Etnosentrisme

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Etnosentrisme adalah penilaian terhadap kebudayaan lain atas dasar nilai dan standar budaya sendiri.[1][halaman dibutuhkan] Orang-orang etnosentris menilai kelompok lain relatif terhadap kelompok atau kebudayaannya sendiri, khususnya bila berkaitan dengan bahasa, perilaku, kebiasaan, dan agama. Perbedaan dan pembagian etnis ini mendefinisikan kekhasan identitas budaya setiap suku bangsa.[2] Etnosentrisme mungkin tampak atau tidak tampak, dan meski dianggap sebagai kecenderungan alamiah dari psikologi manusia, etnosentrisme memiliki konotasi negatif di dalam masyarakat.[3]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ John T. Omohundro (2008). Thinking like an Anthropologist: A practical introduction to Cultural Anthropology. McGraw Hill. ISBN 0-07-319580-4. 
  2. ^ Margaret L. Andersen, Howard Francis Taylor (2006). Sociology: Understanding a Diverse Society. Wadsworth. ISBN 0-534-61716-6. 
  3. ^ Shimp, Terence. Sharma, Shubhash. "Consumer Ethnocentrism: Construction and Validation of the CETSCALE. Journal of Marketing Research. 24 (3). Aug 1987. 280–289.

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • Ankerl, G. Coexisting Contemporary Civilizations: Arabo-Muslim, Bharati, Chinese, and Western. Geneva: INU PRESS, 2000, ISBN 2-88155-004-5
  • Reynolds, V., Falger, V., & Vine, I. (Eds.) (1987). The Sociobiology of Ethnocentrism. Athens, GA: University of Georgia Press.
  • Salter, F. K., ed. 2002. Risky Transactions. Trust, Kinship, and Ethnicity. Oxford and New York: Berghahn.
  • Seidner, S. S. (1982). Ethnicity, Language, and Power from a Psycholinguistic Perspective. Bruxelles: Centre de recherche sur le pluralinguisme.
  • van den Berghe, P. L. (1981). The ethnic phenomenon. Westport, CT: Praeger.
  • Martineau, H. (1838). "How to Observe Morals and manners". Charles Knight and Co., London.
  • Wade, Nicholas, "Depth of the Kindness Hormone Appears to Know Some Bounds," New York Times, 10 January 2011.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]