Daftar Merah IUCN spesies bergantung konservasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Daftar Merah IUCN Terbaru22.413 Spesies Terancam Punah


Lembaga Konservasi Dunia IUCN (International Union for Conservation of Nature) mengeluarkan rilis terbaru dari daftar merah spesies yang terancam (IUCN Red List of Threatened Species) dalam rangkaian acara IUCN World Parks Congress di Sydney, Australia, pada Senin kemarin (17/11/2014). Update daftar bertepatan dengan ulang tahun IUCN yang ke-50.

Daftar merah IUCN tersebut dibuat berdasarkan 76.199 spesies yang diteliti kondisinya, dan menyimpulkan sebanyak 22.413 spesies dalam kondisi terancam punah. Hampir setengah dari spesies yang diteliti berada dalam kawasan lindung. Oleh karena itu, IUCN menghimbau perbaikan manajemen kawasan lindung untuk untuk menghentikan penurunan keanekaragaman hayati lebih lanjut.

“Setiap update dari IUCN Red List membuat kita menyadari bahwa planet kita terus kehilangan keanekaragaman yang luar biasa dari kehidupan, terutama karena tindakan destruktif untuk memuaskan selera kita yang berkembang dari sumber daya alam,” kata Direktur Jenderal IUCN Julia Marton-Lefevre dalam siaran pers IUCN.

“Tapi kami memiliki bukti ilmiah bahwa kawasan lindung dapat memainkan peran sentral dalam membalikkan tren ini. Para ahli memperingatkan bahwa spesies terancam kurang terwakili dalam kawasan lindung, menurun dua kali lebih cepat seperti spesies yang ada di kawasan tersebut. Tanggung jawab kita adalah untuk meningkatkan jumlah kawasan lindung dan memastikan bahwa mereka secara efektif dikelola sehingga mereka dapat berkontribusi untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati planet kita,” lanjut Julia.

Secara umum, perikanan, pembalakan, pertambangan, pertanian dan kegiatan pengolahan sumber daya alam untuk memuaskan selera manusia, mengancam kelangsungan hidup spesies secara global, termasuk ikan tuna bluefin Pasifik, ikan takifugu (Cina pufferfish),belut Amerika dan ular cobra Cina. Perusakan habitat juga menyebabkan kepunahan dari moluska malaysia dan earwig dikenal terbesar di dunia, serta mengancam kelangsungan hidup banyak spesies lainnya.

Berdasar daftar terbaru ini, ikan tuna bluefin Pasifik (Thunnus orientalis) dikategorikan dari kategori kurang mengkhawatirkan (least concern) menjadi kategori rentan (vulnerable), yang berarti dalam kondisi terancam punah. Ikan tuna ini menjadi target penangkapan ikan utama untuk dibuat makanan sushi dan sashimi terutama di Asia. Sebagian besar ikan yang ditangkap masih anakan yang belum punya kesempatan untuk bereproduksi dan populasinya diperkirakan mengalami penurunan hingga 19-33 persen selama 22 tahun terakhir.

Para ahli IUCN mengatakan kawasan perlindungan laut yang ada tidak cukup memberikan perlindungan bagi spesies. Perluasan kawasan perlindungan laut, berjarak 200 mil dari pantai dan daerah yang termasuk budidaya, bisa membantu melestarikan spesies, menurut para ahli IUCN.

Bruce Collette, Ketua IUCN Species Survival CommissionTuna dan Billfish Specialist Group mengatakan harga pasar dari ikan tuna bluefin nilai pasar terus meningkat. “Kecuali industri perikanan menerapkan tindakan konservasi dan pengelolaan yang dikembangkan untuk wilayah barat dan tengah Samudera Pasifik, termasuk pengurangan tangkapan ikan remaja, maka kita tidak bisa mengharapkan statusnya meningkat dalam jangka pendek,” kata Bruce.

Ikan takifugu China (The Pufferfish Cina) masuk dalam daftar spesies yang terancam punah (critically endangered). Populasinya secara global yang diperkirakan menurun hingga 99,99 persen selama 40 tahun terakhir karena eksploitasi berlebihan. Ikan tersebut dikonsumsi sebagai salah satu makanan ikan populer di Jepang, yaitu sashimi. Fugu merupakan ikan paling beracun di dunia, dan perlu chef yang ahli dalam mengolahnya.


Daftar Merah IUCN terbaru memasukkan Ikan takifugu China (The Pufferfish Cina) masuk dalam daftar spesies yang terancam punah (critically endangered). Foto : Wikipedia Takifugu China berada di beberapa daerah perlindungan laut di seluruh perairan pantai