Djohor Soetan Perpatih

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Djohor Soetan Perpatih
Trio Minang penakluk Pasar Senen (1930-an).jpg
Djohor Soetan Perpatih, Djohan Soetan Soelaiman, dan Ayub Rais, trio saudagar Minang tempo doeloe.
Lahir 1902
Bendera Belanda Sawah Lunto, Hindia Belanda
Kebangsaan Bendera Indonesia Indonesia
Pekerjaan Pengusaha
Dikenal atas Pengusaha Muslim dan pribumi yang tangguh pada masa kolonial

Djohor Soetan Perpatih adalah seorang saudagar besar Minangkabau pada paruh pertama abad ke-20 atau pada masa kolonial. Bersama Abdul Ghany Aziz, Agus Musin Dasaad, Djohan Soetan Soelaiman, Samanhudi, Haji Syamsuddin, Nitisemito, dan Rahman Tamin, namanya tercatat sebagai pengusaha Muslim dan pribumi yang tangguh, yang mampu bersaing dengan pengusaha-pengusaha dari etnis lainnya.[1][2][3]

Riwayat ringkas[sunting | sunting sumber]

Djohor diminta menyusul ke Batavia oleh kakaknya Djohan, setelah usaha yang dibangun Djohan sejak kedatangannya ke Batavia pada tahun 1921 semakin berkembang. Ketika itu Djohor sedang bersekolah di Sawah Lunto.[4]

Setelah di Batavia, Djohor bahu membahu dengan kakaknya membangun usaha, dan menamai perusahaan mereka dengan nama Handelsvereeniging Djohan-Djohor (Perusahaan Dagang Djohan-Djohor) yang berbasis di Pasar Senen.[4]

Di kemudian hari, bersama kakaknya, Djohan Soetan Soelaiman, dan kongsinya Ayub Rais, mereka mengelola berbagai usaha di bawah bendera NV Djohan-Djohor yang mempunyai cabang di berbagai kota, seperti Pekalongan, Semarang, Surabaya, Bandung, dan Medan.[4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Etos Bisnis Kaum Muslim" Gatra Edisi Khusus, 16 Oktober 2006. Diakses 13 Januari 2014.
  2. ^ "Indonesia, the Rise of Capital" Richard Robison, Equinox Publishing. Diakses 13 Januari 2014.
  3. ^ "Dari buku ke buku: sambung menyambung menjadi satu" P. Swantoro, Kepustakaan Populer Gramedia. Diakses 13 Januari 2014.
  4. ^ a b c "Minang Saisuak #190 - Trio Minang penakluk Pasar Senen (1930-an)" Surya Suryadi - Singgalang, 14 September 2014. Diakses 13 Januari 2014.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]