Etnosentrisme

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Etnosentrisme adalah penilaian terhadap kebudayaan lain atas dasar nilai sosial dan standar budaya sendiri.[1] Orang-orang etnosentris menilai kelompok lain relatif terhadap kelompok atau kebudayaannya sendiri, khususnya bila berkaitan dengan bahasa, perilaku, kebiasaan, dan agama. Perbedaan dan pembagian etnis ini mendefinisikan kekhasan identitas budaya setiap suku bangsa.[2] Etnosentrisme mungkin tampak atau tidak tampak, dan meski dianggap sebagai kecenderungan alami dari psikologi manusia, etnosentrisme memiliki konotasi negatif di dalam masyarakat.[3]

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Etnosentrisme merupakan salah satu praktik memandang atau menilai budaya orang lain berdasarkan nilai atau kepercayaan diri sendiri. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani "ethnos," yang memiliki arti bangsa, dan "kentron," yang berarti pusat. Maka dari itu, etnosentrisme melibatkan bangsa untuk menjadi sebuah pusat. Etnosentrisme menitik beratkan perilaku menerapkan budaya atau etnis sendiri sebagai acuan untuk menilai budaya, praktik, perilaku, kepercayaanyya kepada orang. Dalam ilmu sosial, etnosentrisme menilai budaya lain berdasarkan standar budaya sendiri, bukan standar budaya tertentu lainnya.[4]

Aspek[sunting | sunting sumber]

Aspek dari etnosentrisme adalah sebagai berikut.

  • Setiap masyarakat selalu memiliki sejumlah ciri kehidupan sosial yang dapat dihipotesiskan sebagai sindrom.
  • Sindrom-sindrom etnosentrisme secara fungsional berhubungan dengan susunan dan keberadaan kelompok serta persaingan antarkelompok.
  • Adanya generalisasi bahwa semua kelompok menunjukkan sindrom tersebut seperti kelompok intra yang aman dan pengremehan terhadap kelompok luar.[5]
  • Perbedaan fisik (biologis). perbedaan lingkungan (geografis), perbedaan kekayaan (status sosial), perbedaan kepercayaan. dan perbedaan norma sosial.[6]

Faktor[sunting | sunting sumber]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Secara sejarah, etnosentrisme dapat dipicu Ketika individu memiliki kaitan erat dengan sejarah keluarga di masa lalu mengenai suatu peristiwa perkembangan identitas, maka dirinya akan merasa memiliki kebudayaan tersebut. Berbagai identitas tersebut yakni berupa bahasa, kebiasaan, hingga peristiwa masa lalu yang berasal dari nenek moyang.[7]

Multikulturalisme[sunting | sunting sumber]

Etnosentrisme ini akan terjadi ketika kondisi lingkungan sosial yang beragam dan berisik tentunya, terkadang timbul perasaan untuk membandngkan hingga terjadi konflik. Hal ini disebabkan oleh terjadi beberapa kebudayaan saling bertemu.[7]

Situasi Politik[sunting | sunting sumber]

Etnosentrisme akan muncul dari buah pikiran seseorang atau bersama kelompok unuk mencapai suatu kekuasaan yang dilegitimasi. Biasanya akan timbul sendiri perasaan fanatisme terhadap identitas yang melekat pada dirinya. Hal ini terjadi lantaran politik seringkali dianggap salah satu wadah yang tepat untuk melancarkan kepentingan pribadi dan kelompok.[7]

Loyalitas[sunting | sunting sumber]

Etnosentrisme akan timbul ketika budaya yang kuat membuat individu yang berada dalam kelompok memiliki rasa loyalitas dan lebih dalam dan lebih cenderung mengikuti norma dan mengembangkan hubungan dengan anggota terkait.[4]

Jenis[sunting | sunting sumber]

Etnosentrisme ada dua jenis sebagai berikut.

  • Etnosentrisme fleksibel diartikan sebagai cara seseorang yang bisa belajar cara mengendalikan ego dan persepsi dengan tepat. Dalam menghadapi kenyataan dunia, di mana terdapat banyak suku dan golongan, upaya objektif masih dilakukan ketika memandang seseorang dari kelompok lain.
  • Berlainan dengan fleksibel, etnosentrisme infleksibel dijelaskan sebagai wujud seseorang yang tidak bisa memahami orang dari kelompok lain yang latar belakang budayanya berbeda. Mereka dengan sikap tidak toleransi hanya menilai secara subjektif dan berdasarkan kebiasaan di kelompoknya.[8]

Dampak[sunting | sunting sumber]

Dalam masyarakat multikultural, etnosentrisme dapat menyebabkan kesalahpahaman terhadap kebudayaan masyarakat lain. Salah paham dapat terjadi khususnya terhadap hal-hal yang dianggap suci bagi suatu masyarakat. Perilaku menyimpang yang dapat timbul adalah kemarahan dan sterotipe terhadap kebudayaan masyarakat lain. Sebaliknya, etnosentrisme dapat memperkuat unsur kebudayaan suatu masyarakat. Adanya pandangan tentang perbedaan kebudayaan dapat mempererat persatuan masyarakat di kebudayaan lainnya.[9] Kesetiakawanan yang kuat akan tercipta tanpa kritik pada etnis atau kelompok bangsanya sendiri yang disertai prasangka terhadap kelompok bangsa yang lain.[10] Konflik yang timbul akibat etnosentrisme lebih diakibatkan adanya perbedaan paham dengan kebudayaan lain.[9] Kecenderungan yang terjadi adalah menilai budaya dari bangsa lain dipandang lebih rendah dari budaya sendiri.[10] Maka dari itu, etnosentrisme berpeluang untuk menghambat keserasian interaksi dan komunikasi antar etnik.[6]

Solusi[sunting | sunting sumber]

Etnosentrisme terjadi karena adanya permasalahan sosial budaya. Maka dari itu, solusi yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut.

  • Menghidupkan kembali kearifan lokal masyarakat
  • Menanamkan paham multibudaya
  • Menanamkan jiwa nasionalisme
  • Mengurangi fanatisme yang berlebihan
  • Bersikap toleransi
  • Menumbuhkan empati
  • Menumbuhkan sikap inklusif[11]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ John T. Omohundro (2008). Thinking like an Anthropologist: A practical introduction to Cultural Anthropology. McGraw Hill. ISBN 0-07-319580-4. 
  2. ^ Margaret L. Andersen, Howard Francis Taylor (2006). Sociology: Understanding a Diverse Society. Wadsworth. ISBN 0-534-61716-6. 
  3. ^ Shimp, Terence. Sharma, Shubhash. "Consumer Ethnocentrism: Construction and Validation of the CETSCALE. Journal of Marketing Research. 24 (3). Agustus 1987. 280–289.
  4. ^ a b Sendari, Anugerah Ayu (2020-11-25). Kinapti, Tyas Titi, ed. "Etnosentrisme adalah Cara Pandang dalam Berbudaya, Kenali Dampaknya". Liputan6.com. Diakses tanggal 2021-12-12. 
  5. ^ Endraswara, Suwardi (2006). Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Widyatama. hlm. 33. ISBN 978-979-661-087-7. 
  6. ^ a b Sari, Elia Nurindah; Samsuri (2020). "ETNOSENTRISME DAN SIKAP INTOLERAN PENDATANG TERHADAP ORANG PAPUA". Jantro (Jurnal Antropologi dan Isu-Isu Sosial). 2 (2): 143. doi:https://doi.org/10.25077/jantro.v22.n1.p142-150.2020 Periksa nilai |doi= (bantuan). 
  7. ^ a b c Anggraini, Mutia (2020-11-04). Anggraini, Mutia, ed. "Etnosentrisme Adalah Bentuk Fanatisme, Ketahui Faktor Hingga Dampak Negatifnya". Merdeka.com. Diakses tanggal 2021-12-12. 
  8. ^ Prinada, Yuda. "Mengenal Etnosentrisme, Tipe dan Apa Saja Dampaknya". tirto.id. Diakses tanggal 2021-12-12. 
  9. ^ a b Rahman, M. T. (2011). Glosari Teori Sosial (PDF). Bandung: Ibnu Sina Press. hlm. 20. ISBN 978-602-99802-0-2. 
  10. ^ a b Loda, Damasius Yoseph Leko (2014). PEMBANGUNAN SOSIAL DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEN. Pamekasan: Duta Media Publishing. hlm. 55. ISBN 978-602-74115-9-3. 
  11. ^ Sabat, Olivia. "Etnosentrisme Berkait dengan Konflik, Apa Faktor Penyebab dan Dampaknya?". detikcom. Diakses tanggal 12 Desember 2021. 

Bahan bacaan[sunting | sunting sumber]

  • Ankerl, G. Coexisting Contemporary Civilizations: Arabo-Muslim, Bharati, Chinese, and Western. Jenewa: INU PRESS, 2000, ISBN 2-88155-004-5.
  • Reynolds, V., Falger, V., & Vine, I. (Eds.) (1987). The Sociobiology of Ethnocentrism. Athena: University of Georgia Press.
  • Salter, F. K., ed. 2002. Risky Transactions. Trust, Kinship, and Ethnicity. Oxford dan New York: Berghahn.
  • Seidner, S. S. (1982). Ethnicity, Language, and Power from a Psycholinguistic Perspective. Bruxelles: Centre de recherche sur le pluralinguisme.
  • van den Berghe, P. L. (1981). The ethnic phenomenon. Westport: Praeger.
  • Martineau, H. (1838). "How to Observe Morals and manners". Charles Knight and Co., London.
  • Wade, Nicholas, "Depth of the Kindness Hormone Appears to Know Some Bounds", New York Times, 10 Januari 2011.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]