Defisiensi mikronutrien
Defisiensi mikronutrien adalah masalah gizi ketika tubuh kekurangan pasokan vitamin dan mineral esensial yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan, serta untuk menjaga kesehatan optimal, dalam jangka waktu yang lama. Mikronutrien esensial ini mencakup vitamin (misalnya vitamin A, D, B kompleks, C) dan mineral (misalnya zat besi, seng, iodium, kalsium, selenium) yang dibutuhkan dalam jumlah kecil namun berperan besar pada metabolisme, pertumbuhan, imunitas, dan fungsi organ. Kekurangan mikronutrien seringkali merupakan akibat dari asupan yang tidak memadai. Namun, hal ini juga dapat dikaitkan dengan penyerapan usus yang buruk, adanya penyakit kronis tertentu, dan kebutuhan yang meningkat.[1][2]
Kelompok rentan
[sunting | sunting sumber]Berbagai studi menunjukkan bahwa defisiensi mikronutrien masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia pada berbagai kelompok usia. Analisis data Riskesdas 2018 pada anak usia sekolah (5–12 tahun) menemukan bahwa mereka banyak mengalami kekurangan zat besi, seng, vitamin A, vitamin D, dan kalsium, yang juga berhubungan dengan stunting dan kurus.[1]
Pada anak usia 6–59 bulan, penelitian dalam survei SEANUTS di Indonesia melaporkan adanya anemia, defisiensi zat besi, kekurangan vitamin A dan vitamin D yang berkaitan dengan status sosial ekonomi rendah. Studi lain pada anak usia 12–59 bulan di Bali menunjukkan sekitar 14,3% mengalami defisiensi seng, 60,4% defisiensi iodium, dan 17,6% anemia. Pada anak usia 6–23 bulan, ketidakcukupan asupan zat besi, kalsium, seng, dan vitamin A juga dilaporkan cukup tinggi karena kualitas dan kuantitas MP-ASI yang kurang baik.[3]
Kelompok lain yang berisiko tinggi adalah ibu hamil dan lansia. Tinjauan pustaka pada ibu hamil menunjukkan defisiensi zat besi, asam folat, kalsium, magnesium, seng, dan vitamin A–D sering terjadi di negara berpenghasilan rendah-menengah, sehingga suplementasi multimicronutrient dianjurkan untuk mencegah anemia, preeklamsia, BBLR, prematur, dan kematian perinatal. Pada lansia, banyak studi melaporkan defisiensi beberapa mikronutrien terkait penurunan asupan, perubahan fisiologis, dan penyakit kronis, yang berdampak pada imunitas, fungsi kognitif, dan kualitas hidup.
Dampak dan penanggulangan
[sunting | sunting sumber]Defisiensi mikronutrien berdampak luas pada kesehatan individu dan beban kesehatan masyarakat. Pada anak, kekurangan zat besi, seng, vitamin A dan D berhubungan dengan stunting, kurus, gangguan perkembangan kognitif, penurunan prestasi belajar, serta peningkatan kerentanan terhadap infeksi dan penyakit seperti diare dan ISPA. Defisiensi seng dan iodium juga memengaruhi pertumbuhan, fungsi tiroid, dan perkembangan saraf, sementara defisiensi vitamin D berkaitan dengan gangguan kesehatan tulang.[4]
Pada orang dewasa dan lansia, defisiensi zat besi dapat menyebabkan anemia defisiensi besi yang menurunkan kapasitas kerja, toleransi aktivitas, dan kualitas hidup, sementara defisiensi mikronutrien tertentu dapat memperburuk penyakit kronis seperti gagal jantung. Selama kehamilan, defisiensi mikronutrien meningkatkan risiko anemia, gizi buruk, preeklamsia/eklampsia pada ibu dan risiko bayi lahir prematur, berat lahir rendah, serta gangguan tumbuh kembang.[5]
Upaya penanggulangan meliputi:
- Peningkatan kualitas pola makan melalui konsumsi beragam pangan sumber hewani, sayur, buah, dan pangan pokok yang diperkaya.[6]
- Program fortifikasi dan suplementasi, misalnya fortifikasi beras analog dengan zat besi, seng, vitamin A dan folat, serta suplementasi zat besi-folat dan kalsium pada ibu hamil dan tablet tambah darah pada remaja.[6]
- Intervensi kesehatan masyarakat seperti edukasi gizi, pencegahan dan pengobatan infeksi parasit, serta pemantauan status gizi dan mikronutrien secara berkala pada kelompok berisiko.[7]
Defisiensi mikronutrien pada tumbuhan
[sunting | sunting sumber]Kekurangan Fe dan Zn pada beberapa tanaman menyebabkan daun muda menguning dengan pola klorosis antarnervus, sedangkan kekurangan B dapat menimbulkan daun muda cacat, pucuk mati, dan pertumbuhan titik tumbuh yang terhambat. Beberapa penelitian pada tanaman buah dan tanaman kehutanan menunjukkan bahwa defisiensi Fe dan B termasuk yang paling membatasi pertumbuhan bibit, terutama pada fase awal.[8]
Defisiensi mikronutrien pada hewan
[sunting | sunting sumber]Kekurangan Cu dan Zn pada beberapa spesies ternak berkaitan dengan masalah kulit, gangguan keratinisasi, dan penurunan kekuatan tulang, sementara defisiensi I berkaitan dengan gangguan fungsi tiroid dan gangguan perkembangan. Kekurangan Se dan vitamin E dapat memicu gangguan otot (nutritional muscular dystrophy) dan menurunkan respon imun.[9]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 Ernawati, Fitrah; Efriwati; Nurjanah, Nunung; Aji, Galih Kusuma; Hapsari Tjandrarini, Dwi; Widodo, Yekti; Retiaty, Fifi; Prihatini, Mutiara; Arifin, Aya Yuriestia (2023). "Micronutrients and Nutrition Status of School-Aged Children in Indonesia". Journal of Nutrition and Metabolism (dalam bahasa Inggris). 2023 (1): 4610038. doi:10.1155/2023/4610038. ISSN 2090-0732. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
- ↑ Laksono, Sidhi; Fiyani, Nadia (2022-12-30). "Defisiensi Mikronutrien pada Gagal Jantung: Disfungsi Mitokondrial sebagai Patofisiologi". UMI Medical Journal (dalam bahasa Inggris). 7 (2): 141–151. doi:10.33096/umj.v7i2.220. ISSN 2685-7561.
- ↑ Sutiari, Ni Ketut; Dwipayanti, Ni Made Utami; Astuti, Putu Ayu Swandewi; Wulandari, Kadek Nuansa Putri; Astuti, Widya (2022-10-30). "Defisiensi mikronutrien pada anak usia 12-59 bulan di Desa Lebih, Kabupaten Gianyar, Bali". Jurnal Gizi Klinik Indonesia. 19 (2): 58–66. doi:10.22146/ijcn.76336. ISSN 2502-4140.
- ↑ Ningrum, Nathalia; Setiadi, Dita; Sari, Meiriani (2023). "DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA ANEMIA DEFISIENSI BESI PADA ANAK USIA 0 – 18". JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI (dalam bahasa Inggris). ISSN 2541-4275.
- ↑ Trasia, Reqgi First (2022-09-15). "ANEMIA DEFISIENSI BESI PADA PENDERITA PENYAKIT INFEKSI PARASIT". Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan (dalam bahasa Inggris). 4 (2): 55–61. doi:10.31970/ma.v4i2.81. ISSN 2656-7822.
- 1 2 Anggraini, Rista Fitria; Budijanto, Slamet; Sitanggang, Azis Boing (2022-04-28). "Ulasan Ilmiah: Peluang Pengembangan Beras Analog Fortifikasi dari Berbagai Bahan Baku Lokal dalam Mengurangi Defisiensi Mikronutrien". JURNAL PANGAN (dalam bahasa Inggris). 31 (1): 83–94. doi:10.33964/jp.v31i1.579. ISSN 2527-6239.
- ↑ Ernawati, Fitrah; Syauqy, Ahmad; Arifin, Aya Yuriestia; Soekatri, Moesijanti Y. E.; Sandjaja, Sandjaja (2021-05-26). "Micronutrient Deficiencies and Stunting Were Associated with Socioeconomic Status in Indonesian Children Aged 6–59 Months". Nutrients (dalam bahasa Inggris). 13 (6): 1802. doi:10.3390/nu13061802. ISSN 2072-6643. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
- ↑ Lizcano Toledo, Rodolfo; Melo, Wanderley José de; Prado, Renato de Mello; Olivera Viciedo, Dilier; Peruca de Melo, Gabriel Maurício; de Araújo, Ademir Sérgio Ferreira; Calero Hurtado, Alexander (2025-02-25). "Morpho-physiological response to micronutrient deficiencies and nickel addition of passion fruit plants". Journal of Plant Nutrition. 48 (4): 670–689. doi:10.1080/01904167.2024.2411407. ISSN 0190-4167.
- ↑ "Micronutrient Deficiency in Soils and Plants". http://www.eurekaselect.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-30.