Discovering History in China

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Discovering History in China
PengarangPaul A. Cohen
NegaraA.S.
BahasaInggris
SubjekHistoriografi Tionghoa
Diterbitkan1984; dicetak ulang 2010
ISBN9780231151924

Discovering History in China: American Historical Writing on the Recent Chinese Past (terjemahan: Menemukan Sejarah di Tiongkok: Penulisan Sejarah Amerika mengenai Masa Lalu Tiongkok Saat Ini) adalah sebuah buku karya Paul A. Cohen yang memperkenalkan pemikiran-pemikiran di belakang sejarah-sejarah Amerika mengenai Tiongkok sejak tahun 1840. Buku ini diterbitkan oleh Columbia University Press tahun 1984 dan dicetak ulang dengan sebuah kata pengantar baru pada tahun 2010.

Cohen menyajikan satu kritik simpatik mengenai paradigma dominan terkait dengan John K. Fairbank dan para sejarawan didikan Fairbank yang membentuk bidang-bidang Studi Wilayah setelah Perang Dunia II, yaitu "Respons Tiongkok terhadap Barat" (atau "respons dampak") dan "Tradisi dan Modernitas," yang populer pada tahun 1950-an, serta Imperialisme, yang mengetren pada era 1960-an sebagai respons terhadap keterlibatan Amerika Serikat di Vietnam. Cohen, yang juga pernah menjadi mahasiswa Fairbank di Universitas Harvard, melihat paradigma-paradigma tersebut menempatkan Tiongkok pada suatu peran pasif dan tidak mampu berubah tanpa dampak Barat.

Kritik Cohen[sunting | sunting sumber]

Cohen memberikan pendahuluan pada buku ini dengan menjelaskan “Orang-orang yang bukan sejarawan terkadang menganggap sejarah sebagai fakta tentang masa lalu. Para sejarawan seharusnya tahu sebaliknya.... Seiring perubahan waktu, perhatian beregeser... setiap generasi sejarawan harus menulis ulang sejarah yang telah ditulis oleh generasi sebelumnya.”[1] Ia melanjutkan, hingga Perang Dunia II, tulisan Amerika cenderung menekankan aspek-aspek yang oleh Barat sendiri paling langsung diperhatikan," suatu bias intelektual yaitu “menyamakan modern dengan Western dengan yang penting; bagi banyak sejarawan Amerika pada era ini, bahkan yang berpendidikan, tidak dapat membedakan Tiongkok yang di-Barat-kan dan Tiongkok modern.”[2]

Debat saya dalam buku ini bukan mengenai penerapan disiplin dan deskriptif dari istilah-istilah, seperti imperialisme, dampak, respons, atau bahkan modern terhadap proses atau femonena yang dibatasi spesifik dan secara tepat yang telah muncul dalam seabad terakhir sejarah Tiongkok; keberatan saya adalah penggunaan konsep-konsep tersebut sebagai gagasan intelektual yang meluas dan menyeluruh dengan tujuan memberitahu kita yang penting, dan yang secara implikasi tidak penting, mengenai satu periode waktu sejarah secara keseluruhan.[3]

Bab 1, "The Problem with 'China's Response to the West,'" ("Permasalahan dengan 'Respons Tiongkok terhadap Barat'") berfokus pada kerangka kerja "dampak dan respons" yang dipopulerkan oleh Teng Ssu-yu dan anotasi translasi Fairbank volume tahun 1954, China's Response to the West.

Bab 2, "Moving Beyond 'Tradition and Modernity'" ("Bergerak Melampaui 'Tradisi dan Modernitas'") berfokus pada tulisan-tulisan Joseph R. Levenson, Mary C. Wright, dan Albert Feuerwerker, seluruhnya didikan Fairbank. Cohen sangat meragukan analisis Joseph Levenson, dalam buku-buku, seperti Liang Ch'i-chao and the Mind of Modern China (Liang Ch'i-chao dan Pemikiran Tiongkok Modern, terbitan Harvard University Press tahun 1954, yang berasumsi bahwa Konfusianisme dan modernitas tidak kompatibel dan bahwa tatanan tradisional harus dihancurkan sebelum tatanan modern dapat dibangun. Demikian pula Mary Wright, dalam The Last Stand of Chinese Conservatism menyimpulkan bahwa bagi Tiongkok setelah Pemberontakan Taiping, “hambatan untuk adaptasi yang berhasil ke dunia modern bukanlah agresi imperialis, kekuasaan Manchu, kebodohan mandarin, atau kecelakaan sejarah, tapi tidak kurang dari unsur-unsur penyusun sistem Konfusian itu sendiri.”[4]

Bab 3. "Imperialism: Reality or Myth?" ("Imperialisme: Realitas atau Mitos?") tidak melihat konsep "imperialisme" sebagai alat yang berguna.

Bab 4. "Toward a China-Centered History of China" menyerukan agar "sejarah Tiongkok terpusat pada Tiongkok" dan memuji sejarawan-sejarawan tahun 1970-an yang telah menunjukkan caranya.[5]

Cohen kembali pada masalah-masalah penulisan sejarah melalui bukunya History in Three Keys: The Boxers as Event, Experience, and Myth, terbitan Columbia University Press tahun 1997 (ISBN 978-0231106504).

Resepsi[sunting | sunting sumber]

Sejarah Harriet Zurndorfer tentang Sinologi barat menyebut karya Cohen ini sebuah "buku yang mengungkapkan" dan "diskusi orang dalam" yang meninggalkan kesan cara sejarawan-sejarawan dapat maju melampaui "paradigma-paradigma terpusat Barat" menuju sejarah "terpusat Tiongkok" berdasarkan "yang dialami dan ditulis sejarawan Tionghoa sendiri mengenai hal yang sama."[6] Ulasan-ulasan dalam juran-jurnal profesional sebagian besar memuji buku ini. Albert Feuerwerker, menulis dalam the Journal of Asian Studies yang memuji Cohen, tapi keberatan terhadap "yang saya percayai menjadi defensif yang tidak semestinya" dalam analisis yang disebut oleh Cohen "imperialisme intelektual" para sejarawan Amerika, dan suatu "gaya tarik berlebihan" dalam memperlakukan "jejak politik yang membosankan sebagai 'paradigma'" dalam bab mengenai imperialisme."[7] Dennis Duncanson skeptis: "sayangnya ada sedikit hal baru untuk menstimulasi refleksi dalam survei yang kurang komprehensif ini," dan tidak sependapat dengan "menemukan kesalahan pada 'persepsi' orang lain."[8]

Edisi dan translasi[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Cohen (2010), hlm. ix.
  2. ^ Cohen (2010), hlm. 1.
  3. ^ Cohen (2010), hlm. 4.
  4. ^ Cohen (2010), hlm. 79.
  5. ^ Cohen (2010), hlm. 149-198.
  6. ^ Zurndorfer (1995), hlm. 38.
  7. ^ Feuerwerker (1985), hlm. 579.
  8. ^ Duncanson (1985), hlm. 131.
  9. ^ "Curriculum vitae" (pdf). Wellesley College (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 16-11-2019. 

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

  • Cohen, Paul A. (1988). "Our Proper Concerns as Historians of China: A Reply to Michael Gasster". The American Asian Review (dalam bahasa Inggris). 6 (1): 1–24. 
  • —— (1993). "Cultural China: Some Definitional Issues". Philosophy East and West. 43 (3): 557–563. doi:10.2307/1399582. JSTOR 1399582. 
  • Duncanson, Dennis (1985). "(Review)". Journal of the Royal Asiatic Society. New Series (dalam bahasa Inggris). 117 (1): 131–132. doi:10.1017/S0035869X00155510. Diakses tanggal September 2014. 
  • Feuerwerker, Albert (1985). "(Review)". The Journal of Asian Studies (dalam bahasa Inggris). 44 (3): 579–580. doi:10.2307/2056276. JSTOR 2056276. 
  • Gasster, Michael (1987). "Discovering China in the History: Some Comments on Paul Cohen's Discovering History in China". The American Asian Review. 
  • Lu, Hanchao (2007). "A Double-Sided Mirror: On Paul Cohen's Discovering History in China". The Chinese Historical Review. 14 (2): 189–191. doi:10.1179/tcr.2007.14.2.189. 
  • van de Ven, Hans (1996). "Recent Studies of Modern Chinese History". Modern Asian Studies (dalam bahasa Inggris). 30 (2): 225–269. doi:10.1017/S0026749X00016462. 
  • Xia, Mingfang (2007). "Modern Chinese History without "Modernity": Paul A. Cohen's Three Dogmas and the Logical Contradictions of the "China-Centred Approach"". Journal of Modern Chinese History (dalam bahasa Inggris). 1 (1): 53–68. doi:10.1080/17535650701521114. 
  • Harriet Zurndorfer, (1988) (Review) T'oung Pao Second Series, Vol. 74, Livr. 1/3 (1988), pp. 150–154 [1].
  • —— (1995). China Bibliography: A Research Guide to Reference Works About China Past and Present. Leiden; New York: E.J. Brill; reprint Honolulu: University of Hawa'i Press, 1999. ISBN 978-9004102781. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]