Lompat ke isi

Daijō Tennō

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Daijō Tennō atau Dajō Tennō (keduanya adalah bacaan yang diterima dari 太上天皇) adalah sebuah gelar untuk Kaisar Jepang yang turun takhta pada masa jabatan penerusnya. Istilah tersebut sering disingkat menjadi Jōkō (上皇).

Menurut Kode Taihō, meskipun pensiun, Daijō Tennō masih dapat memegang kekuasaan. Contoh pertamanya adalah Permaisuri Jitō pada abad ke-7. Kaisar yang pensiun sering kali masih komunitas kebiaraan Buddha, menjadikannya Kaisar bersuluk. Praktik tersebut merupakan hal umum pada zaman Heian.

Kaisar terakhir yang menjabat sebagai Jōkō adalah Akihito (1989–2019), sebelumnya Kaisar Kōkaku (1779–1817). Kaisar kemudian membuat insiden yang disebut "insiden Songo" ("insiden gelar kehormatan"). Kaisar dipersengketakan Keshogunan Tokugawa terkait pemberian gelar Kaisar Turun Takhta (Daijō-tennō) kepada ayahnya, yang merupakan seorang Pangeran Kekaisaran Sukehito.[1]

Sebanyak 64 kaisar Jepang yang tercatat turun takhta.

Era Moderen

[sunting | sunting sumber]

Pada 2019, Kaisar Akihito turun taktha dari jabatan Kaisar, membuka jalan untuk penobatan Naruhito sebagai Kaisar baru. Akihito menjadi kaisar pertama di sejarah moderen Jepang yang turun takhta. Ia secara resmi diberi gelar Jōkō (上皇) yang diterjemahkan sebagai Emperor Emeritus dalam bahasa Inggris.[2] Sementara istrinya, Permaisuri Michiko diberi gelar Jōkōgō (上皇后) yang diterjemahkan sebagai Empress Emerita.[2]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "...Sakuramachiden Gyokozu: information in caption text". Diarsipkan dari asli tanggal 2008-01-19. Diakses tanggal 2017-06-19.
  2. 1 2 "English Titles and Basic words relating to the Imperial Succession" (PDF). Imperial Household Agency. 10 April 2019. Diakses tanggal 29 April 2019.

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]