Eulji Mundeok

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Eulji Mundeok
Nama Korea
Hangeul 을지문덕
Hanja 乙支文德
Alih Aksara yang Disempurnakan Eulji Mundeok
McCune–Reischauer Ŭlchi Mundŏk

Eulji Mundeok merupakan seorang pemimpin militer terkenal pada awal abad ke-7 Goguryeo, salah satu dari Tiga Kerajaan Korea. Seringkali disebutkan di antara pahlawan terhebat di dalam sejarah militer Korea, ia membela Goguryeo melawan Sui, Cina. Namanya kerap diromanisasikan sebagai Ulchi Mundok menurut romanisasi McCune-Reischauer.

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Eulji dilahirkan di pertengahan abad ke-6 dan diperkirakan wafat setelah tahun 618, meskipun tanggal tepatnya tidak diketahui. Haedong myeongjangjeon (Biografi Jenderal Korea Terkenal), yang dituliskan pada abad ke-18 Joseon, menyatakan bahwa ia berasal dari Gunung Seokda (石多山) di Pyongyang. Pada saat ia lahir, kerajaan Goguryeo telah berkembang menjadi kerajaan yang berkuasa dan sebuah negara berperang, yang secara konstan berperang dengan tetangga-tetangganya, berbagai negara seperti negara-negara Cina ke arah utara dan barat, dan saingan kerajaan Korea Silla dan Baekje ke arah tenggara dan barat daya.

Kekuatan seimbang dirawat di antara Tiga Kerajaan Korea, sampai pengaruh dari luar, boleh dikatakan lebih besar Dinasti Tang, Cina, akhirnya mengambil keuntungan dari Silla. Pada tahun 589, Dinasti Sui telah unifikasi Cina untuk pertama kalinya sejak runtuhnya Dinasti Han lebih dari tiga abad sebelumnya. Sui sebelumnya melancarkan beberapa kampanye militer besar melawan Goguryeo yang tidak rela menyerah kepada dominan Sui.

Eulji Mundeok (beberapa sarjana Korea menyatakan bahwa Eulji 乙支 di dalam namanya merupakan sebuah bentuk dari ranking atau gelar di Goguryeo) merupakan seorang pria yang terpelajar, cakap baik di "mun" (문, 文) politik dan "mu" (무, 武) ilmu militer. Ia akhirnya naik pangkat menjadi Perdana Menteri Goguryeo.

Perang Sungai Salsu[sunting | sunting sumber]

Setelah pendirian Dinasti Sui pada tahun 589, kedamaian berbahaya dicapai selama beberapa tahun antara dinasti Cina yang baru dan Goguryeo. Pada tahun 597, bagaimanapun juga, Goguryeo Raja Yeongyang melancarkan penggerebekan di seberang Sungai Liao, yang merupakan perbatasan tradisional dengan Cina. Sebagai balasannya, Sui menyerang Goguryeo, namun invasi itu gagal karena pasukan invasi tersebut terpencar oleh badai topan.

Pada awal abad ke-7, bagaimanapun juga, kaisar Sui yang baru Yangdi mempelajari rahasia korespondensi Goguryeo dengan Kerajaan Turkik Timur. Yangdi mengambil sikap keras dan meminta Raja Yeongyang untuk datang dan menyerah secara pribadi kepada Sui atau menghadapi "tur kerajaan atas wilayah-wilayahnya". Ketika Raja Yeongyang gagal untuk menyerah seperti yang diharapkan, Yangdi mempersiapkan peperangan. Ia mengumpulkan pasukan lebih dari 1,133,800 orang dan lebih dari 2 juta alat pembantu dan secara pribadi memimpin mereka melawan Goguryeo pada tahun 612. Mereka dengan cepat memporakporandakan pertahanan di perbatasan Goguryeo, berkemah di tepi Sungai Liao dan bersiap-siap untuk menyeberanginya. Eulji Mundeok, yang bekerja sebagai Panglima Tertinggi, dipanggil untuk membantu membela negara, dan menyiapkan pasukannya untuk bertempur dengan pasukan Sui dengan strategi mundur palsu, menipu dan menyerang.

Setelah pasukan Sui menyeberangi Sungai Liao, sebuah kontigen kecil dikirimkan untuk menyerang kota Goguryeo di Liaodong, namun Panglima Tertinggi Eulji mengirim Laksamana Gang I-sik dan pasukannya untuk bertemu dan mengusir mereka keluar. Karena hujan memburuk, pasukan Sui melancarkan serangan kecil, tetapi tertahan untuk penyerangan besar sebelum hujan berakhir.

Ketika hujan berhenti, Yangdi memindahkan pasukannya ke tepi Sungai Yalu di bagian barat laut Korea dan mempersiapkan perang utama. Memerangi hanya perang kecil pada waktu dan tempat pilihannya, ia menarik pasukan Sui jauh dari pusat pasokan mereka. pasukan bantuan Sui yang terdiri lebih dari 305,000 orang dikirimkan ke kota Pyongyang. Setelah mengizinkan pasukan mendekati kota, Panglima Tertinggi Eulji menyergapnya. Pasukannya menyerang dari sgala arah, mengusir pasukan Sui keluar dalam kepanikan mereka. Pasukannya mengejar pasukan yang melarikan diri dan membunuh mereka hampir seluruhnya; di dalam catatan dinyatakan bahwa hanya 2,700 orang yang selamat dari pasukan besar tersebut kembali ke markas utama Cina. Perang ini, Perang Salsu, dianggap sebagai salah satu kemenangan militer yang paling baik di dalam sejarah nasional Korea. (Dikabarkan bahwa Eulji telah membangun sebuah dam yang besar di atas sungai Salsu yang membuat dangkal air, dan karena pasukan Sui menyeberangi dam yang rusak, membebaskan aliran air yang besar ke pasukan yang tidak menyangka akan terjadinya hal tersebut, kemudian menyapu habis hampir seluruh pasukan dalam satu pasukan). Setelah perang, musim salju dimulai dan pasukan Sui kekurangan provisi terpaksa mundur dan kembali pulang.

Kematian[sunting | sunting sumber]

Eulji Mundeok dapat mempertahankan Benteng Sin dari invasi Sui namun ia wafat tak lama setelah itu.

Dinasti Sui mulai hancur dan Yangdi memutuskan bahwa ia terdesak utuk mengembangkan kerajaannya di dalam upayanya untuk mendapatkan kekuasan, namun dua serangan lagi atas Goguryeo oleh Yangdi di musim semi berikutnya menemui bencana yang mirip, dan akhirnya pemberontakan internal di Cina memaksa Sui untuk mengabaikan hasratnya pada Goguryeo. Pada tahun 618, masa hidup Dinasti Sui yang relatif singkat itu digantikan oleh Dinasti Tang. Strategi dan kepemimpinan Panglima Tertinggi Eulji Mundeok telah melindungi Goguryeo dari ekspansi Cina di Semenanjung Korea.

Warisan[sunting | sunting sumber]

Di Korea, Eulji Mundeok dikenal sebagai salah satu figur yang terhebat di dalam sejarah nasional. Selama masa pemerintahan Hyeonjong di dalam periode Goryeo, sebuah tempat pemujaan Eulji Mundeok didirikan di dekat Pyongyang. Di dalam periode Joseon, ia tetap menjadi sosok yang dihormati. Yang Seong-ji, seorang sarjana dan birokrat ranking tinggi pada awal Joseon, dan An Jeong-bok, sejarawan Silhak dari Joseon Akhir, keduanya menganggap tinggi akannya. Terlebih lagi, Raja Sukjong dari Joseon memerintahkan untuk mengkonstruksi sebuah tempat pemujaan lainnya untuk menghormati Eulji Mundeok pada tahun 1680.

Sekarang jalan pintas utama di pusat kota Seoul, Euljiro, dinamakan Eulji Mundeok. Dekorasi Penghargaan yang kedua di dalam Militer tertinggi di Korea Selatan, Jasa Militer Perdana Menteri Lord Eulji, juga dinamakan sama untuk menghormatinya.

Karya gubahan Eulji Mundeok, Eulji Mundeok Hansi, merupakan salah satu puisi yang tertua yang masih ada di dalam kesusastraan Korea.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Gabriel, Richard A. and Donald W. Boose, “The Korean Way of War: Salsu River”, from The Great Battles of Antiquity: A Strategic and Tactical Guide to Great Battles that Shaped the Development of War. Westport, CN: Greenwood Press, 1994.

Lihat Pula[sunting | sunting sumber]

Didahului oleh:
Yeon Taejo
Magniji Goguryeo
??
Diteruskan oleh:
Akhirnya Yeon Gaesomun