Lompat ke isi

Dinasti Chaulukya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Wilayah kekuasaan Chaulukya, sekitar 1150

Dinasti Chaulukya, yang juga dikenal sebagai Dinasti Solanki, adalah sebuah dinasti yang memerintah sebagian wilayah Gujarat dan Rajasthan di India barat laut antara sekitar 940 M hingga sekitar 1244 M. Ibu kota mereka terletak di Anahilavada (sekarang Patan). Pada beberapa periode, kekuasaan mereka meluas hingga wilayah Malwa di Madhya Pradesh saat ini. Keluarga ini juga dikenal sebagai “Dinasti Solanki” dalam literatur setempat dan termasuk dalam klan Solanki dari Rajput.[1][2][3]

Sejarah awal

[sunting | sunting sumber]

Dinasti Chaulukya merupakan salah satu dari beberapa dinasti yang bangkit di tengah kemunduran Kekaisaran Gurjara-Pratihara dan Rashtrakuta.[4] Pada pertengahan abad kesepuluh M, pendiri dinasti ini, Mularaja, menggantikan Samantasimha, raja Chavda terakhir.[5] Menurut legenda, Mularaja adalah keponakan Samantasimha.[6]

Menurut kronik abad ke-12 karya Hemachandra, Mularaja mengalahkan Graharipu, raja Saurashtra,[7] serta mengalahkan pemimpin Lata Chalukya, Barapa, dengan bantuan putranya, Chamundaraja.[8] Chamundaraja menggantikan Mularaja sekitar tahun 996 M. Pada masa pemerintahannya, raja Paramara, Sindhuraja, tampaknya menyerbu wilayah Lata yang berada di bawah kekuasaan Chaulukya. Mularaja memaksa Sindhuraja mundur; kronik abad ke-14 karya Jayasimha Suri menyebutkan bahwa Chamundaraja membunuh Sindhuraja dalam pertempuran, tetapi klaim ini diragukan karena tidak muncul dalam sumber-sumber sebelumnya.[9]

Sebelum 1007 M, wilayah Lata direbut oleh Chalukya Kalyani yang dipimpin oleh Satyashraya. Sekitar 1008 M, Chamundaraja mengundurkan diri setelah menunjuk putranya, Vallabharaja, sebagai raja berikutnya.[10] Menurut catatan legenda, ia melakukan perjalanan ziarah ke Varanasi, tetapi dihina oleh seorang penguasa di wilayah perjalanan tersebut. Ia kembali ke ibu kota Chaulukya dan meminta putranya untuk membalas penghinaan tersebut. Vallabharaja meninggal karena cacar selama perjalanan menuju kerajaan musuh, yang oleh beberapa kronikus diidentifikasi sebagai kerajaan Paramara di Malwa.[11]

Putra Chamundaraja yang lain, Durlabharaja, menjadi raja berikutnya sekitar 1008 M. Ia menyerbu wilayah Lata dan mengalahkan penguasa Lata Chalukya, Kirtiraja (atau Kirtipala), yang merupakan vasal Chalukya Kalyani. Namun, Kirtiraja berhasil merebut kembali wilayah tersebut dalam waktu singkat sebelum akhirnya dikalahkan oleh raja Paramara, Bhoja.[12]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Hermann Kulke (2004). A History of India (dalam bahasa Inggris). Psychology Press. hlm. 117. ISBN 978-0-415-32919-4. When Gurjara Pratiharas power declined after the sacking of Kannauj by the Rashtrakutkas in the early tenth century many Rajput princes declared their independence and founded their own kingdoms, some of which grew to importance in the subsequent two centuries. The better known among these dynasties were the Chaulukyas or Solankis of Kathiawar and Gujarat, the Chahamanas (i.e. Chauhan) of eastern Rajasthan (Ajmer and Jodhpur), and the Tomaras who had founded Delhi (Dhillika) in 736 but had then been displaced by the Chauhans in the twelfth century.
  2. Brajadulal Chattopadhyaya (2006). Studying Early India: Archaeology, Texts and Historical Issues (dalam bahasa Inggris). Anthem. hlm. 116. ISBN 978-1-84331-132-4. The period between the seventh and the twelfth century witnessed gradual rise of a number of new royal-lineages in Rajasthan, Gujarat, Madhya Pradesh and Uttar Pradesh, which came to constitute a social-political category known as 'Rajput'. Some of the major lineages were the Pratiharas of Rajasthan, Uttar Pradesh and adjacent areas, the Guhilas and Chahamanas of Rajasthan, the Caulukyas or Solankis of Gujarat and Rajasthan and the Paramaras of Madhya Pradesh and Rajasthan.
  3. David Ludden (2013). India and South Asia: A Short History (dalam bahasa Inggris). Simon and Schuster. hlm. 88–89. ISBN 978-1-78074-108-6. By contrast in Rajasthan a single warrior group evolved called Rajput (from Rajaputra-sons of kings): they rarely engaged in farming, even to supervise farm labour as farming was literally beneath them, farming was for their peasant subjects. In the ninth century separate clans of Rajputs Cahamanas (Chauhans), Paramaras (Pawars), Guhilas (Sisodias) and Caulukyas were splitting off from sprawling Gurjara Pratihara clans...
  4. Asoke Kumar Majumdar 1956, hlm. 1-4.
  5. John E. Cort 1998, hlm. 87.
  6. Asoke Kumar Majumdar 1956, hlm. 23-24.
  7. Asoke Kumar Majumdar 1956, hlm. 25.
  8. Asoke Kumar Majumdar 1956, hlm. 34.
  9. Asoke Kumar Majumdar 1956, hlm. 34-35.
  10. Asoke Kumar Majumdar 1956, hlm. 35.
  11. Asoke Kumar Majumdar 1956, hlm. 36-39.
  12. Krishna Narain Seth 1978, hlm. 136-137.

Bibliografi

[sunting | sunting sumber]