Dampak pandemi COVID-19 terhadap tenaga kesehatan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Pandemi COVID-19 telah memengaruhi tenaga kesehatan secara fisik dan psikologi.[1] Tenaga kesehatan lebih rentan terjangkit COVID-19 daripada masyarakat umum karena lebih sering berkontak dengan orang yang terjangkit. Tenaga kesehatan diharuskan bekerja dalam keadaan stres tanpa alat pelindung diri yang tepat dan membuat keputusan sulit yang melibatkan implikasi etis. Sistem kesehatan dan sosial di seluruh dunia sedang berjuang untuk mengatasi masalah ini. Keadaan ini sangat menantang dalam konteks negara yang rapuh lagi berpenghasilan rendah, ketika sistem kesehatan dan sosial sudah lemah. Layanan untuk memberikan perawatan kesehatan seksual dan perkembangbiakan berisiko diabaikan, yang akan menyebabkan kematian dan morbiditas ibu yang lebih tinggi.[2][3]

Risiko jangkitan[sunting | sunting sumber]

Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa satu dari sepuluh tenaga kesehatan terjangkit koronavirus di beberapa negara.[1] Pada Maret 2020, 9% dari kasus positif COVID-19 di Italia adalah tenaga kesehatan.[4] Pada Mei 2020, Dewan Perawat Internasional melaporkan bahwa sedikitnya 90 ribu tenaga kesehatan terjangkit dan lebih dari 260 perawat meninggal semasa pandemi COVID-19.[5] Pada Maret 2020, satu dari empat dokter di Inggris menderita COVID-19, diisolasi karena COVID-19, atau merawat anggota keluarga yang menderita COVID-19.[6]

Pemerintah Inggris mengumumkan bahwa tenaga kesehatan profesional yang bersara akan dikeluarkan dari masa bersara untuk membantu semasa krisis COVID-19. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa mereka dapat berisiko lebih tinggi terjangkit COVID-19 yang parah.[7]

Kekurangan alat pelindung diri[sunting | sunting sumber]

Kekurangan alat pelindung diri telah dilaporkan di beberapa negara.[8][7] Di Tiongkok, pelatihan tenaga kesehatan yang tidak memadai, kekurangan alat pelindung diri, kurangnya pemahaman akan penggunaan alat pelindung diri, dan panduan alat pelindung diri yang membingungkan telah mengakibatkan jangkitan dan kematian di antara tenaga kesehatan.[9] Di Amerika Serikat, banyak rumah sakit melaporkan kekurangan alat pelindung diri bagi pegawai rumah sakit.[10] Seiring lonjakan kasus COVID-19, Amerika Serikat diperkirakan akan membutuhkan lebih banyak masker bedah daripada yang dimiliki saat ini.[10] Di Indonesia, beberapa tenaga kesehatan bahkan memilih menggunakan kembali alat pelindung diri walaupun sebenarnya bersifat sekali pakai karena kekurangan alat pelindung diri.[11] Karenanya, beberapa pihak mencoba mengembangkan peralatan untuk mengatasi kelangkaan alat pelindung diri, misalnya perangkat disinfeksi dan alat pelindung diri yang bisa digunakan berulang kali.[12][13]

Kekurangan alat pelindung diri telah menjadikan banyak tenaga kesehatan berisiko terjangkit COVID-19. Tenaga kesehatan telah menciptakan penyelesaian yang tak biasa untuk menutupi kekurangan alat pelindung diri dengan menggunakan sumber daya yang mereka miliki. Mereka telah menggunakan kantung plastik sebagai pakaian dan potongan botol air mata bagi pelindung mata.[14]

Kekurangan alat pelindung diri bahkan berdampak sangat buruk bagi rumah sakit di negara-negara berpenghasilan rendah. Barang-barang seperti alat pelindung diri selalu menjadi barang yang ditakuti di negara-negara berpenghasilan rendah. UICEF melaporkan bahwa organisasi mereka hanya mampu memperoleh sepersepuluh dari 240 juta masker yang diminta negara-negara tersebut.[15]

Kematian[sunting | sunting sumber]

Kematian dokter dan perawat akibat COVID-19 telah dilaporkan di beberapa negara.[4][16] Pada Mei 2020, sedikitnya 260 perawat telah meninggal karena COVID-19. Pada Maret 2020, sedikitnya 50 dokter dilaporkan meninggal di Italia karena COVID-19.[17] Jumlah kematian dokter di Italia terus bertambah. Pada April 2020, diperkirakan jumlah dokter yang meninggal sekitar 119 dokter dan sekitar 34 perawat.[18]

Pada 8 Agustus 2020, Persatuan Medis India mengumumkan bahwa 198 dokter meninggal di India karena COVID-19.[19] Pada 15 November 2020, Ikatan Dokter Indonesia menyatakan 159 dokter di Indonesia meninggal karena COVID-19.[20]

Dampak psikologi[sunting | sunting sumber]

Kajian dari Singapura menampilkan bahwa tenaga kesehatan yang merawat kasus COVID-19 dilaporkan mengalami kecemasan, depresi, dan stres.[21] Meningkatnya tuntutan pekerjaan terhadap tenaaga kesehatan bertentangan dengan urusan mereka terhadap keluarga dan kawan yang menyebabkan tekanan psikologis.[22] Tenaga kesehatan dilaporkan merasa cemas karena harus mengasingkan diri, terlibat dalam karantina, atau jatuh sakit.[23] Bagi tenaga kerja, keadaan dikarantina erat kaitannya dengan meminimalkan kontak langsung dengan pesakit dan tidak melapor untuk bekerja.[24]

Tenaga kesehatan seperti perawat, dokter, dan karyawan medis lainnya yang bekerja di ujung tombak di Tiongkok mengalami gejala kecemasan, depresi, dan susah tidur. Spesifiknya, sekitar 46,04% mengalami kecemasan, 44,37% mengalami depresi, dan 28,75% mengalami insomnia.[25]

Tenaga kesehatan berisiko mengalami trauma atau gangguan terkait stres lainnya karena ketakutan jatuh sakit dan tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan.[26] Stres pascatrauma umum terjadi di antara tenaga kesehatan, dengan perawat menunjukkan kecenderungan yang lebih tinggi bagi memicu atau mengalami kecemasan dibanding lainnya di bidang medis.[27]

Seorang perawat asal Italia bunuh diri setelah mengalami trauma saat mencoba menyelamatkan nyawa orang yang terjangkit COVID-19.[28]

Di Meksiko, tenaga kesehatan profeional juga dilaporkan mengalami tingkat kecemasan yang tinggi karena ketakutan menjadi kasus tanpa gejala yang berpotensi menyebabkan penyebaran penyakit tanpa disadari di antara pasien dan keluarga mereka.[29]

Kekerasan terhadap tenaga kerja[sunting | sunting sumber]

Tenaga kesehatan telah menjadi kejahatan dengan kekerasan seperti penyerangan. Rumah sakit dan pemerintah telah mengambil tindakan yang lebih ketat untuk memastikan keamanan staf mereka; namun, banyak petugas kesehatan masih menghadapi risiko cedera fisik yang signifikan.[30]

Karena COVID-19, tenaga kesehatan telah mengalami lebih dari 600 kejadian negatif yang ditujukan kepada mereka dalam berbagai bentuk. Di Pakistan, dokter diserang oleh anggota keluarga dari kasus yang meninggal akibat COVID-19. Warga sebuah komunitas di Bangladesh memaksa seorang dokter yang terjangkit koronavirus beserta keluarganya meninggalkan rumahnya dan daerah sekitarnya dengan cara melempar batu bata ke rumahnya.[31]

Sumber[sunting | sunting sumber]

Definition of Free Cultural Works logo notext.svg Artikel ini mengandung teks dari karya konten bebas. Licensed under CC BY-SA 3.0 IGO License statement: Explainer: How COVID-19 impacts women and girls, UN Women. Untuk mengetahui cara menambahkan teks berlisensi terbuka ke artikel Wikipedia, baca Wikipedia:Menambahkan teks berlisensi terbuka ke Wikipedia. Untuk informasi tentang mendaur ulang teks dari Wikipedia, baca ketentuan penggunaan.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "How to protect health workers now: WHO Hay COVID-19 briefing". World Economic Forum (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 13 May 2020. 
  2. ^ Continuing essential Sexual, Reproductive, Maternal, Neonatal, Child and Adolescent Health services during COVID-19 pandemic (PDF). World Health Organization, UNFPA, UNICEF. 2020. 
  3. ^ Coronavirus Disease (COVID-19) Pandemic UNFPA Global Response Plan (PDF). UNFPA. 2020. 
  4. ^ a b Mitchell, Gemma (20 March 2020). "Nurses among confirmed deaths from Covid-19 around the world". Nursing Times (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 13 May 2020. 
  5. ^ "90,000 healthcare workers infected with COVID-19: ICN". Anadolu Agency. Diakses tanggal 13 May 2020. 
  6. ^ "Covid-19: One in four doctors off sick or in isolation". ITV News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 13 May 2020. 
  7. ^ a b Taegtmeyer, Miriam; Wingfield, Tom. "Healthcare workers and coronavirus: behind the stiff upper lip we are highly vulnerable". The Conversation (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 13 May 2020. 
  8. ^ "Begging for Thermometers, Body Bags, and Gowns: U.S. Health Care Workers Are Dangerously Ill-Equipped to Fight COVID-19". Time (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 13 May 2020. 
  9. ^ Wang, J.; Zhou, M.; Liu, F. (1 May 2020). "Reasons for healthcare workers becoming infected with novel coronavirus disease 2019 (COVID-19) in China". Journal of Hospital Infection (dalam bahasa English). 105 (1): 100–101. doi:10.1016/j.jhin.2020.03.002alt=Dapat diakses gratis. ISSN 0195-6701. PMC 7134479alt=Dapat diakses gratis. PMID 32147406. Diakses tanggal 13 May 2020. 
  10. ^ a b Ranney, Megan L.; Griffeth, Valerie; Jha, Ashish K. (2020-04-30). "Critical Supply Shortages — The Need for Ventilators and Personal Protective Equipment during the Covid-19 Pandemic". New England Journal of Medicine. 382 (18): e41. doi:10.1056/NEJMp2006141. ISSN 0028-4793. 
  11. ^ "Minim Stok, Tenaga Medis di Jambi Terpaksa Pakai APD Berulang Kali". Liputan 6. 5 Mei 2020. Diakses tanggal 5 Mei 2020. 
  12. ^ Sudrajat, Ajat (12 Mei 2020). Subagyo, Triono, ed. "ITB kembangkan unit disinfeksi APD untuk tenaga medis". Antara. Diakses tanggal 12 Mei 2020. 
  13. ^ Sumantri, Arga (15 Mei 2020). "ITB Ciptakan APD yang Bisa Dipakai Ulang". Medcom. Diakses tanggal 15 Mei 2020. 
  14. ^ Livingston, Edward; Desai, Angel; Berkwits, Michael (2020-05-19). "Sourcing Personal Protective Equipment During the COVID-19 Pandemic". JAMA (dalam bahasa Inggris). 323 (19): 1912. doi:10.1001/jama.2020.5317. ISSN 0098-7484. 
  15. ^ McMahon, Devon E.; Peters, Gregory A.; Ivers, Louise C.; Freeman, Esther E. (2020-07-06). "Global resource shortages during COVID-19: Bad news for low-income countries". PLOS Neglected Tropical Diseases (dalam bahasa Inggris). 14 (7): e0008412. doi:10.1371/journal.pntd.0008412. ISSN 1935-2735. PMC 7337278alt=Dapat diakses gratis. PMID 32628664. 
  16. ^ contributors, Lost on the Frontline (12 May 2020). "A striving school nurse, a devoted pharmacist: the US health workers who died from Covid-19". The Guardian. Diakses tanggal 13 May 2020. 
  17. ^ "50 doctors have now died in Italy as health system struggles amid coronavirus epidemic". The Independent (dalam bahasa Inggris). 28 March 2020. Diakses tanggal 13 May 2020. 
  18. ^ Lapolla, Pierfrancesco; Mingoli, Andrea; Lee, Regent (2020-05-15). "Deaths from COVID-19 in healthcare workers in Italy – what can we learn?". Infection Control & Hospital Epidemiology (dalam bahasa Inggris): 1–4. doi:10.1017/ice.2020.241. ISSN 0899-823X. PMC 7256220alt=Dapat diakses gratis. PMID 32408922. 
  19. ^ "IMA says nearly 200 doctors in India have succumbed to COVID-19 so far; requests PM's attention". Economic Times. 8 August 2020. Diakses tanggal 9 August 2020. 
  20. ^ Imam, Raga (15 November 2020). Prasetiyo, Wisnu, ed. "Indonesia Berduka, Sudah 159 Dokter Gugur dalam Perang Lawan Corona". Kumparan. Diakses tanggal 15 November 2020. 
  21. ^ Tan, Benjamin Y.Q.; Chew, Nicholas W.S.; Lee, Grace K.H.; Jing, Mingxue; Goh, Yihui; Yeo, Leonard L.L.; Zhang, Ka; Chin, Howe-Keat; Ahmad, Aftab; Khan, Faheem Ahmed; Shanmugam, Ganesh Napolean; Chan, Bernard P.L.; Sunny, Sibi; Chandra, Bharatendu; Ong, Jonathan J.Y.; Paliwal, Prakash R.; Wong, Lily Y.H.; Sagayanathan, Renarebecca; Chen, Jin Tao; Ying Ng, Alison Ying; Teoh, Hock Luen; Ho, Cyrus S.; Ho, Roger C.; Sharma, Vijay K. (6 April 2020). "Psychological Impact of the COVID-19 Pandemic on Health Care Workers in Singapore". Annals of Internal Medicine. 173 (4): 317–320. doi:10.7326/M20-1083. ISSN 0003-4819. PMC 7143149alt=Dapat diakses gratis. PMID 32251513. 
  22. ^ Brooks, Samantha K.; Webster, Rebecca K.; Smith, Louise E.; Woodland, Lisa; Wessely, Simon; Greenberg, Neil; Rubin, Gideon James (14 March 2020). "The psychological impact of quarantine and how to reduce it: rapid review of the evidence". The Lancet (dalam bahasa English). 395 (10227): 912–920. doi:10.1016/S0140-6736(20)30460-8alt=Dapat diakses gratis. ISSN 0140-6736. PMID 32112714. Diakses tanggal 13 May 2020. 
  23. ^ Brooks, Samantha K.; Webster, Rebecca K.; Smith, Louise E.; Woodland, Lisa; Wessely, Simon; Greenberg, Neil; Rubin, Gideon James (14 March 2020). "The psychological impact of quarantine and how to reduce it: rapid review of the evidence". The Lancet (dalam bahasa English). 395 (10227): 912–920. doi:10.1016/S0140-6736(20)30460-8alt=Dapat diakses gratis. ISSN 0140-6736. PMID 32112714. Diakses tanggal 13 May 2020. 
  24. ^ Marjanovic, Zdravko; Greenglass, Esther R.; Coffey, Sue (1 August 2007). "The relevance of psychosocial variables and working conditions in predicting nurses' coping strategies during the SARS crisis: An online questionnaire survey". International Journal of Nursing Studies (dalam bahasa Inggris). 44 (6): 991–998. doi:10.1016/j.ijnurstu.2006.02.012. ISSN 0020-7489. PMC 7094220alt=Dapat diakses gratis. PMID 16618485. Diakses tanggal 13 May 2020. 
  25. ^ Que, Jianyu; Shi, Le; Deng, Jiahui; Liu, Jiajia; Zhang, Li; Wu, Suying; Gong, Yimiao; Huang, Weizhen; Yuan, Kai; Yan, Wei; Sun, Yankun (2020-06-14). "Psychological impact of the COVID-19 pandemic on healthcare workers: a cross-sectional study in China". General Psychiatry. 33 (3). doi:10.1136/gpsych-2020-100259. ISSN 2517-729X. PMC 7299004alt=Dapat diakses gratis. PMID 32596640. 
  26. ^ Cabarkapa, Sonja; Nadjidai, Sarah E.; Murgier, Jerome; Ng, Chee H. (October 2020). "The psychological impact of COVID-19 and other viral epidemics on frontline healthcare workers and ways to address it: A rapid systematic review". Brain, Behavior, & Immunity - Health. 8: 100144. doi:10.1016/j.bbih.2020.100144. ISSN 2666-3546. PMC 7494453alt=Dapat diakses gratis. PMID 32959031. 
  27. ^ Si, Ming-Yu; Su, Xiao-You; Jiang, Yu; Wang, Wen-Jun; Gu, Xiao-Fen; Ma, Li; Li, Jing; Zhang, Shao-Kai; Ren, Ze-Fang; Ren, Ran; Liu, Yuan-Li (2020-08-12). "Psychological impact of COVID-19 on medical care workers in China". Infectious Diseases of Poverty. 9 (1): 113. doi:10.1186/s40249-020-00724-0. ISSN 2049-9957. PMC 7422468alt=Dapat diakses gratis. PMID 32787929. 
  28. ^ Squires, Nick (25 March 2020). "Italian nurse commits suicide as another 683 people die from coronavirus". The Telegraph. Diakses tanggal 13 May 2020. 
  29. ^ Delgado-Gallegos, Juan Luis; Montemayor-Garza, Rene de Jesús; Padilla-Rivas, Gerardo R.; Franco-Villareal, Héctor; Islas, Jose Francisco (January 2020). "Prevalence of Stress in Healthcare Professionals during the COVID-19 Pandemic in Northeast Mexico: A Remote, Fast Survey Evaluation, Using an Adapted COVID-19 Stress Scales". International Journal of Environmental Research and Public Health (dalam bahasa Inggris). 17 (20): 7624. doi:10.3390/ijerph17207624. 
  30. ^ "Health workers become unexpected targets during covid-19". The Economist. Diakses tanggal 13 May 2020. 
  31. ^ Devi, Sharmila (2020-09-05). "COVID-19 exacerbates violence against health workers". The Lancet (dalam bahasa English). 396 (10252): 658. doi:10.1016/S0140-6736(20)31858-4. ISSN 0140-6736. PMID 32891198. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]