Drumblek

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Drumblek adalah marching band tradisional yang berasal dari Kota Salatiga.[1] Kesenian ini dipelopori oleh seorang seniman bernama Didik Subiantoro Masruri akibat keterbatasan biaya untuk membeli alat musik marching band dalam rangka memeriahkan acara HUT Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1986. Saat ini, drumblek diterima dengan baik oleh masyarakat Kota Salatiga, bahkan semakin populer di kalangan masyarakat dan rutin ditampilkan dalam berbagai acara festival kesenian Kota Salatiga.[2]

Pada setiap pertunjukannya, drumblek selalu membuat semua kalangan ingin melihat kehebohan, keunikan, dan kemeriahannya. Kehadiran drumblek mampu membawa animo tersendiri bagi masyarakat. Antusiasme yang besar dari masyarakat memang terasa nyata sejak awal kemunculannya.[3] Barangkali tidak ada yang mengira bahwa drumblek akhirnya bisa berkembang secara fenomenal seperti sekarang ini, dimana "virus drumblek" yang cikal bakalnya berasal dari Desa Pancuran bisa menyebar ke kampung-kampung lain di Kota Salatiga, bahkan ke kabupaten dan kota-kota lain.[4]

Asal-usul[sunting | sunting sumber]

Kesenian drumblek muncul pertama kali pada tahun 1986 di Desa Pancuran, Kutowinangun, Tingkir, Kota Salatiga[5] dengan pencetusnya bernama Didik Subiantoro Masruri atau lebih akrab dipanggil dengan Didik Ompong.[2] Ide kreatif Didik muncul ketika Desa Pancuran diminta untuk berpartisipasi mengikuti karnaval Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) yang ke-41. Pada saat itu, acara-acara kesenian memang banyak diselenggarakan di Kota Salatiga. Acara-acara yang dimaksud adalah karnaval, pawai, dan festival budaya.

Didik awalnya memiliki keinginan membentuk marching band agar dapat berpartisipasi dalam acara tersebut, namun terbentur oleh keterbatasan dana.[6] Setelah memutar otaknya, Didik yang merupakan seorang seniman akhirnya melontarkan gagasan unik. Dia tetap membentuk marching band dengan memanfaatkan barang-barang bekas yang masih layak pakai sebagai alat musik pendukungnya, seperti bambu, drum, dan jerigen.[7][8]

Gayung bersambut, ide Didik disambut antusias oleh kawan-kawan dan remaja Desa Pancuran. Mulailah mereka bekerjasama mengumpulkan berbagai drum bekas, jerigen minyak, ember, hingga potongan bambu. Setelah semuanya terkumpul, mereka terus berlatih agar mampu tampil di ajang HUT RI ke-41.[9] Dikarenakan semua peralatan yang dipakai menggunakan barang bekas, maka pada awal latihannya suara drumblek jauh lebih berisik dibandingkan merdunya ketika ditabuh, bahkan belum membentuk irama lagu. Di sisi lain, nama “drumblek” disepakati untuk menyebut temuan kesenian tersebut mengingat alat yang digunakan mayoritas berasal dari drum bekas berbahan seng (bahasa Jawa: blek), sedangkan wadah bagi kesenian drumblek Desa Pancuran pada awal berdirinya diberi nama Drumband Tinggal Kandas, yang kemudian berganti nama menjadi Generasi Muda Pancuran (Gempar).[10]

Keseriusan latihan dari warga Pancuran membuahkan hasil ketika tampil dalam acara HUT RI ke-41. Drumblek dari Desa Pancuran sangat memikat perhatian para penonton, bahkan sampai sekarang drumblek Pancuran menjadi peserta yang dinanti-nanti oleh masyarakat setiap diadakan berbagai acara-acara di Kota Salatiga. Saat itu, drumblek hadir untuk pertama kalinya sebagai wujud apresiasi terhadap kesenian rakyat. Didik dan warga Desa Pancuran ingin menciptakan sebuah inovasi baru, sekaligus memperkenalkan budaya Kota Salatiga melalui drumblek. Dengan mengenakan kostum ala kadarnya dan theklek (bahasa Jawa: sandal yang berasal dari kayu), Drumblek Tinggal Kandas mengusung tema yang berbau politik, namun dikemas tidak terlalu vulgar, yaitu: “Jika tak dapatku sumbangkan bunga pada bangsa, maka sebutir pasir pun jadi”. Ciri yang terakhir ini telah mengantarkan mereka meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kategori pawai menggunakan theklek dengan peserta terbanyak.[11] Desa Pancuran di kemudian hari tidak hanya dikenal sebagai pencetus drumblek saja, namun juga dikenal sebagai barisan theklek sebagai ciri khasnya.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Supangkat, Eddy (2007). hlm. 32. "Drumblek adalah marching band tradisional yang berasal dari Kota Salatiga....."
  2. ^ a b Budaya Jawa. "Kesenian Drumblek, Seni Asli Salatiga". Diakses tanggal 31 Maret 2019. 
  3. ^ Nenohai, Jear. "Drumblek, Hiburan Ekonomis untuk Rakyat". Diakses tanggal 31 Maret 2019. 
  4. ^ Supangkat, Eddy (2014). hlm. 20. "Barangkali tidak ada yang mengira bahwa drumblek akhirnya bisa berkembang secara fenomenal seperti sekarang ini....."
  5. ^ Portal Berita Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. "Drumblek Unggulan Budaya Lokal Salatiga". Diakses tanggal 31 Maret 2019. 
  6. ^ Pemerintah Kota Salatiga. "Drumblek Unggulan Budaya Lokal Salatiga". Diakses tanggal 31 Maret 2019. 
  7. ^ Supangkat, Eddy (2014). hlm. 31. "Didik tetap membentuk marching band dengan memanfaatkan barang-barang bekas yang masih layak pakai sebagai alat musik pendukungnya....."
  8. ^ Portal Informasi Kota Salatiga. "Sejarah Baru Drumblek Salatiga". Diakses tanggal 31 Maret 2019. 
  9. ^ Sutantyo (2013). hlm. 31. "Ide dari Didik disambut oleh kawan-kawan lainnya di Desa Pancuran. Mereka terus berlatih agar mampu tampil di ajang HUT RI ke-41....."
  10. ^ Kampoeng Salatiga (2013). hlm. 32. "Wadah bagi kesenian drumblek Desa Pancuran pada awal berdirinya diberi nama Drumband Tinggal Kandas, yang kemudian berganti nama menjadi Generasi Muda Pancuran (Gempar)....."
  11. ^ Supangkat, Eddy (2014). hlm. 16. "Drumblek Tinggal Kandas mengusung tema yang berbau politik, namun dikemas tidak terlalu vulgar, yaitu: 'Jika tak dapatku sumbangkan bunga pada bangsa, maka sebutir pasir pun jadi'....."

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Kampoeng Salatiga (2013). Drumblek dari Salatiga Untuk Dunia. Salatiga: Kampoeng Salatiga. 
  • Supangkat, Eddy (2007). Salatiga Sketsa Kota Lama. Salatiga: Griya Media. 
  • Supangkat, Eddy (2014). Drumblek Seni Budaya Asli Salatiga. Salatiga: Kantor Perpustakaan Arsip Daerah Kota Salatiga. 
  • Sutantyo (2013). Drumblek dari Salatiga Untuk Dunia. Salatiga: Buksuling. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]