Sri Jayanasa
| Sri Jayanasa | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Punta Hyang Sri Jayanasa | |||||
| Raja Kerajaan Sriwijaya | |||||
| Berkuasa | 671 - 692 M | ||||
| Pendahulu | Jabatan Baru | ||||
| Penerus | Sri Indrawarman | ||||
| Kematian | 692 M | ||||
| |||||
Jayanasa (atau dikenali juga dengan nama takhtanya sebagai Ḍapunta Hyang Śrī Jayanasa) adalah Maharaja Sriwijaya. Namanya disebut dalam beberapa prasasti awal, Sriwijaya dari akhir abad VII yang disebut sebagai "prasasti-prasasti Siddhayatra", karena menceritakan perjalanan sucinya mengalap berkah dan menaklukkan wilayah-wilayah di sekitarnya. Ia berkuasa sekitar perempat terakhir abad VII hingga awal abad VIII, tepatnya antara kurun 671 masehi hingga 692 masehi.
Biografi
[sunting | sunting sumber]Menurut sejarah, seorang pendeta Buddha yang pernah mengunjungi Shih-Li-Fo-Shih tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan, terkesan akan kebaikan raja waktu itu,[1] dan raja tersebut kemudian dihubungkan dengan prasasti yang paling tua mengenai Sriwijaya yang juga berada pada abad ke-7, bertarikh 682 yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang,[2] merujuk kepada orang yang sama.[3][4] Walaupun kemudian beberapa sejarawan berbeda pendapat tentang penafsiran dari beberapa kata yang terdapat pada prasasti tersebut.[5][6][7]
Menurut Prasasti Kedukan Bukit berangka tahun 605 saka, menceritakan seorang bergelar Dapunta Hyang melakukan Siddhayatra (perjalanan suci) dengan naik perahu. Ia berangkat dari Minānga (Sebuah Nama lama Mināngkabau) dengan membawa rombongan satu armada dengan kekuatan 20.000 bala tentara menuju ke Matajap dan menguasai beberapa daerah. Beberapa prasasti lain yang ditemui juga menceritakan Siddhayatra dan penaklukkan wilayah sekitar oleh Sriwijaya, yaitu prasasti yang ditemukan di Kota Kapur di Pulau Bangka (686 masehi), Karang Brahi di Jambi Hulu (686 masehi) dan Palas Pasemah di selatan Lampung, semua menceritakan peristiwa yang sama. Dari keterangan prasasti-prasasti ini, dapat disimpulkan bahwa Dapunta Hyang mendirikan Vanua setelah mengalahkan musuh-musuhnya di Jambi, Palembang Sumatera Selatan, Selatan Lampung dan Pulau Bangka.[8]
Peristiwa Penting
[sunting | sunting sumber]Rangkaian peristiwa penting yang terjadi pada masa pemerintahannya :
- Menerima kedatangan seorang pendeta Buddha asal Cina bernama I-Tsing, pada tahun 671 M. Ia menetap di kota Foshih, ibukota Sriwijaya selama enam bulan. Dari Shih-li-foshih", Ia melanjutkan perjalanannya ke Moloyou dan Kataha (Kedah), sebelum melanjutkan perjalanannya ke Nagapattinam di India untuk mempelajari agama Buddha. I-Tsing tidak menyebut Sriwijaya dengan nama "Shih-li-foshih". ( Catatan I-Tsing )[9]
- Membangun Vanua di Palembang (Prasasti Kedukan Bukit, 683 M)[10]
- Membangun Taman Sriksetra. (Prasasti Talang Tuo, 684 M)
- Menghentikan Pemberontakan Kandra Kayet pada tahun 685 M. Namun, sebelumnya Kandra Kayet telah berhasil membunuh Tandrun Luah. Sang Maharaja pun harus rela kehilangan dua panglimanya sekaligus. Di tahun Itu Pula, I-Tsing kembali datang ke Sumatra setelah menyelesaikan studinya dari India. Ia singgah di Sriwijaya selama 4 tahun.
- Menaklukkan daerah Bangka-Belitung dan Menyerang bhūmi jāwa yang tidak berbakti. (Prasasti Kota Kapur, 686 M)
- Menaklukkan negeri-negeri Sigindo di pedalaman Bukit Barisan di Alam Kerinci yang kaya emas. Pasukan Sriwijaya berhasil menaklukkan sebagian besar negeri itu, kecuali di kawasan Telaga Darah di Kerinci Tinggi. Seluruh prajurit Sriwijaya yang menggempurnya dikalahkan dan dimusnahkan oleh laskar rakyat pimpinan negeri Sigindo Sigarinting. (Prasasti Karang Brahi, 688 M).
Nama dan asal-usul
[sunting | sunting sumber]Dapunta Hyang dipercayai sebagai suatu gelar penguasa periode awal.[11] Gelar Dapunta juga ditemukan dalam Prasasti Sojomerto (akhir abad ke-7) yang ditemukan di daerah Batang, pesisir utara Jawa Tengah, yaitu Dapunta Selendra yang dipercaya sebagai nama leluhur wangsa Sailendra. Istilah hyang sendiri dalam kebudayaan asli Nusantara merujuk kepada keberadaan spiritual supernatural tak kasatmata yang dikaitkan dengan roh leluhur atau dewata, sehingga diduga Dapunta Hyang melakukan perjalanan "mengalap berkah" untuk memperoleh kekuatan spiritual atau kesaktian. Kesaktian ini ditambah dengan kekuatan bala tentaranya, dijadikan sebagai legitimasi untuk menaklukkan daerah-daerah atau kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Kekuatan spiritual ini pula yang menjadikan persumpahan Dapunta Hyang dianggap bertuah dan ditakuti para datu (penguasa daerah) bawahannya, yang kebanyakan diikat kesetiaannya kepada Datu' Sriwijaya dalam suatu prasasti dan upacara persumpahan disertai kutukan bagi siapa saja yang mengkhianati Kadatuan Sriwijaya. Slamet Muljana mengaitkan Dapunta Hyang di dalam Prasasti Kedukan Bukit sebagai "Sri Jayanasa", karena menurut Prasasti Talang Tuwo yang berangka tahun tahun 606 Saka, Punta Hyang ketika itu adalah Sri Jayanasa. Karena jarak tahun antara kedua prasasti ini hanya setahun, maka kemungkinan besar "Dapunta Hyang" di dalam Prasasti Kedukan Bukit dan "Punta Hyang Sri Jayanasa" dalam Prasasti Talang Tuwo adalah orang yang sama.[5]
Asal-usul Raja Jayanasa dan posisi sebenarnya dari Minānga Sebuah nama lama Mināngkabau (Provinsi Sumatera Barat Sekarang). Sedangkan menurut G.Coedes berpendapat bahwa Sriwijaya selamanya berada di Palembang. Berdasarkan catatan dinasti Tang pada tahun 670, Sriwijaya yang mereka sebut Shih-Li-Fo-Shih dengan ibukota San-fo-tsi, sudah mengirim utusan ke Cina. Dan catatan Itsing tahun 671 dan catatan Itsing tahun 685 yang menyebut Sriwijaya dan ibu kotanya dan letak ibu kotanya dengan sebutan yang sama. Artinya tahun 683 prasasti Kedukan Bukit itu bukan pemindahan ibu kota dari Mināngatamwan ke tempat ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit atau bukan pula pembuatan kadatuan atau kerajaan, sebab Sriwijaya tahun 670 sudah ada. Kalau memang Mināngatamwan adalah Sriwijaya kemudian tahun 683 Mendirikan wanua ke Palembang dan kerajaan berganti nama Sriwijaya, pastilah Itsing akan menyebut Sriwijaya dengan sebutan yang berbeda pada tahun 671 dan tahun 685.[12]
Rujukan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Takakusu, Junjiro (1896). A record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago AD 671-695, by I-tsing. London: Oxford.
- ↑ Casparis, J.G. (1975). Indonesian palaeography: a history of writing in Indonesia from the beginnings to C. A, Part 1500. E. J. Brill. ISBN 90-04-04172-9.
- ↑ Cœdès, George (1918). "Le Royaume de Çriwijaya". Bulletin de l'Ecole français d'Extrême-Orient. 18 (6): 1–36.
- ↑ Cœdès, George (1930). "Les inscriptions malaises de Çrivijaya". Bulletin de l'Ecole français d'Extrême-Orient (BEFEO). 30: 29–80.
- 1 2 Muljana, Slamet (2006). F.W. Stapel (ed.). Sriwijaya. PT. LKiS Pelangi Aksara. ISBN 978-979-8451-62-1.
- ↑ Soekmono, R. (2002). Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 2. Kanisius. ISBN 979-413-290-X.
- ↑ Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, (1992), Sejarah nasional Indonesia: Jaman kuno, PT Balai Pustaka, ISBN 979-407-408-X
- ↑ Elfriede Hermann, Karin Klenke, Michael Dickhardt (2009). Form, Macht, Differenz : Motive und Felder ethnologischen Forschens. Universitätsverlag Göttingen. hlm. 254-255. ISBN 978-3-940344-80-9. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ↑ Takakusu, Junjiro (1896). A record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago AD 671-695, by I-tsing. London: Oxford.
- ↑ Casparis, J.G. (1975). Indonesian palaeography: a history of writing in Indonesia from the beginnings to C. A, Part 1500. E. J. Brill. ISBN 90-04-04172-9.
- ↑ Casparis, J.C., (1956), Prasasti Indonesia II: Selected Inscriptions from the 7th to the 9th century A.D., Vol. II. Bandung: Masa Baru.
- ↑ Coedes, George (1996). The Indianized States of Southeast Asia. University of Hawaii Press. hlm. 82. ISBN 978-0-8248-0368-1.