Diabetes insipidus
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. |
| Diabetes insipidus | |
|---|---|
| Spesialisasi | Endokrinologi, Nefrologi, Genetika kedokteran, Bedah saraf |
| Frekuensi | 1% |
Diabetes insipidus (DI) adalah suatu penyakit dengan simtoma poliuria dan polidipsia. Jenis DI yang paling sering dijumpai adalah DI sentral, yang disebabkan oleh defisiensi arginina pada hormon AVP. Jenis kedua adalah DI nefrogenis yang disebabkan oleh kurang pekanya ginjal terhadap hormon dengan sifat anti-diuretik, seperti AVP.
Penyebab
[sunting | sunting sumber]Diabetes insipidus sentral disebabkan kerusakan pada hipofisis sehingga mengganggu penyimpanan dan pelepasan hormon APV. Kerusakan hipofisis dapat disebakan oleh kecelakaan, pembedahan saraf, atau kelainan genetik.
Diabetes insipidus nefrogenis disebabkan ketidakmampuan ginjal merespons hormon APV. Kemapuan ginjal merespon hormon APV dapat terganggu akibat penggunaan obat seperti litium, antifungi, atau antibiotik maupun penyakit kronis seperti penyakit ginjal polikistik, anemia sel sabit , gagal ginjal, penyumbatan parsial uterus, hipokalemia, dan penyakit genetik turunan.[1]
Epidemiologi
[sunting | sunting sumber]Kasus diabetes insipidus jarang ditemukan dengan prevalensi 1:25.000.[2] Penyakit ini umum terjadi pada pasien yang mendapatkan bedah saraf seperti bedah kelenjar pituitari, pendarahan subarachnoid, dan cedera otak traumatik.
Patogenesis
[sunting | sunting sumber]Diabetes insipidus disebabkan gangguan pada pelepasan atau sensitivitas terhadap hormon APV yang dihasilkan pada kelenjar pituitari prosterior. Hormon APV berperan dalam regulasi keseimbangan cairan tubuh. Pada pasien diabetes isipidus akan terjadi ketidakseimbangan elektrolit, kekurangan air disertai oleh perubahan osmolalitas pada serum dan urin.
Gejala
[sunting | sunting sumber]Gejala umum yang timbul pada pasien dengan diabetes insipidus adalah:
- Sering buang air kecil pada siang dan malam hari
- Peningkatan volume urin
- Urin berwarna terang
- Mudah merasa haus dan peningkatan kosumsi air[3]
Pemeriksaan
[sunting | sunting sumber]Ada beberapa pemeriksaan pada diabetes insipidus, antara lain: pemeriksaan yang paling sederhana dan paling dapat dipercaya untuk diabetes insipidus adalah tes deprivasi air. Selama menjalani pemeriksaan ini penderita tidak boleh minum dan bisa terjadi dehidrasi berat. Oleh karena itu pemeriksaan ini harus dilakukan di rumah sakit atau tempat praktik dokter. Pembentukan air kemih, kadar elektrolit darah (natrium), dan berat badan diukur secara rutin selama beberapa jam. Segera setelah tekanan darah turun atau denyut jantung meningkat atau terjadi penurunan berat badan lebih dari 5%, maka tes ini dihentikan dan diberikan suntikan hormon antidiuretik. Diagnosis diabetes insipidus makin kuat jika sebagai respons terhadap hormon antidiuretik:
- pembuangan air kemih yang berlebihan berhenti
- tekanan darah naik
- denyut jantung kembali normal.
Apa pun pemeriksaannya, prinsipnya adalah untuk mengetahui volume, berat jenis, atau konsentrasi urin. Sedangkan untuk mengetahui jenisnya, dapat dengan memberikan vasopresin sintetis, pada diabetes insipidus sentral akan terjadi penurunan jumlah urin, dan pada diabetes insipidus nefrogenik tidak terjadi apa-apa.
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Hui, Channing; Myra, Khan; Jared, M. Radbel (16 Juni 2021). "Diabetes Insipidus". NCBI. Diakses tanggal 7 Februari 2022. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ↑ Di lorgi, Nataschia (2012). "Diabetes Insipidus: Diagnosis and Management". Hormone Research in Paediatrics. 77 (2): 69–84. doi:10.1159/000336333.
- ↑ Levy, Miles; John, Wass (28 Februari 2019). "Diabetes Insipidus". BMJ. doi:10.1136/bmj.l321.