Di Ambang Fajar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Novel Di Ambang Fajar merupakan karya Sri Subekti Subakir, Penerbit Pustaka Jaya, Jakarta tahun 1974. Novel Di Ambang Fajar mendapat hadiah pertama dari Yayasan Buku Utama pada tahun 1974. Di Ambang Fajar mengisahkan seorang anak pasangan guru dan bidan bernama Heridanto atau Herdi. Tokoh utama novel ini menderita cacat fisik atau polio. Di masa SMA-nya, Herdi berkenalan dengan Yanti, gadis cantik pindahan dari Jakarta. Yanti sering bercerita tentang kakaknya, Ria yang baru pindah dari Jakarta ke Wonosobo. Hardi dan Yanti sering terlibat dalam kegiatan di sekolahnya, seolah-olah Hardi melupakan keterbatasan fisiknya.[1]

Selepas SMA[sunting | sunting sumber]

Herdi dan Yanti selepas SMA lalu berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Indonesia, Depok. Kemudian disana mereka bergabung dengan komunitas yang akan menghadapkan mereka ke situasi yang berbeda. Sambil berorganisasi, Herdi juga memberi les privat ke siswa sekolah di sekitar kampusnya. Tak diduga, aplikasi beasiswanya diterima oleh salah satu kampus ternama di Massachuset, Amerika Serikat. Sehingga memungkinkan Herdi melanjutkan sisa studinya di Amerika Serikat.

Dua Cinta Hardi, Yanti dan Clara[sunting | sunting sumber]

Di antara kisah cinta Herdi dan Yanti terselip cerita penolakan. Rupanya kedua orang tua Yanti tidak menyukai Herdi .Di balik penolakan itu, rupanya ibu yang dipanggil ibu oleh Yanti bukanlah ibu kandungnya. Berlawanan dengan Yanti, di Massachuset Herdi bertemu seorang gadis cantik bernama Clara. Namun Clara ragu-ragu untuk tinggal bersama Herdi di Jakarta selepas kuliahnya di Massachuset. Kandas pula cinta Herdi ke Clara dan Herdi harus kembali ke Indonesia seorang diri setelah lulus. Kesendirian Herdi tidak lama, karena cintanya balik lagi ke Yanti dengan ijin restu ayah Yanti.

Pesan Moral di Novel Di Ambang Fajar[sunting | sunting sumber]

Pengarang mengangkat kisah keterbatasan fisik manusia bukanlah hambatan untuk meraih cita-cita apabila diikuti kemauan yang keras dan kuat. Hal itu diperlihatkan di novel ini pada sosok Herdi yang mengalami keterbatasan fisik karena terkena polio sejak kecil. Di akhir cerita, Herdi melanjutkan kuliahnya hingga ke luar negeri dan paling utama lagi ia akhirnya menemui cinta sejatinya Yanti.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Artikel "Di Ambang Fajar" - Ensiklopedia Sastra Indonesia". ensiklopedia.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2019-03-17.