Dewi Lara Amis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Dewi Lara Amis yang memiliki nama lain Durgandini dan Dewi Satyawati

Dewi Lara Amis adalah putri Prabu Basuripacara dari kerajaan Wirata. Dewi Lara Amis memiliki nama lain yaitu Durgandini dan Dewi Satyawati.[1] Dewi Lara Amis adalah adik dari Durgadana.[1] Ia mendapatkan nama Dewi Lara Amis karena tubuhnya berbau anyir dan busuk walaupun ia berparas cantik.[1] Bau amis yang muncul di tubuh Dewi Lara Amis ini karena ia dilahirkan oleh seekor ikan, penjelmaan Dewi Andrika.[1]

Riwayat[sunting | sunting sumber]

Tersebutlah seorang raja berdarah Kuru, Basuparicara namanya. Istananya terletak di Cediwisaya.[2] Ketika ia sedang bertapa ia mendapat anugerah sebuah kereta sakti Amarajaya dan Jimat Sakti.[2] Karena mendapat anugerah tersebut, Basuparicara dapat berbicara dan mengerti bahasa binatang.[2]

Di komplek istannya mengalirlah sebuah sungai, Suktimati namanya. Sebuah sungai besar, jernih, sejuk dan berhulu di gunung Kolagiri.[2] Gunung Kolgiri jatuh cinta kepada sungai Suktimati, ia memperkosanya dan menyebabkan sungai tersebut berhenti mengalir.[2] Dari hubungan itu lahirlah dua orang Basuprada dan Girika.[2]

Betapa murkanya Prabu Basuripacara setelah tahu bahwa penyebab tidak mengalirnya sungai Suktimati adalah gunung Kolagiri.[2] Maka disingkirkanlah gunung tersebut dari mka bumi dan dia menemukan kedua anak tadi.[2] Kedua anak tadi dibawa ke Istana dan diasuh oleh Sri Baginda Basuparicara.[2] Setelah Basuprada menjadi dewasa diangkat menjadi Panglima Perang, sedang Dewi Girika menjadi permaisuri raja.[2]

Di kala Sri Baginda berburu di tengah-tengah hutan melihat bunga yang beraneka warna, harum semerbak baunya sangat menyentuh inti perasaan sehingga membangkitkan nafsu birahinya.[2] Maka ingatlah Sang Prabu akan kecantikan Girika.[2] Seolah-olah rasanya ia sedang di peraduan bersama permaisurinya. Karena asyik berkhayal maka keluarlah kama atau spermnya yang jatuh di atas selembar daun.[2] Maka dipanggilah seekor burung elang , Syena namanya. Burung tersebut diutus membawa kamanya kepada Girika.[2] Malang sekali, di tengah jalan Syena diserang seekor burung erang lain.[2] Daun itu terkoyak dan kama Sang Prabu jatuh ke sungai Jamuna dan ditelan oleh seekor ikan betina lalu ikan itu menjadi hamil.[2]

Waktu itu Sang Prabu belum sempat membangun jembatan, maka setiap orang yang ingin menyebrang sungai Jamuna harus memakai perahu dayung.[2] Tukang mencari ikan dan mendayung perahu yang pekerjaannya menyeberangkan orang di sungai Jamuna tersebut bernama Dasabala.[2] Ikan betina tadi tertangkap olehnya.[2] Ketika ikan tersebut akan disembelihnya, menangislah ikan itu sambil menceritakan apa sebenarnya yang terjadi atas dirinya.[2] Ia kemudian melahirkan dua orang anak yaitu Matsyapati dan Lara Amis atau Durgandini.[2] Sedangkan ikan betina tersebut berubah menjadi seorang bidadari yang kemudian kembali ke kahyangan setelah mendapat kutukan dari dewa.[2] Kedua anak itu diserahkan ke hadapan Sang Prabu Basuparicara dan baginda menginsyafi bahwa kama yang dibawa oleh elang Syena memang benar-benar perintahnya, maka kedua anak tersebut diakui sebagai anaknya dan diakui sebagai putranya.[2] Tetapi karena penyakit yang di derita oleh Lara Amis, maka ia dikembalikan kepada Dasabala.[2] Ia kemudian menggantikan pekerjaan ayah angkatnya yaitu menyeberangkan orang di sungani Jamuna.[2]

Nilai Filosofi[sunting | sunting sumber]

Kisah Dewi Lara Amis ini mengandung makna bahwa hidup itu perlu dijalani.[3] Manusia perlu berani menatap kehidupan dan menjalani realitas hidupnya dengan penuh pengorbanan.[3] Jalan menuju kemuliaan tidaklah berhamburan bunga yang harum semerbak tetapi gawat, terjal da penuh dengan hambatan.[3] Semuanya pada akhirnya akan kembali pada Sangkan Paraning Dumadi atau kembali pada Sang Pencipta.[4][5] Hakikat hidup manusia akan kembali pada realitas hidupnya dan perjalanan hidup untuk semakin memperindah kehidupan dengan ambil bagian didalamnya.[4][5]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d Hadisukirno. "Dewi Durgandini". Diakses tanggal 24 April 2014. 
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y Ir.Sri Mulyono (1977). Wayang dan Karakter Manusia. Jakarta: Gunung Agung. hlm. 47 - 49. 
  3. ^ a b c Ir.Sri Mulyono (1987). Wayang dan Filsafat Nusantara. Jakarta: Gunung Agung. hlm. 16. 
  4. ^ a b Hazim Amir (1991). Nilai-Nilai Etis Dalam Wayang. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. hlm. 100. 
  5. ^ a b Heniy Astiyanto, SH (2006). Filsafat Jawa: Menggali Butir-Butir Kearifan Lokal. Yogyakarta: Warta Pustaka. hlm. 14.