Depresi ekonomi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Depresi ekonomi merupakan sebuah gejala turunnya pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) ke arah negatif selama dua kuartal berturut-turut, yang berakibatkan meningkatnya angka pengangguran dan berkurangnya lapangan pekerjaan, adapun depresi ekonomi sendiri mempunyai kesamaan dengan resesi hanya saja perbedaannya pada tingkatan waktu krisis, besaran jumlahnya yang terdampak pada setiap lini sektor dan pula pada penurunan PDB yang signifikan. Adapun istilah depresi penurunan PDB berada di kisaran -14,7% hingga -38,1%. Seperti contoh [1] yang terjadi Penurunan PDB terburuk di AS (-38,1%) terjadi pada Januari 1920- Januari 1921. Untuk penurunan PDB paling rendah berada di -14,7% terjadi pada Januari 1910-Januari 1912. Secara sekilas, nampak bila penurunan PDB pada depresi ekonomi jauh lebih buruk daripada resesi. Selain dari berkurangnya PDB yang tercatat oleh suatu negara pada periode tertentu adapun depresi ekonomi mengalami tenggang waktu yang cukup lama, berlangsungnya sekitar 18-43 bulan dan berakibatkan kondisi yang cukup parah terhadap perkembangan ekonomi negara seperti halnya contoh [2] bangkrutnya Sri Langka

Adapun penyebab terjadinya depresi ekonomi berasal dari beberapa faktor pendukung baik faktor internal dan eksternal[3]

faktor internal:

  1. penurunan pendapataan yang mempengaruhi daya beli beli masyrakat
  2. jumlah lapangan pekerjaan tidak seimbang dengan jumlah pengangguran yang terus meningkat. Hal ini membuat sebagian masyarakat mengalami kesulitan untuk mendapatkan pemasukan
  3. daya beli mesyarakat yang melemah membuat tingkat produksi perusahaan pun menurun. pemasukan perusahaan pun berkurang dan menyebabkan kebangkrutan
  4. tingkat produksi yang menurun, adanya penumpukan hutang dan kepailitan karena tidak mampu melunasi hutang dapat menyebabkan perusahaan bangkrut
  5. kegiatan produksi yang menurun membuat komoditas dipasar semakin langka. kelangkaan barang pun membuat adanya kenaikan harga yang membuat masyarakat sulit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

faktor eksternal :

  1. naiknya suku bunga terhadap obligasi yang mampu menarik pemodal asing dan regional
  2. tidak mampu bersaingnya produksi barang dengan membuat sebuah inovasi yang terbarukan [4] (agregat supply) sehingga membuat harga anjlok turun
  3. keletihan dalam penanaman modal yang dilakukan oleh para investor serta kebijaksanaan sistem penggajian yang ketat yang dilakukan oleh pemerintah serta pengusaha. [5]
  1. ^ Laucereno, Sylke Febrina. "Apa Bedanya Resesi, Krisis, dan Depresi Ekonomi?". detikfinance. Diakses tanggal 2022-07-23. 
  2. ^ Media, Kompas Cyber (2022-07-21). "Sri Lanka Bangkrut, Kepala CIA: Gara-gara Utang Bodoh ke China". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2022-07-23. 
  3. ^ "Apa Itu Depresi Ekonomi? Ini Penyebab dan Dampaknya". kumparan. Diakses tanggal 2022-07-23. 
  4. ^ "Jurnal Ekonomi KIAT". journal.uir.ac.id. Diakses tanggal 2022-07-23. 
  5. ^ (Soegijanto), Padmo, S. (1991). Depresi 1930-an dan Dampaknya terhadap Hindia Belanda. Gadjah Mada University. OCLC 994159001.