Elis Suryani

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Elis Suryani N.S (lahir di Tasikmalaya, Mei 1962) adalah seorang sastrawan, budayawan, penulis, dan dosen di Universitas Padjadjaran.[1]

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Berawal dari kehidupan masa kecilnya yang terbiasa dengan lingkungan Sunda, dosen Jurusan Sastra Sunda Fakultas Sastra Unpad, Dra. Elis Suryani Nani Sumarlina, MS., atau yang lebih dikenal dengan Elis Suryani N.S. menjadi tertarik mendalami berbagai hal yang berhubungan dengan kesundaan.[2]Tujuannya tak lain adalah untuk ngaraksa, ngariksa, tur ngamumule (menjaga, memelihara sekaligus melestarikan) budaya Sunda.[2] Terlebih lagi kakeknya adalah seorang budayawan dan seniman berbagai alat musik tradisional, sedangkan ibunya seorang penembang, juru kawih.[2] Sejak kecil ia sudah bisa bermain gamelan, menembang, bahkan menari tarian Sunda.[2]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Setelah Elis lulus dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG), ia kemudian melanjutkan studi di Jurusan Sastra Sunda Fakultas Sastra Unpad melalui jalur Penerimaan Minat dan Kemampuan (PMDK) dengan mengambil bidang linguistik dan berhasil lulus dengan predikat cum laude pada tahun 1986 dengan skripsinya berjudul Bahasa Sunda Dialek Kabupaten Tasikmalaya.[2] Setelah lulus menjadi sarjana, oleh dosen pembimbingnya A. Marzuki kala itu, Elis diajak menjadi asisten dosen dan dibimbing untuk mendalami bidang leksikografi atau ilmu perkamusan, mengingat masih jarang orang yang mendalaminya.[2] Tidak cukup dengan ilmu tersebut, Elis kemudian mengambil Kajian Utama Filologi saat melanjutkan studi di Program Magister Ilmu Sastra Fakultas Sastra Unpad untuk lebih mendalami naskah-naskah Sunda kuno.[2] Dan pada tahun 1990 meraih gelar Magister Sain (S2) di Fakultas Pascasarjana Universitas Padjadjaran dengan Kajian Utama Filologi, melalui tesis berjudul Wawacan Panji Wulung: Sebuah Kajian Filologis, yang ditempuhnya dalam waktu kurang dari dua setengah tahun.[1] Kini tercatat sebagai Kandidat Doktor pada Konsentrasi Filologi, Program Pascasarjana (S3) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran.[1]

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

Buku yang pernah diterbitkan, diantaranya [1]:

  • Kamus Bahasa Naskah dan Prasasti Sunda Abad ke-11 s.d 18 (2000;2001)
  • Magic yang Terungkap dalam Khazanah Naskah Sunda: Tinjauan Filologis dan Analisis Fungsi (2000)
  • Peran Wanita Sunda dalam Karya Sastra Sunda: Suatu Kajian Gender (2002)
  • Kamus Bahasa Sunda Kuno-Indonesia (2003)
  • Kamus Bahasa Sunda Buhun (2005)
  • Mengenal Aksara, Naskah, dan Prasasti Sunda(2008)
  • Keanekaragaman Budaya Sunda Buhun (2007)
  • Cerita Lisan Tatar Sunda (2008)
  • Merumat Warisan Karuhun Orang Sunda yang Terpendam dalam Naskah dan Prasasti (2008)
  • Kaparigelan Maca jeung Nulis Aksara Sunda (2008)
  • Dongeng Tatar Sunda (2008)
  • Filologi dan Leksikografi (2008)
  • Kaparigelan Maca jeung Nulis Aksara Sunda (2008)
  • Kearifan Lokal Budaya Sunda yang Tercermin dalam Naskah dan Prasasti (2009)
  • Pemimpin Ideal ala Sunda (2009)
  • Kampung Naga di Antara Himpitan Modernisasi (2009)
  • Kearifan Budaya Sunda (2010)
  • Menguak Tabir Kampung Naga (2010)
  • Badingkut (2010)
  • Kumpulan Puisi Lalakon Hirup jeung Kahirupan (2010)
  • Calakan Aksara, Basa, Sastra, katut Budaya Sunda (2011)
  • Ragam Pesona Budaya Sunda (2011)
  • Kamaheran jeung Kaparigelan Aksara Sunda (2011)
  • dan Kiat Jitu Menjadi Pemimpin Legendaris (2011)

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Ia pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Padjdjaran selama dua periode, masa bakti 1995-2002.[1] Penerima penghargaan Satya Lencana dari Presiden RI (2004 dan 2009), dan 2011 dan Tanda jasa Honorary Police 'Polisi Kehormatan' (2008) serta Golden Police Award (2009) dari Kapolwil Priangan.[1]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f Elis Suryani (2012). Filologi. Bogor: Ghalia Indonesia. hlm. 167. ISBN 978-979-450-625-7. 
  2. ^ a b c d e f g Marlia (19 Juni 2011), Dra. Elis Suryani NS, MS., “Masih Banyak yang Belum Digali dari Kearifan Lokal Budaya Sunda”, Bandung, diakses tanggal 03 April 2014 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]