Lompat ke isi

Depresi pascapersalinan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Depresi pasca persalinan atau postpartum depression atau postnatal depression adalah gangguan kondisi psikologis ibu yang biasanya terjadi pada dua hingga delapan minggu setelah proses melahirkan bahkan bisa sampai satu tahun setelah bayi lahir. Depresi pasca persalinan tidak hanya dilihat dari munculnya perasaan sedih tapi juga dari timbulnya rasa cemas berlebih.[1]

Berbeda dengan baby blues syndrome yang hanya terjadi beberapa minggu setelah melahirkan dan dialami oleh 70-80% ibu muda, sedangkan depresi pasca melahirkan dialami sekitar 10-20% perempuan.[2] Tidak ada batasan jelas kapan baby blues syndrome berubah menjadi depresi pasca persalinan. Kasus ini di Indonesia mencapai 2 juta kasus setiap tahun. Depresi di masa kehamilan akan menambah risiko mengalami depresi pasca persalinan.

Depresi pasca persalinan dan baby blues adalah dua hal yang berbeda, meskipun memiliki gejala yang sama. Baby blues adalah depresi yang dialami oleh perempuan dalam rentang waktu yang singkat, mulai dari hari ke-2 hingga 2 minggu setelah melahirkan. Apabila depresi tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang lama hingga berbulan-bulan, dapat dikatakan perempuan tersebut mengalami depresi pasca melahirkan atau depresi pasca persalinan.[3]

Apabila depresi pasca persalinan tidak segera disembuhkan, gangguan tersebut akan berpengaruh kepada ibu dan bayi yang baru dilahirkan. Kesulitan-kesulitan yang timbul ketika ibu mengalami depresi pasca persalinan, seperti: sulit dalam menjalin hubungan dengan bayi, anak akan mengalami masalah dalam proses belajar dan perilaku, anak akan mengalami masalah dalam proses makan dan tidur, anak akan berisiko tinggi mengalami obesitas dan gangguan perkembangan hingga dapat mengganggu dalam proses perkembangan keterampilan anak.[4]

Jenis depresi pasca persalinan

[sunting | sunting sumber]
  • Baby Blues

Hampir 70% dari ibu yang baru melahirkan akan mengalami baby blues. Biasanya ibu akan mengalami perubahan suasana hati yang cepat. Ibu akan merasa lebih gelisah, bersedih, cemas, dan kesepian. Baby blues biasa terjadi hingga dua minggu pasca melahirkan. Depresi jenis ini diperlukan perawatan dengan berkomunikasi dengan pasangan maupun sesama ibu yang mengalami hal serupa.[5]

  • Postpartum Depression (PPD)

Postpartum depression atau depresi pasca persalinan tidak hanya dialami pada saat melahirkan anak pertama, namun juga dapat terjadi pada setiap melahirkan. Depresi pasca persalinan terjadi beberapa bulan dan sering kali ibu tidak melakukan aktivitas sehari-hari.[5]

  • Psikosis Postpartum

Psikosis postpartum terjadi di awal-awal pasca melahirkan yakni tiga bulan awal. Gejalanya dapat berupa mengalami halusinasi pendengaran, delusi, insomnia, maupun gelisah. Apabila gejala-gejala tersebut berkelanjutan dengan rentang waktu yang cukup lama, Maka ibu perlu untuk dirawat di rumah sakit atau mendapat penanganan lebih serius agar tidak membahayakan dirinya maupun orang lain.[5]

Depresi pasca persalinan pada ayah

[sunting | sunting sumber]

Depresi pasca persalinan juga dialami para ayah. Penelitian menunjukkan telah terjadi perubahan struktur dan fungsi otak pada ayah dibandingkan dengan pria yang tidak memiliki anak. Serta adanya penurunan kadar testoteron pada ayah yang menanti lahirnya buah hati. Sayangnya depresi pasca persalinan pada ayah sulit dikenali. Tanda-tanda umum yang sering muncul diantaranya :

  • Mudah marah : Ayah jadi lebih sensitif dan mudah frustasi.
  • Menarik diri : Menarik diri dari keluarga dan lingkungan sosial bahkan dari anak mereka.
  • Perilaku berisiko : Menyalahgunakan obat terlarang, berjudi atau tindakan impulsif lainnya sebagai mekanisme koping.
  • Perubahan yang berhubungan dengan pekerjaan : produktivitas kerja menurun, bekerja berlebihan, muncul perasaan tidak mampu.
  • Gejala fisik : Nafsu makan menurun, kelelahan, sulit tidur, sakit kepala.[6]

Gejala depresi pasca persalinan

[sunting | sunting sumber]

Depresi pasca persalinan dapat mengganggu seorang ibu untuk merawat bayi dan mengerjakan aktivitas sehari-hari. Gejala dari depresi pasca persalinan biasanya timbul pada minggu-minggu pertama pasca melahirkan, akan tetapi tidak menutup kemungkinan depresi berawal dari kehamilan hingga satu tahun setelah melahirkan.[3]

Berikut adalah gejala-gejala yang dialami ketika depresi pasca persalinan:[7]

  • Benar-benar menghindari teman dan keluarga
  • Tidak bisa merawat diri sendiri maupun bayi
  • Susah bonding dengan bayi Anda
  • Takut dan cemas tidak bisa menjadi ibu yang baik
  • Mood swing parah, cemas berlebihan, serangan panik
  • Terlalu sedikit atau terlalu banyak tidur
  • Tidak tertarik untuk menjalani hari
  • Berpikir untuk menyakiti diri sendiri dan/atau bayi Anda
  • Berpikir untuk bunuh diri atau mencoba bunuh diri

Apabila gejala-gejala depresi pasca persalinan tidak segera ditangani dengan cepat, maka akan membahayakan ibu maupun bayinya.[3]

Psikosis Depresi Pasca Persalinan

[sunting | sunting sumber]

Depresi pasca persalinan yang tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi psikosis pasca persalinan yang lebih berbahaya. Psikosis pasca persalinan adalah gangguan mental yang harus ditangani segera.

Gejala psikosis depresi pasca persalinan sebagai berikut:[3]

  1. Merasa bingung dan tersesat
  2. Memiliki pemikiran obsesif tentang bayi
  3. Mengalami halusinasi dan delusi
  4. Mengalami gangguan tidur
  5. Sering kali kesal terhadap suatu hal
  6. Merasa paranoid
  7. Berusaha untuk menyakiti diri sendiri

Faktor Risiko Depresi Pasca Persalinan

[sunting | sunting sumber]

Depresi pasca persalinan dapat dipicu tidak hanya karena pertama Kali melahirkan, tetapi juga beberapa faktor di bawah ini:[5]

  • Memiliki riwayat gangguan depresi
  • Kehamilan yang tidak terencana
  • Kesulitan dalam menyusui dan memberikan ASI
  • Bayi memiliki kebutuhan khusus
  • Memiliki permasalahan dengan pasangan
  • Memiliki permasalahan finansial

Perawatan Depresi Pasca Persalinan

[sunting | sunting sumber]

Sering kali ibu akan mengalami rasa sepi, kesulitan, menakutkan hingga tidak mendapatkan dukungan setelah melahirkan. Maka dari itu, beberapa perawatan depresi pasca persalinan perlu dilakukan dengan baik agar mendapatkan hasil yang lebih efektif:[8]

Membantu diri sendiri. Hal pertama yang harus dilakukan ketika ibu mengalami perasaan yang berubah atau merasakan perbedaan dalam sisi emotional, Maka ibu harus membicarakannya kepada pasangan, keluarga Dan teman tentang perasaan yang sedang dialami. Ini akan memberikan bantuan bagi ibu ketika mengalami hari-hari yang berat. Terbuka akan apa yang dirasakan Dan dibutuhkan oleh diri sendiri, akan meminimalisir gejala depresi. Ibu dapat menyediakan waktu luang sendiri, melakukan hal-hal yang disukai, dapat berolahraga secara teratur Dan makan-makanan yang sehat sebagai bentuk dari release terhadap stress yang dialami selama melahirkan.[8]

Terapi bicara. Ketika ibu mengurung diri Dan tidak ingin berbicara dengan siapapun, Maka terapi bicara akan sangat membantu dalam proses penyembuhan. Ibu dapat mengikuti kursus terapi seperti terapi perilaku atau cognitive behavior therapy (CBT).[8]

Antidepresan. Obat antidepresan adalah obat yang direkomendasikan oleh dokter ketika seseorang mengalami depresi. Akan tetapi, antidepresan tidak dapat dikonsumsi dengan dosis yang tinggi. Antidepresan dapat menjadi pilihan ketika depresi menjadi lebih parah atau obat lain tidak membantu. Dokter dapat meresepkan obat antidepresan dengan Kadar tertentu bagi ibu yang sedang menyusui.[8] Beberapa antidepresan yang umum digunakan untuk depresi pasca persalinan yaitu penghambat penyerapan kembali serotonin selektif (SSRI) seperti sertralin (Zoloft®) dan fluoksetin (Prozac®), penghambat penyerapan kembali serotonin-norepinefrin (SNRI) seperti duloksetin (Cymbalta®) dan desvenlafaksin (Pristiq®), bupropion (Wellbutrin® atau Zyban®) dan Antidepresan trisiklik (TCA) seperti amitriptilin (Elavil®) atau imipramin (Tofranil®).[4]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "What is postpartum depression? | UNICEF Parenting". www.unicef.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-05-04.
  2. Mulyani, Cici; Dekawaty, Ayu; Suzanna, Suzanna (2022-12-04). "Faktor-Faktor Penyebab Depresi Pasca Persalinan". Jurnal Keperawatan Silampari (dalam bahasa American English). 6 (1): 635–649. doi:10.31539/jks.v5i2.3462. ISSN 2581-1975.
  3. 1 2 3 4 "Postpartum depression - Symptoms and causes". Mayo Clinic (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-03-23.
  4. 1 2 "Postpartum Depression: Causes, Symptoms & Treatment". Cleveland Clinic (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-03-23.
  5. 1 2 3 4 Makarim, Fadhli Rizal. "Depresi Postpartum". halodoc. Diakses tanggal 23 Maret 2024.
  6. "Depresi Pascapersalinan: Ayah Baru Juga Mengalami Baby Blues". dw.com. Diakses tanggal 2026-05-04.
  7. "The Basics of Postpartum Depression". WebMD (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2017-11-26.
  8. 1 2 3 4 "Overview - Postnatal depression". NHS. 4 Agustus 2022. Diakses tanggal 23 Maret 2024.