Daging merpati

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Daging merpati di pasar Hongkong

Daging merpati adalah daging yang disajikan dari unggas bangsa Columbidae, di mana merpati merupakan yang paling dominan. Daging merpati bisa didapatkan dari aktivitas berburu[1] maupun dari peternakan unggas. Hewan ini pertama kali diternakkan di Timur Tengah dan telah dikonsumsi sejak peradaban Mesir Kuno hingga ke Kerajaan Romawi dan Eropa abad pertengahan.[2][1]:211 Catatan sejarah menunjukkan bahwa daging merpati bukanlah makanan sehari-hari dan lebih banyak disajikan pada kaum ningrat. Caelius Aurelianus, seorang dokter menyebutkan bahwa daging merpati dapat menyebabkan sakit kepala.[3]

Pada abad pertengahan, rumah merpati merupakan simbol prestis dan dapat menjadi sumber makanan bagi tamu istimewa. Rumah merpati dibangun sebagai tempat merpati bersarang dan berkembang biak dan juga sebagai penghias taman.[3][4] Merpati umumnya disembelih di musim panas, dan tidak pernah di musim dingin.[5] Dalam perkembangannya, daging merpati yang masih muda dan belum mampu terbang banyak dikonsumsi karena lebih mudah ditangkap dan tekstur dagingnya lebih lunak.[6]

Pemeliharaan[sunting | sunting sumber]

Daging merpati mentah
Nilai nutrisi per 100 g (3,5 oz)
Energi 594 kJ (142 kcal)
Karbohidrat 0.00
- Serat pangan 0.0
Lemak 7.50
- tak jenuh 1.960
- tak jenuh tunggal 2.660
- tak jenuh majemuk 1.600
Protein 17.50
Air 72.80
Vitamin A equiv. 28 μg (3%)
Vitamin A 94 IU
Tiamina (Vit. B1) 0.283 mg (22%)
Riboflavin (Vit. B2) 0.285 mg (19%)
Asam Pantotenat (B5) 0.787 mg (16%)
Vitamin B6 0.530 mg (41%)
Folat (Vit. B9) 7 μg (2%)
Vitamin B12 0.47 μg (20%)
Vitamin C 7.2 mg (12%)
Kalsium 13 mg (1%)
Besi 4.51 mg (36%)
Magnesium 25 mg (7%)
Mangan 0.019 mg (1%)
Fosfor 307 mg (44%)
Kalium 237 mg (5%)
Natrium 51 mg (2%)
Zink 2.70 mg (27%)
Ash 1.17
kandungan nutrisi dapat bervariasi tergantung jenis merpati yang digunakan.[7]
Sumber: Data Nutrisi USDA

Merpati tidak sama dengan unggas lainnya; merpati harus dibesarkan bersama dengan orang tuanya dan diberi makan oleh mereka. Satu pasang merpati dapat memproduksi 15 anak merpati per tahun.[8] Merpati yang bersarang di rumah merpati akan mencari makan sendiri di luar dan kembali ke rumah merpati untuk istirahat dan berkembang biak.[3]

Merpati telah diseleksi untuk menghasilkan berat yang lebih, pertumbuhan yang cepat, kesehatan yang lebih baik, serta kesehatan anaknya.[9] Untuk hasil yang lebih, satu pasang merpati dapat diberikan dua kandang di mana merpati dapat bertelur di kandang yang kedua sedangkan anaknya yang masih tumbuh berada di kandang pertama,[10] dibesarkan oleh ayahnya.[11]

Merpati telah diternakkan secara komersial di Amerika Utara sejak tahun 1900an. Pada tahun 1986, produksi daging merpati di Amerika Serikat dan Kanada adalah satu setengah juta ekor.[8]

Dalam kuliner[sunting | sunting sumber]

Daging merpati lebih empuk dan kaya rasa dibandingkan daging unggas lainnya, tetapi jumlah daging per ekornya relatif sedikit dan lebih terkonsentrasi pada bagian dada.[1]:211, 214[12] Kulitnya berlemak,[1] namun dagingnya tidak. Selain itu, dagingnya relatif mudah dicerna.[3]

Daging merpati yang dibesarkan secara komersial lebih lunak sehingga lebih mudah dimasak, sedangkan yang dibesarkan secara tradisional, atau daging merpati yang tua, memiliki tekstur daging yang lebih keras.[3][1]

Daging merpati menjadi bagian dari masakan berbagai negara, diantaranya Prancis, Amerika Serikat, Italia, Afrika Utara, dan beberapa negara di Asia.[7][13] Penyajiannya meliputi daging dada utuh yang dimasak, daging merpati yang diisi nasi dan rempah-rempah, dan pengisi roti (Pastilla Maroko).[14]

Di Amerika Serikat, daging merpati kalah populer dibandingkan daging ayam yang kini dapat dibesarkan hingga ukuran yang besar.[15] Namun daging merpati tetap menjadi menu di restoran kelas atas.[12][16] Dan harga daging merpati dapat mencapai 8 USD per pon, lebih tinggi dibandingkan harga daging unggas lainnya.[1]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f Andrew D., Blechman (2006). Pigeons: The Fascinating Saga of the World's Most Revered and Reviled Bird. Open City Books. ISBN 0-8021-1834-8. 
  2. ^ Hansell, Jean (2001). Dovecotes. A Shire album Shire Library. 213. Osprey Publishing. hlm. 4. ISBN 978-0-7478-0504-5. Diakses tanggal 2009-09-02. 
  3. ^ a b c d e Canova, Jane (Spring 2005). "Monuments to the Birds: Dovecotes and Pigeon Eating in the Land of Fields". Gastronomica. 5 (2): 50–59. doi:10.1525/gfc.2005.5.2.50. 
  4. ^ Hansell, Jean (2001). Dovecotes. A Shire album Shire Library. 213. Osprey Publishing. hlm. 6. ISBN 978-0-7478-0504-5. Diakses tanggal 2009-09-02. 
  5. ^ Woolgar, C.M. (2006). Food in medieval England: diet and nutrition. Medieval history and archaeology. Oxford University Press. hlm. 151. ISBN 978-0-19-927349-2. 
  6. ^ Hansell, Jean (2001). Dovecotes. A Shire album Shire Library. 213. Osprey Publishing. hlm. 7. ISBN 978-0-7478-0504-5. Diakses tanggal 2009-09-02. 
  7. ^ a b J. F. Pomianowski et. al (2009). "Research Note: Chemical composition, cholesterol content, and fatty acid profile of pigeon meat as influenced by meat-type breeds" (PDF). Poultry Science. 88 (6): 1306–9. doi:10.3382/ps.2008-00217. PMID 19439644. 
  8. ^ a b DOI:10.1186/1297-9686-24-6-553
    Rujukan ini akan diselesaikan secara otomatis dalam beberapa menit. Anda dapat melewati antrian atau membuat secara manual
  9. ^ Skinner, B.F. (March 1986). "Some Thoughts About The Future". Journal of the Experimental Analysis of Behavior. 45 (2): 229–245. doi:10.1901/jeab.1986.45-229. PMC 1348231alt=Dapat diakses gratis. PMID 3958668. 
  10. ^ Schiere, Hans (2001). Livestock keeping in urban areas: a review of traditional technologies based on literature and field experiences. FAO animal production and health paper. 151. Food and Agriculture Organization. hlm. 29. ISBN 978-92-5-104575-6. 
  11. ^ Bolla, Gerry (2007). "Squab raising" (PDF). New South Wales Department of Primary Industries. Diakses tanggal 2009-09-03. 
  12. ^ a b Thomas, Keller (1999). The French Laundry Cookbook. Artisan. ISBN 1-57965-126-7. 
  13. ^ Blechman, Andrew D. (April 9, 2006). "March of the Pigeons". The New York Times. Diakses tanggal 2008-02-24. 
  14. ^ Morgan, James L. (2006). Culinary creation: an introduction to foodservice and world cuisine. Butterworth-Heinemann hospitality management series. Butterworth-Heinemann. hlm. 10. ISBN 978-0-7506-7936-7. 
  15. ^ Jerolmack, Colin (April 2007). "Animal archeology: Domestic pigeons and the nature-culture dialectic" (PDF). Qualitative Sociology Review. 3 (1): 74–95. 
  16. ^ Bruni, Frank (February 6, 2008). "In Defense of Decadence". The New York Times. Diakses tanggal 2008-02-24. 

Bahan bacaan terkait[sunting | sunting sumber]