggantikan cara pengeleman pada pesawat sebelumnya.
Blok 15
Perubahan besar pertama F-16, pesawat Blok 15 ditambahkan stabiliser horizontal yang lebih besar, ditambah dua hardpoint di bagian dagu, radar AN/APG-66 yang lebih baru, dan menambah kapasitas hardpoint bawah sayap. F-16 diberikan radio UHF Have Quick II. Blok 15 adalah varian F-16 yang paling banyak diproduksi, yaitu 983 buah. Produksi terakhir dikirim pada tahun 1996 ke Thailand. Indonesia memiliki varian ini sebanyak 12 unit.
Blok 15 OCU
Mulai tahun 1987 pesawat Blok dikirim ke dengan memenuhi standar Operational Capability Upgrade (OCU), yang mencakup mesin F100-PW-220 turbofans dengan kontrol digital, kemamampuan menembakkan AGM-65, AMRAAM, dan AGM-119 Penguin, serta pembaruan pada kokpit, komputer, dan jalur data. Berat maksimum lepas landasnya bertambah menjadi 17.000 kg. 214 pesawat menerima pembaruan ini, ditambah dengan beberapa pesawat Blok 10.
Blok 20
150 Blok 15 OCU untuk Taiwan dengan tambahan kemampuan yang serupa dengan F-16 C/D Blok 50/52: menembakkan AGM-45 Shrike, AGM-84 Harpoon, AGM-88 HARM, dan bisa membawa LANTIRN. Komputer pada Blok 20 diperbarui secara signifikan, dengan kecepatan proses 740 kali lipat, dan memori 180 kali lipat dari Blok 15 OCU.:

F-16 C/D

Varian F-16 C/D adalah varian yang paling banyak diproduksi. Awalnya diperlengkapi dengan radar Westinghouse AN/APG-68, mesin Pratt & Whitney F100, versi-versi selanjutnya juga diperlengkapi dengan turunan radar AN/APG-68, dan juga radar phased array Northrop Grumman AN/APG-80, selain juga mesin General Electric F110 yang lebih bertenaga dibanding Pratt & Whitney F100. Beberapa Block terbaru juga diperlengkapi pod infra merah seperti LANTRIN, LITENING, dan SNIPER untuk memudahkan operasi malam hari, dan pemboman presisi di segala cuaca.

Block 25

Ini adalah varian pertama F-16 C/D dan pertama kali diperkenalkan di tahun 1984. Dibandingkan dengan F-16 A/B, versi ini diperlengkapi radar AN/APG-68 yang memungkinkan perbaikan kinerja untuk operasi malam hari. Selain juga memiliki sistem penembakan dan persenjataan yang lebih baik. Awalnya diperlengkapi dengan mesin Pratt & Whitney F100-PW-200, beberapa pesawat kemudian juga diperlengkapi mesin F100-PW-220E yang lebih bertenaga.

Block 30/32

Block ini adalah varian produksi F-16 pertama yang terdampak oleh program Alternative Fighter Engine Project. Mulai diperkenalkan tahun 1987, tidak seperti versi F-16 terdahulu, pada Block produksi ini beberapa pesawat menggunakan mesin General Electric F110 dan diberi kode Block 30, sementara yang menggunakan mesin Pratt & Whitney F100 diberi kode Block 32. Karena tenaga mesin General Electric lebih besar, kemudian diperkenalkan juga varian Block 30D yang mempunyai intake lebih besar agar kinerja mesin optimal.

Dari segi persenjataan varian ini adalah model pertama yang sanggup menggotong rudal AGM-45 , AGM-88, dan AIM-120. Untuk membantu operasional malam hari, Block ini kemudian diupgrade agar bisa menggunakan pod pembidik LITENING.

F-16 C/D terbaru milik TNI-AU, walaupun sering disebut sebagai F-16 Block 52ID, sebenarnya adalah F-16 Block 32+ atau F-16 Block 32 dengan tambahan fitur-fitur teknologi ala Block 52[11].

Block 40/42

Mulai diperkenalkan tahun 1988, F-16 Block 40/42 adalah pengembangan Block 30/32 yang diperlengkapi dengan pod infra merah LANTRIN, roda pendarat yang lebih tinggi dan lebih kuat, varian radar yang lebih canggih, dan antena GPS.

Block 50/52

Varian yang diperkenalkan pada tahun 1991 ini mempunyai fitur bisa membawa jenis senjata yang jauh lebih banyak daripada pendahulunya, dan sistem navigasi yang lebih handal. Dari segi tenaga, Block ini diperlengkapi dengan mesin yang lebih bertenaga, yaitu General Electric F110-GE-129 untuk Block 50, dan Pratt & Whitney F100-PW-229 untuk Block 52.

Block 50/52 Plus

F-16 Block 50/52 Plus merupakan pengembangan dari Block 50/52. Perbedaan dibanding pendahulunya antara lain tangki bahan bakar tambahan di badan, yang sering disebut sebagai Conformal Fuel Tank, bagian "punuk" (dorsal spine) untuk avionik tambahan, generator oxygen (OBOGS), helm JHMCS yang memungkinkan pilot membidik sasaran melalui pandangan di helm, dan radar APG-68(V9).

Salah satu turunan dari version ini yang cukup terkenal adalah F-16I Sufa milik Angkatan Udara Israel, yang pada dasarnya adalah F-16D Block 52 yang dimodifikasi dengan mengganti 50% avioniknya dengan avionik buatan Israel sendiri.

F-16 E/F Block 60[12]

Kode ini awalnya akan diperuntukan untuk F-16XL yang memiliki konfigurasi sayap "cranked arrow". Sementara Block 60 tadinya akan dipakai untuk varian serang darat F-16, yaitu A-16. Namun karena semua proyek itu dibatalkan, akhirnya kode ini tidak jadi dipakai.

F-16 E/F Block 60 baru dihidupkan lagi sewaktu Uni Emirat Arab berniat untuk memesan pesawat tempur baru. Varian untuk Angkatan Udara Uni Emirat Arab ini merupakan pengembangan dari Block 50 Plus. Beberapa fitur teknologinya membuatnya menjadi salah satu varian tercanggih F-16 yang pernah diproduksi. Tidak seperti pendahulunya yang menggunakan radar pulse dopper AN/APG-68, varian ini menggunakan radar phased array "Agile Beam" AN/APG-80 yang memungkinkan pesawat tempur untuk mengunci dan menyerang target di darat dan udara secara bersamaan. Mesin yang digunakan adalah General Electric F110-GE-132 bertenaga 32,500 lbf (144 kN) yang merupakan mesin bertenaga paling besar yang pernah dipakai untuk F-16. Varian ini juga diperlengkapi dengan kamera infra merah yang terpasang paten di badan pesawat (seperti yang ditemui di pesawat MiG-29 dan Sukhoi Su-27) yaitu Northrop Grumman AN/ASQ-28. Hal ini memungkinkan pesawat F-16 Block 60 membawa senjata lebih banyak dibanding pendahulunya.

Varian ini diproduksi antara tahun 2004 hingga 2007, dan sejauh ini hanya dioperasikan oleh Angkatan Udara Uni Emirat Arab.

Operator[sunting | sunting sumber]

Pengguna F-16 di dunia
  • Amerika Serikat
  • Bahrain
  • Belgia
  • Belanda
  • Chile
  • Denmark
  • Indonesia
  • Irak
  • Israel
  • Korea Selatan
  • Maroko
  • Mesir
  • Norwegia
  • Oman
  • Pakistan
  • Polandia
  • Portugal
  • Singapura
  • Taiwan
  • Thailand
  • Turki
  • Uni Emirat Arab
  • Venezuela
  • Yordania
  • Yunani

Spesifikasi (F-16C Blok 30)[sunting | sunting sumber]

Orthographically projected diagram of the F-16.

General Electric F-110-GE-100

Ciri-ciri umum

  • Kru: 1
  • Panjang: 49 ft 5 in (15.06 m)
  • Rentang sayap: 32 ft 8 in (9.96 m)
  • Tinggi: 16 ft (4.88 m)
  • Luas sayap: 300 ft² (27.87 m²)
  • Airfoil: NACA 64A204 root and tip
  • Berat kosong: 18,900 lb (8,570 kg)
  • Berat isi: 26,500 lb (12,000 kg)
  • Berat maksimum saat lepas landas: 42,300 lb (19,200 kg)
  • Mesin: 1 × F110-GE-100 afterburning turbofan

Kinerja

  • Laju maksimum:
    • At sea level: Mach 1.2 (915 mph, 1,470 km/h)
    • At altitude: Mach 2+ (1,500 mph, 2,410 km/h) clean configuration
  • Radius tempur: 340 mi (295 nmi, 550 km) on a hi-lo-hi mission with four 1,000 lb (450 kg) bombs
  • Jangkauan feri: 2,280 NM (2,620 mi, 4,220 km) with drop tanks
  • Langit-langit batas: 50,000+ ft (15,240+ m)
  • Laju tanjak: 50,000 ft/min (254 m/s)
  • Beban sayap: 88.3 lb/ft² (431 kg/m²)
  • Dorongan/berat: 1.095

Persenjataan

Avionik

LANTIRN dan LITENING F-16

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

F-16 yang diubah menjadi aerial drone QF-16
Sept. 19, 2013: Boeing and the U.S. Air Force completed the first unmanned QF-16 Full Scale Aerial Target flight at Tyndall Air Force Base, demonstrating the next generation of combat training and testing.
Pengembangan yang berhubungan
Pesawat sebanding dalam peran, konfigurasi, dan era

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ F-16 Fighting Falcon
  2. ^ Aleshire 2005, p. xxii.
  3. ^ Peacock 1997, p. 100.
  4. ^ Stout, Joe and Laurie Quincy. "United States Government Awards Lockheed Martin Contract to Begin Production of Advanced F-16 Aircraft for Morocco." Archived 4 January 2009 di the Wayback Machine. Lockheed Martin press release, 8 June 2008. Retrieved 11 July 2008.
  5. ^ "Strength in numbers: The World's Top 10 military aircraft types". Flight global. Reed Business Information. 9 January 2015. Diakses tanggal 30 October 2015. 
  6. ^ Spick 2000, p. 190.
  7. ^ Hillaker, Harry. ""John Boyd, USAF Retired, Father of the F-16."". Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 June 2009. Diakses tanggal 7 June 2008.  Code One: An Airpower Projection Magazine, April/July 1997. Retrieved 21 August 2011.
  8. ^ Code One, April & July 1991. Retrieved 21 August 2011.
  9. ^ Richardson 1990, pp. 7–8.
  10. ^ Coram 2002, pp. 245–46.
  11. ^ "F-16 Air Forces - Indonesia". www.f-16.net. Diakses tanggal 2016-10-27. 
  12. ^ "F-16 Versions - F-16E/F". www.f-16.net. Diakses tanggal 2016-10-27. 

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

video