Lompat ke isi

Efek Rumah Kaca (grup musik)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Efek Rumah Kaca
Efek Rumah Kaca di The Sounds Project 8, Agustus 2025
Efek Rumah Kaca di The Sounds Project 8, Agustus 2025
Informasi latar belakang
AsalJakarta, Indonesia
Genre
Tahun aktif2001—sekarang
Label
  • Paviliun Records
  • Aksara
  • Jangan Marah Records
  • Efek Rumah Kaca
Artis terkaitPandai Besi
Situs webefekrumahkaca.net
AnggotaCholil Mahmud
Akbar Bagus Sudibyo
Poppie Airil
Reza Ryan
Mantan anggotaAdrian Yunan Faisal

Efek Rumah Kaca, atau biasa disingkat ERK, adalah grup musik indie yang berasal dari Jakarta. Terdiri dari Cholil Mahmud (vokal utama, gitar), Poppie Airil (vokal latar, bass), Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar), dan Reza Ryan (gitar). Mereka dikenal oleh para pecinta musik di Indonesia karena lagu-lagu mereka yang banyak menyentuh dan memotret keadaan sosial masyarakat di sekitar mereka pada semua tingkatan. Sampai sekarang, band ini sudah merilis empat album studio, yaitu Efek Rumah Kaca (2007), Kamar Gelap (2008), Sinestesia (2015)[1] dan Rimpang (2023). Mereka juga merilis satu album mini, yaitu Jalan Enam Tiga (2020).[2]

2001–2007: Awal mula dan Efek Rumah Kaca

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2001, Cholil Mahmud bersama Adrian Yunan Faisal, Hendra dan Sita membuat sebuah band. Akbar Bagus Sudibyo baru ikut masuk setelah diperkenalkan oleh teman mereka. Dua tahun kemudian, Hendra dan Sita keluar dari band karena kesibukkan masing-masing.[3] Setelah berganti nama menjadi Hush dan Superego, akhirnya mereka memutuskan memakai nama Efek Rumah Kaca.[4]

Pada tahun 2007, mereka merilis album pertama mereka, Efek Rumah Kaca yang terjual lebih dari 5.000 kopi.[5]

2008–2011: Kamar Gelap

[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 19 Desember 2008, mereka merilis album baru yaitu Kamar Gelap. Album ini merilis 3 singel yaitu Kenakalan Remaja di Era Informatika, Mosi Tidak Percaya, dan Balerina. Album ini mendapatkan tiga nominasi sekaligus, yaitu "Karya Produksi Alternatif Terbaik" di ajang Anugerah Musik Indonesia, "The Best Cutting Edge" di MTV Indonesia Music Awards, dan "Editors’ Choice Awards: Rookie of the Year" dari Rolling Stone Indonesia. Efek Rumah Kaca kemudian memenangkan dua penghargaan terakhir tersebut.

Pada Mei 2010, mereka mendirikan sebuah label rekaman indie, Jangan Marah Records, dengan harapan dapat mewadahi band-band kreatif yang tidak diterima oleh label besar.[6] Band-band yang bernaung di bawah label Jangan Marah Records antara lain Efek Rumah Kaca, Bangku Taman, dan Zeke Khaseli.[7]

2012–2014: Hiatus dan pembentukan Pandai Besi

[sunting | sunting sumber]

Efek Rumah Kaca menggunakan formasi yang lebih banyak personil ketika tampil di sebuah festival pada Juni 2012, yang kemudian melahirkan proyek baru bernama Pandai Besi. Jadwal konser yang padat dan kondisi kesehatan Adrian menghambat proses penyelesaian album ketiga Efek Rumah Kaca. Keterbatasan kemampuan bermusik, rutinitas pekerjaan kantor, dan kondisi kesehatan Adrian menjadi pemicu bagi Cholil dan Akbar untuk mencari celah yang tepat agar bisa terus berkarya. Mereka mengundang empat orang teman musisi yang sengaja dipilih karena latar belakang dan selera musik yang berbeda untuk mendaur ulang lagu-lagu Efek Rumah Kaca. Mereka akhirnya mengaransemen ulang sembilan lagu dari album sebelumnya ke dalam sebuah album baru di bawah nama "Pandai Besi", berjudul Daur Baur, yang secara harfiah berarti daur ulang, selaras dengan tema albumnya.

Pada Maret 2013, Pandai Besi merekam lagu-lagu aransemen ulang tersebut di Lokananta, Surakarta, melalui metode urun dana (crowdfunding) dari para penggemar. Karena banyaknya permintaan publik akan rilisan fisik, pada 29 Juni 2013, Demajors Records secara resmi merilis salinan fisik album tersebut. Daur Baur mendapat pujian dari para kritikus musik. Rolling Stone Indonesia menulis, "Jika Pandai Besi adalah sebuah band baru dan ini adalah materi lagu yang baru, maka album Daur Baur akan menjadi album debut terbaik Indonesia sejak album pertama Efek Rumah Kaca..." The Jakarta Globe mengatakan, "Seluruh album dipenuhi dengan kejutan-kejutan yang menyenangkan. Hampir setiap trek berakhir jauh dari tempat ia bermula. Mungkin hal terbaik yang bisa dikatakan tentang Pandai Besi adalah bahwa band ini terdengar seperti entitas tersendiri, tanpa beban dari persona utamanya yang lebih terkenal. Lagu-lagunya membuat versi asli terdengar seperti demo..."[8]

2015: Sinestesia

[sunting | sunting sumber]

Setelah masa hiatus Efek Rumah Kaca, pada 10 Juli 2015, band ini merilis sebuah singel baru berjudul "Pasar Bisa Diciptakan",[9] sebuah fragmen dari lagu "Biru" yang berangkat dari pengembangan lebih lanjut atas "Cinta Melulu", keresahan yang dirasakan band dalam proses berkesenian dan posisinya dalam industri musik. Versi lengkap dari "Biru", yang terdiri dari "Pasar Bisa Diciptakan" dan "Cipta Bisa Dipasarkan" kemudian dirilis sebulan kemudian pada Agustus.[10] Pada 18 September, Efek Rumah Kaca menggelar konser bertajuk "Pasar Bisa Dikonserkan" di Balai Sartika, Bandung,[11] tetapi menuai banyak kekecewaan dari penonton karena kendala teknis. Beberapa hari kemudian, band ini menyampaikan permintaan maaf, sekaligus merilis singel "Putih" pada hari yang sama. "Putih" dibagi menjadi dua bagian, yaitu "Tiada" dan "Ada", dan bercerita tentang keluarga. Gagasan untuk "Tiada" muncul dari percakapan mereka dengan seorang teman yang kemudian meninggal dunia sebelum lagu tersebut selesai, sementara "Ada" datang dari kebahagiaan atas kelahiran anak-anak mereka.[12]

Pada 18 Desember, band ini akhirnya merilis album ketiga mereka, Sinestesia, di iTunes secara gratis. Seluruh lagu dalam album ini dinamai sesuai warna, dengan tiap warna dinamai berdasarkan apa yang dilihat Adrian yang menderita Penyakit Behçet yang menyebabkan kehilangan penglihatannya, saat mendengarkan tiap lagu.[13]

2016-2017: Lagu terakhir bersama Adrian, lalu memutuskan bersolo karier

[sunting | sunting sumber]

Pada 12 Agustus 2016, band ini merilis sebuah singel lepas berjudul "Merdeka", yang membahas tema kemerdekaan di Indonesia.[14] Efek Rumah Kaca tampil dengan formasi lengkap dalam Soundrenaline di Bali, dan menggelar konser kejutan di Gudang Sarinah, Jakarta, bertajuk "Tiba-Tiba Suddenly Concert" karena diumumkan ke publik hanya beberapa jam sebelum pertunjukan dimulai. Itu menjadi penampilan terakhir mereka dengan formasi lengkap untuk sementara waktu, sebelum vokalis Cholil kembali ke Amerika Serikat.[15] Lagu ini menjadi lagu terakhir di mana Adrian masih dalam grup musik.

Pada tahun 2017, Adrian, basis ERK yang juga sebagai salah satu pendiri Efek Rumah Kaca, mengalami kebutaan total dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari Efek Rumah Kaca dan pada tahun yang sama, ia juga mengeluarkan album solo yang ber-genre pop folk, Sintas. Ia juga merilis singel pertamanya, yaitu "Mencar"[16]

2018-2022: Pasca kepergian Adrian

[sunting | sunting sumber]

Pada 18 Mei 2018, Efek Rumah Kaca merilis singel baru berjudul "Seperti Rahim Ibu" dengan Najwa Sihab sebagai penulis lirik. Lagu ini digunakan sebagai lagu tema untuk gelar wicara Mata Najwa.[17] Lagu ini sempat dinominasikan kategori Karya Produksi Alternatif Terbaik pada AMI Awards 2019, tetapi kalah dari lagu "Jalani Mimpi" milik Noah.[18]

Pada tahun 2020, Efek Rumah Kaca merilis album mini pertama mereka, Jalan Enam Tiga. Album ini merilis singel "Tiba-Tiba Batu". Album ini hanya mencakup empat lagu saja, yaitu "Tiba-Tiba Batu", "Normal Yang Baru", "Jalan Enam Tiga", dan "Palung Mariana". Gaya musik pada album mini ini cukup berbeda dengan album sebelumnya, dengan melodi ceria dan tempo yang up-to-beat.[2] Singel dari album ini, "Tiba-Tiba Batu" memenangkan penghargaan AMI Awards 2020 dalam kategori Duo/Grup/Kolaborasi Alternatif Terbaik.[19]

Efek Rumah Kaca merilis lagu mereka, "Sapa Pra Bencana", pada album kompilasi Detik Waktu#2: Perjalanan Karya Cipta Candra Darusman. Album ini berisi 13 lagu, yang menghadirkan musisi-musisi seperti Candra Darusman, Dian Sastrowardoyo, Morad, Oslo Ibrahim, Sandhy Sondoro, Dipha Barus, Rifan Kalbuadi, DIRA, dan Efek Rumah Kaca itu sendiri.[20] Lagu ini memenangkan kategori Duo/Grup/Kolaborasi Alternatif Terbaik pada penghargaan AMI Awards 2022.[21]

2023: Rimpang

[sunting | sunting sumber]

Pada 23 Januari 2023, Efek Rumah Kaca menggelar pemutaran eksklusif untuk album keempat mereka yang bertajuk Rimpang, sebelum dirilis secara resmi dalam format digital pada 27 Januari. Judul album ini diambil dari teori rhizome (rizoma) yang diperkenalkan dalam buku A Thousand Plateaus: Capitalism and Schizophrenia karya Gilles Deleuze dan Félix Guattari. Secara gaya musikal, album ini menampilkan gaya yang berbeda dari rilisan-rilisan sebelumnya. Rimpang menghadirkan elemen piano, keyboard, synthesizer, dan noise yang dimainkan oleh Reza Ryan.[22]

Salah satu lagu dari album ini, "Fun Kaya Fun", sempat dinominasikan dalam penghargaan AMI Awards 2023 dalam kategori Duo/Grup/Kolaborasi Alternatif Terbaik, namun kalah dengan Reality Club. Albumnya pun juga dinominasikan dalam penghargaan yang sama dalam kategori Album Alternatif Terbaik, tetapi tetap kalah dengan Reality Club.[23][24]

Gaya musikal

[sunting | sunting sumber]

Mereka mengatakan bahwa musik adalah hidup mereka. Semua yang terjadi dalam hidup mereka terlihat dalam musik mereka.[3] Mereka juga digambarkan sebagai grup musik pop dengan pesan-pesan sosial dan politik dalam lirik mereka.[3] Musik mereka dipengaruhi oleh berbagai genre musik, termasuk swing, jazz, rock, dan a cappella.[25] Pada tahun-tahun awal, mereka menyebut musik mereka sebagian besar bersifat introvert dan bertempo lambat.[26] The Smashing Pumpkins, R.E.M., dan The Smiths disebut sebagai beberapa pengaruh utama dalam musik mereka.[27]

Lagu-lagu mereka kerap mengangkat isu sosial dan politik, seperti "Cinta Melulu" yang mengkritik semakin maraknya lagu-lagu bertema cinta di Indonesia;[28] atau "Belanja Terus Sampai Mati", yang merupakan kritik terhadap materialisme dan kosumerisme.[29]

Diskografi

[sunting | sunting sumber]

Album studio

[sunting | sunting sumber]
Judul Tahun
Efek Rumah Kaca 2007
Kamar Gelap 2008
Sinestesia 2015
Rimpang 2023

Album mini

[sunting | sunting sumber]
Judul Tahun
Jalan Enam Tiga 2020
Judul Tahun Album
"Jatuh Cinta Itu Biasa Saja" 2007 Efek Rumah Kaca
"Cinta Melulu"
"Di Udara"
"Desember"
"Kenakalan Remaja di Era Informatika" 2008 Kamar Gelap
"Mosi Tidak Percaya"
"Balerina"
"Pasar Bisa Diciptakan" 2015 Sinestesia
"Biru"
"Putih"
"Merdeka" 2016 Singel non-album
"Seperti Rahim Ibu"
(menampilkan Najwa Shihab)
2018
"Tiba-Tiba Batu"[30] 2019 Jalan Enam Tiga
"Heroik" 2022 Rimpang

Penampilan tamu

Judul Tahun Artis lain Album
"Hujan Jangan Marah" 2008 album kompilasi Science In Music
"Cinta Melulu" 2019 album kompilasi Live @ Synchronize Fest 2019
"Tiada Tuhan Selain Pemilik Kapital" 2024 IKLIM sonic/panic vol.2

Penghargaan dan nominasi

[sunting | sunting sumber]
Tahun Penghargaan Kategori Nomine / karya Hasil
2008 Anugerah Musik Indonesia Karya Produksi Alternatif Terbaik "Cinta Melulu" Nominasi
MTV Indonesia Award The Best Cutting Edge Efek Rumah Kaca Menang
Rolling Stone Indonesia Rookie of the Year Menang
2009 Class Music Heroes 2009 Class Music Heroes Menang
Rolling Stone Indonesia 150 Lagu Indonesia Terbaik "Di Udara" ke-131
"Cinta Melulu" ke-143
2010 Indonesia Cutting Edge Music Awards The Best Album Kamar Gelap Menang
Favorite Alternative Song "Kenakalan Remaja di Era Informatika" Menang
2016 Indonesian Choice Awards Album of The Year Sinestesia Nominasi
Anugerah Musik Indonesia Karya Produksi Alternatif Terbaik "Merah" Nominasi
2017 Anugerah Musik Indonesia "Merdeka" Nominasi
2018 Anugerah Musik Indonesia "Seperti Rahim Ibu" Nominasi
2020 Anugerah Musik Indonesia Duo/Grup/Kolaborasi Alternatif Terbaik "Tiba-Tiba Batu" Menang
2022 Anugerah Musik Indonesia Duo/Grup/Kolaborasi Alternatif Terbaik "Sapa Pra Bencana" Menang
2023 Anugerah Musik Indonesia Duo/Grup/Kolaborasi Alternatif Terbaik "Fun Kaya Fun" Nominasi
Anugerah Musik Indonesia Album Alternatif Terbaik Rimpang Nominasi

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Setelah Tujuh Tahun, Efek Rumah Kaca Merilis Album Terbaru Secara Digital". rollingstone.co.id. 18 Desember 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-12-24. Diakses tanggal 2 Januari 2016.
  2. 1 2 Ahsan Ridhoi (31 Januari 2025). "Jalan Enam Tiga, Mini Album Baru Efek Rumah Kaca". Ruangobrol.id. Diakses tanggal 08 Juli 2025.
  3. 1 2 3 Supian, Zulhabri (July 5, 2010). "Efek Rumah Kaca — sebuah band pop sosial politik". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-01-03. Diakses tanggal June 13, 2011.
  4. Dewi, Mariani (April 12, 2009). "Efek Rumah Kaca, Making the world (and some ears) hotter with their music". The Jakarta Post. Diakses tanggal June 13, 2011.
  5. Thee, Marcel (March 4, 2009). "Efek Rumah Kaca Keeps Getting Hotter". The Jakarta Globe. Diarsipkan dari asli tanggal September 26, 2012. Diakses tanggal June 15, 2011.
  6. "Band Efek Rumah Kaca Rilis". Tempo. 5 Mei 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 7 Mei 2010. Diakses tanggal 13 Juni 2011.
  7. "THE BANDS". Jangan Marah Records. Diakses tanggal 08 Juli 2025.
  8. "Pandai Besi Refresh Themselves and the Indonesian Indie Scene". efekrumahkaca.net (dalam bahasa Inggris). 3 November 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Februari 2016. Diakses tanggal 26 Februari 2016.
  9. "Efek Rumah Kaca Rilis Single Terbaru, 'Pasar Bisa Diciptakan'". rollingstone.co.id. 13 Juli 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Maret 2016. Diakses tanggal 2 Januari 2016.
  10. "Efek Rumah Kaca Kembali dengan Eksperimentasi Lagu Melalui "Biru"". efekrumahkaca.net. 11 Agustus 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 5 Maret 2016. Diakses tanggal 25 Februari 2016.
  11. "EFEK RUMAH KACA Gelar Konser Tunggal". mtv.co.id. 18 September 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Maret 2016. Diakses tanggal 2 Januari 2016.
  12. "Press Release Lagu 'Putih' - Efek Rumah Kaca". efekrumahkaca.net. 23 September 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 29 Desember 2015. Diakses tanggal 2 Januari 2016.
  13. Widianto, Shirley (22 Januari 2016). "AlbumReviews: 'Sinestesia' by Efek Rumah". The Jakarta Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Februari 2016. Diakses tanggal 26 Februari 2016.
  14. "Efek Rumah Kaca 'Meracik' Konflik Papua dan Arti Merdeka". CNN Indonesia. 18 Agustus 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 September 2016. Diakses tanggal 6 September 2016.
  15. "Efek Rumah Kaca Gelar Konser Dadakan di Jakarta". rakyatsulsel.com. 5 September 2016. Diarsipkan dari versi asli pada 7 September 2016. Diakses tanggal 6 September 2016.
  16. Ihfandi Cahyo (2025-07-19). "Masa Transisi Adrian Yunan dan Keputusan Solo Karier". Diakses tanggal 2025-07-19.
  17. "Efek Rumah Kaca Resmi Rilis 'Seperti Rahim Ibu' di Toko Musik Digital". kumparan. 27 Mei 2016. Diakses tanggal 12 Agustus 2019.
  18. Khoiri, Agniya (30 Agustus 2018). "Daftar Lengkap Nominasi AMI Awards 2018". CNN Indonesia. Diakses tanggal 12 Agustus 2019.
  19. CNN Indonesia (27 November 2020). "Daftar Lengkap Pemenang AMI Awards 2020". CNN Indonesia. Diakses tanggal 08 Juli 2025. ;
  20. Niny Sunny. "Detik Waktu #2: Mendengar Lagu Lama dengan Nuansa Baru". SelebritiTalk. Diakses tanggal 07 Juli 2025.
  21. Dicky Ardian (14 Oktober 2022). "Daftar Lengkap Pemenang AMI Awards 2022". HOT Detik. Diakses tanggal 08 Juli 2025.
  22. Haris Prabowo, Nuran Wibisono (27 Januari 2023). "Rimpang: Kala Efek Rumah Kaca Tak Lagi Sederhana". Tirto.id. Diakses tanggal 08 Juli 2025.
  23. Revi C. Rantung, Tri Susanto Setiawan (09 November 2023). "Daftar Lengkap Pemenang AMI Awards 2023". Kompas. Diakses tanggal 08 Juli 2025.
  24. Choirul Anwar, Ilham (27 September 2023). "Daftar Nominasi AMI Awards 2023 dan Jadwal Pengumuman Pemenang". Tirto.id. Diakses tanggal 08 Juli 2025.
  25. Dewi, Mariani (12 April 2009). "Efek Rumah Kaca, Making the world (and some ears) hotter with their music". The Jakarta Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Oktober 2012. Diakses tanggal 13 Juni 2011.
  26. Dewi, Mariani (12 April 2009). "Efek Rumah Kaca, Making the world (and some ears) hotter with their music". The Jakarta Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Oktober 2012. Diakses tanggal 26 Maret 2012.
  27. Taufiqurrahman, M. (19 Desember 2009). "Rebels with a Cause". The Jakarta Post. Diarsipkan dari asli tanggal 12 Oktober 2012.
  28. "Efek Rumah Kaca". Tempo. 6 Juli 2009. Diarsipkan dari asli tanggal 3 November 2011. Diakses tanggal 26 Maret 2012.
  29. Taufiqurrahman, M. (19 Desember 2009). "Rebels with a Cause". The Jakarta Post. Diarsipkan dari asli tanggal 12 Oktober 2012. Diakses tanggal 26 Maret 2012.
  30. Nayaka, Aluna (2020-01-10). "Efek Rumah Kaca: Tiba-tiba Batu Single Review". Cultura Magazine (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2020-01-19.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]