DIGIO

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian


Aplikasi DIGIO (Digital Information for Gas Infrastructure Operation) adalah sebuah Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System) berbasis Web yang digunakan untuk memantau dan menampikan lokasi spatial jaringan pipa gas dan aset pendukungnya. Dikembangkan oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Pada dasarnya adalah sebuah Sistem Informasi (Information System) dengan tambahan informasi spasial didalamnya. Aplikasi DIGIO diperkenalkan pada pertengahan Maret 2017.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

1994[sunting | sunting sumber]

Sistem Informasi Geografis telah dimulai di PGN sejak 1994 dengan kiprah Agus Arifin dari Divisi Perencanaan PGN lewat Internalisasi beberapa batch Pelatihan SIG berbasis Map Info Profesional dan Surfer. Beberapa seri buku pelatihan SIG banyak bergulir dan menjadi koleksi Diklat PGN dan tentunya peserta pelatihan yang beruntung mendapatkan buku dan ilmunya. Penggunaan GPS sudah dimulai. Melalui tangan Bapak GIS PGN, lahirlah Peta Digital Jalur Pipa Gas Cabang Medan, Peta Jalur Transmisi Grissik-Duri, Peta Grissik-Singapore, diikuti dengan Peta-peta GIS lain di cabang PGN yang menjadi bibit penggunaan GIS untuk manajemen aset di lingkungan PGN.

1995[sunting | sunting sumber]

Di tahun 1995 Fetrian, Setin Damanik dan Aji Tunggul Purbomiluhung memperkenalkan beberapa metode survey baru yaitu menggunakan perangkat GPS (Global Possitioning System) Garmin 45XL, Garmin Diferential) dalam Proyek Transmisi Gas Bumi Indonesia (PTGI). Beberapa Survey dari proyek tersebut seperti Pre Eliminary Engineering, Detail Desain, Reroute Survey serta Survey-survey Rencana South Sumatra West Java dari 1995-1999 telah menggunakan beberapa teknologi survey itu. Basemap yang digunakan dalam Peta Digital Route dan Re-Route Jalur Pipa Transmisi Grissik-Pagardewa-Labuhan Maringgai dibawah Proyek Transmisi Gas Bumi Indonesia – SSWJ di digitasi dari berbagai peta (BPN, Belanda, dll) yang menjadi koleksi PTGI.

1996[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1996 pemetaan digital mulai diterapkan Yoga Trihono. PGN Cabang Medan memulai menggarap sistem pemetaan digital dengan menggunakan perangkat lunak AutoCAD Map. PGN Cabang Medan menjadi cabang pertama yang mengaplikasikan peta berbasis AutoCAD Map.

1999[sunting | sunting sumber]

Di tahun 1991 Etanto Heiliano Widjayanto mengenalkan beberapa internalisasi perangkat GPS SIRF III dalam survey potensi pasar di PGN. Beberapa Workshop penggunaan GPS sempat dilakukan secara periodik.

2000[sunting | sunting sumber]

Tahun 2000-2004 Aji Tunggul Purbomiluhung Mengembangkan Peta Online berbasis WWLLN untuk Maintenance Lightning and Protection System Grissik-Duri, Grissik-Singapore. Peta ini dimaksudkan sebagai referensi terhadap sambaran petir realtime di suatu lokasi dimana ada perangkat komunikasi UTST/ TGI dan berdampak pada equipment disekitarnya, dan segera dapat diperbaiki.

2004[sunting | sunting sumber]

Pada periode ini Suko Hartono dan Ali Fachrudin dari SBU Wilayah 1 menggunakan produk ESRI (ArcGIS for Desktop, ArcGIS for Server dengan Mother-Child level SBU 1 Jawa Bagian Barat dengan Child di distrik-distriknya, dibantu oleh PT USD. Beberapa Basemap dengan Digitasi Vektor untuk level As Jalan, Bahu jalan, Bangunan telah diaplikasikan. Era ESRI telah dimulai.

2005[sunting | sunting sumber]

Tahun 2005 Adi Saputra memulai mengembangkan GIS berbasis ArcGIS di Distrik Bogor untuk kemudian diterapkan di seluruh SBU 1. Komunikasi data antar distrik menggunakan jalur Intranet-WAN PGN berkecepatan lambat masih menjadi isu integrasi data-data GIS, data spatial juga masih bergantung pada peta GPS hasil tracking dan beberapa segmen distrik yang sudah tercover peta digital dan foto udara.

Pada tahun ini Aji Tunggul Purbomiluhung memulai kembali Plotting dan Digitasi Pelanggan untuk Rumah Tangga, Komersial, Industri dimulai dari Distrik Banten, Distrik Bekasi, Distrik Cirebon, Distrik Palembang dengan mengandalkan tenaga meter reader dalam plotting. Hasil dari Plotting pelanggan ini dipakai dalam clusterisasi batas tugas meter reader. Aplikasi ini juga membantu Customer Service SBU Wilayah 1 dalam melayani pelanggan.

2006[sunting | sunting sumber]

Tahun 2006 tim gugus tugas KDL (Aji Tunggul Purbomiluhung, Pravira Sisyawan Notodisurjo, Agus Lukman Hakim, Agus Muhammad Merzi, Mugiyanto, Soedarwanto, Andi Budiansyah, Isnandar) melakukan pilot project inventarisir semua aset jaringan Jalur Bojonegara - Krakatau Daya Listrik. (ROW Jalur pipa, test box, patok gas, crossing line).

2007[sunting | sunting sumber]

Jobi Triananda Hashim memulai menggunakan GIS untuk Aplikasi PMS (Project Management System) dalam pelaksanaan Proyek SSWJ Fasa I dan II serta Muara Bekasi-Rawamaju, dibantu oleh Tim Petro IT. Platform besutan Petro IT berbasis MapXtreme dengan database SQL. Pada tahun ini aplikasi berbasis web mulai digunakan, aplikasi ini digunakan untuk menampilkan progress harian pekerjaan konstruksi secara periodik. Aplikasi ini juga difungsikan sebagai visualisasi progress konstruksi.

Aji Tunggul Purbomiluhung mengusung penggunaan GPS untuk keperluan penjualan SBU Wilayah 1 dalam Rencana Penyerapan Gas SSWJ. Para Wiraniaga saat itu dibekali dengan tools GPS (Garmin 60CSX) yang diinject dengan *.img Peta Jalur Pipa Eksisting PGN. Pola penyebaran calon pelanggan segera diketahui.

2010[sunting | sunting sumber]

Adia Sulistya Purna, Rikhi Narang, telah memulai era Vehicle Tracking System di SBU 1 dengan memanfaatkan teknologi Inovatrack milik PT Enerren untuk memantau Unit Mobil di lingkungan SBU 1. Selaku IT SBU Wilayah 1 mensupport pengembangan GIS saat itu walaupun GIS PGN dan fleet Mobil operasional belum terintegrasi.

Pada tahun ini PGN mulai penggunaan peta satelit berbayar. Sebagai basemap untuk beberapa Lokasi di SBU Wilayah 1 Jawa Bagian Barat dan penambahannya untuk distrik (Jakarta, Bogor, Bekasi, Karawang, Tangerang, Cirebon dan Palembang). Basemap Vektor juga berkembang pesat di SBU 1 yang dibantu oleh PT Maxxima. Beberapa jalur yang sebelumnya belum ter-cover, dapat di digitasi ulang menggunakan basemap ini.

Ali Fachrudin, Aji Tunggul Purbomiluhung menerapkan prosedur Survey Malam verifikasi basemap satelit untuk wilayah Jakarta dan Kota-kota padat lain untuk memastikan kualitas basemap. Basemap yang mempunyai kualitas tinggi dapat dipergunakan dalam digitasi aset jaringan dan fasilitas secara cepat dalam assessment jaringan. Penggunaan GlobalMapper dihubungkan dengan GPS sangat membantu proses Verifikasi dan Validasi hasil digitasi vector basemap satelit. Gadget berbasis GPS Symbian juga dioptimalkan dengan dibenamkannya fungsi offline jalur pipa gas transmisi TSJ (Jalur Grissik-Lematang). Beberapa Akses Road mulai diperkaya dengan Jalur Utilitas lain memudahkan pipeliner dalam melakukan patroli. Era baru Tools GPS menggunakan Symbian. Digitasi Utilitas lain Non PGN di sepanjang jalur pipa transmisi Segmen Grissik-Pagardewa (KP 195+300 – KP 98+000) juga dilakukan dan Vektor Map yang kompleks dibenamkan dalam Aplikasi MapSource.

2011[sunting | sunting sumber]

PIMS (Pipeline Integrity Management System) berbasis GIS mulai di pakai di PGN dibawah MIJ (Manajemen Informasi Jaringan) dibawah jajaran Amri Abdullah. Peta Risiko Jaringan telah dipetakan di semua wilayah baik SBU 1, 2, 3 maupun Transmisi.

2012[sunting | sunting sumber]

Konsep GIS yang terlaksana di SBU 1 mulai diterapkan di 2 dan 3 dengan teknologi berbasis ArcGIS Server yang dikelola oleh GMS – GIS Group, direalisasikan oleh Endang Suryadi, Dani Permana, Rahmat Akbar Muttaqin dalam bentuk Aplikasi WebGIS dengan diluncurkannya sistem terpadu pengelolaan aset operasi dan pelaporan yang dibenamkan di dalam konsep GIS, Konsep penerapan id-tag, Mutasi Aset mulai dijalankan bersama tim Waindo Specterra Indonesia. Aplikasi WebGIS dan Mobile GIS ini menggunakan dotNet ArcGIS for Flex sebagai framework-nya.

2013[sunting | sunting sumber]

GIS diimplementasikan oleh Fuad Hasan dan Havid Noviastanto di Wilayah 2, konsep sederhana dikembangkan dari Network SBU 2 dan dibuat Mobile GIS versi Trial Google API.

Tri Hartanti membenahi GIS di Wilayah 3 (Medan, Batam, Pekanbaru). Pola yang dianut adalah Laporan Teknik Refer to GIS dalam hal jumlah dan unit yang dilaporkan. Tagging Aset Operasi telah mulai diimplementasikan.

2014[sunting | sunting sumber]

Wahyu Reza Prahara mulai memperkenalkan Analisa Hidraulik dengan basis Software Sinergee, Network antara Source dan Demand diimport dari file GIS, sehingga tidak diperlukan lagi penarikan garis (line) seperti pada Software lain yang berkembang saat itu.

Dimulai Survey menggunakan UAV/ Drone, diperkenalkan oleh Ariel Sharon. Beberapa Third Party Activity di Jalur Grissik-Pagardewa (Phase II SSWJ) segera dapat di dokumentasikan. Hasil Aerial Patrol dengan DJI Phantom bisa meng-cover beberapa area luasan yang tidak di cover oleh Patroli udara Chopper. Dokumentasi kegiatan third party sdapat dinikmati di Aplikasi WebGIS dengan fitur Red-Spot.

Willy Roswaldy, Tegar Kharisma Nugraha dan Aji Tunggul memperkenalkan multi platform pada integrasi WebGIS melalui Map Service VTS menjadi Fleet Manager, Marine Fleet dan Widget Street View untuk memudahkan Query Data Asset. GIS dipakai sebagai Tools untuk Manage Operasi dan Emergency Response. Surveilance Camera untuk Emergency Response dibenamkan dalam konsep GIS. Konsep Tagging berdasarkan Zip Code mulai digulirkan. Penataan kembali Aset Infrastruktur Operasi setelah memenuhi syarat: Koordinat, Asbuilt-Skematik, Dokumentasi Photo.

2015[sunting | sunting sumber]

Tahun 2015, Integrasi Fleet Manager (VTS dan Marine Fleet ) kedalam Aplikasi WebGIS , serta menambah beberapa fitur tambahan.

2016[sunting | sunting sumber]

Dibawah Infrastructure Information System, pada periode ini dimulai dengan Verifikasi dan Validasi semua Aset infrastrutur operasi distribusi dan transmisi menggunakan dokumen serah terima asset (As Built Drawing, Data Assesment Valve, Data Pigging, Data Sertifikasi). Maintenance Database dibantu tim PT SENA (Gunawan Raditya, Mirliansyah, Beni, Sakim, Audi Avicienda, Ghani Chandra, Faiz Islam, Rauf, Nikma Fista, Adelia Rahmah, Fauzan dll) semua lokasi di lakukan survey ulang, perbaikan digitasi berdasarkan Anomali (Pipe, Valve, Customer, Vertex) yang dihasilkan dari verifikasi. Selama setahun tim berkutat menghasilkan Peta Lokasi semua area berdasarkan Index Grid, Skematik versi 2D setiap Area dan Wilayah. Tim juga mengumpulkan semua dokumen terkait asset (As Built Drawing, Data Assesment), Data Legal Aspect (Sewa lahan, Sertifikasi dll). Pada periode ini Team Counterpart Akuisisi Database 2016 di GDMR1,2,3 dan GTM (Ariel Sharon, Tri Hartanti, Wahyu Reza Prahara, Adi Saputra, Fuad Hasan, Havid Noviastanto, Citra Pranandar. Pungky Khoirudin) membantu pelaksanaan akuisi sampai akhir 2016.

Maintenance System dibantu tim Waindo Specterra, Update Licence untuk Software ArcGIS (ArcGIS for Desktop, ArcGIS for Server), serta beberapa extension. Upgrade Version dilakukan.

Dibantu pihak ELO Document Management Office, data-data mandatory akuisisi dalam bentuk Document (Asbuilt, peta lokasi, skematik, maupun foto) dimasukkan kedalam system ELO dan diintegrasikan kedalam informasi fitur map.

Maintenance Aplikasi dibantu tim PGASCom (Ikhsan Aditya, Jessica Eda Nagawan, Muhamad Muklisin, Fikri Achmad) menjaga performa Aplikasi tetap terjaga. Tugas mereka cukup komplek dari membuat service map, reconcile update data, melakukan verifikasi terhadap anomaly baik jaringan maupun fasilitas, membuat draft fitur map, dan page lainnya, melakukan test di developer, sampai menampilkan page baru. Sekaligus melakukan beberapa pengembangan Aplikasi WebGIS.

Pemutakhiran display aplikasi dibantu oleh tim Cameo Labs, dimana mockup dan design Aplikasi baik Web maupun Mobile GIS. Konsep Login Page mengadopsi kegiatan utama di pengelolaan infrastruktur operasi, baik kegiatan di jaringan maupun fasilitas.

Pada periode ini telah di capai 7278 Km panjang pipa.

2017[sunting | sunting sumber]

Pada Rakor Direktorat Infrastruktur Teknologi 22 Maret 2017, Asset Reliability Management Division dibawah Tatit Sri Jayendra memperkenalkan Aplikasi DIGIO (Digital Information for Gas Infrastructure Operation), Rebrand dari Aplikasi WebGIS milik PGN. Nama DIGIO dipilih dan disumbangkan oleh Ari Armay Syah dengan kepanjangan Digital Information for Gas Infrastructure Operation, sedangkan Logo Digio di desain oleh Tegar Kharisma Nugraha. Sebanyak 62 buah Custom Map, 25 buah 2D Schematic dan 10 buah 3D Schematic telah tersaji di Aplikasi Digio.

Referensi[sunting | sunting sumber]